9. Pertama,

1445 Words
Kaori dan Jake membiarkan bib1r mereka berdua saling bertaut, melupakan keberadaan mereka di dalam kamar Jake. Jake mengunci pintu kamarnya, dan membuat lampu kamarnya dalam mode redup dengan sebuah remote di tangannya. Jake membuat suasana kamarnya mendukung kegiatan yang akan mereka lakukan selanjutnya, Jake tidak sabar untuk mengikat Kaori dan menjadikan Kaori sebagai miliknya. Tubuh mereka berdua semakin berdekatan, suasana mereka berdua semakin intim. Jake membuka kain terakhir yang membungkus tubuh Kaori, tubuh Kaori tercetak sempurna di depan Jake. Jake mulai tersenyum, dia mulai menghujani Kaori dengan kecupan dan meninggalkan kissmark di tubuh Kaori. Sekuat hati, Kaori mencoba untuk tidak meluapkan rasa yang menggelitik di dalam tubuhnya, Kaori malu untuk mengakui jika dia menikmati apa yang Jake lakukan. Jake, seseorang yang menjadi pemilik Kaori. "Aku menginginkan kamu, Kaori," ucap Jake di sela sela kegiatan panas yang mereka berdua lakukan, "Nngh, aku tahu," "Terima kasih, kamu telah datang menemuiku, malam ini. Aku ingin menghilangkan jejak Lara di tubuhku, dan jejak Bastian di tubuh kamu," ungkap Jake yang membuat Kaori tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya di leher Jake, "Aku tahu, kamu tidak suka aku bertemu dengan Bastian," aku Kaori yang membusungkan tubuh bagian depan, dan membuat Jake mengerjai milik Kaori dengan lihai layaknya seorang pemain. Ntah, bagaimana caranya, Jake telah melepaskan celana satin yang Jake kenakan beberapa menit lalu. Kaori berada di atas tubuh Jake, Kaori tak nyaman duduk di pangkuan Jake mengingat sesuatu tengah mengembang dan membuat Kaori gelisah. "Kenapa, Kao? " tanya Jake yang seolah-olah tak mengerti dengan apa yang terjadi. Kaori tak menjawab pertanyaan Jake, justru bergerak , membuat milik Jake semakin menegang dan mengganggu kegiatan mereka. "Jake," "Hm," "Aku takut, ini sepertinya akan terasa menyakitkan, aku belum pernah melakukannya," aku Kaori, "Aku akan menjadi yang pertama untuk kamu, Kaori. Aku berjanji, malam ini, aku milik kamu, aku tidak akan membuat kamu sakit, kamu akan merasakan kenikmatan dan melupakan sentuhan Bastian di tubuh kamu," bisik Jake yang membuat Kaori merona. Jake membuat Kaori berada di atas juniornya. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, untuk bermain dengan tubuh inti Kaori, Jake meletakkan Kaori di atas tubuhnya membuat Kaori mengerang, dan merasakan sakit di inti tubuhnya. Jake tidak bisa melakukan dalam satu kali permainan di sofa, inti tubuh Kaori belum bisa Jake sentuh dengan sempurna. Bahkan air mata Kaori menetes di ujung mata Kaori, menahan rasa sakit akan benda tumpul yang mendesak untuk masuk. Usaha Jake membuat Kaori tak bisa bergerak dengan bebas, Kaori mencengkram bahu Jake dan menyisakan bekas luka yang memerha di bahu tegap Jake. Namun, hal itu tidak menghalangi mereka berdua untuk melanjutkan dan menyatukan peluh mereka bersama. Jake hanya tak rela, ada jejak Bastian di wanitanya. Jake merasakan kenikmatan itu, kenikmatan menembus inti tubuh Kaori. Jake merasakan kehangatan yang dimiliki Kaori, Jake menginginkan lebih, dia menjadi lebih serakah, Jake menekan pinggul Kaori ketika rasa di dalam inti tubuh Jake membuncah, membuat Jake ingin mencapai klimaks dan menuntaskan keinginannya. "Akh! Jake, sakit, ini aneh," racau Kaori ketika Jake membenamkan semakin dalam juniornya. "Sebentar lagi, Kao, kamu akan menjadi milikku seutuhnya," ungkap Jake sebelum meraih bibir Kaori dan melumat bibir Kaori. Jake merasakan sensasi bercinta yang tak terlupakan bersama Kaori, Jake merasa kecanduan dengan tubuh Kaori, Jake ingin melakukan hal itu kembali, setidaknya dia ingin memberikan waktu Kaori untuk rehat sejenak. Jake membantu Kaori mengenakan kemejanya, karena dress yang Kaori kenakan tergeletak tak berdaya di atas lantai. Jake memperlakukan Kaori layaknya sebuah boneka hidup. Setelah membantu Kaori menggunakan pakaian, Jake mengenakan boxer, masih ada waktu bagi Jake untuk memulai kembali kegiatan ranjang mereka berdua. "Kamu bisa tidur di sini Kao," ungkap Jake yang menahan langkah Kaori, sembari menepuk di sisi ranjang yang kosong. "Kenapa?" tanya Kaori sembari menahan rasa sakit di inti tubuhnya. Kaori ingin menangis. Inti tubuhnya tidak bisa diajak kompromi. Kaori tidak ingin dibuat berdiri lebih lama lagi. Kaori mengumpat Jake di dalam hatinya. "Aku tidak ingin kamu keluar dengan kemejaku, kamu ingin mereka melihat tubuh kamu?" tanya Jake,"aku bisa saja membunuh mereka, jika mereka melakukan hal itu," ancam Jake yang membuat Kaori menatap Jake, "Aku baik baik saja, Jake. Mereka tidak akan melakukan apapun kepadaku," ungkap Kaori. "Aku keberatan," tolak Jake, "Jake, jangan keras kepala, kita sudah sepakat, untuk menjalani hubungan ini dengan tenang." tegur Kaori yang membuat Jake menggelengkan kepala, "Aku tidak ingin berbagi, Kao." aku Jake, "Kamu pikir, aku barang?" tanya Kaori, "Aku tidak pernah berkata begitu," "Jake," panggil Kaori yang ingin Jake mengerti dirinya, "Hm," "Please, aku ingin tidur di kamarku," rengek Kaori yang memohon untuk terakhir kalinya, "Di sini, atau tidak sama sekali," pinta Jake yang membuat Kaori mengurungkan niatnya dan segera berbaring di ranjang. Kaori merasakan jika Jake, tidak akan pernah melepaskan Kaori begitu saja. "Jake, aku harus segera kembali," kata Kaori yang membuat Jake terusik dengan suara Kaori. "Kenapa?" "Aku tidak nyaman di sini, aku lebih nyaman di kamarku," aku Kaori dengan wajah memelas, "Tidurlah, Kaori. Aku akan membangunkan kamu nanti." pinta Jake untuk ke sekian kalinya. Jake ingin Kaori tetap berada di sisi Jake. Kaori akhirnya menyerah, dan melakukan apa yang Jake inginkan. Kaori tidak ingin berdebat dengan Jake, karena hasilnya akan sama, dan Kaori tidak mau membuang energinya. Waktu berlalu, Jake yang melihat Kaori memejamkan kedua matanya memutuskan untuk mengikuti apa yang Kaori lakukan. Hingga akhirnya, cahaya pagi menerangi ruangan yang gelap. Jake yang merasa terusik akan hal itu segera membuka mata, dan turun dari ranjang. Jake merapatkan gorden jendela kamarnya, membuat kamar Jake kembali gelap. Jake memutuskan untuk membersihkan diri di kamar mandi. Jake memberikan Kaori ruang untuk bisa tidur dengan nyenyak. Sayangnya, Kaori ikut terbangun dan menunggu Jake untuk lebih dulu membersihkan diri. Kaori menarik selimut putih yang menutupi sebagian tubuhnya, ke atas, membuat tubuhnya terbenam sempurna, "Ah! Kenapa aku masih bisa tidur selelap itu," keluh Kaori pada dirinya sendiri, Jake berdiri begitu lama di walk in closet miliknya, membuat Kaori menerobos masuk ke dalam ruangan pribadi milik Jake. Kaori pikir, Jake tidak akan selama itu, dan membuat Kaori menunggu cukup lama. "Jake, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu begitu lama?" tanya Kaori kesal. Kaori yang tak sadar jika Jake masih melilitkan handuknya segera menutup kedua matanya, membuat Jake menatap Kaori dengan heran, bukankah mereka berdua telah menghabiskan malam bersama. Apa yang salah dengan handuk yang membungkus tubuh bagian bawah milik Jake. Jake menghampiri Kaori, dan membuat Kaori membuka kedua matanya, dengan mengecup kelopak mata Kaori. Refleks, Kaori membuka kedua matanya, menatap Jake yang masih setia memamerkan pahatan indah tubuhnya di depan Kaori. "Kamu, kenapa?" tanya Jake, "Kamu, yang kenapa?" tanya Kaori sewot, "Kita sudah melakukannya, Kao, kamu sudah melihat tubuhku semalam, kenapa kamu seolah olah tidak pernah melihatnya?" goda Jake yang membuat Kaori sewot, "Apa!" "Kamu sudah melihat tubuhku, Kaori dan kenapa kamu seolah olah tidak pernah melihatnya?" jawab Jake yang mengulang ucapannya. Kaori menatap Jake garang sembari menunjuk rentetatan kemeja yang terdisplay di lemari kaca Jake,"kamu pikir, fungsi kemeja kamu di sini apa? Sebagai hiasan? Pilih salah satu dan segera keluar, karena aku ingin meminjam satu kemeja kamu, kenapa kamu lama sekali memilih salah satu kemeja ini, menyebalkan!" omel Kaori yang membuat Jake terkekeh, "Kamu bisa ganti di depanku, memang ada masalah dengan hal itu? Aku tidak keberatan dengan semua itu Kaori," jawab Jake santai. "Jake! Aku yang keberatan. Apa kamu puas?" tanya Kaori tak percaya, "Tsk, kenapa kamu harus marah? Aku hanya mengatakan apa yang seharusnya kamu lakukan." jawab Jake sembari mengerlingkan mata, "Ckckck, aku baru tahu, kamu ternyata memiliki sisi gelap yang unik," "Aku hanya menunjukkan sisi gelapku kepada kamu," sanggah Jake. "Kamu yakin?" tanya Kaori ragu, "Memangnya aku seperti itu? Aku pikir kamu akan tahu dengan sekali lihat, ternyata kamu tidak se-peka itu, aku cukup kecewa dengan sikap kamu ini," jawab Kaori tanpa ragu, "Jake, tolong pilih salah satu kemeja ini, dan keluarlah!" "Oh oke," dusta Jake. Kaori yang mendengar langkah kaki Jake menjauh. Segera membuka handuknya. Kaori tertipu. Jake tersenyum, dia mendekat ke arah Kaori yang lengah. Jake mengambil kesempatan mengecup bibir Kaori. Tidak puas dengan sebuah kecupan, Jake mengambil inisiatif untuk melumat bibir Kaori. Kaori membelalakkan kedua matanya, apa yang dilakukan Jake membuat Kaori terkejut, dan menggigit bibir Jake, namun hal itu tidak mengurungkan niat Jake untuk melanjutkan aksinya. Mereka berdua hanyut dalam keadaan. Jake menggendong tubuh Kaori, refleks Kaori melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jake. Jake menghujani Kaori dengan saliva, mereka berdua terlibat dalam suasana panas yang tak seharusnya mereka lakukan, namun apalah daya, milik Jake telah terjaga, meminta pertanggung jawaban Kaori, sang pemilik hati Jake. Kaori yang awalnya hanya ingin meminta Jake untuk segera pergi dari ruangan itu, kini malah meladeni Jake untuk melakukan hal lain dan membuat Jake melakukan olahraga panas di dalam walk in closet saat itu juga. Kaori tidak bisa menghindar mengingat Jake telah mengungkung tubuh Kaori dengan tubuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD