BAB 3

1091 Words
Nadine izin ke bosnya untuk mengurus perjanjian dengan Arsen. Selesai mendapat izin Nadine menemui Arsen yang sedang istirahat syuting di sebuah Cafe. Arsen mengenalkan Nadine dengan Ben manajernya. Ben sendiri sempat terkejut melihat calon istri artis sekaligus temannya tersebut. “Aku udah bikin kontraknya. Tinggal tanda tangan aja.” kata Nadine. Ben membaca kontrak tersebut dan akhirnya menandatanganninya. Ben pasti akan melembur malam ini karena mengubah jadwal Arsen. Selesai mengurus kontrak, Arsen mengajak Nadine mencari cincin nanti malam. Saat mereka akan keluar Nadine bertemu CEO-nya dengan Intan seketarisnya. Nadine menyapa mereka berdua dengan menunduk. Hal ini dikarenakan Dean blasteran Korea, Spanyol, dan Indonesia. Namanya Park Dean Lunberg. Dean mengucapkan selamat melihat Nadine yang akhirnya bisa menekan kontrak bersama dengan Arsen. Ketika akan mengajak Arsen bicara, telpon Dean berdering. Dia berpamitan pergi dan menjawab panggilannya. Intan tak menyia-nyiakan momennya kapan lagi ketemu Arsen Alrico. Artis yang gantengnya ngalahin pak Dean tersayangnya. Mirip Chanyeol EXO. Tapi tetap di hati Intan hanya pak Dean. Karena tak mungkin bagi Intan menjalin hubungan dengan Arsen. Peluangnya 0% Jika dengan Pak Dean peluangnya 10%. Intan meminta foto bareng dan tanda tangan Arsen. Arsen sebagai publik figur itu mengiyakan permintaannya Intan. Selesai berfoto Nadine menyindir Intan yang tidak jadi pergi ke Spanyol setelah acara pamernya kemaren. Intan secara spontan curhat bahwa dia tidak jad pergi gara-gara pacarnya Dean yang tiba-tiba ngambek. Tentu saja mereka berdua langsung menjulid i Kendal KW itu. Oleh karena itu Arsen tau bahwa Nadine menyukai bosnya tersebut. Intan yang masih akan menghujat pacar Dean langsung berhenti ketika melihat Dean menuju ke arahnya. Nadine dan Intan masing-masing memasang senyum termanis. Senyum kedua perempuan itu langsung hilang ketika pak Dean menyuruh Intan Seketarisnya untuk membatalkan seluruh jadwal dan ikut kembali ke kantor bersama Nadine. Dean menyalami Arsen dan Ben setelah itu ia langsung pamit pergi. “Pasti itu Kendal KW. Ihh sumpah ngeselin!! Kapan sih mereka putus?? Nambah nambain kerjaan gue aja.” kesal Intan setengah berteriak. Nadine tertawa. “Sabar.” katanya. Dia langsung menepuk-nepuk bahu Intan. ***** Malam ini sesuai dengan perkataan Arsen, ia menjemput Nadine di apartemennya jam 11 malam. Percayalah Nadine sangat ingin memutilasi calon suaminya itu. Sepanjang perjalanan mereka yang di sopiri Ben, penuh perdebatan. Sampai ditoko Ben masuk kedalam toko tersebut mengurus hal-hal di perlukan. Sehabis itu barulah Arsen yang menyamar dengan Nadine masuk ke toko mas tersebut. “Pilih yang lo suka.” kata Arsen. Nadine menganguk. Tapi kalau boleh jujur ia sedih harus memilih cincin dengan Arsen. Bukan dengan Dean orang yang ia taksir sebelum kerja di LbG grup. Nadine menatap cincin-cincin yang dipajang tapi tak menemukan satupun yang cocok di hatinya. Karena kesal menunggu akhirnya Arsen yang memilih. Ia capek ia ingin segera tidur. Arsen memilih Cincin mas putih dengan berlian yang besar menurut Nadine dan bertabur permata di sampingnya. Arsen meminta untuk mengeluarkan cincin tersebut dan menyobakannya di jari Nadine. Untuk sebentar Nadine berdebar di perlakukan seperti itu oleh Arsen. “Cantik.” kata Arsen. Nadine melting. Wajahnya memerah. Tapi ia segera memalingkannya dan memilih cincin lagi. Nadine menunjuk satu cincin dan Pramuniaga itu mengambil cincin yang di tunjuk Nadine dan Nadine memakaikannya ke Arsen. Arsen melihatnya. Cincin mas putih dengan model simpel dan memiliki berlian kecil di tengahnya. “Not Bad.” kata Arsen yang kemudian memberikan kartunya. Segera setelah membayar cincin tersebut dia kembali pulang untuk istirahat. Ia ada syuting jam 4 pagi. “Arsen.. Soal gedung sama undangan gimana?” tanya Nadine. “Kata orangtua kalian, mereka yang urus semua. Kalian cuma perlu beli cincin. Ndekor rumah. Foto prewed. Sama fitting baju.” jawab Ben. Nadine mengangu menegerti. “Lo bisanya kapan?” tanya Nadine. “Gue sibuk. Lo aja yang dekor rumahnya.” “Biasain pake aku kamu, nanti ortu kalian marah kalau denger. Nggak sopan juga.” kata Ben yang telah mendapat amanah dari ibunya Arsen. Keesokannya karena bertepatan dengan hari minggu. Kantor Nadine libur. Nadine sendiri berhasil meminta izin cuti karena memang selama ini Nadine tidak pernah cuti. Itupun dia hanya dapat 2 hari. Nadine sudah di jemput oleh kedua mamanya. Mama kandungnya dan mama mertuanya. “Arsen mana?” tanya Mama Fira. Mamanya Arsen. “semalem udah bilang kok Ma, sama Nadine. Arsen lagi sibuk. Jadi Nadine yang di suruh lihat-lihat rumah dulu. Terus kalau misalnya sampai kerepotan di suruh beli rumah yang udah sekalian sama prabotannya.” jawab Nadine sopan. Nadine melihat foto-foto rumah beserta isinya yang di tunjukan mertuanya. Kalau boleh jujur Nadine lebih memilih untuk mendesign rumahnya sendiri dari pada membeli rumah jadi. Tapi pernikahannya dengan Arsen juga tidak akan berlangsung lama. Jadi buat apa dia memikirkan hal-hal yang tidak penting. “Aku mau lihat yang ini deh ma, rumah 3 lantai. Di atap rumah ada taman sama lapangan golf mini. Di lantai 2 ada kolan renang kaca. Halamannya lumayan luas juga.” kata Nadine. Kini ia mengirimkan fotonya ke nomor Arsen dan meminta pendapatnya. Tak lama Arsen membalasnya. Jika Nadine suka. Ia juga suka. Saat Nadine melihat-lihat isi rumah tersebut. Ia lebih suka lagi karena ada ruangan khusus untuk nonton film. Nadine hoby nonton. Sekarang ia tak perlu jauh-jauh ke bioskop. Perabotannya juga sangat sangat estetik baru lihat pertama kalinya. Nadine langsung jatuh cinta. Kuncinya juga memakai fasilitas terbaru yaitu kode rumah dan tempelan kartu. Tapi saat mendengar harganya. Nadine benar-benar terkejut. Tabungannya akan habis jika dibuat untuk membeli rumah itu meskipun patungan dengan Arsen. “Ini kado dari mama sama mama Fira. Kamu nggak usah bayar.” kata mamanya. Nadine tak enak. Saat ia berniat menolaknya. Mama Firanya melarangnya. Karena hanya ini satu-satunya yang mampu dikasihkannya ke Nadine. Nadine sangat berterimaksih dan lalu memeluk kedua orang tuanya tersebut. Sesampainya di rumah Nadine langsung melembur mengerjakan tugas yang di berikan Daniel kepadanya. Ia lupa jika harus menelfon Arsen untuk foto prewed-nya. Biarlah ia melupakan soal pernikahan untuk sementara. Baru membantin telfonnya sudah berdering. Nadine mengangkat telfonnya tanpa melihat siapa yang memanggilnya. Mendengar suara yang ketus dan tak asing akhir-akhir ini Nadine langsung mengenalinya sebagai panggilan dari Arsen. Arsen langsung menyuruh Nadine turun dari apartemennya dan pergi melakukan foto Pra-wedding. Nadine terburu-buru keluar dari apartemnnya dan membawa laptop untuk melanjutkan materi miliknya. Arsen sempat terkejut tapi tak lama. Selama perjalan kedua insan tersebut saling diam tanpa ada yang berbicara. Nadine fokus dengan materi presentasi, dan Arsen fokus pada berita badminton. Sesampainya Nadine langsung menerima riasan untuk foto Praweding. Arsen tak ragu-ragu menampilkan pose fotonya. Ia sudah terbiasa. Berbeda dengan Nadine. Ia bingung. Harus berpose seperti apa untuk foto prawed ini. Mereka melakukan foto dalam gedung. Dan nanti baru akan di edit oleh fotografernya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD