“rumah lo dimana?” karena tadi regan tidak menjawab pertanyaannya, ia mengajukan pertanyyan lain. Nanda memperhatikan bibir regan yang semakin memucat, nanda tanpa memberi aba-aba menyentuh dahi regan. Suhu badan regan semakin meningkat, nanda semakin khawatir. Ia takut jika nanti regan akan pingsan di sini.
Sementara regan terkejut dengan apa yang dilakukan perempuan di depannya ini, ia menyingkirkan tangan nanda. Nanda tidak merasa tersinggung sama sekali, ia malah bertanya lagi dengan tanpa sungkan.
“pusing ga? Kuat berdiri? Bentar-“ nanda mencari bangku yang biasanya disembunyikan di sini, secara tempat nanda dan regan meneduh adalah tempat orang-orang biasa berjualan. Jadi pasti ada beberapa bangku yang berada di sana. Dia menemukan satu bangku, hanya satu bangku. Nanda menyuruhuh regan untuk duduk di bangku itu.
“lo duduk dulu di sini-“ regan ditarik oleh nanda dan duduk di bangku itu, “gue mau nyari taksi bentar, lo jangan kemana-mana. Gue anterin balik, oke? Jangan kemana mana. Paham?” regan tidak menjawab. Nanda kesal, “kalo lo paham apa yang lo omongin setidaknya ngangguk kek, jangan bikin gue jadi ngomong sendiri gini.” Regan lalu perlahan mengganguk.
“oke, lo jangan kemana mana. Tungguin gue.” Ucap nanda sambil berjalan cepat sambil membawa payung yang sebenarnya ga berguna berguna banget karena bajunya sudah basah. Tapi setidaknya, tidak memperparah bajunya yang sudah terlanjur basah. Ketika nanda sudah perlahan mejauh, regan perlahan menaikkan pandangannya. Regan memperhatikan nanda yang perlahan semakin menjauh, dia tidak tahu nanda nanti akan beneran datang kembali menjemputnya untuk mengantarkannya pulang atau malah meninggalkannya. Regan sudah tidak ada tenaga lagi untuk berjalan dan berpikir, ia memejamkan matanya perlahan.
Nanda mencari taksi yang biasanya berada di sana, tapi sialnya tidak ada satupun taksi yang tersedia. Karena panik nanda tidak bisa berpikir, akhirnya ia mendiamkan diri sebentar. Setelah berpikir lama akhirnya sadar betapa bodohnya dirinya.
“udah ada grab ngapain gue muter muter cari taksi.” Nanda akhirnya memesan grab, dengan memencet tujuan asal. Karena Terserah, untuk biaya bisa ia pikir nanti. Lagian juga dia tidak tahu alamat regan, jadi dia hanya bisa berpikir asal. Nanda menggigti jari tangannya, ia cemas jika terjadi apa-apa dengan laki-laki itu. Kepalanya tidak bisa berhenti menengok ke arah kanan dan kiri mengira kapan grab akan sampai dimana tempat ia berdiri. Setelah beberapa menit akhirnya yang ditunggu sudah tiba.
“pak, ini saya bayar dulu di sini ya? Temen saya lagi sakit tapi saya gatau rumahnya dimana jadi saya mencet sembarang. Nanti saya tambahin lagi ko pak tenang, temen saya ada di sana pak sendirian.” Akhirnya sang supir mengiyakan permintaan nanda, nanda masuk ke dalam mobil dan mengarahkan dimana letak regan berada. Saat sampai, nanda dikejutkan oleh regan yang sudah menutup mata. Ia cemas.
“gan, regan! bangun!” nanda mengecek nafas regan dan detak jantung regan. detak jantung regan sangat terasa lemah, dia harus cepat cepat membawa laki-laki itu ke rumah sakit.
“REGAN!” sentakan keras dari nanda berhasil membuat regan membuka mata, “gue anterin ke rumah sakit ya? Itu taksinya udah sampe.” Nanda membantu regan berdiri, lalu merangkulnya untuk membantu regan berjalan. Saat sudah sampai di mobil, nanda langsung menyebutkan dimana tujuannya.
“pak, langsung ke rumah sakit terdekat aja ya.” Ucap nanda,
“jangan.” Regan melarang nanda membawanya ke rumah sakit, dalam keadaan yang sangat lemas ia memilih untuk tidak pergi ke sana.
“lo masih sakit gini, gausah ngeyel. Ke rumah sakit aja.”
“ga, gue ga mau. Ke rumah gue aja, jl. Sriwjaya komplek angkasa rumah nomor 14 gerbang item.” Akhirnya nanda mengalah, membiarkan regan untuk pulang ke rumahnya.
Nanda melihat rambut regan yang basah, ia mengeluarkan handuk yang kebetulan tadi ia beli di mini market. Nanda mengusap wajah regan untuk membersihkannya dari air dan mengeringkan rambutnya. Nanda mengusap wajah regan dengan halus, sehingga laki-laki itu tidak bangun. Dia juga mengusap tangan regan yang sudah keriput karena air hujan yang dingin.
Setelah kurang lebih 10 menit perjalanan, akhirnya nanda sampai di rumah regan. Nanda mencoba membuka gerbang rumah regan, karena tidak mungkin dia menyuruh laki-laki yang sedang sakit itu turun. Untung saja gerbang tidak terkunci, mobil langsung memasuki pekarang rumah regan. Nanda menyuruh taksi itu berhenti di dekat pintu masuk rumah regan agar ia mudah untuk membawa regan masuk.
“pak ini ya uangnya, boleh minta tolong bantuin saya angkatin temen saya ke depan pintu pak? Maaf banget ngrepotin.”
“oh iya mba.”
“makasih banyak pak.”
Sang sopir membantu nanda untuk membawa regan, ke depan pintu karena nanda juga membawa banyak barang belanjaan dari mini market. Sesudahnya sopir tersebut itu langsung pulang dan nanda meminta tolong untuk menutup gerbangnya kembali, untung saja tadi nanda membayar lebih jadi sopir tersebut mau mau saja untuk menutup gerbang.
Nanda memandangi rumah besar milik regan, dengan pintu yang biasa ia lihat seperti di drakor. Pintu dengan kunci modern.
“regan? ada orang ga di rumah lo?” regan tetap tidak menjawab. “regan, gan. Udah sampe.” Regan mulai membuka matanya lalu menjawab pertanyaan nanda
“buka aja, sandi 1520. Ga ada orang di rumah.” Nanda lalu langsung membuka pintu dan membawa regan untuk duduk di sofa terdekat lebih dahulu. Sementara dia membawa beberapa belanjaanya masuk ke dalam rumah regan.
“kamar lo dimana?”
“atas.”
Nanda menghela nafas lelah, masalahnya nih regan badannya sangat besar. Sementara nanda sangat kecil, belum lagi nanda laper. Dengan sangat terpaksa, nanda tetap menuntun agar regan sampai di kamarnya.
“ganti baju dulu ya?? Baju lo basah. Gue ambilin ya?” ucap nanda sambil membuka lemari regan, bodo amat jika regan akan mengecapnya dengan perempuan yang tidak sopan seharusnya kan regan berterima kasih karena nanda sudah mau membantunya.
Dia membuka lemari, agak terkejut dengan apa yang ada di dalamnya. Karena hampir semua baju di sana adalah berwarna hitam. Akhirnya nanda mengambil baju asal, dan mengambil celana rumahan regan juga. Setelah dipikir pikir regan kayanya harus langusng mandi karena dia baru hujan-hujanan. Jadi nanda mengecek kamar mandi regan yang terdapat bath up yang pastinya akan ada air hangat kan? Nanda sontak mencari dimana letak cd atau celana dalam regan yang nanda tebak akan sama warnanya seperti bajunya, hitam. Setelah membuka laci bawahnya, nanda agak tercengang. Kalo tadi bajunya warna hitam semua, kini ya sama. Tetapi yang lebih mengejutkan adalah celana dalam di sana hanya terdapat yang masih kotakan alias segelan.
“ni orang sekali make buang apa gimana sih.” Agak ada positifnya sih, karena nanda tidak perlu risih ketika mengambilnya, jadi dia membuka segelnya terlebih dahulu dan mengeluarkan sedikit. Lalu menuju kamar mandi, menyalakan air hangat agar regan bisa berendam dan mandi sebentar. Nanda meletakkan baju ganti regan di kamar mandi dan menuntun regan.
“regan? lo mandi ya? Udah gue siapin semua, bodo amat lo ngecap gue gimana tapi ini demi kebaikan lo, oke? Sekarang lepas baju lo.” Karena regan tidak mempunyai tenaga untuk menjawab lebih jadi dia hanya mengangkat tangannya seperti anak kecil yang minta dilepaskan baju. Nanda hanya menurutinya saja, walaupun sambil merem-merem tidak mencuri kesempatan. Gini gini juga nanda tau, body regan akan berbentuk seperti apa karena sedari tadi ia menuntunnya otot regan sangat terasa keras. Jadi dia sekarang merem aja, membiarkan regan yang melakukannya.
“untuk masalah celana lo, lo pasti bisa ganti sendiri kan? Gue tinggalin ini di samping bathub", nanda mengambil body lotion yang tadi ia beli lalu ia taruh di samping sana, agar tau di saat regan sudah mandi. “ntar, kalo lo udah kelar mandi jatuhin aja nih barang di sebelah kanan lo.” Regan hanya mengangguk menanggapinya.
“Gue tau lo masih sakit dan gue pengen bantu, tapi plis. Ntar kalo udah selesai lo pake daleman sama celana lo dulu, biar gue bisa masuk nantinya. Handuk udah gue siapin di samping pakaian lo itu. Ok?”
Nanda keluar dari kamar mandi setelah memastikan regan memahami ucapannya.