Malam ini Nadine masak nasi goreng dan menunggu Arsen pulang. Tapi melihat jam dindingnya menunjukan pukul 11 malam Arsen belum juga pulang. Nadine menidurkan dirinya di ruang tamu sembari menunggu Arsen. Tapi sampai jam 6 Pagi Nadine bangun Arsen juga tidak terlihat batang hidungnya. Nadine menggerakan semua badannya. Badannya terasa sakit tidur di sofa. Nadine mengambil ponselnya di kamar dan tidak ada satu pesan maupun panggilan dari Ben ataupun Arsen.
Nadine langsung menelfon Arsen. “Mas dimana sih?” tanya Nadine kesal. Meskipun begitu dia juga tetap mencoba sopan.
“Gue di lokasi lah.”
“Lupa kalau punya istri?? Apa sih susahnya kirim message ke aku, Kalau nggak pulang. Aku nungguin tau.” bentak Nadine.
Arsen diam ia tak tau jika Nadine menunggunya. Arsen sudah kebiasaan tinggal sendiri. Ia juga lupa jika sudah menikah. Tau sendirilah dia menikah tanpa ada perasaan. Tapi mendengar ada orang yang menunggunya. Arsen merasa sedikit nyaman. “Gue kan nggak nyuruh lo nunggu.” balas Arsen.
Nadine kesal sekali mendengar jawaban itu. Ia langsung mematikan telfonnya. Nadine membanting handphonenya marah. Dia menyesal semalaman telah menunggu Arsen. Nggak bosnya nggak Arsen sama-sama buat dia kesal. Nadine langsung mandi dan memanaskan nasi goreng kemarennya dan berangkat ke kantor. Aura kemarahan Nadine ia bawa sampai ke kantor, Daniel yang akan bertanya tentang jadwalnya hari ini tidak berani bertanya. Akhirnya pilihannya ia memberikan pesan ke Nadine.
Membaca pesan teguran tersebut Nadine langsung masuk ke ruangan bosnya dan meminta maaf.
“Kalau ada masalah di rumah, Jangan di bawa sampe kantor saya kan jadi takut kalau mau tanya jadwal saya.”
“Eh maaf pak. Besok lagi saya nggak gitu.” kata Nadine. Kini dia tersenyum. Ia harus profesional. Tapi mengingat jawaban Arsen, Nadine ingin sekali menghancurkan benda-benda di sekelilingnya.
Nadine langsung membacakan jadwal Bosnya. “Bapak ada meeting sama partner kerja real estate jam 9 di pantai, jam 1 bapak harus ngadirin tender. Jam 3 bapak ada rapat sama anak-anak dari divisi 5 dan 6. Jam 4 bapak harus ngirim materi ke pak Dean. Jam 5 bapak lihat lokasi proyek.”
Setelah mempersiapkan seluruh berkasnya Nadine dan Bosnya pergi menuju tempat meeting yang berlokasi di Pantai. “Oh ya tendernya ubah jadwal jadi besok jam 8. Saya ada perlu jam 1 nanti.” kata Daniel sebelum membuka pintu mobilnya.
Sesampainya Nadine langsung membuka payung dan mendampingi Daniel berjalan. Daniel mengambil payung itu dan berjalan menuju restoran tempat meetingnya.
Arsen melihat dari jauh saat istirahat syuting, perempuan yang berjalan sepayung berdua dengan laki-laki itu mirip sekali dengan istrinya. Arsen sendiri melihat handphonenya beberapa kali karena Nadine sama sekali tidak membalas pesannya.
Tak lama temannya Brian datang mengajaknya pergi makan siang bersama produser dan teman-teman yang lain. Arsen menganguk dan langsung mengikuti Brian dari belakang. Sampai di restoran yang di maksud, Arsen terkejut melihat Nadine duduk di samping Produsernya. Banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya. Tapi pertanyaan itu langsung terjawab ketika prosuder tersebut mengenalkan Daniel atasan Nadine sebagai temannya kuliah di Jerman dahulu
“Niel, gue mau undang lo sama Dean datang ya ke gala premiere film yang gue produserin tanggal 9 nanti.” kata produser yang bernama Vero itu. Maklum dia pake bahasa non formal. Karna memang pada dasarnya produser itu Daniel dan Dean seumuran. Mereka baru berusia 27 tahun. Dan sudah sukses.
“Lo omongin deh ke seketaris gue. Dia yang ngatur jadwal gue.”
“Saya minta kartu nama kamu ya nanti saya hubungin.” kata Vero. Nadine tersenyum dan menganguk. Ia langsung mengeluarkan kartu nama miliknya. “Kamu punya pacar?” tanya Vero berikutnya. Dan alhasil mereka semua langsung melihat ke arah Nadine. Arsen terlebih.
Daniel segera menjawab bahwa Nadine menyukai Dean dan lebih baik Vero menyerah saja. Vero tak percaya bahwa Nadine menyukai Dean. Dan tentu saja Nadine langsung membantahnya.
“Kamu pikir saya nggak tau, di kantor banyak yang gosipin kamu sama Intan yang saingan buat dapetin hatinya pak Dean. Kamu juga katanya pingin jadi seketarisnya pak Dean.” kata Daniel.
“Saya sama Intan temen deket pak. Kita kemaren itu cuma bercanda. Kita profesional pak. Saya lebih suka kerja sama bapak daripada sama pak Dean yang suka marah-marah. Nggak ada senyum lagi. Lagian pak Dean kan punya pacar. Nanti pacarnya marah loh pak kalau denger.” elak Nandine. Tapi dalam hatinya ia merutuki Daniel.
“Nadine, rapat sama anak divisi bisa di resechedule nggak?”
“Bisa pak.”
“Ganti besok jam 8.”
“Bapak tadi bilang besok jam 8 bapak ngadirin tender.”
“Jam 11?”
“Bapak ada meeting gantiin pak Dean.”
“Saya besok kosong jam berapa?”
“Nggak ada pak. Jadwal bapak sudah full.”
“Ganti nanti jam 4 aja. Kamu jangan lupa kirim berkasnya ke pak Dean.”
“Tapi nanti jam 5 bapak harus lihat lokasi proyek.”
“Suruh manajer yang lihat, terus laporan ke saya.”
“Baik pak.” ucap Nadine setelah itu dia langsung pamit dan mengurus perpindahan jadwal.
Arsen mengikuti Nadine. Setelah dirasa tidak ada orang yang melihat. Arsen memegang pundak Nadine. Nadine terkejut. Tapi melihat Arsen di depannya. Dia lebih terkejut. Jika ada yang melihat bagaimana?
“Sorry kalau gue semalem nggak bilang.” kata Arsen.
“Gapapa.”
“Apanya yang gapapa. Lo marah gitu.” kata Arsen. Nadine diam tak merespon. “Makasih buat roti sama susunya kemaren. Enak. Kapan-kapan bikinin lagi ya.” pinta Arsen. Sejak ia jadi Aktor ia sudah lama tidak di buatkan bekal atau makan masakan rumah karena terlalu sibuk. Nadine tersenyum ia menganguk. Moodnya membaik tiba tiba.