Nanda terbangun sesuai alarm yang telah disetelnya, ia bangun dan mengecek terlebih dahulu suhu badan regan.
“udah turun.” Setelah memastikan regan masih tidur, dia keluar dari kamar dan turun menuju arah dapur. Nanda berniat memasak terlebih dahulu untuk regan, memasak nasi sekaligus sop ayam, dan memotong beberapa buah. Setelah semuanya selesai, dia membereskannya.
Nanda melihat dapur yang terlihat berantakan, nanda membersihkannya. Setelah selesai merapikan, nanda memasukkan buah yang telah ia potong-potong tadi ke dalam tempat makan lalu ia taruh di dalam kulkas. Memasukkan air yang telah mendidih ke dalam tremos, dan nanda membuat sebuah notes untuk Regan.
Setelah melihat jam yang sudah hampir menunjukkan pukul 6, ia segera membereskan barang-barangnya lalu keluar dari rumah. Nanda memesan grab untuk pulang menuju ke rumah, opsi tercepat hanyalah itu. Dari semalam nanda menghabiskan banyak uang, tapi ya gimana lagi. Dia harus menolong regan, dan dia tidak merasa menyesal.
Setelah grab pesanannya sampai, ia harus buru-buru keluar dari rumah regan. waktunya untuk pulang ke rumah dan berangkat ke sekolah hanya tersisa sedikit.
“pak, agak ngebut ya.”
“siap neng.”
setelah memberi tahu sopir untuk melaju, nanda membuka hpnya. Membuka jam pelajaran pertama siapa nantinya. Untung saja mata pelajaran hari ini gurunya ga terlalu killer killer amat, setidaknya ga segarang bu yeni.
Setelah beberapa menit akhirnya ia sampai di depan rumahnya. Ia berlari, lalu saat sampai di depan pintu ia membuka kunci diam-diam. Masuk ke dalam rumah dengan mengendap-ngendap.
“darimana lo?”
Kalimat itu membuat nanda mematung, dia tidak menyangka anggota keluarganya akan bangun sepagi ini. Apalagi ini kakaknya?
“nginep di rumah temen.” Ucapnya singkat.
“temen, apa temen lo?” Karin, kakak nanda tetap menanyainya. Seolah olah tidak puas dengan jwaban nanda.
“gue ngerjain tugas, keujanan kemaleman akhirnya nginep.”
Karin melangkahkan kaki, maju ke arah nanda. Nanda sontak memundurkan kakinya sedikit demi sedikit.
“berani bohong ya lo?”
“apasih.” Karin mendekat ke arah nanda, lalu tiba-tiba mencengkram dagu nanda. Nanda hanya diam dan membisu.
“lo mau bohongin gue?” cengkraman nanda di dahu dan pipinya semakin erat. Kuku tajam milik kakaknya perlahan menancap ke pipi nanda.
“lepas.” Nanda tidak menjawab pertanyaan Karin, dan berusaha melepaskan cengkraman kakaknya. pipinya merasa perih.
“lo tadi malem keluar, ujan-ujan malem-malem. Kemana lo? Jual diri?” nanda sontak menghempaskan tangan kakaknya, kakanya terdorong jatuh. Nanda tidak mengira dia akan sekuat itu. Nanda. Nanda tidak terima jika kakaknnya menuduh sembarangan. Dan dia tidak sengaja menyebabkan kakaknya jatuh.
“gausah ngomong macem-macem tentang gue.” Nanda mendesis, dan menatap tajam ke arah kakaknya.
“bangsat.” Karin mengumpat karena telah didorong jatuh oleh adiknya. Ia segera bangun, dan mendekatin nanda.
“lo dorong gue sampe jatuh hah? Berani sekarang?”
“gue ga sengaja.”
“ga sengaja?” karin mendorong nanda sampai terjatuh. Nanda terjatuh, dahinya tergores ujung meja kaca. Darah perlahan keluar dari sana. “upss, ga sengaja.” Karin berpura pura terkejut dengan senyum yang mengejek. Wajahnya tidak menunjukan rasa bersalah sama sekali melihat adiknya kini terluka karena perbuatannya.
Nanda yang merasa perih di dahinya, mengusap pelan. Dan saat melihat tangannya terdapat darah, dia langsung pergi meninggalkan kakaknya. Dia menuju kamar, dan langsung berlari ke arah cermin.
“damn, I’m going to school today.” Nanda menghela napas, dia melihat jam. Waktu tetap berjalan, dia segera mandi. Tidak lama, hanya mandi bebek. Setelahnya dia memakai seragam dengan cepat dan masukkan buku-buku ke dalam tasnya. Nanda membuka laci, mengambil satu plester luka. Dia menutupi luka yang telah diobatinya tadi dengan plester, dan membiarkan poni rambutnya terurai menutupi luka itu.
Nanda keluar rumah, berlari. Dia tetap berlarian menuju bus yang kini hampir berjalan. Untung saja bisa dikejar, dia segera duduk.
“duh, ntar gue jawab gimana ya anjir.” Dia khawatir jika akan mendapatkan pertanyaan dari jevan dan vina. Mereka pasti akan kepo dengan plester yang ada di dahinya. Nanda semakin merapihkan poninya.
Setelah beberapa menit tiba, dia turun dari bus lalu berlari menuju gerbang utama. Tapi sayangnya kali ini dewi fortuna tidak berpihak kepadanya, gerbang tetutup sebelum nanda sempat masuk.
Nanda mendengus sebal, dan membayangkan hukuman yang akan ia terima. Dia pasrah saja duduk gelosor dipinggir gerbang, dia sangat capek. Dia duduk sembari menunggu gerbang akan dibuka, dan hukuman yang menantiya tiba.
Setelah 15 menit menunggu, akhirnya gerbang dibuka. Guru piket sudah mempersilahkan murid-murid yang terlambat untuk masuk ke dalam sekolah. Mereka digiring ke tengah lapangan, panas matahari sudah terasa pagi ini.
“untuk hari ini, kalian tetap diam berdiri di sini selama 15 menit baru ngejalanin hukuman.” Sontak murid-murid langsung protes mendengarnya.
“pak ko gitu sih?”
“itu hukumannya double berarti pak, ah.”
“panas banget lho pak ini, kasian kek.”
“pak masa hukumannya dua kali?”
“sudah-sudah kalian jangan protes, hari ini hukumannya memang double. Mulai sekarang sih, lebih tepatnya. Karena kemarin yang telat hampir 1 kelas lebih, jadi hari ini peraturan di perketat. Udah kalian ga usah protes, semakin kalian protes semakin saya tambah nanti hukumannya.” Jelas pak amin, guru piket yang sedang bertugas.
Nanda hanya diam saja mendengarkan penjelasan gurunya, malas untuk protes. Hanya buang-buang tenaga saja jika ia protes.
Nanda menjalani hukumannya selama 15 menit, keringat sudah membasahi rambutnya. Plester luka yang ada di dahi nanda semakin terlihat jelas karena rambutnya yang basah. Setelah menjalani hukuman dijemur, ia masih juga harus menjalani hukuman untuk memunguti daun-daun yang berjatuhan.
Setelah hampir 10 menit dia memungut bersama murid-murid yang lain, lapangan tetap terasa belum bersih.
“ya elah, nih daun kenapa jatuh mulu si daritadi. Bikin ribet aja.”
“potong aja nih pohon besok.”
“bangke, baru dibersihin udah kotor lagi.”
Setelah mereka kehabisan tenaga, mereka duduk diam di bawah pohon. Pasrah saja, habisnya daun terus berguguran. Nanda yang tadi teringat perbuatan kakanya semakin sebal, dia mendekat ke arah pohon. Menendang pohon itu dengan keras. Daun yang sudah layu di pohon itu langsung berguguran. Nanda mengernyit, melihat ke arah atas.
“buset, tendangan gue keras banget apa gimana sampe jatuh semua nih daun.” Ucap nanda sambil memandangi ke atas.
“ide lo bagus juga nay.” Ucap seorang murid sebelah yang mengenal nanda, ia bertepuk tangan setelah melihat nanda menendang pohon itu. Daun yang layu langsung berguguran serentak. Setelah beberapa menit ditunggupun, tidak ada daun yang jatuh kembali.
“woy, lakuin kaya nanda aja. Tendangin nih pohon satu-satu.” Usul salah seorang murid, yang langsung dikuti semua murid yang sedang terhukum. Mereka kompak menendang pohon pohon itu, daun gugur berjatuhan macam di film-film.
“buset, ni kalo daun diganti bunga sakura kita bisa bikin short movie di sini.”
“heh, ambil sapu. Malah foto-foto, lo gamau masuk kelas apa?” ucap Dino, salah seorang murid dari kelas nanda yang menegur shinta, selebgram kota di sekolahnya. Yang ditegur hanya mengerucut sebal tapi tetap menurut. Nanda dan cewe cewe lain sibuk menyapu lapangan, bergantian dengan para cowo yang masih duduk duduk di sana.
Setelah beberapa menit dan melaporkan jika lapangan sudah bersih, mereka diperbolehkan masuk ke dalam kelas. Nanda merapikan rambutnya, dan poninya, lalu masuk menuju kelas. Kebetulan kelas sedang kosong, nanda hanya masuk kelas dengan santai.
“tumben amat lo telat.” Jevan bertanya
“kesiangan.”
“biasanya lo tetep kekejar walaupun kesiangan nan.”
“iya tadi gue ngantuk banget.”
Nanda mengusap dahinya, dia membersihkan keringat yang terasa lengket. Sialnya ia lupa, jika dahinya terdapat plester luka. Saat menyadari, nanda buru buru menelungkupkan kepalanya di atas meja. Berpura-pura akan tidur. Tapi terlambat, jevan sudah melihat itu.
“dahi lo kenapa?” jevan bertanya sambil mendekat ke arah nanda.
“gapapa.”
“kenapa jev?” vina yang duduk disamping nanda bertanya kepada jevan, melihat laki-laki itu maju mendekati nanda berarti ada sesuatu yang mengganggunya.
“noh, dahi temen lo. Lo liat aja.”
“hah?” vina melirik ke arah nanda yang berpura-pura tidur. “nan, bangun elah. Gausah pura-pura tidur lo.” Vina menarik nanda sampai gadis itu mau bangun, dan segera melihat ke arah dahinya yang tertutupi poni.
“tumben banget lo ponian, coba liat.”
“apaasih.” Nanda mengelak, vina semakin gigih. Dia membuka poni rambut nanda, benar saja plester luka menempel di sana.
“dahi lo kenapa?”
“gapapa.”
“nan, jujur.”
“iya jujur.”
“bril.” Panggilan vina yang horror itu membuat nanda terpaksa harus memutar otak untuk mencari alasan yang masuk akal, jika vina memanggilnya briliani itu tandanya dia sangat serius.
“gue jatuh vin, cuman jatuh aja.”
“jatuh dimana lo?” kini jevan yang bertanya.
“di rumah.”
“ko bisa?”
“kepeleset, jatuh, kegores meja, luka.” Nanda menerangkan dengan singkat.
“masa?” ucap jevan dan vina kompak bertanya kepadanya.
“beneran, udah ah. Luka dikit doang ini, noh guru udah masuk.” Ucap nanda sambil menunjuk guru yang kini sudah memasuki kelas mereka. Jevan dan vina hanya mengangguk paham, enggan bertanya dengan lebih lanjut melihat respon nanda yang seperti itu.