bab 4

1235 Words
Bab 4 Saat aku dan Winda tengah asik menyantap makanan yang telah kami pesan tiba-tiba ada seseorang yang menumpahkan air kedalam piring makananku, sontak aku pun mendongak untuk melihat orang itu. Aku tak terkejut kala melihat Zahra yang berdiri tepat di hadapanku sambil menggandeng tangan Mas David. "Up..., sorry gue gak sengaja." ujarnya sambil tersenyum puas. "Oh ya," aku bangkit lalu meraih gelas air di atas meja dan menyiramkan air itu kearah Zahra hingga membuatnya memekik. "Aakkh, lo apa-apaan sih, lo sengaja mau mengotori baju mahal ini." bentaknya sambil mengibaskan bajunya yang terkena siraman ku tadi. "Maaf saya gak sengaja juga." balas ku, terlihat Zahra semakin geram kala mendengar perkataanku. "Kamu lihat wanita miskin ini Mas, dia berani mengotori baju mahal ku, aku mau kamu kasih pelajaran sama dia Mas, pokoknya aku gak terima di giniin." Aku merasa jijik kala mendengar tingkah manja Zahra pada Mas David, bukan karena cemburu namun aku rasa dia terlalu lebay, dia tak terima aku balas sedangkan dia sendiri yang lebih dulu mencari gara-gara denganku. "Kamu itu apa-apaan sih Syah, kamu pikir kamu itu mampu membeli baju seperti milik Zahra ini, sadar diri dong kamu itu hanya wanita miskin untuk bertahan hidup saja kamu susah apalagi mau membeli gaun mahal ini, dasar..." Plak Satu tamparan aku layangkan tepat di wajah Mas David, hingga membuat wajahnya berpaling kesamping, aku manatapnya dengan sorot mata penuh benci, sejak kapan perkataan Mas David bisa seperti itu, dia tak lagi sama, bahkan kini perkataannya tak jauh beda dari keluarganya yang sering kali menghinaku, bahkan kini Mas David dengan beraninya mengatai ku seperti ini. Kata-kata menyakitkan ini mungkin sangat sering aku dengar, namun kali ini lebih menyakitkan lagi karena kata-kata itu keluar dari mulut Mas David laki-laki yang dulunya sangat melindungiku dan menjagaku kini dia tak lagi berada di pihakku. "Dasar wanita si@lan, kamu berani menampar Mas David Hah.?" Zahra mengangkat tangannya ingin menamparku, namun aku dengan sigap menepis tangannya lalu melayangkan satu tamparan di wajah mulusnya. Biarlah dia sadar bahwa aku bukanlah wanita lemah. Sedangkan Mas David masih terlihat tak percaya melihat aku yang berani menampar wajahnya, ya aku dulu memang tak pernah bersikap kurang ajar padanya namun kali ini aku tak ingin terlihat lemah lagi. "Zahra sayang kamu tak apa-apa.?" Mas David terlihat sangat khawatir kala aku menampar wanitanya itu. "Hebat lo Syah, gue salut sama lo, makanya kalian berdua itu jangan suka ganggu harimau yang sedang tidur tau rasa sendiri kalian kena tampolan tangan mulus Aisyah, emang enak." Winda meledek Zahra dan David, yang tampak semakin marah itu. "Kurang ajar, gue akan balas lo." Zahra melepas rangkulan Mas David lalu ingin menyerang ku lagi, namun kali ini Winda tak tinggal diam dia membantuku dengan mendorong tubuh Zahra sehingga membuat Zahra jatuh terjengkang di lantai. "Zahra." Mas David langsung menghampiri Zahra dan membantunya untuk bangun. "Aauuh, sakit Mas." rengeknya. "Makanya jangan sok cari masalah sama kita lebih baik kalian cepat pergi dari sini ganggu orang makan aja." usir Winda. "Awas kalian berdua gua akan membalas semua perbuatan kalian lihat saja nanti," ancam Zahra. "Ayo Mas kita pergia dari sini." Akhirnya Zahra menarik tangan Mas David untuk pergi dari kafe ini. Mas David menatapku dengan sorot mata marah, sepertinya dia tak terima melihat calon istrinya kesakitan seperti itu, namun aku tak perduli. Biarlah dia ingin menapku seperti apa toh dia bukan lagi siapa-siapa bagiku. Aku manatap sekeliling, dan aku baru sadar ternyata aku sejak tadi menjadi perhatian para pengunjung lain, aku tersenyum tak enak kearah mereka semua karena sudah merasa mengganggu kenyamanan mereka dengan perdebatan ku tadi. "Duduk Syah, makan menu lainnya yang itu di buang aja." pinta Winda, namun aku sudah merasa kenyang. "Aku udah kenyang Win, udah gak selara buat makan lagi." "Ya udah tunggu gue habisin makanan ini dulu habis itu kita langsung pergi dari sini." Aku hanya menganggukan kepala saja, entahlah padahal aku ingin hidup tenang namun masih saja bertemu dengan Mas David dan Zahra yang selalu saja ingin mengusik ketenanganku. "Ayo Syah." "Makanan ini mau di kemanain Win, masak mau di tinggal kalau emang gak mau di makan kita bungkus saja nanti kasih sama orang yang lebih butuh Win, biar gak mubazir," usulku karena sayang makanan yang belum di sentuh ini malah mau di tinggal begitu saja. "Iya bentar gue panggil pelayan buat bungkusin makanannya." "Mbak, tolong bungkusin makanan ini ya." "Baik kak tunggu sebentar ya." Pelayan itu membawa piring makanan itu kebelakang tak berselang lama pelayan itu pun kambali dengan membawa kantong kresek. "Ini kak makanannya sudah saya bungkus." "Makasih mbak." "Sama-sama kak." Aku dan Winda pun berjalan keluar dari kafe, kali ini tujuanku adalah tempat penjual alat mesin jahit karena aku ingin secepatnya membuat baju untuk aku jual nantinya. Saat di perjalanan aku tak sengaja melihat seorang nenek-nenek yang sedang duduk di pinggir jalan sambil berteduh. "Win berhenti dulu," aku meminta Winda untuk berhenti sejenak. "Ada apa Syah, panas ini." keluh nya karena cuaca hari ini memang sangat terik. "Bentar aku mau nyamperin nenek itu dulu, kasian dia sepertinya kelelahan deh Win, aku mau ngasih makanan tadi sama nenek itu aja ya." "Ya udah sana cepatan jangan lama-lama." "Iya tunggu sebentar aja." Aku pun berjalan menyeberangi jalan untuk menghampiri nenek itu. "Nek," Sapaku membuat nenek itu menoleh. "Iya kak ada apa.?" "Maaf nenek ngapain panas-panas gini duduk disini nek.?" "Nenek lagi jualan nak, tapi belum ada yang laku makanya nenek istirahat dulu disini." "Nenek jualan apa.?" "Nenek jualan ini nak," Nenek itu memperlihatkan dagangannya yang masih terlihat banyak. "Nenek sudah makan." "Belum Nak, nenek tak punya uang untuk beli makan." jawabnya membuatku merasa tak tega di usianya yang sudah sangat tua ini ia masih harus bekerja untuk bisa bertahan hidup. "Ini kebetulan saya ada makanan nek, semoga nenek suka," Aku menyerahkan makanan tadi pada nenek, terlihat matanya berkaca-kaca kala menerima makanan dariku. "Makasih Nak, makasih," ujarnya tak hentinya berterima kasih. "Sama-sama nek, ini ada sedikit rizki buat nenek di terima ya nek," aku memberika sedikit uang untuk nenek, aku berharap uang itu bisa sedikit membantunya. "Terima kasih Nak, semoga rizkimu semakin di lancarkan. Dan segala urusanmu selalu di lancarkan oleh allah." "Amin." aku mengaminkan perkataan nenek itu. "Ya sudah nek, saya pamit dulu ya, jangan lupa di makan, makanannya ya nek. Semoga nenek selalu di beri kesehatan dan kita bisa bertemu lagi di lain waktu." ucapku lalu pergi meninggalkan nenek tadi. "Ayo Win." ucapku setelah naik ke motor Winda. ** Saat sampai di toko mesin jahit aku memilih mesin yang sekiranya cocok dan tak terlalu mahal karena aku takut uangnya tak cukup untuk membeli bahan-bahan lainnya. "Mau pilih ya mana mbak.?" tanya seorang karyawan yang datang menghampiriku dan Winda. "Yang murah ada nggak Mas.?" tanyaku. "Ada mbak di sebelah sana." "Baik Mas Terima kasih saya lihat dulu." "Ayo Win." aku menarik pelan tangan Winda untuk mengikutiku. *** Sedangkan di tempat lain Zahra dan David baru saja tiba di rumah bu Narsih. Zahra turun dari mobil dan langsung berlari masuk kedalam rumah. "Loh-loh ada apa ini kenapa kamu nangis gini Ra, siapa yang berani membuat calon mantu ibu menangis seperti ini." "David siapa yang membuat Zahra menangis seperti ini," Bu Narsih melayangkan pertanyaan pada David yang yang baru saja masuk. "Aisyah bu." "Apa? berani-beraninya dia membuat Zahra menangis seperti ini, lihat saja kalau ibu sampai bertemu dengannya maka ibu akan membalasnya." ujar Bu Narsih berapi-api sedangkan Zahra menyunggingkan senyum jahat kala melihat kemarahan calon ibu mertuanya itu, dia sengaja berakting agar Bu Narsih membelanya dan membalaskan dendamnya pada Aisyah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD