BAB 8

1323 Words
Sepulangnya kerja, Nadine membeli kue dan mengirimkannya ke rumah orang tuanya. Mamanya terkejut melihat Nadine yang tidak pernah pulang tiba tiba pulang. Alhasil mamanya menyuruh Nadine untuk makan bersama malam ini. Nadine menolak ia harus menemui mertuanya dan memberikan roti yang dia beli. Nadine lalu bertanya tentang Brandon adiknya. Mengetahui bahwa Brandon masih kuliah Nadine memutuskan untuk langsung pergi. Tapi, diluar rumah ia melihat adiknya. Nadine dan adiknya bukan saudara yang akur. Mereka lebih sering berkelahi. Dan hanya baik jika ada keperluan. Seperti biasa Brandon akan memeluk kakaknya itu dengan mengangkat dan memutar mutarkan tubuhnya. Nadine sudah punya firasat tak enak. Dan seperti biasa Brandon meminta uang jajan. Beruntung Brandon punya kakak sebaik Nadine. Nadine memberikan 500 ribu ke adiknya. Brandon mencium pipi Nadine dan mengacak rambutnya. Setelah itu dia mengantarkan kakaknya sampai masuk ke dalam mobil dan pulang. Nadine melanjutkan mengemudi ke rumah mama mertuanya. Sebenarnya Nadine melakukan ini gara-gara Manajer Arsen bilang jika mama mertuanya itu kesepian dan ingin punya teman. Ben juga sempat bilang jika mamanya Arsen menyukai roti yang sama dengan mamanya. Nadine memasukan mobilnya ke dalam rumah Arsen. Mama mertuanya langsung memeluknya begitu ia sampai di depan pintu. Nadine duduk dan memberikan kue tadi yang dibawanya. Fira mertuanya sangat senang Nadine membawakan roti yang dia suka. Nadine pun memberitahu bahwa Arsen yang memberitahu tentang roti kesukaannya. Nadine sendiri langsung menyalami papa mertuanya dan papanya itu langsung memeluknya. Mereka mengajak Nadine makan bersama dan juga menyuruhnya untuk menginap dirumah mereka. Tentu saja Nadine menolak ia takut Arsen pulang dan belum makan. Akhirnya terpaksa mertuanya mengizinkan Nadine pulang setelah makan. Sampai dirumah, rumahnya petang. Pertanda Arsen juga tidak pulang. Nadine langsung menyalakan lampunya. Nadine rasa Arsen tidak akan pulang malam ini. Nadine memutuskan untuk berenang. Ia baru ingat, jika kolam renangnya ini tidak pernah di pakainya sama sekali sejak beli rumah. Nadine menjeburkan dirinya. Dingin airnya. Segar itu yang dirasakannya. Nadine berenang mengelilingi kolam renangnya berkali-kali. Nadine harus sekali-kali berolahraga. Disisi lain, Arsen memutuskan pulang cepat. Beruntung video klipnya di tunda gara-gara alat-alat yang di sewa tadi terkena kendala. Ia memastikan kali ini hanya ada Nadine saja di rumah. Ia ingin berterima kasih kepada Nadine. Mamanya tadi melakukan panggilan video dengannya. Ia memberi tahu jika Nadine tadi ke rumahnya dengan membawa roti kesukaan mamanya dan ikut makam malam. Yang pastinya mamanya sangat senang. Terlebih tadi mengatakan jika ia tau kesukaan roti mamanya dari Arsen. Dan Arsen ingat betul jika ia tak pernah memberi tahu hal itu. Arsen mencarinya di kamar dan di kamar tidak ada. Tapi Arsen mendengar suara air berisik. Melihat ke kamar mandi juga tidak ada. Tidak mungkin jika Nadine berenang malam-malam. Tapi Arsen tetap mencarinya ke kolam renang. Dan see, Arsen melihat Nadine naik dari kolam. Lidah Arsen kelu untuk sekedar memanggil Nadine. Nadine hanya memakai bikini bewarna drak blue. Ia masih belum menyadari keberadaan Arsen. Sampai saat ia mengambil jubah mandinya ia melihat Arsen di depan pintu melihatnya. “Loh.. Mas Arsen kok disini?” tanya Nadine kaget. Arsen tetap memperhatikan bentuk tubuh Nadine. Harus Arsen akui bentuk tubuh Nadine sangat elok. Melihat Arsen yang diam Nadine takut. Jangan-jangan Arsen hantu. Nadine menutup matanya setelah itu dia membukanya matanya kembali, Arsen masih disana. Bukan malah memakai handuknya Nadine malah mendekati Arsen. “Mas?” panggil Nadine. Kini ia menyentuh kening Arsen. Panas. Saat Nadine akan mengambil handuknya tangannya sudah di pegang Arsen. “Kenapa?” tanya Nadine penasaran. Nadine mundur saat Arsen mendekatinya. Bukan terbentur ke tembok. Tapi- “Mas..,” Byurr... Nadine terpeleset dan masuk ke kolam. Tapi tangannya sempat meraih tangan Arsen dan membuat Arsen jatuh ke ke kolam renang. “Mas udah gila ya?” bentak Nadine marah. Untung dia tidak tenggelam. Arsen melihat bibir Nadine dan langsung melumatnya. Nadine kaget. Tangan Arsen sendiri sudah berada di pingang Nadine. Dia mencium bibir Nadine rakus. Lidahnya masuk menerobos mulut Nadine. Nadine terbawa arus dengan ciuman Arsen. Dia membalas ciuman dari Arsen. Kini tanganya sudah berada di leher mikik Arsen. Nadine segera menarik kepalanya untuk menyudahi ciuman yang dilakukan karena kehabisan nafas. Arsen sadar. “Aku lapar.” setelah mengatakan itu Arsen langsung naik ke atas dan meninggalkan Nadine di dalam kolam renang. Nadine diam. Apa yang baru saja dilakukannya. Arsen sendiri langsung memukul kepalanya keras. Dia pasti sudah gila tadi mencium bibir Nadine seperti itu. Arsen masuk ke kamarnya mandi dan mengganti bajunya. Keluar dari kamar mandi ada Nadine yang masuk ke kamarnya. Canggung itu yang mereka rasakan. Nadine dengan jubah mandinya. Arsen dengan handuk yang melilit di pinggangnya. “Mas..” panggil Nadine. “Eh, ya?” “Airnya kemana-mana. Bersihin.” kata Nadine dengan menunjuk genangan air di kamar sampai luar kamarnya. Arsen menganguk. Dan Nadine langsung masuk ke kamar mandi. **** Arsen turun melihat Nadine memasak dengan kaos putih oversize. Bra dan celana pendek yang di kenakan Nadine terlihat. Kain kaos oversize tersebut tembus pandang. Arsen harus bertahan. Dia tidak akan kerasukan seperti itu. Nadine langsung menyiapkan makanannya. Kuah sop. Melihat Arsen yang sudah duduk, Nadine bertanya apa dia sudah membereskan kekacauan yang tadi. Arsen menganguk mengiyakan. Nadine tersenyum lalu menyiapkan makan untuk Arsen. “Kamu nggak makan?” tanya Arsen saat melihat cuma ada satu porsi saja. “Aku udah makan tadi di rumah mama Fira.” jawab Nadine. Arsen mengucapkan terimakasih ke Nadine ketika ia teringat mamanya menelfon tadi. Nadine hanya merespon dengan senyuman. Setelah itu, Nadine pamit untuk tidur terlebih dahulu. Arsen melarangnya. Ia tak suka makan sendirian dan meminta Nadine untuk menemaninya. Akhirnya Nadine setuju. Ia menunggui Arsen. Nadine duduk kembali dan menemani Arsen makan. Benar-benar hanya menemani, tanpa kata tanpa suara. ***❤*** Nadine membuka matanya. Di depannya sudah ada wajah Arsen yang tertidur lelap. Seperti terakhir kali mereka tidur bersama kini Arsen juga memluknya erat. Dan Nadine juga memeluk pinggang Arsen. Nadine melepaskan pelukannya dan saat akan melepaskan lengan Arsen, Arsen malah mengeratkan pelukannya dan mendekat tubuhnya ke Nadine. Nadine berbedar. Arsen nggak baik buat jantungnya. Nadine heran kenapa Arsen sangat mudah mrmbuatnya berdebar. Nadine berusaha membangunkan Arsen dengan menepuk-nepuk pipi dan bahu Arsen. “Masih ngantuk.” kata Arsen dan kini malah ia semakin mengeratkan tubuhnya ke Nadine dan menaruh kepalanya di d**a Nadine. Debaran Nadine semakin keras. “ARSENN!!” teriak Nadine tepat di telinga Arsen. Mau tak mau Arsen langsung membuka matanya dan bangun. “Gila ya lo??” tatap Arsen ke Nadine. Kali ini ia sudah sadar dan menatap Nadine jengkel. “Aku mau kerja terus masak.” “Yaudah sana. Ngapain bangunin gue.” kata Arsen yang belum sadar sedari tadi tangannya memeluk pinggang Nadine. “Mangkanya lepasin dulu pelukannya.” Barulah Arsen sadar. Wajah Arsen memerah malu. Nadine bangun. Ia langsung membuat Sandwich. Dan setelah itu ia langsung mandi. Dia akan datang ke pembukaan mallnya. Selesai makan bersama saat Nadine akan berangkat kerja sendiri, Arsen mencegahnya. Dan meminta untuk mengantarkan Nadine ke kantornya. “Nanti mama marah-marah sama gue, gara-gara ngelantarin istri sendiri. Bisa nurut nggak sama suami?” Nadine diam dan menerima Arsen mengantarkannya ke kantor. Nadine menyalami Arsen sebelum turun dari mobil. Arsen sendiri mencium kening Nadine. Nadine berdebar lagi. Arsen langsung balik ke mall untuk mendatangi pembukaan mall. Sedangkan Nadine datang bersama Daniel dan Dean bersama Intan. Melihat banyak tamu yang datang, Dean dapat memastikan satu hal mengundang Arsen tidak membuatnya rugi. Dean menggunting pita di depan pintu mall tersebut dan mendapat tepuk tangan yang meriah. Mereka langsung ke dalam mall. Di dalam sudah ada panggung yang besar. Pembawa acara langsung memanggilkan beberapa artis yang sedang naik daun. Daniel masih disana untuk memperhatikan dan memastikan bahwa acara pembukaan berlangsung sukses. Nadine bergerak ke belakang panggung dia melihat Arsen. Arsen tersenyum melihatnya. Nadine langsung memalingkan mukanya. Kevin teman sesama artis yang melihatnya menahan tawanya. “Yaelah.. Di kacangin.” Arsen menjitak Kevin untuk membalasnya. Gara-gara tidak memperhatikan jalan karena kaget dengan tingkah Arsen. Hells Nadine tidak sengaja tersangkut kabel dan hampir saja dia jatuh jika tidak Dean yang menangkapnya. Nadine menatap laki-laki yang menangkapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD