Alaia memasuki sebuah hotel berbintang untuk menghadiri meeting dengan beberapa chef yang bekerja di restoran hotel tersebut.
Ia diperlakukan sangat baik, seakan tamu VIP.
"Welcome Chef Alaia" sapa seorang chef bule yang dengan hangat menyambut kedatangannya dengan mengulurkan tangannya.
Alaia menyambut jabatan tangan tersebut dengan hangat.
Keduanya berbincang sebentar, sebelumnya masuk ke dalam ruang meeting.
Sudah ada beberapa chef yang menunggu kedatangannya.
Ketika Alaia sudah datang, rapat segera dimulai untuk mempersingkat waktu.
Selesai rapat, Alaia dan beberapa chef lain di ajak untuk tour ke dapur restoran di hotel tersebut, langsung oleh kepala chef, yang tadi menyambut Alaia ketika datang.
Tidak hanya memperlihatkan dapur, namun kepala chef itu juga memperkenalkan beberapa cehf yang bekerja di dapur hotel.
Selesai acara tour, Alaia dan yang lainnya di jamu oleh tuan rumah dengan berbagai makanan di sebuah grand ballroom.
Ia bertemu dengan beberapa rekan sesama chef yang juga diundang.
Meskipun terkejut dengan kabar pernikahan kedua Alaia, namun tak ada seorang rekan seprofesinya yang ingin tahu lebih dalam. Menurut mereka, itu merupakan ranha pribadi Alaia.
Berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh suaminya.
Selesai dengan pekerjaannya, Alaia langsung kembali ke kantornya.
Ia berjalan menuju lobby hotel dan menuju valet parking untuk meminta petugas mengambil mobilnya.
"Alaia?"
Tepat ketika Alaia selesai membayar biaya parkirnya, suara berat tersebut membuatnya menoleh.
Alaia memutar malas kedua bola matanya.
"Hey, it's been a while" ujar pria itu dengan nada sangat akrab.
Alaia tersenyum culas mendengar ucapan itu.
"Kamu berubah banyak" ujar pria itu lagi.
"Well, I'm not the same old Alaia" ujar Alaia dnegan nada dingin tanpa mau menatap lawan bicaranya itu.
"Udahlah Ram, udah gak ada apa-apa lagi diantara kita" ujar Alaia memperingati Rama, mantan kekasihnya.
"Iya, aku tau kok" ujar Rama yang nada bicaranya terdengar tidak mengindahkan ucapan Alaia.
Gue udah punya suami kampret!!!!! rasanya Alaia ingin berteriak dengan kencang di telinga mantan kekasihnya ini.
"Bagus kalo udah tau. Artinya bisa sadar diri" ujar Alaia pedas sambil berjalan meninggalkan Rama, dan menuju mobilnya.
"s**t! Beneran kebeli mobil impian dia!" umpat Rama ketika melihat mobil yang dikendarai oleh mantan kekasihnya itu.
"Dosa apa coba gue bisa-bisanya ketemu si kampret" hardik Alaia sambil menyetir.
Entah urusan apa yang dimiliki oleh Rama di hotel tersebut, sampai-sampai ia bisa bertemu dengan mantan kekasihnya itu.
Di tengah perjalanan, terlintas dibenak Alaia tentang Erick.
Lebih tepatnya masa lalu Erick.
Erick mantannya kayak apa ya?
Alaia jadi kepikiran sendiri dengan pertanyaannya itu.
Selama ini Alaia tidak pernah menanyakan apapun tentang masa lalu suaminya, dan Erick pun juga tidak pernah menceritakan apapun tentang masa lalunya itu.
Alaia merasa hal tersebut tidak penting karena pernikahannya hanya akan bertahan selama dua tahun. Ia tidak perlu terlalu tahu tentang seluk beluk Erick lebih dalam.
Atau bisa jadi Erick memiliki masa lalu yang kelam hingga membuatnya tidak mau menceritakannya pada Alaia. Jika Alaia bertanya, ia takut justru ia malah membuka luka lama Erick.
Ia tidak ingin menyakiti pria itu.
"Kalo dia emang punya mantan...."
"Mantannya kayak apa?"
"Mantannya ada berapa?"
"Kenapa mereka putus?"
****
"Kamu udah selesai belajarnya?" tanya Alaia di sebrang sana.
"Udah kok. Ini aku baru sampe rumah. Tadi sempet belajar sebentar di rumah sakit sama ke perpus" jawab Erick dengan suara lelahnya yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Kamu capek ya?" tanya Alaia dengna nada sedikit khawatir.
"Ya capek dikit doang" ujar Erick santai.
"Kamu minum air putih yang banyak! Jangna ngingetin aku buat minum aer putih melulu tapi kamunya gak minum air putih" ujar Alaia dengan nada merajuk.
Lucu juga kalo lagi agak ngambek begini batin Erick ketika mendengar suara Alaia.
"Kamu gak makan indomie melulu'kan?" tanya Alaia.
"Nggak kok. Stok indomie yang kamu kirim lagi kemaren masih aman" ujar Erick.
"Di simpen dimana?" tanya istrinya.
"Safety box" jawab Erick sekenannya.
Alaia tertawa mendengarnya.
"Udah ya kamu tidur sana. Kamu juga pasti capek. Dari kemaren kamu kerja terus" ujar Erick.
"Iya. Aku mulai minggu depan kayaknya bakalan jarang bales kamu. Soalnya bakalan sibuk di dapur buat trial error masakan buat acaranya nanti" ujar Alaia.
"Iya. Gapapa kok" jawab Erick dengan lembut.
"Yaudah. Aku mau tidur dulu ya. Bye!" pamit Alaia.
Setelah Alaia memutuskan panggilan mereka, Erick menaruh ponselnya di tempat tidurnya.
Kegiatan di rumah sakit hari ini tidak terlalu banyak. Ia hanya perlu memeriksa perkembangan pasien dan kemudian pulang.
Rencananya, hari ini Erick akan pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan bulanannya yang sudah habis.
Karena ia harus menghemat waktu jadi Erick tidak akan berjalan-jalan keliling supermarket seperti biasanya.
Jadi, ia hanya akan menghampiri deretan rak dari barang yang ia butuhkan.
Setelah selesai berbelanja dan hendak pulang, aroma burger yang kedainya tidak masih berada di dalam area supermarket.
Yang tadinya hendak langsung pulang, Erick mengurungkan niat dan membeli burger tersebut.
Ia menunggu pesanannya selesai di sebuah kursi yanjang yang letaknya persisi di sebelah kedia.
"Gak nyangka ya kita bisa ketemu lagi" suara lembut tersebut membuat Erick menoleh ke sumber suara.
Laras.
"Kamu kenapa gak dingin banget sih sama aku?" tanya Laras dengan nada manja.
Bukannya luluh, Erick malah geli dengan nada bicara Laras.
"Jangan coba-coba jadi pelakor ya. Kelakuan juga jangan kayak l***e! Istri gue galak. Kalo lu gak mau muka lu yang tebel itu diacak-acak istri gue, mendingan ngejauh" ujar Erick kasar dan langsung pergi menuju kedai burger untuk mengambil pesanannya dna segera pulang.
Ia yang tadinya bersemangat untuk menyantap burger hangat yang baru saja ia pesan jadi tidak berselera.
Moodnya rusak total karena kehadiran mantan kekasihnya.
Ia tidak peduli dengan ucapannya yang kelewat kasar pada Laras.
Laras pantas mendapatkan ucapan itu atsa apa yang diperbuatnya di masa lalu pada Erick.
"Ngapain coba di mari?" tanya Erick lebih pada dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah Erick langsung menyantap burger miliknya agar tidak keburu dingin, meskipun moodnya masih buruk karena kehadiran Laras.
Selesai makan, Erick langsung menaruh kebutuhan bulanannya pada posnya masing-masing, lalu ia lanjut belajar lagi.
Memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar, belajar dan belajar.
****
"Bisa video call juga akhirnya" ujar Alaia ketika akhirnya bisa memiliki sedikit waktu untuk bisa bertatao muka dengan suaminya walaupun hanya sebentar.
"Kamu di rumah skit ya?" tanya Alaia yang melihat Erick masih dengan seragam kerjanya.
"Iya. Ini sejam lagi mau operasi. Kamu kayaknya masih di dapur ya?" tanya Erick.
"Enggak. Aku tadi ada meeting. Tapi emang sengaja di suruh smeua pake baju chef begini biar ketauan mana yg chef. Gak setiap hari juga di dapur" ujar Alaia.
Erick hanya mengangguk dengan jawaban Alaia.
"Udah seger lagi nih kayaknya" ujar Alaia.
"Udah dong" jawab Erick bangga.
"Ngapain aja ampe bisa seger gitu?" tanya Alaia lagi.
"Hibernasi pas weekend. Asli! Badan enakan bgt! Emang tidur yang banyak itu kuncinya" ujar Erick dengan semangat.
"Disana bukannya jam makan siang ya?" tanya Erick sambil melihat ke jam tangannya.
"Iya. Ini aku mau makan siang tapi di ruanganku aja" ujar Alaia sambil mengambil makanan yang sudah disiapkan khusus untuknya dari pihak hotel.
"Yaudah kamu makan aja, ntar telfon lagi kita" Erick yang sudah berancang-ancang akan mematikan sambungan teleponnya segera di cegah oleh Alaia.
"Jangan! Kamu temenin aku makan aja" ujar Alaia yang segera mencegah Erick.
"Gak ganggu kamu?" tanya Erick.
"Gak. Biar aku ada temennya. Aku males turun lagi ke bawah, capek naik turunnya. Jadi makan di ruanganku sendiri" ujar Alaia sambil bersiap membuka sendok dan garpu yang di bungkus dengan tisu.
"Yaudah, bentar aku sekalian mau nyemil. Bentar aku ambil dulu makanan aku" Erick segera mengambil semangkuk cereal dan segelas Capucinno yang tadi sudah sempat ia seduh.
Secepat kilat Erick kembali ke mejanya dan kemudian mulai mengaduk mangkuk cerelanya sambil mengobrol dengan Alaia.
"Rick!" sapa seseorang dari arah kiri Erick.
Seorang teman lamanya yang juga tengah kulia di Belanda menghampirinya.
"Eh hey!" sahut Erick yang masih berada dalam panggilan dengan Alaia.
"Siapa?" tanya Alaia setelah menanggak minumannya.
"Temen lama aku, kuliah juga di sini dia. Aku udah mau lulus eh baru ketemu" jawab Erick.
Temannya menghampiri Erick dengan wajah sumringah. Ia tidak bisa menutupi raut bahagianya bertemu dengan teman lamanya ini.
"Eh lu lagi makan ya? Sori nih ganggu" ujar temannya.
"Ah enggak apa-apa kok. Gue cuman nyemil aja sekalian video call sama istri" ujar Erick sambil menunjuk ke layar ponselnya.
"Eh! Udah nikah aja lu ya! Gak bilang-bilang!" ujar temannya seakan tidak terima dengan Erick yang sudah menikah dan tidak memberitahunya tentang ini.
"Hahaha gue mah yang penting sah dulu deh, rame-ramenya ntar aja" jawab Eick sekedarnya saja.
Erick mengobrol sebentar dengan temannya yang sebenarnya baru selesai menjenguk seseorang yang tengah sakit, dan sengaja menghampiri Erick sebelum pulang.
Alaia membiarkan Erick bercengkrama dengan temannya itu.
Sedikit banyak, Alaia mendengarkan tentang kelakuan Erick semasa SMP.
Bandel juga dia jaman SMP batin Alaia ketika mednegar beberapa cerita tentang kenakalan suaminya itu semasa sekkolah dulu.
Sesekali Erick melirik ke arah ponselnya, memastikan ia masih tersambung dengan Alaia, dan istrinya itu tidak mematikan panggilan mereka.
"Gila udah lama banget kita gak ketemu ya" ujar temannya yang takjub dengan perubahan pada Erick.
Tidak menyangka bocah yang agak bandel semasa sekolahnya itu sekarang menjadi seorang dokter, dan tengah mengenyam pendidikan dokter spesialis pula.
"Eh iya, Laras juga lagi di sini, mantan lu"