Bab 6
"Win,"
"Hem."
"Aku hari ini mau ke pasar Win, mau beli kebutuhan dapur. Nanti berangkatnya aku nebeng sama kamu ya pulangnya nanti aku bisa naik ojek."
"Iya, lo ada uang buat belanja,?"
"Ada Win tenang aja."
"Ini buat nambah-nambah, oh ya Syah, nanti gue palingan kerjanya cuman setengah hari, sorenya kita jalan ke mall yuk healing Syah, sekali-kali biar gak sumpek di rumah terus, oh ya gimana bajunya udah beres.?"
"Belum Win, masih sisa 5 pcs lagi nanti lah habis dari pasar aku kerjain lagi."
"Baju Dressnya udah selesai belum, gue minta fotonya nanti gue bantu rekomendasiin keteman-teman gue di kantor siapa tau mereka suka sama dress buatan Lo Syah." ucap Winda.
"Bentar Win aku foto dulu semalam aku belum sempat fotoin Dressnya karena udah ngantuk, jadi aku langsung tidur aja."
"Ok, gue tunggu." balas Winda, aku pun melangkah menuju ruang jahit untuk memfoto dress hasil buatan tadi malam.
Baju gamis milik Bu Yumi memang ukurannya all size jadi aku tak perlu repot menanyakan perihal ukuran padanya.
"Win udah aku kirim." ucapku kembali menghampiri Winda yang masih sibuk dengan ponselnya di ruang tamu.
"Ok Syah, ayo berangkat katanya lo mau nebeng."
"Ya udah ayo." aku pun melangkah keluar mengikuti Winda.
Winda pun menyalakan motor matic miliknya, lalu aku pun naiknya keatas boncengan.
"Udah Syah.?"
"Iya Win udah, ayo berangkat nanti kamu malah telat lagi." ucapku pada Winda.
"Pegangan Syah, gue akan ngebut."
"Jangan bercanda Win, aku masih mau hidup, pelankan laju motornya Win."
"Udah diem aja Syah percaya sama gue." teriaknya malah semakin mempercepat laju motornya, membuatku berpegangan dengan erat pada tubuh Winda.
"Pelankan Win." pintaku, sedikit memohon pada Winda.
"Ok-ok." Balas Winda memelankan laju motornya namun malah ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah depan membuatku terkejut bukan main.
"Awas... Win..." Teriakku namun sayang mobil itu malah menyerempet motor Winda, walaupun Winda sudah berusaha untuk menghindar dari mobil itu.
"Aakkhh...," aku memekik kesakitan kala tubuh ini terjatuh ke aspal, kaki dan lenganku tergores oleh aspal.
"Win, kamu nggak papa?" aku menoleh kearah Winda yang malah tertindih oleh motornya sendiri.
"Gue nggak papa Syah, cuman sakit dikit dan lukanya lumayan sakit," ujarnya sambil meringis, luka yang dia bilang sedikit itu terus mengeluarkan darah untung saja kita berdua memakai helm sehingga kepala kita bisa aman dari aspal.
"Kalian berdua harus ganti rugi," terdengar suara berat, aku pun mendongak melihat seorang pria bertubuh tegap memakai setelan jas, auranya sangat dingin sorot matanya juga sangat tajam membuatku menelan ludah, pria dengan sorot mata tajam itu malah berdiri diam saja tak ada niat membantuku dan Winda padahal dia yang salah malah minta ganti rugi.
"Enak aja seharusnya Lo yang ganti rugi karena lo yang salah bawa mobil gak becus," omel Winda berusaha mengangkat motor, yang menindihnya itu. Aku pun bangkit lalu membantu Winda untuk bangun.
"Kalian berdua yang salah bukan saya. Dan kalian berdua harus ganti rugi." ujarnya dengan suara dinginnya.
"Enak aja gue gak mau ganti rugi seharusnya lo yang ganti rugi nih lihat kaki gue luka itu semua gara-gara lo yang bawa mobilnya gak becus, lihat juga lengan dan kaki teman gue juga luka, pokoknya lo yang harus ganti rugi sama kita." ucap Winda yang tak mau kalah.
"Cepat ganti rugi," Winda kembali memaksa.
"Win balut dulu lukamu, itu darahnya masih ngalir Win." aku mengingatkan Winda, karena lukanya masih mengeluarkan darah.
Luka Winda memang lebih parah dari lukaku, sedangkan aku hanya luka ringan, luka Winda lumayan besar dan lumayan dalam juga.
Aku merobek ujung gamis ku untuk mebalut luka di kaki Winda.
"Cuman luka seperti itu saja kalian memang lebay." suara pria dingin itu kembali terdengar, pria ini memiliki hati apa tidak sih kenapa dia seolah tak memiliki rasa kasihan padahal aku dan Winda adalah seorang wanita namun dia malah tak ada niatan untuk menolong kita berdua.
"Dasar cowok aneh, udah salah gak punya perasaan lagi, kenapa gak hidup di Kutub utara saja kalau sikapnya tak kalah sama beruang kutub seperti ini."
Oceh Winda, namun pria itu malah masuk kedalam mobilnya dan pergi begitu saja.
"Hey dasar pria tak memiliki rasa tanggung jawab, awas aja kalau gue sampek ketemu lagi sama tuh orang gue bakal bejek-bejek dia sampek jadi tempe penyet." degus Winda berapi-api.
"Udah ayo kita ke klinik saja Win, obati dulu lukamu, habis ini kita langsung pulang saja, biar aku yang bawa motornya."
**
"Aduucchh, perih dok pelan-pelan," Winda meringis kesakitan kala dokter membersihkan lukanya.
"Tahan sebentar ya mbak, dikit lagi selesai ini." ucap dokter itu membalut luka Winda dengan perban.
Sedangkan lukaku sudah di obati oleh suster tadi.
**
Malam harinya Abang Winda datang bersama temannya untuk melihat keadaan Winda, namun aku sedikit terkejut kala melihat teman yang abang Winda bawa adalah pria dingin tadi pagi yang membuat aku dan Winda terjatuh dari motor.
"Lo, ngapain lo kesini manusia dingin, dasar cowok gak punya hati, pergi lo dari sini." Winda melemparkan barang-barang yang ada di dekatnya kearah teman abangnya itu.
"Stop Win, stop apa-apaan sih kamu, malah gak sopan gini."
"Abang tau nggak siapa yang membuatku seperti ini, dia Bang, dia yang telah membuat aku celaka." ujar Winda pada abangnya dengan nada kesal, sedangkan aku hanya duduk tak ada niat untuk berdebat dengan pria itu karena menurutku percuma saja berdebat dengan pria dingin yang tak akan menggubris ocehanku. Dan alangkah baiknya diam saja. Namun sepertinya Winda masih kesal dengan pria itu makanya dia tak bisa mengontrol dirinya.
"Benar Ray, Lo yang membuat adik gue celaka.?" abang Winda malah bertanya pada temannya yang berekspresi datar itu.
"Hem." responnya singkat.
"Udahlah, gak usah di perpanjang, abang kesini cuman mau lihat kondisi kamu,"
"Tapi ngapain abang malah bawa pria itu, aku gak suka lihat wajah datarnya itu bang." degus Winda.
"Pejamkan matamu jika tak ingin melihat wajahku." balasnya dengan nada dingin.
"Ish, dasar pria nyebelin," degus Winda.
"Udah Win, jangan marah-marah mulu, cepet tua, kalau marah-marah terus."
"Ini minumnya silahkan di minum." ucapku meletakan minuman di atas meja.
"Makasih Syah."
"Ngapain malah repot-repot bikinin dia minuman segala sih Syah."
"Gak papa Win, namanya juga tamu kita harus menghormati tamu bukan."
"Terserah lo aja."
Sedangkan aku malah merasa risih kala temannya abang Winda sejak tadi melayangkan tatapan intens padaku. Siapa sih pria itu kenapa tatapannya seperti itu.?