bc

Melati di Tangan Sang Penguasa Buta

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
family
HE
love after marriage
age gap
arranged marriage
badboy
goodgirl
mafia
gangster
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

Melati Sari tak pernah menyangka hidupnya akan berubah menjadi begitu mengerikan. Dijual oleh Paman Harun untuk melunasi hutang sebesar satu miliar rupiah, gadis malang itu harus berhadapan dengan Azzam Pradana Putra, seorang penguasa dunia gelap yang terkenal kejam dan tak mengenal belas kasihan.

Namun, ada satu rahasia besar yang tersembunyi di balik sosok menakutkan itu. Azzam ternyata buta total sejak mengalami kecelakaan di usia dua puluh tahun. Meski tak mampu melihat, ketajaman pendengarannya membuatnya tetap menjadi sosok yang disegani.

Di tengah perlakuan kasar Azzam, Melati justru menemukan sisi lain yang tak pernah ia duga. Saat gadis itu tertidur, Azzam diam-diam datang menghampirinya, menyentuh wajahnya dengan lembut, bahkan meminta maaf sebelum pergi.

Namun keesokan harinya, Melati menghilang dari ruangan tempatnya dikurung.

Azzam murka. Ia memerintahkan Dimas dan Marcel mencari Melati ke mana pun gadis itu pergi. Pencarian membawa mereka kembali ke rumah keluarga Harun, tempat terungkap bahwa Melati selama ini diperlakukan seperti pembantu dan menjadi korban kebohongan keluarganya sendiri.

Sementara itu, Harun, Lastri, dan Mawar justru sibuk menyusun rencana demi keuntungan mereka sendiri. Mawar bahkan berambisi mendekati Dimas demi mendapatkan kekayaan.

Di tengah pelariannya, Melati belum mengetahui bahwa kepergiannya telah membangkitkan amarah sekaligus kegelisahan yang tak biasa dalam diri sang penguasa buta.

chap-preview
Free preview
Tawaran Satu Miliar dan Sang Penguasa Buta
Di dalam ruangan sempit yang pengap, seorang gadis meronta sekuat tenaga. "Lepasin aku! Aku mau pulang!" teriaknya, air mata mulai menetes membasahi pipi pucatnya. Tap... tap... tap... Suara langkah kaki terdengar berat dan menyeramkan, membuat gadis itu refleks memejamkan mata rapat-rapat. BRAKK! Pintu tertendang keras. Seorang pria masuk sambil menopang tubuhnya dengan tongkat; kedua matanya tertutup perban tebal yang rapi. "Kau bisa DIEM nggak?!" bentaknya, lalu melempar gelas ke arah gadis itu—beruntung gadis itu sempat menyingkir. "Tolong lepaskan aku... aku ingin pulang," ucap Melati lirih, bibirnya bergetar hebat. Air mata kini mengalir deras tanpa bisa ia tahan. "Kalau kau mau keluar, lunasi dulu hutang Pamanmu!" "Ber... berapa besar hutangnya?" tanya Melati sambil menyeka air mata dengan tangan yang terikat. Kakinya terbelenggu begitu erat hingga kulit pergelangan kakinya memerah dan terasa perih. "Sedikit saja. Satu miliar." Pria itu melangkah perlahan mendekat. "Satu miliar?!" Mata Melati membulat sempurna. Wajah mungilnya terlihat begitu polos, matanya besar dengan bulu mata lentik yang tebal—namun sayang, pria di hadapannya tak mampu melihat keindahan itu, karena kedua matanya telah buta. "Kaget?" Pria itu mencoba meraba wajah Melati dengan jari kasarnya. "Bisa... bisa dicicil?" tanya Melati dengan suara bergetar ketakutan. "Cicil?!" Cengkeraman kuat mendarat di dagu Melati, membuatnya meringis kesakitan. "Tolong... jangan sakiti aku! Aku tidak tahu apa-apa! Yang berhutang kan Paman dan Bibi, kenapa aku yang jadi tumbalnya?" isaknya tersedu. "Dasar tidak berguna! Kau di sini untuk melayaniku, bukan menangis tak jelas!" "Kalau kau ingin tahu, tanya saja pada Harun! Dialah yang menjualmu padaku!" Kepala Melati didorong keras hingga membentur dinding. "Aaaahhh!" "Sakit..." Melati mencoba menahan tangisnya, takut pria itu akan bertindak lebih kejam jika mendengarnya menangis. "Kalau aku dengar kau menangis lagi, jangan harap kau bisa melihat matahari besok!" bentaknya, lalu berbalik dan melangkah pergi. "Tuhan... kenapa takdirku begini..." Melati menangis dalam diam. "Kenapa Paman dan Bibi tega melakukan ini padaku..." Ia memegangi kepalanya yang terasa ngilu, lalu menatap punggung pria itu yang berjalan menjauh dengan tongkatnya. Meski matanya tertutup rapat, langkahnya begitu pasti dan tegap—tak seperti orang buta pada umumnya. "Dimas!" serunya lantang. "Ya, Tuan!" Dimas segera mendekat. "Berikan makanan pada wanita itu. Jangan sampai dia mati hanya karena kelaparan," titahnya singkat. Dimas mengangguk patuh dan segera melangkah pergi. Pria itu adalah Azzam Pradana Putra. Seorang mafia yang namanya disegani dan ditakuti seantero kota. Namun tak ada musuh yang tahu rahasianya: Azzam sebenarnya buta total sejak kecelakaan yang menimpanya saat berusia dua puluh tahun. Sejak saat itu, ia selalu menutup matanya dengan perban tebal—karena baginya, memiliki mata namun tak bisa melihat sama sekali lebih menyakitkan daripada tak memilikinya. "Azzam! Yuhuu, aku datang!" Suara ceria itu terdengar, membuat Azzam mendengus kesal. "Ngapain kau ke sini?" sentaknya ketus. "Aku bawakan makanan enak! Kau harus coba!" seru gadis itu riang. Gadis berwajah cantik dengan darah campuran itu adalah Anggraeni, keponakan Azzam. Meski masih kerabat, Anggraeni tak pernah peduli—di tempat asalnya, pernikahan antar kerabat masih diperbolehkan, dan hal itu membuatnya semakin berani mendekati Azzam. Ia begitu terobsesi pada sosok pria itu, bahkan tak peduli Azzam buta. Baginya, rahang tegas dan bibir tipis Azzam adalah pesona yang tak bisa ia lupakan. "Aku sudah kenyang," tolak Azzam dingin. "Ah, kok begitu sih? Aku sudah capek-capek masak khusus buat kamu," rengek Anggraeni tak menerima penolakan. "Siapa yang menyuruhmu membawakannya?" Azzam hendak beranjak pergi. "Lho, mau ke mana? Masa aku baru datang sudah ditinggal?" Anggraeni menahan lengan Azzam agak kuat. "Kau mau apa sih?! Sudah kubilang aku tidak lapar! Jangan memaksaku!" amuk Azzam. Namun Anggraeni memang keras kepala. Ia tak peduli pada nada suara tajam itu. "Ayo, sekali saja cicipi," bujuknya sambil menyodorkan sendok ke bibir Azzam. "Kubilang TIDAK!" Azzam merebut piring dan sendok itu, lalu melemparkannya ke lantai. PRANG! Suara piring pecah membuat Dimas segera berlari menghampiri. "Kau tuli apa?! Aku bilang aku tidak mau!" bentak Azzam, kesabarannya benar-benar habis melihat sikap Anggraeni yang memaksa. "Sudah, Zam... tidak perlu begini juga menolaknya," cegah Dimas pelan. "Aku risih! Sudah berapa kali kubilang tidak, tapi dia terus memaksa!" Azzam tahu betul—meski tak bisa melihat—ia bisa merasakan bahwa Dimas sebenarnya menyukai Anggraeni. Isak tangis Anggraeni terdengar pilu, namun itu justru membuat Azzam semakin muak. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia berbalik dan meninggalkan mereka berdua. "Sudah, jangan menangis. Duduklah di sofa dulu, biar nanti Bibi yang membersihkannya," ajak Dimas lembut, menuntun Anggraeni duduk. "Aku... aku cuma ingin dia makan masakanku... tapi kenapa dia begitu..." Anggraeni menangis di bahu Dimas. "Mungkin kau datang di waktu yang kurang tepat. Lain kali kalau mau membawakan sesuatu, lihat dulu keadaannya," Dimas mengusap punggung gadis itu, berusaha menenangkannya. Ternyata Azzam berbalik arah menuju ruangan tempat gadis itu dikurung. Dengan perasaan yang tak biasa—was-was dan gelisah—ia perlahan memutar gagang pintu. Hal pertama yang menyambut telinganya bukan lagi tangis atau teriakan, melainkan dengkuran halus yang begitu tenang. Mengandalkan ketajaman pendengarannya, Azzam melangkah masuk perlahan, mendekat ke arah tempat gadis itu berbaring. "Kau sudah tidur?" tanyanya pelan, seolah takut mengganggu keheningan. Tangannya terulur, meraba mencari wajah yang entah mengapa terasa begitu ingin ia kenali. Begitu jari-jarinya menyentuh permukaan wajah itu, Azzam mulai mengelusnya dengan lembut, segan dan hati-hati. "Kalau begini kan enak... tak perlu berteriak-teriak seperti tadi. Aku benci mendengar suara gadis yang berteriak," gumamnya pelan. Ia merogoh saku jasnya, mengambil ponsel. Saat merasa posisinya sudah pas, ia menekan tombol kamera—seolah ingin mengabadikan sesuatu yang tak bisa ia lihat. Cekrek... Suara itu memecah keheningan. Melati tersentak bangun, matanya membelalak tak percaya melihat sosok itu kembali berdiri di hadapannya. Kenapa dia ada di sini lagi? batin Melati berdebar kencang. Ia teringat, tadi setelah memakan makanan yang dibawakan Dimas, kantuk yang berat menyerang begitu cepat. Sepertinya makanan itu telah dicampur obat tidur, sehingga ia tak sadar kapan dirinya terlelap. Melati menatap pria itu lekat-lekat. Harus ia akui, meski hatinya penuh ketakutan, ia tak bisa menampik ketampanan luar biasa yang terpancar dari wajah itu. Hidung mancung, rahang yang tegas dan keras, namun bibirnya mungil dan merona kemerahan—beberapa detik Melati terhanyut, lupa pada rasa takut yang sempat menyelimutinya. Namun jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak saat tangan pria itu kembali bergerak meraba-raba. Secara refleks, Melati segera memejamkan matanya rapat-rapat. "Tidurlah yang nyenyak... maafkan aku," bisik pria itu lirih, begitu lembut hingga hampir tak terdengar. Ujung jarinya menyentuh sekilas bibir Melati dengan penuh keraguan. Melati tertegun. Suara itu begitu menenangkan, sentuhan itu—meski singkat—membuat seluruh tubuhnya tersentak tak mengerti. Apa yang terjadi padanya? batinnya bingung saat mendengar pintu ditutup perlahan dengan sangat hati-hati. Melati meraba bibirnya yang baru saja disentuh. Wajahnya memerah padam, bagaikan kepiting rebus. Dadanya berdegup kencang tak menentu. Ia mencoba kembali memejamkan mata, namun satu hal yang ia yakini: esok hari, pria ini pasti akan kembali menjadi sosok yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasih seperti sebelumnya. Keesokan harinya, Azzam melangkah tegas menuju ruangan tempat Melati dikurung. Semalam, berkat bantuan Dimas, ia sudah menelusuri seluruh identitas gadis itu secara mendetail—siapa keluarganya, bagaimana latar belakangnya, hingga alasan kenapa gadis itu diserahkan kepadanya. Ceklek... Saat pintu terbuka, keheningan menyambutnya. Tak ada suara napas, tak ada suara gerakan sedikit pun. Perasaan tidak enak langsung menyelinap di d**a. Dengan tongkat di tangan kanannya, Azzam melangkah masuk perlahan. "Melati!" panggilnya pelan. Tak ada jawaban. "MELATI!! Kau tuli ya?!" Emosinya seketika meledak, amarah yang sempat ia tahan semalam kembali mendidih. Saat ia berjalan menyusuri ruangan, kakinya tak sengaja menginjak sesuatu yang lembut namun kasar. Dengan cepat ia meraba-raba benda itu di lantai. "Tali?" gumamnya, rahangnya seketika mengeras. "k*****t! Dia kabur!!" serunya histeris, amarah membakar seluruh kesadarannya. "Jangan main-main denganku, Melati!" bentaknya lantang, lalu berbalik melangkah keluar dengan napas yang memburu tak beraturan. "DIMAS!! MARCEL!!" panggilnya sekuat tenaga. "Iya! Sebentar!" Suara mereka terdengar dari ruang makan. Keduanya yang sedang asyik sarapan langsung tersentak kaget dan berlari menghampiri dengan wajah pucat. "Ada apa, Tuan?" tanya mereka berbarengan. "Pekerjaan semudah ini saja kalian tak becus!! Cuma disuruh menjaga satu wanita saja tidak mampu!" bentak Azzam, suaranya menggelegar membuat dinding seolah bergetar. "Maksudnya bagaimana? Kami tidak mengerti," tanya Marcel bingung, ia memang selalu lambat mencerna situasi saat sedang panik. "Melati kabur!!" Wajah Azzam sudah memerah padam, matanya yang tertutup perban seolah menatap tajam ke arah mereka. Dimas dan Marcel saling berpandangan dengan mata terbelalak tak percaya. "K-kabur?" tanya mereka lagi berbarengan. "Jika sampai kalian gagal menemukannya! Bersiaplah, aku pastikan besok pagi kaki kalian tak akan sanggup melangkah lagi!" ancam Azzam sungguh-sungguh, tak ada sedikit pun keraguan dalam nada bicaranya. Marcel menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu betul, saat Azzam sudah berubah menjadi seperti ini, tak ada yang bisa menawar kehendaknya. "Masih diam saja!! Cari dia SEKARANG!!" bentaknya sekali lagi, membuat mereka tersentak dan segera berlari menuju pintu keluar. Di dalam mobil, Marcel menyetir dengan tangan yang masih sedikit gemetar. "Kemarin kau menemukan gadis itu di mana?" "Ah benar juga, aku hampir lupa. Ayo ke Perumahan Puspa Indah, di sana rumah Paman dan Bibinya. Siapa tahu dia pulang ke sana," jawab Dimas sambil segera menghubungi seluruh anak buah Azzam untuk menyebar mencari keberadaan Melati. Ia tak ingin mengambil risiko mencari berdua saja, ancaman Azzam bukan sekadar ancaman kosong. Sesampainya di depan rumah Harun, Dimas langsung turun dengan tergesa-gesa, berjalan cepat menuju pintu tanpa mengetuk sedikit pun. "Di mana Harun?!" sentaknya tajam pada seorang gadis yang sedang duduk menonton televisi. Gadis itu—Mawar—terbelalak ngeri saat melihat pistol yang sudah ditodongkan tepat ke arahnya. "P-papa... d-di atas..." jawabnya terbata-bata, kakinya seketika lemas tak bertulang. "Panggil! Suruh dia turun sekarang!" titah Dimas dingin. Mawar hanya bisa mengangguk gemetar. "Kau kejam sekali pada wanita, bisa saja ditanya baik-baik," protes Marcel tak tega melihat Mawar gemetar ketakutan. "Maaf, aku bukan kau," jawab Dimas singkat tanpa menoleh. "Dasar, kalau sama Anggraeni kan beda sikapnya," cibir Marcel pelan yang membuat Dimas sedikit salah tingkah. Tap... tap... tap... Suara langkah kaki terdengar mendekat. Dimas dan Marcel segera menoleh. "A-ada apa? B-bukannya Melati sudah bersama kalian?" tanya Harun yang muncul dengan wajah pucat pasi. "Gadis itu kabur! Jangan berani-berani bilang dia tidak pulang ke sini!" Dimas masih menodongkan pistolnya. "Kabur? Dasar gadis tak tahu diri!" sahut Lastri dengan nada kesal yang dibuat-buat. "Pasti dia ke tempat hiburan malam! Dia kan wanita yang suka menjual diri!" ceplos Mawar dengan nada meremehkan. "Jika benar dia pergi ke sana, nanti akan saya cari dan jemput kembali. Seketika ditemukan, saya akan serahkan langsung pada Tuan," ujar Harun mencoba menenangkan situasi. Mendengar itu, senyum tipis terukir di bibir Dimas. "Baik. Cari sampai ketemu. Tapi ingat... jika kalian berbohong, peluru ini yang akan menjadi jawabannya." Keluarga itu hanya bisa mengangguk patuh. Dimas dan Marcel pun segera berbalik pergi untuk bergabung dengan pasukan lainnya. Begitu mobil mereka menjauh, Mawar langsung mendengus kesal. "Mah! Kenapa sih Melati itu merepotkan sekali! Kalau ketemu, langsung saja habisi dia!" Lastri justru tersenyum licik. "Jangan begitu, Nak. Mama justru senang membayangkan dia melayani bos Tuan Dimas yang konon buta itu. Dan rumor yang Mama dengar, tuannya sudah sangat tua. Pasti dia kabur karena dipaksa melakukan hal kotor, lagipula Melati lumayan cantik untuk ukuran gadis kampung." Mawar tersenyum lebar mendengarnya. "Benar juga kata Mama! Siapa sih yang mau disentuh orang buta apalagi tua bangka?" "Kau tahu dari mana kalau tuannya tua?" tanya Mawar penasaran. "Itu sudah jadi rahasia umum. Dan Tuan Dimas adalah tangan kanannya, semua urusan diserahkan padanya," jelas Harun. "Tapi Tuan Dimas itu ganteng sekali, Yah! Bisa tidak Papa mendekatkan aku padanya?" tanya Mawar sambil tersipu malu. "Tentu saja bisa. Kau ini cantik, Nak. Pria mana yang tak akan terpikat padamu?" puji Harun membuat wajah Mawar memerah merona. "Kalau Tuan Dimas datang lagi, cobalah kau rayu dia," saran Lastri. "Rayu? Dia terlihat sangat kejam, Mah. Sepertinya tak mudah didekati," ragu Mawar. "Pasti bisa. Pakailah pakaian yang sedikit terbuka dan seksi. Pria mana pun pasti akan luluh," bisik Lastri pelan. "Betul sekali itu. Kau tahu kan dia sangat kaya raya? Bisnisnya ada di mana-mana. Jika kau bisa meluluhkan hatinya, semua kemewahan akan kau dapatkan," timpal Harun meyakinkan. "Baiklah Mah, Yah! Tolong bantu aku ya agar bisa dekat dengannya," Mawar semakin tergiur dengan janji kemewahan itu. "Tentu saja, sayang," Lastri mengelus kepala putrinya penuh kasih sayang yang palsu. "Eh! Kita kan disuruh mencari Melati! Cepat bergerak! Takut Tuan Dimas kembali lagi!" seru Lastri seketika membuat Harun dan Mawar tersentak kaget. "Aduh Mama ini! Menakutkan saja!" keluh Mawar sambil memegangi dadanya. "Maaf sayang, Mama tidak bermaksud..." "Kita cari ke rumah Bima. Papa yakin dia pasti bersembunyi di sana," kata Harun teringat satu-satunya teman Melati. "Aku juga yakin itu, Yah. Dia kan hanya lulusan SD, siapa lagi yang mau berteman dengannya selain Bima?" timpal Mawar meremehkan. "Ya sudah, ayo cepat! Jangan sampai dia pergi lagi!" perintah Lastri, lalu berjalan mendahului keluar rumah. Mengepalkan tangannya erat, Mawar bergumam dalam hati dengan penuh kebencian: "Si bodoh itu... berani-beraninya kabur. Kalau sampai ketemu, akan aku beri pelajaran yang pantas!" Mawar sangat membenci saudari sepupunya itu, Melati. Sejak kecil, Melati memang tinggal bersama Paman Harun dan Bibi Lastri di rumah yang megah itu, namun kemewahan itu tak pernah sedikit pun menyentuh hidup gadis mungil tersebut. Di rumah itu, Melati diperlakukan bak pembantu tanpa upah. Segala pekerjaan berat dibebankan kepadanya, tak ada satu pun rupiah yang diberikan untuk uang jajan. Ia hidup sebaur dengan lantai, makan seadanya, dan tidur di sudut ruangan yang sempit. Melati tak pernah tahu ke mana perginya ayah dan ibu kandungnya. Setiap kali ia memberanikan diri bertanya tentang keberadaan mereka, Paman dan Bibinya selalu menutup rapat mulut, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan memarahinya. Dan Mawar, dengan hati yang kejam, sering menambah luka di hati sepupunya itu. "Mereka sudah mati!" ucap Mawar dengan nada meremehkan dan dingin. "Sudah lama membusuk di dalam tanah, tak akan pernah kembali lagi untuk menjemputmu. Kau hanyalah beban yang tak diinginkan siapa pun." Setiap kata itu melukai hati Melati jauh lebih dalam daripada pukulan fisik. Ia tak pernah tahu, bahwa kenyataan pahit itu hanyalah kebohongan yang sengaja ditanamkan agar ia tak pernah berani berharap untuk pergi dari sana.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.8K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.6K
bc

Mencintaimu Suami Kejamku

read
9.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook