BAB 9

1429 Words
Adel dan Adam yang melihatnya kaget. Bukan hanya mereka sebenarnya, tapi lihat saja mereka baru mengetahui bahwa Arsen itu suami Nadine. Dan sekarang Bu Nadine sangat romatis dengan pak Dean. Arsen selaku Suami Nadine sendiri melihatnya terpengarah dari jauh. Ia menatapnya kesal. Tapi ia langsung memalingkan mukanya. Ada yang aneh dengan dirinya. “Kamu gapapa?” “Nggak papa pak. Makasih.” “Iya. Lain kali hati-hati.” kata Dean dengan melepaskan dekapannya. Nadine menganguk dan tersenyum. Dia lalu melihat ke arah Arsen. Arsen memalingkan mukanya. “Pastinya sama yang terakhir kalian nggak akan sabar, Tau nggak siapa??” tanya Mc itu. Dan seketika acara semakin ramai karena banyak orang orang yang berteriak memanggil Arsen. “Arsen Arsen..” “Dan selanjutnya... Yang di tunggu tunggu, Arsen... Alrico.” Arsen langsung naik ke panggung. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Suara tadi semakin keras saat Arsen naik ke atas panggung. “Selamat pagi.” sapa Arsen “Pagi.” jawab penggermarnya. Nadine yang melihatnya tak percaya, fans Arsen sebanyak ini. Dan semua menjerit meneriakan nama Arsen. “Semangat banget ya, udah pada makan belum?” tanya Arsen ke penggemar-penggemarnya. “Belumm..” “Udah..” “Yang belum makan, makan dulu gih, nanti sakit loh.” kata Arsen dengan tersenyum. ***❤*** Selesai acara para petinggi LbG dan orang-orang bertanggung jawab makan bersama di sebuah restoran mewah. Arsen juga ikut. Dan hal itu membuat pertanyaan dari beberapa rekan artisnya. Karena Arsen memang terkenal tidak akan mengikuti kegiatan makan malam sejenis untuk perayaan karena jadwal yang sangat padat. Dean memberikan ucapan selamat karena acara tadi berlangsung sukses. Mereka duduk jadi satu di meja yang panjang. Nadine sendiri duduk di samping Daniel. Mereka berbincang-bincang dengan menikmati makan malam mereka. “Saya kaget waktu tau bakal sepanggung sama Arsen, padahal saya denger hari ini Arsen harusnya syuting ke Venesia.” kata Kevin. “Kalau gitu kita ucapkan makasih banget, buat Arsen yang mau datang ke pembukaan Mall LbG. Selamat juga buat seketaris Nadine bisa ngerayu Arsen.” kata Daniel. Mereka semua bertepuk tangan. Nadine mengucapkan terimakasih. “Sebenarnya anak-anak yang lain juga ikut ngerayu Kak Arsen juga.” kata Nadine dengan tersenyum malu. “Kita ngerayu 3 bulan lebih di tolak sama Arsen. Bu Nadine baru satu hari yang maju langsung dapat kontrak sama Arsen.” kata salah satu karyawan disana. Mereka berdua diam karena penasaran dengan alasannnya. Tidak dengan Vian, Adam, Adel, dan Raka. Mereka sudah mengetahui alasan kenapa Arsen setuju. Apalagi kalau bukan karna Nadine istri Arsen. “Makasih buat usaha karyawan LbG, sama bintang tamu kita yang hadir.” ucap Dean. Sekali lagi mereka semua bertepuk tangan. “Tapi saya penasaran loh Dine, Gimana caranya kamu bisa dapat kontrak sama Arsen?” tanya Daniel. “Kenapa ? Coba cerita dong.. Kak Arsen sampai nggak jadi syuting ke Venesia loh ini gara-gara jadi bintang tamu kita.” tanya Intan. Nadine diam dia nggak tau harus jawab apa. “Jangan-jangan kalian ada hubungan lagi.” goda salah satu artis disana. Arsen diam juga. Dia memikirkan jawaban-jawaban yang muncul dan yang akan di ucapkannya. Saat Arsen akan menjawab tiba-tiba terdengar suara teriakan yang memanggil Arsen. Mereka semua langsung berdiri terpengarah. Arsen sendiri kaget melihat para penggemarnya menerobos masuk. Dan di halang-halangi para security. Arsen berdiri dan tersenyum. Di melambaikan tangannya. Dia mendengarkan dan menjawab beberapa pertanyaan yang ditanyakan oleh penggemarnya. Arsen juga melakukan foto bersama dengan penggemarnya. Setelah itu, Arsen menerima surat, hadiah dan kotak makan dan menandatangi beberapa barang. Sampai akhirnya para kerumunan itu bisa di usir keluar. “Arsenic memang luar biasa.” kata salah satu teman selebritisnya. Arsenic, nama penggemar Arsen. Arsen hanya mengangkat bahunya. Dia duduk kembali dan membuka kotak makan tersebut. Kotak tersebut berisi kimbab, sosis, nugget. Arsen mencobanya. Lumayan batinnya. Tak berapa lama manajernya datang dan mengajaknya pergi. Arsen mengucapkan terimkasih dan meminta maaf karena harus pergi terlebih dulu setelah menciptakan keributan. Arsen menyalami mereka sebelum pergi. Dengan usil Arsen menawari Nadine untuk pulang bersama karena tertangga. Nadine menolaknya halus dan setelah kepergian Arsen dia digoda oleh seluh orang disana. Keesokan harinya, Nadine membaca pesan dari Arsen. Arsen meminta maaf karena Arsen tidak pulang lagi. Nadine tidak apa-apa sebenarnya. Arsen juga berkata ia berangkat ke Venesia. Sehari setelah Arsen di Venesia. Nadine terbang ke Singapore. Nadine hanya 5 hari disana. Setelah itu dia berangkat ke Bali bersama Daniel untuk meeting disana selama 4 hari. Sebelum berangkat meeting Daniel mengajak Nadine untuk jalan-jalan. Nadine menerimanya dengan antusias. Ia semangat 45. Setelah meeting dia langsung jalan jalan dengan Daniel. Mereka berdua duduk di tepi pantai menunggu matahari terbenam. “Daniel gue cari minum dulu. Lo mau?” tanya Nadine. Daniel menyuruh Nadine untuk tidak memanggilnya bapak atu bicara formal di luar lingkungan kerja. Daniel menggleng. Nadine lalu berpamitan pergi mencari penjual minum. Nadine berjalan senang tanpa alas kaki. Sejenak dia bisa santai dengan liburan beberapa jamnya. Bruk... Nadine melihat orang yang di tabraknya tadi. Alangkah kagetnya Nadine saat melihat wajah yang mirip Arsen di depannya. “Ar..Sen.” sebut Nadine. Sudah 9 hari Nadine tidak melihat Arsen. Laki-laki itu sendiri tidak jauh berbeda. Hanya kantong matanya semakin terlihat dan wajahnya yang capek. “Bukannya kamu di Venesia?” tanya Nadine penasaran. “Baru balik tadi, ini mau langsung syuting lagi. Kamu sendiri?” “Ah.. Aku ada kerjaan disini. Lusa udah balik.” “Udah selesai kerja?” “Udah. Ini jalan-jalan.” “Mau nemenin aku nggak? Aku capek soallnya. Kangen rumah. Pingin istirahat.” Nadine menganguk. Dia lupa dengan Daniel kali ini. Arsen mengambil topinya tapi segera di rebut dengan Nadine. Hari hampir gelap tidak akan ada yang mengenalli Arsen. Nadine sendiri mengajak Arsen untuk membeli 2 kelapa muda. Arsen tak tau ada apa dengan dirinya. Selama di Venesia Arsen sama sekali tidak bisa tidur. Dan sekarang ia mengantuk karena jalan-jalan dengan Nadine. Arsen duduk di tepi pantai. Langit semakin oren dan Matahari menurunkan dirinya. Arsen bersandar di pundak Nadine dan memejamkan matanya. Sampai dering telfon Nadine menganggunya. “Ups.. Sorry. Gue beneran lupa sama lo Niel.” kata Nadine. “Oke oke.. Tunggu sana gue balik sekarang.” balas Nadine dengan mematikan telfonnya. “Siapa?” tanya Arsen yang kini menatap Nadine. “Daniel, bos aku.” “Daniel??” Nadine langsung menjelaskan situasi yang menimpanya. Belum selesai berbicara, Arsen menarik kepala Nadine mendekat ke wajahnya ia langsung mencium bibir Nadine. Ia melumatnya pelan tak seirama dengan detak jantung yang semangat berpacu. Mata Nadine membelalak kaget. Arsen sudah menciumnya 2 kali. Arsen melepaskan pangutannya dan menatap tepat di mata Nadine. “Jangan pergi.” ucap Arsen yangg kemudian menciumnya lagi. Kini ia lebih terkesan menuntut. Otak dan hati Nadine ingin menolak ciuman yang di berikan Arsen. Tapi tidak dengan tubuhnya. Ia menikmatinya. Dan kini malah membalas ciuman Arsen dengan di temani matahari yang menurunkan dirinya. Arsen melepaskan ciuman mereka. Dan berebut udara untuk mengisi paru-paru mereka. Nadine menunduk wajahnya merah. “Aku nggak tau kenapa aku menciummu. Maaf.” ucap Arsen. Meskipun tak bisa Arsen pungkiri ia sangat senang Nadine juga membalas ciumannya. Arsen menatap telfon Nadine yang berdering lagi. Ia mengambilnya dan memberikannya kepada Nadine. Nadine menatap telfon yang berdering itu. Bingung harus di angkat apa bagaimana. Arsen tak jelas. Nadine bingung kan sekarang. Ia menatap Arsen. Tapi ketika pandangan matanya bertemu, ia langsung menundukan matanya. “Mas pingin aku jawab telfon itu?” tanya Nadine. “Iya. Daripada bunyi mulu. Kasian dia pasti nungguin kamu.” “Terus?” tanya Nadine. Arsen diam sejenak sebelum bertanya. “Apanya yang terus?” “Aku harus bilang apa ke Daniel.” kata Nadine kesal dengan sedikit suara keras di akhir. Arsen diam lagi. Dia bingung harus menjawab Nadine seperti apa. Nadine menghela nafas. “Mas kenapa cium aku kayak tadi?? Terus di kolam renang juga, kenapa?” tanya Nadine dengan suara pelan yang masih mampu di dengar Arsen. Arsen diam. Dia nggak tau harus jawab apa. Nadine kesal melihat kediaman Arsen. Dia langsung bangkit dan pergi mencari Daniel meninggalkan Arsen nggak jelas itu. Nadine merasa hatinya sakit melihat kediaman Arsen. Kediaman Arsen seolah menjawab pertanyaan Nadine bahwa ia tidak sengaja. Daniel bertemu Nadine. Tapi melihat ekspresi cemberut dan aura menyeramkan dari Nadine, Daniel diam. Dia nggak berani mengajak Nadine berbicara atau makan. Nadine sendiri langsung masuk kamar hotelnya. Ia langsung mandi karena badannya lengket kena angin laut. Mengingat wajah Arsen saat melihat kaca Nadine ingin sekali menghancurkan kaca di depannya. Arsen tidak mengejar Nadine. Ia tau Nadine marah dengannya. Ia kembali menemui manajernya. Ben Manajernya, langsung memarahi Arsen yang tiba-tiba menghilang. Arsen memberitahu bahwa ia tak sengaja bertemu dengan Nadine dan mengajaknya jalan-jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD