22

1212 Words
Sembari menunggu Regan mandi, Nanda mencuci beras yang telah dibelinya. Dia akan membuat bubur untuk laki-laki itu. Dia mencuci dengan telaten namun tetap cepat, mulai memotong sayur sayuran dan merebus paha ayam. Nanda sesekali berlari ke atas, ke kamar regan untuk mengecek apakah dia sudah selesai mandi atau belum. Setelah sudah memasukkan bahan bahan yang perlu di masak dan hanya menunggu bubur itu matang, nanda kembali ke kamar regan. dia mengetok pintu untuk bertanya apakah regan sudah selesai apa belum, dan regan menjatuhkan barang yang ia taruh tadi. Nanda masuk kamar mandi dengan mata yang sedikit terpejam, takut jika nanti laki-laki itu belum memakai bawahan. Untungnya, dia sudah memakainya. Hanya saja, kaos yang harusnya menutupi badan atasnya belum terpasang sehingga kini terpampang roti sobek ah tidak, bisa disebut papan cucian karena bentuknya yang terlihat sangat keras? Nanda terdiam beberapa saat karena mengagumi ciptaan tuhan, lagian mumpung free ya ga si? Setelah tersadar, ia buru-buru membantu regan bangun. Bau harum laki-laki itu langsung menusuk indra penciumannya, sangat sangat wangi. Apalagi dengan badan atas yang belum tertutupi kain membuat nanda semakin salah tingkah. Pipinya agak memerah, tapi untungnya regan hanya diam dan tidak berkata apa apa. nanda membawa regan untuk duduk ke ranjangnya. “hands up?” nanda meminta regan untuk mengangkat kedua tangannya, dia memakaikan sweater tebal untuk regan. regan menurutinya. Setelah sweater terpasang pas, nanda menarik selimut regan untuk menutupi tubuhnya. “gue mau ngambilin bubur buat lo, lo pasti belum makan kan? Jadi jangan rebahan dulu.” Nanda langsung berlari ke bawah untuk mengambil bubur yang sudah matang, ia mematikan kompornya. Mengambil satu mangkok untuk dia bawa ke atas, sambil membawa beberapa lauk. Nanda juga mengambil beberapa obat, untuk diminum regan agar laki-laki itu agak baikan. “ini bubur panas, gatau menurut lo enak apa engga. Tapi yang pasti untuk saat ini lo butuh makan, jadi sekarang buka mulut lo.” Regan belum merespon, nanda memanggilnya kembali. “regan? tangan gue pegel. Ini gue udah kipas-kipasin biar ga panas.” akhirnya regan membuka mulut, tidak lebar tetapi masih bisa lah nanda memasukkan makanan ke mulutnya. Setelah dirasa hampir cukup, nanda mulai meminumkan obat ke regan. lelaki itu hanya menurut saja, badannya mungkin sudah sangat lemah. Nanda merebahkan Regan, membiarkan regan kini beristirahat dan menarik selimutnya sampai ke batas leher. Menjaga tubuh laki-laki itu agar senantiasa hangat. Tidak hanya itu saja, nanda mulai membuat kompres hangat untuk menurunkan demam regan, ia mengambil baskom yang ada di dapur lalu mengisinya dengan air hangat. Dan memasukkan handuk bersih ke dalamnya, ia tempelkan ke dahi regan agar panasnya menyerap ke handuk. Dia menggunakan kompres panas, karena dia baru searching dan menemukan jika kompres panas bagus untuk menurunkan demam, menurut google. Jam sudah menunjukan hampir tengah malam, hujan juga tidak menunjukkan tanda jika akan berhenti. jika dia meninggalkan regan, dia takut akan terjadi apa-apa kepadanya. Laki-laki itu sendirian di rumah besar dalam kondisi lemah, dan regan juga waktu itu telah menyelamatkan nanda. Tanpa regan, mungkin dia sekarang akan berada di atas kursi roda, atau bahkan lebih parahnya berada di atas langit di pangkuan tuhan. “yaudah lah, gue balik ntar pagi aja deh.” Nanda memutuskan untuk tetap stay di rumah regan malam itu, sembari menjaga regan yang tengah sakit. Nanda tidur di sofa yang berada di kamar regan, handphonnya yang dia matikan dia taruh di meja samping regan. saat jam menunjukkan pukul 2 pagi, tiba-tiba dia mendengar suara tangis yang tertahan. Nanda bangun dari tidurnya, menyalakan lampu di kamar regan. dan dia melihat regan yang tengah menangis. Nanda langsung menghampirinya “regan, hei lo kenapa?” nanda menyentuh dahi regan, mengecek suhu tubuh laki-laki tersebut. Demamnya sudah turun, tetapi laki-laki itu masih menangis. “Nanda?” akhirnya regan sadar akan keberadaanya, mungkin karena sedari tadi ia hampir pingsan jadi tidak menyadari siapa yang menolonnya. “iya, ini gue. Nanda, kita ketemu waktu di gedung itu.” “Nan….” “lo kenapa hey?” “bokap gue..” “bokap lo kenapa?” “bokap gue meninggal nan... bokap gue dibunuh nan….” Nanda tidak bisa berkata apa-apa ia masih mencerna ucapan regan. “bokap gue, papah dibunuh.. dia kecelakaan..tapi ada orang yang sengaja nyelakain dia..” ucap regan yang kini lebih meracau. Nanda bingung apa yang harus ia lakukan, nanda tau regan pasti terpukul dengan kepergian ayahnya. Nanda mendekat ke arah regan yang sudah terduduk, dia memeluknya. Nanda memeluk regan yang kini telah terisak. Regan semakin terguncang ketika nanda memeluknya, dia menangis terisak-isak. “bokap gue orang baik, nan. Dia bahkan ga pernah marah sama sekali, dia salah apa??” nanda hanya mengusap punggung laki-laki itu. “setiap kali gue nglakuin kesalahan dia ga pernah marah, dia Cuma senyum. Dan dia cuman nyuruh gue ga ngulang kesalahan itu lagi.” Regan masih terus berbicara sambil terisak. “bahkan nyokap gue ga pernah dikasarin bokap gue, dia ga pernah marah sama nyokap. Ga pernah sama sekali, seumur hidup gue dia orang yang baik. Tapi kenapa ada yang nyelakain dia nan?” “bokap gue baik, tapi kenapa diambil tuhan nan?” Regan terisak, dia tidak berbicara lagi. Nanda membiarkan regan menangis di pelukannya, membiarkan air mata laki-laki itu membasahi bajunya. Nanda sebenarnya tidak tahu apa yang harus ia lakukan, jujur dia tidak pernah melihat laki-laki menangis. For the first time, nanda melihat laki-laki yang menangis terisak. Tetapi nanda paham, mendengar cerita regan yang seperti itu. Pasti regan sangat kehilangan sosok ayahnya, walaupun dia tidak pernah merasakan apa yang dirasakan regan. karena sosok ayah yang dikenal regan, berbeda dengan sosok ayah yang dikenal nanda. “regan, listen to me.” Regan akhirnya mengangkat kepalanya, matanya masih sembab dan hidungnya memerah. “tuhan ngambil bokap lo, karena dia tahu. Bokap lo terlalu baik buat berada di dunia ini.” Nanda memberikan penjelasan- sembari mengusap air mata regan. “ibaratin gini, kalo lo pergi ke toko bunga. Apa lo bakal milih bunga yang layu?” regan menggeleng. “lo aja pilih pilih kan? Apalagi tuhan. Ibaratin aja bunga itu manusia dan tuhan adalah calon pembeli. Pembeli pasti mau membeli bunga yang bagus untuk menghias kebunnya kan? Itu sama kaya tuhan. Tuhan pasti akan memilih manusia yang berbudi baik dan manusia yang paling bagus untuk ia taruh di surganya Dia.” “Dia ga akan sembarang memilih manusia regan, Dia pasti sudah menimbang-nimbang. Bokap lo orang yang baik kan? Dia pasti tahu, makanya dia ambil. Dunia terlalu kejam buat manusia sebaik bokap lo.” Regan terdiam, nanda perlahan tersenyum. “udahan ya nangisnya? Dia juga pasti gamau liat lo sedih sekarang.” Regan menatap nanda dalam diam. nanda melirik jam dinding, “masih jam 2 pagi, lo tidur lagi aja. lo masih sakit, butuh istirahat yang cukup.” Ucap nanda sambil membaringkan tubuh regan, lalu menyelimutinya. “gue bakal ada di sini jagain lo, gue ga bakal ngapa-ngapain. Ntar gue pulang pas pagi. oke? Sekarang tidur.” Nanda berjalan mematikan lampu kamar regan. ketika ia duduk di sofa, regan masih tetap memandanginya. “regan, tidur.” Regan sadar lalu membalikan badannya, membelakangi nanda. Nanda hanya tersenyum. Nanda menyalakan handphonenya, terdapat beberapa notifikasi dari david yang sejujurnya ia tidak peduli lagi. Nanda menyetel alarm jam 5 pagi, ia masih punya waktu untuk tidur 3 jam. Setidaknya itu cukup untuk nanda beristirahat, besok dia masih sekolah dan harus pulang ke rumah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD