Pulang kerja, Nadine melihat rumahnya kembali petang. Tidak ada orang sama sekali. Sudah seminggu Arsen tidak pulang ke rumah. Nadine langsung membuat mie rebus. Dia belum sempat makan malam. Arsen hanya akan mengirimkannya pesan sehari sekali. Yang mengatakan Arsen tidak bisa pulang. Bahkan di hari Minggu saja Arsen tidak pulang. Nadine senang sebenarnya. Ia tak perlu khawatir dengan pernikahannya. Karena memang tidak ada rasa di pernikahannya. Nadine mulai menyantap makanannya. Nadine sendiri akhir-akhir ini dia sering sekali lembur. Bekerja keras bagai kuda. Selesai makan ia langsung tertidur. Besok ia harus menemani bosnya rapat dengan Pak Deannya.
Selesai rapat yang mencengkam karena Dean marah-marah. Intan dan Nadine pergi ke kantin. Disana sudah ada kumpulan dari divisi 2. Nadine duduk disana. Intan dia duduk di jajaran para manajer. Para divisi 2 menegur Nadine yang tidak duduk bersama dengan jajaran para petinggi. Nadine hanya menjawab males karena disana nanti pasti mereka bergosip tentang Pak Dean yang marah besar ketika rapat.
Manda teman dari zaman SMA Nadine, menegur gadis itu karena, kemarin dia berniat mengunjungi Nadine tapi Nadine tidak diapartement. Dengan spontan Nadine menjawab bahwa ia pindah rumah. Tentu saja manda kaget dan langsung bertanya dimana tempat tinggal Nadine yang baru. Mendengar bahwa Nadine tinggal di International Sky, mereka semua kaget. Pasalnya International Sky itu perumahan elit milik perusahaan saingan dimana hanya para Penjabat, Artis, Kolongmerat yang biasa tinggal disana. Untuk masuk Apartemen itu pun sangat sulit karena dijaga ketat.
“Wih.. Pesta Perayaan rumah baru ini.” kata Vian ketua umum divisi 2. Dia orang yang sudah berumur 45 tahun. Tapi tidak suka di panggil pak di ruangan. Lebih suka di panggil Bang. Tapi jika bertemu atasan yang lebih tinggi darinya, baru boleh memanggil pak Vian supaya mereka tidak ditegur karena tidak sopan.
“Lo kawin sama penjabat mana Din ?” tanya Manda.
Nadine langsung bangun dan memukul kepala Manda. “Enak aja lo!!”
Tentu saja Manda dan teman-temannya yang lain menuduh Nadine jadi simpenan penjabat dan menggodanya. Mereka juga meminta agar diiznkan mampir ke rumah Nadine. Tentu saja Nadine melarangnya. Akibatnya dia semakin diledek dengan keras sebagai istri simpanan Penjabat.
“Din, dari pada jadi istri ketiganya nya penjabat mending nikah sama gue.” kata seorang Manajer keuangan itu.
Intan tertawa. Bukan hanya Intan. Tapi seluruh kantin.
“Najis!!” kata Nadine.
Teman-teman Nadine terkhususnya Raka meminta untuk mampir ke rumah Nadine dan mengadakan pesta sembari merayakan berhasilnya mereka mengundang Arsen Alrico. Nadine akhirnya mengirimkan pesan ke Arsen bertanya apa laki-laki itu akan pulang atau tidak malam ini. Mendapat balasan bahwa kemungkinan Arsen tidak pulang karena sehabis syuting sinetron dia syuting video klip dan iklan. Setelah itu dia juga ada pemotretan. Nadine langsung mengiyakan permintaan teman-temannya.
Mereka pulang kerja bersama. Nadine menyalakan lampu rumahnya. Beruntung foto pernikahannya belum ia ambil di rumah mertuanya. Raka dan yang laiinya memuji rumah Nadine. Sementara Nadine dan beberapa staf dari divisi 2 menyiapkan minuman dan makanan yang mereka beli. Mereka membeli banyak minuman soda dan Nadine hanya membelikan 2 Pizza. Dan divisi 2 patungan beli minuman kaleng dan Ayam di KFC dan Donat. Beruntung kamar utama Nadine dia kunci. Jika tidak mereka pasti akan curiga. Beruntungnya lagi Arsen tidak pernah pulang. Jadi dia tidak ada sama sekali baju laki-laki di jemuran. Setelah puas berkeliling mereka kembali ke ruang keluarga dan memakan pizza dan berkaraoke.
Meskipun sudah memakan semua itu mereka tetap kelaparan. Adam keluar membeli mie instan untuk para teman-temannya. Nadine sendiri membuat air panas untuk mie instan tersebut. Sementara Raka duet dengan Manda menyanyikan lagu galau. Mereka semua menikmati pesta malam ini. Selesainya anggota perempuan divisi 2 yang hanya berisi 3 perempuan yang mebuat mie instan tersebut. Sampai tak terasa sudah jam 11 malam. Mereka lelah setelah cukup bersenang-senang. Disana tinggal, Vian, Adam, Raka, Manda, dan Adel.
“Mau kemana Dam?” tanya Vian.
“Kamar mandi bang.” jawab Adam dan langsung pergi ke kamar mandi dekat dapur
Disisi lain Arsen tidak jadi melakukan pemotretan dan syuting iklan. jadi dia bisa pulang dan beristirahat hari ini. Tapi sebelum itu dia membawa pigura foto pernikahannya yang dia ambilnya tadi di rumah mamanya. Arsen membuka rumahnya. Dia tidak melihat banyak sepatu terpajang di rak. Ia langsung masuk ke rumahnya dan kaget melihat kulit kacang berserakan di lantai. Arsen ini pecinta kebersihan. Dia melihatnya jijik. Jadi alasan kenapa Nadine bertanya dia akan pulang atau tidak. Karena Nadine malas membersihkan rumah.
“Nadine.” panggil Arsen kesal.
“Huh.. Arsen Alrico??” kaget laki-laki yang tidak dikenal Arsen.
Adam sendiri kaget. Melihat Arsen masuk ke rumah Nadine. Orang-orang semula mengantuk langsung bangun karena mendengar teriakan Adam. Terlebih Nadine.
“Hah.. Arsen Alrico, beneran itu?”
“Anjir.. Lo tetanggaan sama Arsen?”
“Alah.. Mirip doang tuh.”
Begitu tanggapan orang-orang disana tapi tidak dengan Adam dia melihat Arsen membawa pigura besar foto pernikahanan. Dia sudah sadar sekarang. Karena akan mengajak rekan-rekan kerjanya pulang.
“Mbak Nadine nikah sama Arsen?” tanya Adam terkejut.
Arsen terkejut melihat teman-teman istrinya itu. Terlebih ruang keluarga dan dapurnya sangat berantakan. Saat akan mengelak Arsen lupa jika dia membawa pigura pernikahannya. Arsen lelah dan capek seminggu lebih dia lembur syuting terlebih dia sempat syuting di luar negeri. Mereka semua langsung berdiri menatap Arsen dan Nadine bergantian.
Raka sendiri langsung merebut pigura yang di pegang Arsen. Benar foto pernikahan. Raka dan yang lainnya memastikannya lagi. Memang benar di foto itu Nadine dan Arsen. Mereka benar benar terkejut. Tak menyangka. Kini mereka semua terduduk syok. Dan memandang foto itu.
“Katanya nggak pulang?” tanya Nadine kesal.
“Pemotretannya sama syuting iklannya di tunda.” jelas Arsen. Dia memijit pelipisnya pelan. “Sebelum pulang beresin sampah-sampah disini.” kata Arsen lagi. Dia langsung merebut foto pernikahannya dan membawanya naik ke atas kamarnya.
Manda meminta penjelasan. Sementara Nadine menyuruh teman-temannya untuk membereskan sampah dirumahnya. Setelah itu Nadine naik ke atas kamarnya. Bukan malah beres-beres. Mereka mengikuti diam-diam dan menguping
“Kok nggak bilang kalau bawa temen temen ke rumah?” tanya Arsen kesal.
“Ya nggak usah marah gitu dong. Aku juga udah minta maaf. Salah sendiri kenapa tadi nggak lihat banyak sepatu di rak. Salah sendiri bilang tadi nggak pulang. Ya aku ngajakin mereka main kesini. Kalau tau mas pulang aku juga nggak akan ngajakin mereka kesini.”
“Aku capek Nadine. Aku mana sempet lihat ada sepatu di rak. Orang di rumah tenang banget.”
“Terus gimana??” tanya Nadine.
“Ya kamu suruh teman-teman kamu tutup mulut. Udah ah, Aku mau tidur.”
“Ya temenin,”
Arsen menghela nafas. “Aku ganti baju dulu. Kamu turun sana.”
“Beneran?”
Arsen menganguk.
“Serius ?”
“Iya.”
“Yakin?”
“Iya Nadine.”
“Janji? Nggak akan ngunci kamar kan?”
“Iya Sayang..,”
Nadine langsung terdiam. Arsen juga ia tak menyangka mulutnya akan berkata seperti itu.
Nadine menganguk dan keluar dari kamarnya. Arsen melepas bajunya. Saat membuka pintu melihat teman- temannya di depan pintu, Nadine terkejut. Mereka tersenyum innocent.
Mendengar teriakan Nadine Arsen langsung mendekatinya. “Kenapa?” tanya Arsen yang sudah di belakang Nadine.
Manda dan Adel syokk melihat Arsen hanya memakai celana jeans robek-robek panjang yang ia kenakan tadi tanpa menggunakan baju.
Nadine terkejut saat menoleh ke belakang sudah ada Arsen di belakangnya dengan jarak sangat dekat. Saat akan jatuh Arsen langsung menangkap Nadine. Nadine menatap wajah Arsen. Jantungnya berdebar lagi.
“Ehmm,” dehem Vian.
Nadine sadar. Dia langsung melepaskan dekapan Arsen. Dan menyuruhnya masuk kedalam kamar. Arsen menurut. Adam masih bertanya tak percaya sementara Vian, ia baru sadar bahwa pantas Nadine sangat mudah mendapatkan Arsen untuk datang ke pembukaan Mall mereka. Nadine tak peduli dan mengajak mereka mulai membereskan bekas makanan mereka tadi. Akhirnya Nadine pun menjawab seluruh pertanyaan teman-temannya tentang Arsen dan meminta maaf karena tidak mengundang mereka. Dia menjelaskan kondisi Arsen yang tidak boleh menikah boleh menikah karena sudah terikat kontrak dan meminta teman-temannya untuk tidak menyebarkan rahasianya. Teman-temannya menyanggupinya asal ada sogokan tutup mulut.
Tak lama, Arsen turun dari kamar dan kini sudah melihat sampah-sampahnya sudah tidak ada dan berganti plastik besar. Arsen mengusap rambutnya basah. Adel dan Manda terpesona melihatnya. Sungguh beruntung Nadine. Arsen memperhatikan rumahnya.
“Udah di pel?” tanya Arsen lagi.
“Harus di pel?” tanya Nadine balik
“Iyalah. Biar nggak lengket lantainya.”
Nadine menghentakan kakinya kesal. Ia pergi mengambil pel. Arsen tertawa melihatnya. Ia mencegah Nadine pergi dan bmengatakan bahwa ia hanya sedang bercanda. Ia akan menyuruh tukang bersih-bersih. Tak lupa Arsen juga meminta agar teman-teman Nadine merahasiakan status mereka. Adel dan Manda setuju asal Arsen mau diajak foto bersama. Arsen menyanggupinya. Sebelum pulang teman-teman Nadine mendoakan hubungan Arsen dan Nadine.