24

1123 Words
Sekarang sudah pukul 11 siang, dan Regan baru saja bangun dari tidurnya. Suhu badannya sudah turun, pusing di kepalanya sudah mereda. Ia mengerjap pelan, berusaha mengumpulkannya nyawanya. Matanya terasa berat, mungkin karena efek semalaman dia menangis atau efek tidurnya yang lama. Dia bangun dan menengok ke arah sofa, tempat nanda berada tadi malam. Regan menengok ke arah jam yang sudah menujukkan pukul 11. “ah, pasti udah pulang.” Regan berdiam diri, memutar balik ingatannya tadi malam. Setelah sadar jika dia menangis semalaman apalagi memeluk nanda, wajah dan telinganya memerah. “AHHHHHHHH” regan membenamkan wajahnya di bantal sehingga teriakannya tidak akan terdengar terlalu keras. “gue ngapain tadi malem astaga, malu banget mamahhhhh.” Regan tetap menyesal, menyesali kenapa tadi malam dia bisa secengeng itu. Regan sangat malu jika harus bertemu dengan nanda lagi. “bodo lah, biar biarin. Biarin ntar dia ngetawain gue, bodo amat.” Regan lalu keluar dari kamar dan turun menuju dapur. Perutnya terasa lapar, ketika dia sampai dia tercengang. “sejak kapan dapur gue kinclong begini? Ini rumah gue kan?” regan berputar, memastikkan jika ia masih berada di dalam rumahnya. “masih di rumah gue kok.” Regan menuju meja, dia melihat notes yang tertinggal di sana. Notes yang perempuan itu buat dari tissue. Regan membacanya “gue udah masak sop ayam dan nasi buat lo, kalo lo pengen yang panas tinggal angetin bentar. Oiya gue juga udah motongin buah buat lo, ada di kulkas. Ini sebagai balas budi gue karena waktu itu lo udah nolongin gue di gedung- nanda.” Regan membuka mangkok yang tertutup, ada sop ayam di sana. Dia juga membuka rice cooker, nasi hangat sudah tersedia, lalu ia menuju kulkas. Ada satu kotak buah yang sudah dipotong nanda. Regan perlahan tersenyum. “gue nolongin lo satu kali, tapi lo bales berkali-kali nan?” regan berbicara sendiri. Ia makan dengan perlahan, rasanya tidak buruk. Cukup bisa dikatakan enak bagi regan yang tidak pernah memasak. Setelah menikmati masakan nanda, regan mulai mengambil buah yang telah terpotong itu menuju ke kamar. Tubuhnya belum sepenuhnya sembuh, ia masih istirahat. Berada di lantai bawah, membuatnya merasa dingin. Sebelumnya dia mencari hpnya terlebih dahulu, ternyata tertinggal di sofa. Tempat dia pertama kali masuk ke rumahnya bersama nanda. Sesudahnya regan menuju ke atas, ke kamarnya untuk mencharger dan menyalakan hpnya. Terdapat banyak sekali notif pesan dan notif panggilan tak terjawab dari Alfan dan Bagas yang menanyakan dia berada dimana. Regan santai saja, tetapi tiba-tiba dia mendengar bunyi kendaraan masuk ke dalam halaman rumahnya. Lalu mendengar pintu berbunyi, kode pintu masuk yang telah dibuka. Dan mendengar langkah kaki 2 orang yang terlihat tergesa-gesa menuju ke kamarnya. “BRAKK!” pintu terbuka dengan lebar, bagas dan alfan terlihat sangat panik, sementara orang yang dicarinya masih asik makan buah sambil menonton netflix. “ganti pintu gue.” Regan berkata dengan nada datar. “JING, LO KEMANA AJA??!” ucap bagas ngegas menuju nanda, disusul dengan alfan yang sama sama emosi “GUE KIRA LO BUNUH DIRI NYET!” “lo kemana aja gan? Gue nyusulin lo kerumah sana kata tante lo, lo pergi. Gue telponin dari semalem ga diangkat.” “mobil lo juga ditinggal di jalan.” tambah alfan yang menemuka mobil regan tertinggal di sana. “oiya, mobil gue.” Regan baru menyadari jika dia meninggalkan mobilnya di jalanan. “lo kayanya sultan banget lo ye? Mobil ditinggal di jalanan.” “ya namanya juga ga sadar.” “semaleman lo kemana?” alfan bertanya, regan mulai menjelaskan. “gue tadi malem niatnya mau balik ke rumah ini, tapi di jalan bensin mobil gue abis. Terus gue mau nelponin lo lo pada, baterai gue lowbat jadi hp gue mati.” “terus lo baliknya gimana?” “gue keluar dari mobil, nyari bantuan. Gaada yang lewat, terus karna kelamaan ujan-ujanan gue mau pingsan.” “LO PINGSAN DI JALAN?” bagas menjerit heboh. “gajadi untungnya, gue ditolongin.” “ditolongin sama siapa?” bagas bertanya. “orang.” “yeeu, gue juga tau kalo gitu.” Alfan bergerak menuju regan, mengecek suhu badan regan dengan tangannya. “ngapain lo anjir?” “cek suhu. Udah anget, lo udah makan belum?” alfan bertanya kepada regan, “udah tadi.” “makan mie?” alfan kembali bertanya, sontak dijawab gelengan regan. “engga, gue makan nasi.” “hah?” alfan sontak bertanya, karena ya gimana bisa ni orang sakit tapi mampu bikin nasi? Ketika alfan ter-Hah, bagas yang baru dari dapur bertanya kepada regan. “gan, gue mau tanya sama lo.” Ucap bagas yang masih di ambang pintu. “kenapa?” “lo ditolongin siapa?” “orang, kan gue udah bilang daritadi.” “cewe?” bagas bertanya sambil bersedekap d**a, alisnya ikut naik dan wajahnya sangat tengil. Alfan ikut kepo, sedangkan yang ditanya hanya cengar cengir saja. “lo tau darimana gas?” “tu dapur, ada nasi ada sop ayam. Gue cicip rasanya enak, ga mungkin dia yang masak. Kalo dia yang masak sekarang gue udah pasti masuk rumah sakit apalagi nohhh lo liat aja sendiri, badan masih lemes gitu mana mungkin bisa masak lengkap.” “kan bisa aja yang nyiapin cowo, karena kasian?” alfan masih meragukan itu, bagas menepok jidatnya sendiri. “dapur kinclong pan.” “apa hubungannya?” “If the person helping regan was a man, he wouldn't clean the kitchen. Apalagi kinclong. Gue garis bawahi nih yee, kinclong. K i n c l o n g. bersih tanpa noda.” “iya juga sih.” Alfan manggut manggut. “who is she?” bagas bertanya. “why did she clean your kitchen? I know it can happen but, your kitchen. Dapur lo gan, itu dapur berantakan banget. Apalagi di tambah kemaren gue sama bagas masak di sana.” Alfan bertanya dengan rasa tidak percaya setelah tadi berlari menengok ke arah dapur dan melihat dapur yang seperti baru. “she’s just a girl.” “hah?” “her name is nanda.” Regan memberi tahu mereka. “I don’t know her full name, but I’ve seen her before. I help her, and then now she help me. Kita berdua impas, yah hanya sebatas balas budi.” Regan menjelaskan dengan singkat. “lo nolongin dia apa? sampe dia mau beresin dapur lo yang kaya baru kena gempa bumi?” “I helped her, I reach her hand, when she almost jump of the top of building.” “DIA MAU BUNUH DIRI?” “I think? Gue ga tau pasti sih, tapi dia bilangnya cuman duduk di sana terus mau turun kepleset.” “that’s crazy.” “I agree.” “orang normal mana yang nyoba duduk nyantai di atas gedung tinggi kalo tujuannya bukan bunuh diri?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD