Lebih Dekat

1500 Words
Setelah menghabiskan 9 hari di Indonesia, Erick kembali lagi ke Belanda. Sejak saat itu juga, Alaia harus menjalan misinya untuk mendapatkan hati orang tua Erick. "Okay. Kayaknya kemaren cukup deh gue kasih frozen food semua. Kali-kali masakain tumisan atau sop boleh juga. Hmmm bikin roti atau kue atau kue-kue kering juga ide bagus" Alaia pun bergegas membuka kulkas dan laci-laci di dapurnya.  Mencari bahan makanan apapun yang dapat ia masak.  Setelah semua bahan terpampang dengan rapih, Alaia berpikir keras apa yang harus ia masak untuk mendapatkan hati kedua orang tua Erick. "Hmm kayaknya kalo masak tumis kankung, udang goreng tepung asam manis, sama sop boleh nih. Biar mertua gue tau gue gak cuman bisa masak yang rada fancy masakan rumah sampe masakan warteg juga gue bisa!" dengan semangat Alaia pun memulai aktifitasnya. Di temani dengan iringan lagu di aplikasi Spotify, Alaia memasak dengan hati yang riang.  Membayangkan reaksi kedua orang tua -atau lebih tepatnya, ibunya Erick- ketika mencicipi masakannya. Di jamin, kedua orang tua Erick akan dengan senang hati merestui dirinya dengan Erick karena handal untuk urusan dapur. Setelah selesai, ia memasukkan makanan-makanan tersebut ke dalam kotak makan berukuran besar. "Saatnya siap-siap ketemu calon mertua!" "Maa, calon mantunya dateng tuh" ujar Cantika ketika melihat mobil Alaia terparkir di depan pagar rumahnya. Desy yang sudah tidak sabar pun segera menghambur menuju ruang tamu utnuk menyambut Alaia. Wanita muda tersebut datang dengan riasan minim dan pakaian yang santai. Setelah menyalami calon mertuanya, Alaia duduk di sofa empuk ruang tamu Erick. "Ini aku bawain makanan untuk Tante" ujar Alaia sambil menyerah sebuah tas yang berisi masakannya. "Ya ampun, kamu sampe repot-repot masak dulu mau ke sini" Desy menerima tas tersebut dengan sangat bahagia. "Ahh gak apa-apa Tante" ujar Alaia sambil tersenyum manis. Desy pun menyuruh pembantu rumah tangganya untuk segera menaruh dan menata makanan itu di piring untuk makan siang mereka. "Om kemana Tante?" tanya Alaia. "Ohh lagi di atas, baca buku" jawab Desy. Alaia hanya mengangguk mengerti saja. "Kamu ngomong-ngomong anak tunggal atau punya kakak adik?" tanya Desy. "Saya anak tunggal tante" jawab Alaia. Enak kali ya gue punya kakak kayak Kak Aya, di masakin melulu, baik lagi batin Cantika yang iseng menguping pembicaraan ibu dan kekasih kakaknya itu. Mana pernah Cantika melihat Erick sebaik Alaia? Sungguh pintar kakaknya ini mencari calon istri. "Kamu emang background pendidikannya tata boga, atau cuman sekedar hobi aja terus bikin restoran?" tanya Desy. Mencoba mengorek informasi calon menantunya ini. "Memang dulu kuliah ambilnya tata boga Tante, S1 dan S2 di Perancis. Tapi setelah S1 aku sempet pulang dulu ke Indonesia sebentar, terus baru lanjut lagi S2" jawab Alaia. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Calon mertuanya ini belum tahu bhawa dirinya seorang janda. Dan sepertinya Erick pun tidak memberitahu hal ini kepada kedua orang tuanya.  Duh bisa terima gak nih emak bapaknya kalo tau gue janda batin Alaia tidak karuan. Alaia paham betul. Kebanyakan orang tua yang memiliki perjaka sebagai anaknya, enggan merestui jika mengetahui jika anaknya ini berkencan dengan seorang janda.  Duh semoga semua baik-baik aja "Orang tua kamu tau gak aku janda?" tanya Alaia tiba-tiba ketika ia masuk ke dalam apartemennya. "Hah apa?" tanya Erick di sebrang sana. "ORANG TUA KAMU TAU GAK KALO AKU JANDA?" teriak Alaia cukup kencang pada ponselnya. "Gak. Aku belom ngasih tau" jawab Erick. "Kamu nih gimana sih?! Kenapa gak blak-blak aja sama orang tua kamu!" ujar Alaia meny "Ya nanti kalo kamu ga di terima sama keluarga aku gimana? Gagal dong" keluh Erick. "Tapi kalo kayak begini ceritanya, udah deket begini kamu mau ngomong apa ke Papa-Mama kamu?" tanya Alaia kesal sendiri. "Pokoknya aku gamau tau ya, kamu harus bilang ke orang tua kamu status aku sebenarnya! Awas kamu kalo belom ngasih tau juga!" ancam Alaia sambil mengganti ke mode louspeaker. "Iya-iya. Nanti aku ceritain semua ke Papa sama Mama. Jadi gimana tadi udah ke rumah aku?" tanya Erick. "Udah. Bagusnya adalah aku banyak waktu ngobrol sama Mama kamu" ujar Alaia. "GREAT!" pekik Erick senang. "Aku bawain masakan rumahan juga. Biar Mama kamu tenang, kamu gak melulu aku empanin roti" ujar Alaia sambil menghapus riasan di wajahnya. "Kamu lagi ngapain?" tanya Erick. "Baru balik, tadi mampir ke mall bentar, foundation sama concealer aku abis" ujar Alaia. "Kamu pake shade apa?" tanya Erick lagi. "Beige. Kenapa? Mau beliin aku?" tanya Alaia lagi. "Gak. At least I know what shade you are using. In case  nanti setelah kita nikah kamu minta aku beliin make up kamu, aku udah tau" ujar Erick. "Tapi beige juga ada beberapa variannya di beberapa kosmetik" sahut Alaia. "Tinggal tanya sama make-up pedia" ujar Erick santai. "Make-up pedia?" tanya Alia dengan kening yang berkerut. Ia baru mendengar kata-kata itu. "Mkasud aku Cantika. Udah ya, aku mau visit pasien dulu" pamit Erick. Tanpa menunggu jawaban dari Alaia, Erick mematikan sambungan telepon mereka.  Alaia pun menaruh ponselnya di meja nakasnya, lalu ia bergegas untuk mandi.                                                                                             **** Bagaimana ia bisa lupa untuk memberitahu kedua orang tuanya jika Alaia berstatus janda? Benar juga apa yang di katakan oleh Alaia, lebih baik ia jujur di awal, dariapda nanti ketika kedua keluarga sudah saling mengenali satu sama lain malah jadi hancur karena Erick tidak mengatakan fakta sedari awal. "Telfon Mama gak ya?" Erick menimbang-nimbang pilihannya untuk menghubungi orang tuanya. "Ah udah telfon aja deh" Erick pun akhirnya menekan tombol hijau untuk menghubungi ibunya.  "Halo" suara Mama terdengar agak keras di sebrang sana. "Halo Ma" sapa Erick. "Kenapa kamu nelfon Mama? Tumben banget" ujar Desy santai. "Aku lupa mau ngasih tau Mama" ujar Erick. "Mua ngasih tau apaa?" tanya Desy, masih dengan nada santai. "Hmm ya tapi Mama jangan kaget ya" ujar Erick. "Ya emang kamu mau ngasih tau apaan?" tanya Desy. "Sebenernya, Alaia itu statusnya janda Ma" ujar Erick dengan penuh hati-hati. "Apa?" tanya Desy dengan nada tajam. "Iya, jadi sebenernya Alaia itu udah cerai sama suaminya setahun lebih" uajr Erick. "Kok bisa cerai?" tanya Desy dengna nada penuh selidik. "Mantan suaminya selingkuh sama temen kantornya selama Alaia di Perancis" ujar Erick. Tidak terdapat suara apapun dari Desy di sebrang sana. "Dasar bodoh!" pekik Desy tiba-tiba, membuat Erick terlonjak kaget. "Eh..." ujar Erick pelan. "Gak. Maksud Mama bukan kamu yang bodoh. Mantan suaminya yang bodoh! Perempuan cantik, cerdas, mandiri begitu di selingkuhin?!" pekik Desy tidak percay. Hoooh sukurlah batin Erick yang menirinya dirinya di hardik oleh ibunya. "Dia punya anak?" tanya Desy. "Gak" jawba Erick cepat. "Hmmm ya gak masalah sih Mama" ujar Desy. "Beneran Ma?" tanya Erick memastikan. "Ya kalo Mama sih gak masalah, gatau kalo Papa kamu" ujar Desy. "Yaudah aku cuman mau ngomong itu aja sih" ujar Erick dengan nada penuh kelegaan. Setelah berpamitan pada ibunya, Erick merasa lega bukan main karena ibunya ternyata tidak begitu mempermasalahkan status janda Alaia. Erick berjalan menelusuri lorong rumah sakit sambil bersiul gembira.                                                                                               **** Marcel kadang tidka percaya dengna pa yang Erick katakan beberapa bulan lalu. "Lu sama Erick sekarang udah sampe tahap mana?" tanya Marcel pada Alaia. "Udah di kenalan ke keluarga masing-masing" jawab Alaia sambil tetap bekerja. "Kenalin ke orang tua masing-masing?"!" Marcel tidak eprcaya dengan apa yang di dengarnya. Alaia mengangguk sambil bergumam. "Gila" ujar Marcel. "Emang. Gue sama Erick udah sama-sama gila" ujar Alaia santai.  "Lu temenan sama Erick udah berapa lama?" tanya Alaia tiba-tiba pada Marcel. Sudah saatnya ia mengetahui seberapa lama Erick dan Marcel berteman. "Gue sama satu SMP-SMa. Kuliah juga ternyata di kampus ayng sama, padahal tadinya Erick mau kuliah di luar kota, tapi ternyata emang takdir gue bareng-bareng terus sama sohib gue yang rada koplak itu" ujar Marcel. "We've been through ups and downs" ujar Marcel yang tiba-tiba mengenang masa sekolah san kuliahnya bersama Erick. "Anaknya gimana dulu" tanya Alaia sebisa mungkin tidak terdengar kepo mengenai Erick di masa lalu. "Hmm anaknya ya biasalah. Namanya juga naak cowok, ada bandel-bandelnya. Tapi gak sampe iktu tawuran segala.Mau di gebukin ama bokapnya emang dia?" jawab Marcel riang. "Mayan pinter anaknya. Ya gak selalu dapet cepe, tapi dia pokoknya gak pernah remedial aja kalo ulangan" ujar Marcel. "Terus kalo lu kebalikan dia gitu?" tanya Alaia sekenannya. "Sembarang aja kalo ngomong!" sewot Marcel tidka terima. "Deket ama cewek pas SMA?" tanya Alaia. Ini yang gue tunggu-tunggu batin Alaia. "Hmmmm" Marcel menerawang ke langit-langit ruang kerja Alaia. "Ya biasa sih. Naksir-naksir gitu ya ada sih. hmm kalo cewek-cewek yang suka sama dia ada sih, tapi gak sampe fanatik gitu. Pas SMA pernah pacaran sekali sih, sama anak sekolah lain" ujar Marcel. "Terus lu pas SMA gak laku ya?" sahut Alaia lagi. "Bener-bener ya lu, gue ajakin gelut lama-lama" ujar Marcel. Alaia tertawa melihat ekspresi kesal Marcel.  "Ya santai aja kali kalo emang lu gak gitu mah" ujar Alaia. "Pas kuliah dia sempet pacaran sama cewek, agak lama sih. Tapi putus" ujar Marcel. "Baru kali itu gue liat Erick patah hati banget" ujar Marcel, lalu menghela napas. "Ya gak sampe mau bunuh diri sih anaknya, tapi ya gitu jadi diem aja anaknya" lanjut Marcel. "Putus kenapa?" tanya Alaia. "Ya mantannya ngerasa Erick terlalu sibuk, padahal mah aslinya emang dasar mantannya aja gatel. Main di belakang Erick"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD