Yudha dan Gina terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh putri tunggal mereka.
"Kamu serius Erick mau nikahin kamu? Dalam waktu dekat ini?" tanya Gina masih dengan ekspresi terkejutnya.
"Kamu yakin sama Erick?" tanya Yudha.
"Yakin" jawab Alaia dengan penuh keyakinan.
"Sejujurnya Mama dan Papa sudah merestui hubungan kalian" ujar Yudha.
Jawaban Yudha membuat Alaia bersemangat. Ia benar-benar selangkah di depan untuk hidup bersama Erick.
"Tapi apa gak kecepetan?" tanya Gina.
"Gak sih. Ya Erick maunya sederhana aja sih. Di rumah juga gapapa kok" ujar Alaia.
"Urusan baju segala macemnya gimana?" tanya Gina.
"Ya itu mah gampang. Sederhana aja sih, kalo emang mau bikin baju buat di jahit ya hayok di langganna kita aja" ujar Alaia.
"Kalo begini ya berarti orang tua Erick harus ketemu sama Papa Mama" ujar Yudha.
"Iya, aku juga mikirnya gitu. Erick udah bilang kok ke Mama-Papanya soal ini. Dia bilang resepsinya bisa nanti aja, nikah aja dulu yang penting" ujar Alaia.
"Kalo emang gitu yaudah. Kamu coba kontak-kontka ke tukang jahit, cari vendor, MUA, sama yang lainnya juga" ujar Gina.
"Kalo soal MUA kan bisa pake temen aku. Aku udah coba iseng ngontak dia buat ngerias kita. Kalo vendor aku gatau belom cari" jawab Alaia.
****
"Kamu serius mau nikahin Alaia?" tanya Hadi tidak percaya dnegan ucapan putra sulungnya ini.
"Ya iya serius dong" sahut Erick.
GIliran gue mau serius begini kenapa jadi mukanya pada heran semua sih?
"Kamu kenapa dadakan begini sih?" tanya Ddesy.
"Alaia gak hamil duluan kan?" ceplos Desy.
"Astagfirullah. Ya nggak dong Ma! Aku aja udah berapa bulan gak ke sini?" tanya Erick.
Tidak ia sangka ibunya bisa-bisanya berpikir seperti itu.
"Ya kamu kan kemaren ketemu dia" ujar Desy.
"Ya nggaklah! Aku sama dia gak pernah ngapa-ngapain! Kemaren juga ketemu ngebahas ini" ujar Erick penuh ketidak terimaan.
"Kakak biar akhlaknya agak sengklek begini tapi masih waras kok Ma. Tenang aja" ujar Cantika yang juga ada di ruang keluarga ketika kakaknya ini mengutarakan niat untuk menikahi Alaia.
"Bawel" dengan ringan Erick menoyor kepala adiknya.
"Tapi kamu mikir gak sih? Alaia keluarganya kayak gimana? Coba kamu mikir deh! Apa orang tuanya gak mau pesta pernikahan yang mewah?" tanya Desy.
"Uang darimana coba sebanyak itu! Mikir coba kamu!" timpal Desy.
"Ya ampun Ma! Aku bilang ke Alaia, akad nikah aja dulu. Resepsi mah gampang, nunggu aku kelar kuliah juga gapapa" ujar Erick.
"Anaknya mau?" tanya Hadi.
Erick mengangguk.
"Ya biar cuman akad, tapi apa orang tuanya gak mau yang mewah? Kenalan sama rekan kerja mereka pasti kelas atas semua itu" ujar Desy.
"Lebih baik orang tua Alaia ketemu sama Papa-Mama. Maksudnya ya kita yang ke pihak sana" ujar Hadi.
"Ayok!"
****
Sejujurnya, pertemuan keluarga seperti lebih menegangkan rasanya ketimbang bertemu dengan dokter konsulen ketika koas bagi Erick.
"Jadi kalian sudah yakin satu sama lain untuk menikah?" tanya Yudha sambil menatap Alaia dan Erick bergantian.
Kedua pasangan itu mengangguk dengan kompak dan mantap.
"Okay. Kalo dari rencana kalian, kan maunya nikahnya akad nikah dulu. Kira-kira planning dari kalian apa?" tanya Yudha lagi.
"Akad nikah sederhana aja Om. Kalo gak keberatan ya di rumah ini juga gapapa, atau mau di ballroom hotel juga boleh" ujar Erick.
"Kalo menurut Papa, lebih baik di rumah aja. Biasanya booking begituan harus jauh-jauh hari" ujar Hadi.
"Iya. Mendingan di rumah aja. Lagipula yang datang juga cuman keluarga aja kan? Ya di rumah aja kalo saran Mama" ujar Gina.
"Okay. Akad nikahnya di rumah ini" ujar Erick mantap.
Alaia yang duduk di sebelah Erick bisa merasakan aura keseriusan yang dipancarkan oleh Erick.
Benar-benar menghipnotis kedua orang tua mereka.
"Urusan dekor, vendor, undangan, souvenir, baju pernikahannya?" tanya Gina.
"Itu biar aku sama Erick aja yang urus. Papa sama Mama hubungin pihak keluarga aja" ujar Alaia.
"Pokoknya aku mau sesimple mungkin, gausah repot ini itu" ujar Alaia.
Kedua orang tua mereka kompak mengangguk.
"Tanggal pernikahannya?" celetuk Desy memecah keheningan.
"Empat oktober" ujar Erick dan Alaia kompak.
"Itu cuman rencana kita. Gatau kalo Mama sama Papa gimana" ujar Erick.
"Boleh. Gak gitu jauh juga. Kita masih ada waktu buat siap-siap. Erick balik ke Belandanya kapan?" tanya Yudha.
"Tanggal tujuh" jawab Erick cepat.
"Yasudah. Papa sih setuju tangga segitu. Bagaimana yang lain?" tanya Yudha pada istri dan kedua calon besannya.
"Okay. Saya juga segitu tanggal segitu setuju" ujar Hadi dengan yakin.
****
"Kita jadinya mau kemana dulu?" tanya Erick.
"Beli kain buat seragam Papa-Mama sama adek kamu" ujar Alaia.
"Adek kamu selera fashionnya gimana?" tanya Alaia.
"Pokoknya dia mah harus estetik dulu outfit yang dia pake sebelum di poto masukin IG" ujar Erick.
Alaia melirik Erick yang fokus menyetir.
Sebenernya kalo di liat-liat ganteng juga sih. Apalagi dari samping gini asli deh. Ganteng juga ini calon dokter spesialis somplak batin Alaia yang kagum sendiri dengan ketampanan Erick.
Ketika sampai di toko kain langganan ibunya, Alaia langsung masuk ke dalam toko tanpa membuang waktu.
Ditemani seorang karyawan toko, Alaia mencari kain yang ia butuhkan. Sedangkan Erick duduk di sofa empuk di tengah-tengah toko tersebut.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Alaia untuk menemukan kain yang diinginkan olehnya.
Beberapa saat kemudian, Alaia datang kembali pada Erick dengan dua tas belanjaan yang besar.
"Yuk sekarang ke tukang jahitnya" ujar Alaia riang.
"Pokoknya gue maunya desainnya kayak begini. Gausah ribet-ribetlah desainnya Kak" ujar Alaia sambil memberikan referensi desain pada desainer kesayangnnya.
"Kamu nikah buru-buru banget nih. Gak 'nabung' duluan kan?" celetuk wanita muda itu.
"Ya gak dong! Gue emang agata abis, tapi bukan berarti gue kayak begitu" tukas Alaia.
"Sekalian bikinin buat calon suami gue juga. Nih yang kayak begini desainnya" Alaia menunjukkan kembali desain yang akan di kenakan oleh Erick.
"Modelnya simple-simple semua ya" ujar desainer itu lagi.
"Ya kan gue bilang, gue gamau yang macem-macem. Simple but memorable" ujar Alaia.
Erick dan Alaia mampir sebentar ke sebuah kedai makanan untuk makan siang sebelum melanjutkan kembali ke tukang jahit selanjutnya.
"Om Tante kamu udah di kasih tau?" tanya Erick.
Alaia emngangguk sambil mengunyah keripik singkong yang disediakan di kedai itu.
"Udah tau semua kok. Kamu sendiri gimana?" tanya Alaia.
"Sama" jawab Erick singkat.
"Gak ada yang komentar 'kok cepet banget?' 'kenapa dadakan?' 'jangan-jangan hamil duluann ya?' gitu?" tanya Alaia.
"Ya ada sih, tapi ya kalo emang kamu hamil duluan suruh buktiin sini. Kalo iya, aku kasih 1 milyar cash" ujar Erick mantap.
"a***y" sahut Alaia.
"Konyol banget" ujar Erick.
"Soal souvenir gimana? tanya Erick tiba-tiba.
"Gampang. Pake photobooth aja" ujar Alaia.
Banyak akal juga nih cewek. Gak salah emang gue nikahin batin Erick bangga.
Setelah seharian berkeliling Jakarta untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Erick mampir sebentar di apartemen Alaia.
"Duh aku tuh capek banget" keluh Erick ketika baru saja duduk di sofa.
"Kamu mau nginep sini?" tawar Alaia begitu enteng.
"Tidur dikamar situ" Alaia menunjuk ke kamar yang memang ia peruntukkan untuk tamu.
"Terus kalo aku nginep di sini, aku bilang apa ke Papa-Mama aku?" tanya Erick.
"Bilang aja nginep di rumah Marcel" ujar Alaia enteng.
"Kamu masih ada stok foto di rumah Marcel?" tanya Alaia.
Erick mengangguk.
"Yaudah kirim aja fotonya, terus kirim ke Mama kamu" ujar Alaia lalu berlalu menuju kamar untuk mempersiapkan kebutuhan Erick.
"Nih. Itung-itung latihan jadi istri biarpun umurnya cuman dua tahun" Alaia memberikan padanya sebuah handuk dan baju ganti.
"Itu baju ganti aku. Kaosnya emang rada oblong. Ini celananya punya Papa" ujar Alaia sambil memberikannya pada Erick.
"Bukan baju mantan kamu kan?" tanya Erick iseng.
"Ya enggaklah!" Alaia tanpa berpikir panjang langsung memukul Erick.
Di kamarnya, Alaia membersihkan riasan dan bersiap untuk mandi.
Selesai mandi, Alaia bergegas untuk melaksanakan ritual sebelum tidurnya, alias memakai rentetan skincare sebelum tidur.
Alaia terpikir apa yang akan terjadi jika ia dan Erick berbagi ranjang setelah menikah nanti.
"Pokoknya gue tidur di sebelah kiri" ujar Alaia sambil melihat ke arah ranjangnya.
Alaia melirik map yang berisi berkas pernikahan yang akan ia bawa ke KUA besok pagi.
Jika di tarik kebelakang, Alaia dan Erick nekad menikah.
Bukan karena keyakinan masing-masing untuk hidup bersama, namun karena kepentingan masing-masing.
Alaia selalu terbayang kekecewaan kedua orang tuanya jika nanti ia dan Erick berpisah, walaupun keduanya sepakat berpisah baik-baik.
Ia juga terbayang dengan reaksi kedua calon mertuanya jika nanti sampai mereka bercerai.
Meskipun Erick selalu mengeluhkan tentang orang tuanya yang terus saja menyuruhnya untuk menikah, namun kedua orang tua Erick amat baik padanya sejak awal bertemu.
Tidak habis pikir ada berapa hati yang ia patahkan ketika ia dan Erick bercerai nanti.
Namun ada satu hal baru yang Alaia sadari.
Pernikahan dadakan yang di usulkan Erick ini justru mewujudkan pernikahan impiannya.
Ketika menikah dengan mantan suaminya dulu, keluarga dari mantan suaminya mendesaknya untuk melaksanakan pernikahan di hotel berbintang.
Bayangan pernikahan sederhana di rumahnya hangus begitu saja.
Dari dulu, Alaia selalu memimpikan menikah di rumah kedua orang tuanya. Rumah tempatnya tumbuh.
Akad nikah di kelilingi keluarga dan menikah sesederhana mungkin.
Simple but memorable.
Alaia mengambil daily planner miliknya, melihat moodboard yang diberikan oleh pihak vendor, dan desain gaun pernikahan yang akan di kenakannya.
"Makasih ya Rick"