Bab 2
"Bukan bapak mendoakan. Tapi kalian harus tau hukum karma itu nyata, bapak hanya tak ingin melihat kalian suatu saat nanti mengalami nasib sama seperti yang di alami Aisyah saat ini, Dian, Salsa, kalian berdua adalah wanita nak, tolong bersikaplah lebih baik lagi, hargai Asiyah sebagai istri saudara kalian." Pak Hasan masih berusaha menasehati kedua putrinya.
"Alah, bapak mending diem aja deh, jangan ngebela wanita miskin itu terus," Bentak Dian.
"Dian, cukup bapak ini adalah orang tuamu kenapa sikapmu malah kurang ajar seperti ini," Aisyah membentak Dian karena merasa tak tahan dengan sikap Dian yang sangat kurang ajar pada orang tuanya sendiri.
"Siapa kamu berani sekali membentak Dian, hah?, kamu itu hanyalah wanita miskin yang masuk kedalam rumah ini tanpa permisi, saya sudah sejak awal tak pernah suka sama wanita yatim piatu sepertimu, entah pelet apa yang telah kamu pakai sehingga waktu itu David begitu memaksa untuk menikahimu, padahal masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih baik darimu, tapi untung saja sekarang David sudah sadar dan dia akan menceraikanmu sesuai permintaanmu tadi, David cepat jatuhkan talak tiga pada wanita miskin ini dan setelah ini saya mau kamu angkat kaki dari sini."
Dengan satu tarikan nafas David menjatuhkan talak tiga kepada Aisyah.
"Aisyah saya jatuhkan talak tiga padamu mulai detik ini kamu bukan istriku lagi." Lantang kata talak itu terucap dari bibir David, namun tak ada air mata sedikitpun yang Aisyah keluarkan, dia sudah tak bisa lagi menangis karena air matanya begitu berharga untuk menangisi pria seperti mantan suaminya itu.
"Baik Mas, aku terima talak darimu, dan aku akan pergi dari rumah ini." Aisyah berbalik lalu berjalan kearah kamarnya.
"Siap-siap jadi gelandangan deh, kasian banget ya udah miskin gak punya tempat tinggal lagi," Ledek Dian sambil tertawa renyah, namun Aisyah tak menghiaraukan perkataan Dian, dia tetap masuk kedalam kamarnya, Aisyah membuka Cincin pernikahan yang melekata pada jari manisnya lalu meletakkan cincin itu di atas nakas.
"Jika semua ini memang sudah jalan takdirku, aku hanya berharap semoga kedepannya aku masih bisa menjalani hari-hariku lebih baik lagi." Gumam Aisyah sambil memasukan beberapa potong baju miliknya, dia tak membawa satu pun baju yang pernah di belikan oleh David karena Aisyah bertekad akan melupakan David dan memulai kehidupan barunya di luar sana, tanpa bayang-bayang laki-laki yang dengan teganya menyia-nyiakan dirinya seperti ini.
Setelah selesai mengemas bajunya Aisyah berjalan keluar dari dalam kamarnya dia melirik sekilas kearah sofa, melihat Zahra yang dengan beraninya bergelanyut manja di lengan David membuat Aisyah memalingkan wajahnya lalu meneruskan langkahnya keluar dari rumah itu.
"Asiyah tunggu," Aisyah menghentikan langkahnya kala mendengar suara bapak mertuanya memanggil dirinya.
"Ini ada sedikit uang bawalah untuk biaya kehidupanmu di luar sana." Pak Hasan mengulurkan sejumlah uang pada Aisyah karena dia merasa tak tega melihat Asiyah yang harus pergi begitu saja dari rumahnya, Hasan tau pastinya Aisyah tak akan memiliki uang karena gaji David selama ini di pegang oleh Narsih istrinya sendiri.
"Tak usah pak, saya masih ada sedikit uang, jadi lebih baik uang ini bapak simpan saja." Aisyah menolak uang pemberian Hasan-bapak mertuanya itu, selain merasa tak enak Aisyah juga tak ingin mencari masalah dengan menerima uang itu.
"Bagus, bapak ini apa-apaan sih malah mau ngasih uang sama dia, udah cepat kamu pergi dari sini jangan harap kamu bisa membawa uang ini." Seru Narsih lalu membawa uang itu masuk kedalam rumah.
"Maafkan istri bapak Syah, bapak tak bisa menjadi kepala keluarga yang baik, dan bapak juga telah gagal mendidik anak serta istri bapak sehingga meraka semua menjadi separti ini." ujar Pak Hasan dengan nada sendu karena merasa bersalah pada Aisyah atas perlakuan anak dan istrinya selama ini.
"Tak apa Pak, saya pamit dulu." Aisyah segera melangkah pergi dari sana. Sebanarnya Aisyah masih bingung mau kemana karena waktu sudah malam seperti ini.
"Apa aku minta bantuan Winda saja ya, semoga saja dia belum tidur." Gumam Aisyah sambil mengeluarkan ponsel jadul miliknya dari dalam tas lusuh yang ia bawa. Lalu mengotak atik ponsel itu untuk mencari nomor Winda.
"Hallo Win."
"Ya Syah ada apa tumben malem-malem gini ngehubungin gue.?"
"Aku butuh bantuan kamu Win, kamu bisa nggak jemput aku sekarang di jalan dekat rumah Mas David."
"Emangnya Lo mau kemana malam-malam gini.?"
"Aku pergi dari rumah Mas David Win,"
"Apaaa..." pekik Winda membuat Aisyah menjauhkan ponselnya dari telinganya karena suara Winda sangat nyaring.
"Pelankan suaramu Win, sakit kupingku gara-gara suara cempreng kamu."
"Hehehe, maaf Syah tapi lo gak lagi bercanda kan,?"
"Aku serius Win, buruan jemput aku."
"Ok-ok tunggu disitu jangan kemana-mana gue bakalan jemput lo sekarang juga." Balas Winda lalu mematikan sambungan teleponnya dia mengambil kunci motornya dan bergegas keluar dari dalam kamarnya untuk menjemput Aisyah.
**
Aisyah duduk di tepi jalan sambil menunggu Winda menjemputnya.
"Huuh." Aisyah menghembuskan nafas kasar guna mengurangi rasa sesak di dadanya. Bohong jika hatinya tak sakit kala rumah tangganya hancur dalam sekejap mata, bahkan suami yang selalu dia perjuangkan malah dengan lantangnya menalak dirinya walaupun itu adalah permintaannya sendiri, namun hati kecilnya masih sedikit berharap jika suaminya akan mempertahankan dirinya namun sayang semua itu hanya tinggal harapan saja.
"Ngapain jongkok disitu gak punya tempat tinggal ya?, apa jangan-jangan habis ini kamu mau jadi pelac*r untuk bertahan hidup," Cebik Zahra yang baru saja pulang dari rumah David menggunakan mobil Avanza berwarna putih miliknya sendiri.
"Bukan urusan Anda." Balas Aisyah dingin.
"Hahahah, kismin aja belagu, cuih." Zahra meludah untung saja Aisyah segera menghindar.
"Ternyata mulut orang kaya sepertimu sangat kurang ajar, apakah emang etitudnya yang seperti ini.?" Asiyah mencibir Zahra.
"Tutup mulutmu wanita si@lan, jangan berani-beraninya kamu melawan ku jika tak ingin aku membuat hidupmu semakin sengsara." Bentak Zahra kesal.
"Syah, ngapain berdiri di situ ayo cepetan naik." Winda memanggil Aisyah saat dirinya sudah tiba di sana.
"Heh wanita miskin mau kemana kamu, urusan kita belum selesai." Zahra berteriak dari dalam mobil saat melihat Aisyah yang berjalan menjauh dari mobilnya.
"Siapa sih Sya, kayak orang gila aja teriak-teriak gak jelas."
"Udah ayo buruan jalan, aku sudah pengen istirahat."
"Iya deh iya. Tapi lo berhutang sama gue."
"Hutang apaan Win.?"
"Hutang penjelasan."
"Penjelasan apa.?"
"Penjelasan kenapa lo bisa pergi dari rumah Syah."
"Iya nanti bakal aku ceritain kalau kita udah nyampek." Balas Aisyah, lalu mengakhiri obrolannya dengan Winda.