'° Prolog °`
#Prolog.
Dia mencoba menggapai mainan gantungan kunci miliknya yang di gantung tepat di foto presiden republik Indonesia. Agak sedikit mustahil baginya untuk menggapai gantungan kunci itu, buktinya meski sudah memakai bangku sekalipun ia tetap tidak dapat menggapai mainan yang kecil dan lucu.
"Kalau gak bisa tuh minta tolong, Ai." Sebuah suara yang datang tiba-tiba mengejutkannya, sehingga tidak mampu menahan keseimbangan. Alhasil tubuhnya jatuh terjerembab.
Orang yang paling laknat di hidup itu ya sahabat sendiri, temannya jatuh malah di tertawa kan terlebih dahulu. "Kampret kau Dim! Temannya jatuh malah di ketawain, bukannya di bantuin dulu kek." Dia mendumel kesal melihat tingkah sahabatnya, tangannya menunjuk ke arah mainan gantungan kunci yang masih terpatri dengan indah di atas sana.
Dimas yang paham pun berjalan menuju bangku yang ikut terjatuh bersamaan dengan tubuh kecil Aireen tadi. "Bima sama Cikho mana Dim?" tanyanya saat tak kunjung menemukan keberadaan kedua sahabatnya yang lain.
"Di lapangan Ai, biasalah lagi nontonin tim basket latihan," jawab Dimas sambil menyerahkan gantungan kunci yang berhasil ia gapai. "Makanya badan tuh tinggi in, jangan nilai doang." Aireen mendelik ke arah temannya itu.
Mereka berjalan beriringan, dengan sesekali Dimas menjahili Aireen yang terlihat tampak tenang meskipun sedari tadi gadis itu mencoba menahan diri untuk tidak mengumpati sahabatnya.
Tapi umpatannya sudah tidak dapat di tahan tatkala Dimas dengan sengaja menyelengkat Aireen menggunakan kakinya. Alhasil, hal tersebut membuat Aireen hampir kehilangan keseimbangannya.
"YA!! DIMAS KAMPRET, SINI KAU!"