bab 3

1269 Words
Bab 3 "Syah, turun sudah sampai ngapain malah ngelamun." Perkataan Winda membuatku sadar dari lamunan panjangku. "Eh, iya Win," Aku pun segera turun dari motor Winda. Lalu berjalan lebih dulu menuju depan rumah Winda. "Ayo masuk Syah," ajak Winda sambil membuka kunci pintu. "Sekarang Lo jelasin apa sebenarnya yang terjadi Syah kenapa Lo sampek pergi dari rumah David, dan apa penyebab David sampai manalak Lo bukannya Lo pernah bilang bahwa hubungan kalian selama ini baik-baik saja." Winda mencerca ku dengan pertanyaannya. Sebelum menjawab aku menghembuskan nafas panjang terlebih dulu. "Memang sebelumnya hubunganku dengan Mas David baik-baik saja Win, tapi kamu tau sendirikan anggota keluarga Mas David tak ada yang menyukaiku, sehingga tak hentinya mereka selalu menghasut Mas David untuk menceraikan aku, bahkan satu tahun aku rela di jadikan babu oleh mereka karena aku berharap mereka akan menerimaku, namun nyatanya aku salah Win, mereka tetap saja tak pernah menghargai aku, bahkan cacian dan makian dari mereka sudah menjadi makanan setiap harinya, namun aku masih berusaha untuk tetap bertahan dan bersabar karena waktu itu Mas David masih saja membelaku dan memihak padaku, namun seminggu terakhir ini sikap Mas David memang berubah, sikapnya tak lagi hangat bahkan dia tak lagi membelaku kala aku di rendahkan oleh Dian, dan sampai tadi aku melihat kehadiran wanita lain di rumah, yang katanya wanita itu akan menikah dengan Mas David, dan tadi juga ibu mertua, Mbak Salsa dan Dian mendesak Mas David untuk menalak ku, karena aku sudah merasa tak tahan dengan kehidupan rumah tangga yang tak pernah mendapat restu ini, akhirnya aku meminta Mas David untuk menceraikanku, aku meminta Mas David untuk menjatuhkan talak tiga sekaligus agar aku tak lagi memiliki hubungan apa-apa lagi dengan keluarga jahat itu." aku terisak kala mengingat semua perlakuan buruk keluarga Mas David. "Sudah Syah jangan nangis, kamu wanita kuat buktikan pada mereka Syah bahwa kamu bisa hidup tanpa keluarga toxic itu, aku akan selalu ada di sampingmu Syah, jika kamu mau kamu bisa bekerja di perusahaan Abang Syah, bukannya kamu sangat suka mendesain gaun dan berbagai model baju lainnya, kamu bisa bekerja sementara disana atau gini aja aku ada uang tabungan bisa kamu pakek buat modal dulu kamu bisa buka butik sendiri Syah aku yakin pasti akan banyak pembeli yang suka sama baju-bajumu Syah." "Kamu serius Win, mau minjemin aku uang.?" "Serius Syah, mulailah karirmu aku selalu mendukungmu, aku yakin kamu pasti bisa sukses Syah." "Tapi jika ingin membuka butik kita perlu tempat yang luas dan pastinya di jalan yang lumayan ramai Syah, jika lokasinya sepi maka percuma juga kita buka butik kita harus cari tempat yang strategis yang kira-kira bakalan banyak pengunjungnya gitu." "Gimana kalau kita jual online dulu Win, seteleh memiliki banyak uang baru kita sewa ruko untuk kita jadikan butik." usulku sambil menghapus sisa air mata yang masih membekas di pipi ini, aku tak boleh larut dalam kesedihan ini, aku harus kuat agar aku bisa membuktikan pada keluarga Mas David aku pasti sukses. "Kalau soal uang sebenarnya aku bisa aja minta sama bokap, nyokap Syah," "Gak usah Win, kita usaha sendiri aja dulu, selagi kita masih bisa menghasilkan uang dengan cara kita sendiri. Aku pinjem uang tabungan kamu dulu untuk membeli mesin jahit dan bahan lainnya," "Ok, Syah besok kita akan kita ambil uangnya lalu kita langsung berangkat untuk membeli mesin jahit dan beberapa bahan lainnya." "Sekarang aku mau istirahat dulu Win, aku lelah banget rasanya seharian di rumah mertua tanpa istirahat ada aja yang mereka perintahkan padaku, aku juga bersyukur akhirnya bisa keluar dari keluarga tak memiliki hati itu." "Gue kan udah pernah minta sama Lo buat pisah aja sama David, tapi Lo malah gak dengerin gue dan memilih bertahan di sana sampek satu tahun, lihat wajah Lo sampek kusam gitu, bahkan Lo sampek gak sempet ngerawat diri Syah saking sibuknya Lo ngurus keluarga si Mak Lampir itu." omel Winda yang merasa kesal pada Aisyah karena dulu tak mau mendengar nasehat darinya. "Entahlah Win, mungkin dulu aku terlalu bucin sama Mas David sehingga aku begitu bod*hnya bertahan di keluarga yang tak pernah menerimaku dengan baik, tapi aku sangat bersyukur Win, Allah masih sayang padaku sehingga aku masih di beri kesadaran dan berpisah dari Mas David," "Udahlah lanjut besok aja ngobrolnya kita bobok aja sekarang." Winda membaringkan tubuhnya di atas kasur, aku pun ikut berbaring di samping Winda. Tak butuh waktu lama aku pun terlelap karena sudah merasa sangat lelah dan ngantuk, malam ini aku akan tidur nyenyak tanpa suara ibu mertua yang akan mengusikku dan selalu berteriak memanggilku kala aku ingin istirahat seperti ini. *** Saat Adzan subuh berkumandang aku pun menggeliat kan tubuh rasanya baru malam ini aku merasakan tidur senyenyak ini. Saat sudah sadar sepenuhnya aku membangunkan Winda yang masih menggulung diri dalam selimut. "Bangun Win ayo salat dulu." "Iya Syah, lima menit lagi ya." jawabnya malah menarik selimutnya. "Bangun Win, ayo nanti kalau udah salat bisa tidur lagi kalau masih ngantuk." aku masih berusaha membangunkan Winda dengan menarik selimutnya. "Iya-iya Syah gue bangun." Winda akhirnya bangun lalu duduk di atas kasur dengan matanya yang masih terpejam. Aku hanya tersenyum melihat tingkah Winda, aku menuju kamar mandi lebih dulu untuk mengambil wuduk. Saat aku keluar dari dalam kamar mandi terlihat Winda malah tertidur sambil duduk. "Winda-Winda," gumamku menggelengkan kepala pelan, aku kira dia sudah bangun ternyata malah tidur lagi, aku pun berjalan menghampiri Winda lalu mengguncang tubuhnya. "Bangun-bangun Win, ayo ambil wuduk dulu malah tidur lagi," "Gue ngantuk banget Syah salatnya bisa nanti aja nggak sih, aku benaran masih ngantuk." "Nggak baik Win nunda salat buruan kekamar mandi ambil wuduk gih." "Iya-iya." akhirnya Winda bangun juga lalu melangkah kekamar mandi dengan langkah yang masih terhuyung. Padahal udah semalaman dia tidur tapi masih saja merasa ngantuk. Aku mengambil mukenah milikku dari dalam tas, lalu memakainya. *** "Ini kita langsung mau ke toko mesin jahit apa mau makan dulu Syah.?" Winda bertanya padaku saat ini kita sedang berada diluar karena sesuai perkataan Winda tadi malam dia akan mengambil uang tabungannya hari ini. "Makan dulu aja yuk Win, aku udah lapar ini." "Gue juga laper Syah, ya udah ayo makan aja dulu nanti baru kita lanjut ke toko mesin jahitnya." "Iya Win," "Ayo kita cari tempat makan dulu." "Makan di warung pinggir jalan aja Win lebih murah harganya." ucapku. "Cari kafe aja Syah, gak papa nanti gue yang akan bayar, sekali-sekali lo nyobain makanan di kafe Syah biar lo tau rasanya." "Emang beda ya rasanya,?" "Ya beda Syah, kalau di kafe itu harganya lebih mahal dan rasanya juga pasti lebih enak." "Aku mana tau rasa makanan kafe Win, seumur-umur aku belum pernah yang namanya masuk kedalam kafe apalagi sampai makan." "Ya makan dari itu hari ini gue bakal ngajak lo makan di kafe biar lo tau rasanya makanan kafe." "Terserah kamu sajalah Win, aku mah nurut aja." "Nah kita makan di situ ya," "Gak mahal Win kalau makan disini, ini kafenya terlalu mewah Win, kita makan di kafe lain aja yuk." "Udah ayo masuk." Winda menarik tanganku untuk mengikutinya. "Win, aku malu tau." "Jangan pernah merasa malu Syah, toh kita sama-sama manusia." Memang benar yang di katakan oleh Winda namun aku merasa minder kala melihat penampilan orang-orang disini dari kalangan elit semua, bahkan aku seperti gembel yang salah masuk kafe karena aku hanya menggunakan gamis dan sandal jepit. "Mbak." Winda memanggil pelayan. "Iya kak ada yang bisa saya bantu.?" tanya pelayan itu dengan ramah. "Minta buku menunya mbak." "Ini kak." "Pilih aja Syah lo mau pesan apa, gak usah sungkan hari ini gue yang bakal traktir lo, hitung-hitung ini buat ngerayain lembaran baru hidup Lo." seru Winda sambil terkekeh pelan. "Ada-ada aja kamu Win, aku mau pesan yang murah-murah aja Win, gak usah pesan yang aneh-aneh."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD