bab 7

1109 Words
Bab 7 Pov 3 "Syah, gimana bajunya sudah selesai semua kan.? Bajunya kalau sudah selesai tolong di antar hari ini ya." "Sudah selesai kok bu, iya nanti akan langsung saya antar kerumah ibu." "Tapi disini ada mantan ibu mertuamu Syah, dia bantu rewang disini." "Oh, ya gak papa sih bu, lagian saya juga tak ada masalah dengan ibu Mas David, jika memang beliau ada disana." "Ya sudah kalau gitu ibu tunggu kamu disini ya." "Iya bu." Aisyah pun mematikan sambungan teleponnya. Lalu dia memasukan semua baju gamis pesanan Bu Yumi kedalam kantong kresek yang lumayan besar. "Alhamdulillah akhirnya selesai juga." seru Aisyah saat selesai membungkus baju yang akan ia bawa. Aisyah telah memesan ojek online untuk mengantarkannya kerumah bu Yumi karena dia tak memiliki kendaraan sendiri, sedangkan motor Winda di pakai kerja oleh Winda sendiri untuk kerja. "Tin tin..." terdengar bunyi klakson dari depan rumah Aisyah pun segera membawa bajunya keluar dari rumah. "Sini neng barangnya biar saya tarok di depan." pinta tukang ojek itu. "Ini pak." Aisyah menyerahkan bawaannya ke tukang ojek itu. Lalu Cika pun naik ke boncengan. "Sudah neng." "Sudah pak, ayo jalan." "Baik neng." tukang ojek itupun menyalakan motornya lalu melaju dengan kecepatan sedang. *** "Makasih ya pak, ini ongkosnya." ucap Aisyah sambil memberikan uang ongkos pada tukang ojek itu. "Sama-sama neng." Aisyah pun melangkah menuju rumah bu Yumi yang sedang ramai dengan ibu-ibu, sepertinya mereka semua sedang membantu rewang di rumah bu Yumi. "Aisyah," sapa ibu-ibu yang melihat Aisyah di sana. "Iya bu," "Gimana kabarnya sekarang Syah, badan kamu makin berisi aja sekarang, kamu udah bisa hidup tenang ya sekarang, makanya badan kamu agak berisi, beda banget sama dulu tubuh kamu kurus dan tak terurus Syah, tapi belum genap satu bulan kamu pergi dari rumah bu Narsih, kini tubuh kamu semakin terawat dan kamu juga semakin terlihat cantik Syah." ucap Ibu Yulis, pada Aisyah namun Aisyah hanya tersenyum saja menanggapi ucapan bu Yulis. "Kamu bawa apa itu Syah.?" "Oh, ini baju pesanan bu Yumi, bu," "Kamu bisa bikin baju Syah, wah gak nyangka ternyata kamu memiliki bakat juga ya, nanti ibu mau lihat baju buatanmu, kalau bagus nanti ibu mau coba beli baju di kamu deh." ucap bu Yulis lagi. "Alah sok-sok-an mau jual baju, palingan bajunya yang gak berkualitas terus modelnya juga jelek, perempuan miskin seperti dia mana mampu membeli bahan bagus dan membuat model baju yang bagus, palingan juga baju buatannya hasil nyontek desain orang lain." cibir bu Narsih yang tiba-tiba muncul. "Jangan gitu bu, toh kita belum lihat baju yang Aisyah buat, kalau hasilnya bagus gimana.?" ucap Bu Yulis. "Halah, saya gak yakin baju buatan wanita miskin ini bakalan bagus, palingan bentukannya malah gak karuan dan bakal malu-maluin, kenapa juga bu Yumi malah pesan baju seragam sama dia entar kalau di pakek malah malu-maluin gimana.?" cibir bu Narsih, sambil menatap tak suka kearah Aisyah. "Jika memang anda tak suka tak usah menghina saya, anda sudah tua bukan?. Seharusnya anda perbanyak bertaubat, dan beristigfar bukan malah selalu mengurusi kehidupan orang lain, apa Anda iri melihat saya memiliki kemampuan menjahit baju,?" dengan santai Aisyah membalas perkataan bu Narsih mantan ibu mertuanya itu, terlihat bu Yulis menahan tawanya kala melihat wajah bu Narsih yang terlihat sangat kesal karena Aisyah telah berani melawannya. "Heh, rupanya tak salah David membuangmu, karena selain miskin kamu juga kurang ajar pada orang tua." degus bu Narsih memandang sinis kearah Aisyah. "Oh ya, bukankah terbalik ya!, disini saya yang harus bersyukur karena bisa terlepas dari laki-laki yang mudah terhasut dan dengan mudah mengikuti permintaan orang lain, bahkan seorang pria yang seharusnya menjadi pemimpin itu malah lemah hanya karena bujuk rayuan, dia bahkan rela menjandakan istrinya demi wanita lain." jawab Aisyah semakin memancing emosi bu Narsih, Aisyah tetap berusaha untuk bersikap tenang walaupun sebenarnya dia juga lumayan kesal dengan perkataan mantan ibu mertuanya itu, Tapi setidaknya Aisyah masih bisa membalas semua ejekan yang di layangkan oleh Bu Narsih, karena Aisyah ingin menunjukan pada mantan ibu mertuanya itu jika dia bukan lagi Aisyah yang dulu, yang hanya bisa tertunduk diam bila di caci maki oleh mantan ibu mertuanya itu. Kini Aisyah yang lemah telah mati, tinggal Aisyah yang kuat yang tak akan pernah mau lagi di injak-injak oleh siapapun. "Ada apa Bu.?" Salsa bertanya pada ibunya. "Lihat tuh wanita miskin dia sekarang berani melawan ibu, sepertinya dia memang perlu di beri pelajaran agar dia tau diri." "Heh, perempuan kampungan, Lo berani melawan ibu, lo mau gue gampar ya." bentak Salsa dengan mata melotot, namun Aisyah tak ingin meladeni Salsa, Aisyah lebih memilih untuk pergi dari sana, karena tujuannya ke rumah Bu Yumi untuk mengantar baju bukan untuk membuat keributan disana. "Heh, mau kemana Lo, gue belum selesai bicara," Salsa menarik hijab Aisyah hingga membuat Aisyah tertarik kebelakang. "Lepas." Aisyah menghempaskan tangan Salsa yang masih menarik hijabnya. "Kasih pelajaran aja Sal, jangan beri ampun wanita belagu ini." "Ibu bener sepertinya aku harus memberi wanita tak tau diri tamparan agar dia bisa sadar siapa dia." Salsa mengayunkan tangannya ingin menampar wajah Aisyah namun, sayangnya Aisyah lebih dulu melayangkan tamparan di wajah Salsa. Hingga membuat Bu Narsih memekik kalau melihat Aisyah yang sangat berani menampar Salsa. "Aisyah, apa-apaan kamu, berani sekali menampar Salsa, kamu ini semakin tak tau diri saja." Bentak bu Narsih tak Terima dan ingin membalas menampar Aisyah, namun Aisyah tak membiarkan tangan mantan ibu mertuanya itu menyentuhnya lagi, dia menangkis tangan bu Narsih hingga membuat tubuh bu Narsih terhuyung kebelakang. "Makanya bu jangan ganggu Aisyah, jangan menganggap orang itu lemah hanya karena dia awalnya diam, karena jika rasa sabarnya telah habis, ya seperti Aisyah ini, dia tak akan lagi mau diam dan akan membalas kalian berdua. Udah ayo masuk Syah," Bu Yulis mengajak Aisyah untuk masuk. Dan meninggal Salsa dan bu Narsih yang masih memandang Aisyah dengan sorot mata marah, lalu mereka berdua pun pergi dari rumah bu Yumi, karena merasa malu pada ibu-ibu yang lainnya. "Loh, Aisyah kenapa gak ngehubungi ibu kalau kamu sudah sampai," "Aku baru sampai kok bu." "Ya sudah tunggu sebantar ibu ambilkan uangnya dulu." "Iya bu." "Ibu salut sama kamu Syah, sekarang kamu telah berani melawan bu Narsih dan Salsa. Coba aja dari dulu kamu kayak gini mungkin mereka tak akan selalu menghinamu Syah. " Karena dulu saya masih menjadi seorang menantu bu, saya juga masih numpang tinggal di sana, jadi saya sadar diri bahwa saya tak bisa berbuat banyak hal, apalagi sampai melawan mereka berdua, saya tak pernah kepikiran kesana bu." "Tapi Syah, kamu itu bukan numpang tinggal disana, karena kamu adalah istri David, seharusnya dulu bu Narsih menerima kamu dengan baik, bukan malah memusuhi mu, dan tak hentinya mencacimu, kadang ibu sampek gedeg sendiri kalau denger dia itu sering banget jelek-jelekin kamu ke tetangga lainnya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD