Nadine sudah siap dengan kebaya putih yang ia kenakan. Ia duduk di samping Arsen. Arsen berdebar saat akan melaksanakan ijab qabul. Bagaimana pun ini pertama kalinya ia akan menikah beneran bukan syuting pernikahan. Dengan mengucapkan ini statusnya akan berubah. Sedangkan Nadine sendiri tak jauh berbeda. Selesai ijab qabul di ucapkan, Nadine mengambil tangan orang yang sudah sah menjadi suaminya itu dan menyaliminya. Arsen mencium kening Nadine. Nadine berdebar saat bibir milik Arsen menyentuh kulit keningnya.
Selesai melakukan ijab qabul mereka melakukan resepsi di hotel terkenal dan hanya mengundang beberapa tamu saja. Arsen sendiri sempat terpukau melihat penampilan Nadine yang memakai gaun. Cantik. Arsen sendiri tak tau dengan gaun itu. Karena saat mereka melakukan fitting. Mereka tak pergi bersama. Tapi sendiri-sendiri. Apalagi kalau bukan karena Arsen yang sibuk.
Arsen tersadar dari lamunanya saat Nadine memanggilnya.
“Mas Arsen gapapa?” tanya Nadine.
Kini gantian Arsen yang berdebar. Mas Arsen?? Siapa yang berani memanggilnya seperti itu. Melihat Nadine di depannya dengan mengibaskan tangan miliknya. Arsen langsung menegurnya.
“Mama yang nyuruh.”
Selesai resepsi mereka selesai. Ben mengantarkan Arsen dan Nadine ke rumah barunya. Arsen sedikit terkejut melihatnya. Rumahnya benar-benar mirip di fotonya sangat bagus. Hanya ada beberapa yang berbeda.
“Kamar gue dimana kak?” tanya Nadine dan Arsen bersama-sama.
Ben berjalan ke atas. Dan menunjukan kamar mereka berdua. Kamar yang sangat luas. Di samping kamar itu sendiri ada ruangan walk in closet milik Arsen dan Nadine. Melihat hal itu mereka berdua paham sekarang.
“kita sekamar?” tanya Nadine memastikan.
“Iyalah.. Pengantin baru. Oh ya Sen, barang-barang lo udah gue pindahain kesini semua kok. Piala penghargaan di lantai 3.” kata Ben. Setelah itu dia langsung berpamitan keluar.
“Makasih kak.” ucap Arsen tulus.
“aku harap kalian nggak macem-macem seperti buat kamar sendiri-sendiri. Ortu kalian pasti suka datang sewaktu-waktu datang kesini karena mereka punya duplikat kunci. Kalian sendiri masing-masing sibuk jadi nggak bakal ada waktu buat nyiapin kebohongan. nggak mau kena marah kan??” tanya Ben sebelum benar-benar keluar.
Mereka berdua menganguk. Ben keluar dengan tenang. Arsen langsung melepaskan pakaiannya dan mandi. Nadine sendiri membersihkan make up berpuluh-puluh kilonya. Setelah menurutnya bersih ia melepaskan gaunnya di ruangan ganti baju dan memakai jubah mandi.
Arsen keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggannya. Nadine langsung memutar tubuhnya tak berani melihat. Melihat reaksi Nadine seperti itu Arsen menahan tawanya. Arsen langsung masuk ruang bajunya sedangkan Nadine pergi ke kamar mandi. Mulai mengisi air. Nadine menenangkan dirinya dengan merendamkan badannya. Ia tak menyangkan statusnya sudah berubah. Sejam di kamar mandi Nadine langsung keluar. Arsen sudah siap akan mendobrak karena Nadine tak keluar keluar.
“Gue kira lo bunuh diri di dalem. Ngapain nggak keluar-keluar?” tanya Arsen kesal.
“Mandilah.”
“Lama banget.”
“Cewek memang mandinya lama.” balas Nadine. Kini ia langsung mengganti piyama dengan kaos oversize. Setelah itu ia langsung mengeringkan rambutnya. Arsen sudah tidur. Nadine sendiri selesai mengeringkan rambutnya dia membuat tugas yang di suruh atasannya.
Arsen terbangun karena haus. Melihat laptop menyala dengan Nadine yang tertidur di atasnya, membuatnya laki-laki itu mengangkat istrinya dan membaringkan di ranjang. Setelah itu ia menyimpan filenya dan mematikan laptopnya. Arsen keluar mencari minum. Beruntung di almari es sudah tersedia banyak minuman.
Paginya Arsen terbangun karena jeritan Nadine. Arsen menjawab bahwa ia yang mengangkat Nadine. Nadine sadar, dan ia langsung mengucapkan terimakasih. Setelah itu dia bangun dan mebersihkan dirinya. Selesainya Nadine keluar dari rumah dan membeli bahan makanan.
Meskipun Nadine terpaksa menikah dengan Arsen dia nggak mau masuk neraka gara-gara durhaka dengan suaminya. Jadi sebagai istri yang baik Nadine akan berusaha memenuhi kebutuhan Arsen. Selesai belanja Nadine membuat Ayam bakar. Arsen yang tertidur langsung terbangun mencium aromanya. Arsen turun dari kamarnya dan melihat Nadine yang sedang menyiapkan makanannya. Ia pun berbasa-basi bertanya apa ada yang bisa ia bantu. Nadine pun menyuruhnya mandi setelah itu makan bersama. Arsen menganguk. Ia buru-buru mandi supaya bisa langsung menyantap ayam bakar tersebut.
Semalam mamanya Arsen mengatakan jika Arsen sangat suka Ayam bakar dan Nasi goreng. Jadi, Nadine merasa senang bisa membuat Arsen bangun karena aroma masakannya.
Arsen turun dan langsung duduk di meja makan. Ia mengambil nasi dan Ayam bakar tersebut. Dan memakannya. Mencobanya satu suapan terasa enak. Arsen langsung memakannya dengan lahap. Nadine tersenyum senang melihatnya.
“Pelan-pelan.” kata Nadiine.
Arsen menganguk. “Kopi nggak ada?” tanya Arsen selesai makan.
“Di lokasi kan kamu udah sering banget minum kopi, di rumah jangan minum kopi juga. Minum aja susunya.” kata Nadine.
Arsen heran melihat s**u Coklat di meja. Kenapa Nadine tau jika ia tidak suka s**u putih. Arsen meminumnya.
“Din, pokoknya besok jangan masak yang berat-berat kayak gitu.” kata Arsen yang kini melangkah ke ruang keluarga menyalakan televisi.
“Kenapa?”
“Badan gue bisa kayak gini gara-gara jaga pola makan.” jawab Arsen.
“Oo.. Susah ya jadi Artis.” balas Nadine kini ia duduk di samping Arsen.
Mereka pun berbicang membicarakan keseharian yang akan mereka laukan untuk besok sembari menonton televisi. Kini mereka berdua diam. Dan menikmati saluran televisi. Arsen menonton kartun, tapi segera di rebut Nadine dan menggantinya berita infotaiment.
“Tukang gosip.” ejek Arsen.
“Udah gede juga masih kayak anak kecil nonton kartun.”
Arsen merebut remot TV tapi Nadine merebutnya kembali. Adegan berebut berhenti ketika pembawa acara membawakan berita dari Arsen. Dalam berita tersebut Arsen dituduh sedang terlibat cinta lokasi dengan lawan mainnya Agata yang berperan sebagai Cindy. Sekarang Nadine baru tau, jika berita di televisi itu tidak sepenuhnya terbaru. Dia melihat Arsen yang menyangkalnya dengan tegas begitu pula dengan Agata. padahal mah, Arsen sekarang di sampingnya.
Melihat berita tersebut Nadine menggodanya tapi yang kemudian dibalas sarkas oleh Arsen yang menyindirnya menyukai bosnya sendiri. Nadine terkejut. Bagaimana caranya Arsen bisa mengetahui hal itu.
******
Jam 4 pagi Nadine bangun ia langsung menyiapkan roti dan s**u coklat untuk Arsen selesai menyiapkan air hangatnya untuk mandi. Dia menyuruh Ben menunggu Arsen sembari memberikan s**u hangat agar Ben meminumnya. Ben meminum s**u panas itu. Nadine berpesan ke Ben agar memastikan Arsen memakan Roti yang dia buat.
“Di lokasi dikasih makan.”
“Pasti agak siangan, pokoknya suruh makan aja nanti di mobil. Oh ya kak, Arsen jangan terlalu dibolehin minum kopi. Suruh dia banyak banyak minum air putih ya.” pesan Nadine lagi.
Ben menganguk-angukkan kepalanya.
“Ayo.” kata Arsen dengan menuruni tangga.
Nadine langsung menyalami tangan Arsen. Arsen terhenti, ia kaget melihat reaksi Nadine. Nadine menyuruh Arsen segera berangkat karena laki-laki tersebut bengong. Arsen tersadar lalu berpamitan pergi. Setelah memastikan mobil yang dinaiki oleh Arsen pergi, Nadine memutuskan untuk membersihkan rumah. Setelah itu dia mandi dan siap-siap ke kantor.
Sedangkan di dalam mobil, Ben menggoda Arsen. “Ciee.. Pengantin baru, gimana malam pertamanya? Senengnya punya istri, pagi-pagi ada yang nyiapin air anget buat mandi, nyiapin makan, perhatian... Gue pingin nikah aja bawaannya lihat tadi.”
“Yaudah nikah aja lagi.” sarkas Arsen.
Ben menggoda Arsen sampai lai-laki tersebut jengkel. Mengetahui Artisnya sudah merasa kesal Ben memberikan titipan Nadine dan menyuruh Arsen makan. Arsen menurut dan memakan roti bakar tersebut. Lagi-lagi Arsen heran darimana perempuan itu tau jika ia suka rasa Anggur dan Green tea.