Tuntutan***

1481 Words
Setelah malam Rendi menceritakan hal kejadian yang menimpanya. Nur mendadak seperti memiliki empat saudara laki-laki. Mereka begitu perhatian serta sabar yang tentu membuat teman-teman sekolah Nur begitu penasaran akan kehadiran sekawan laki-laki tampan, hingga tak jarang para gadis yang masih belia itu mencari perhatian mereka. Kini Nur yang sudah masuk ke perguruan tinggi pun, masih diperlakukan seperti adik kecil yang belum beranjak remaja. Sikap posesif layaknya saudara kandung laki-laki terhadap adik perempuannya terkadang membuat Nur ingin sekali menangis terharu, sebab semasa hidupnya sebelum bertemu mereka, Nur akan terus saja merana karena sikap saudara serta ibu tirinya yang cenderung merundung bahkan tak segan melukainya. "Kak Toni nggak kerja?" Nur masuk ke dalam mobil BMW hitam itu lalu memasang sendiri sabuk pengamannya. "Hari ini pulang cepat, karena si bos ada urusan keluarga." "Wah enak ya..." ujar Nur kagum. "Tapi... Bukankah bos kakak adalah paman kakak sendiri?" Toni mengangguk, "belajar yang rajin, biar bisa kerja yang lebih bagus dariku." ujar lelaki itu hangat. "Siap, kak." Nur tersenyum senang, "ngomong-ngomong kak Rendi kenapa nggak bisa di hubungi ya?!" "Nggak tau juga sih, ekhem..." Toni mendeham, "mau mampir ke toko buku?" "Boleh." Mobil itu melaju membelah jalanan, Toni membawa Nur ke tempat favoritnya agar dirinya tidak di tanyakan hal mengenai Rendi lagi. Sebab lelaki itu sedang sibuk dengan perusahaan yang dulu sempat mengontraknya, yang entah kenapa kini Rendi resmi menjadi pemilik perusahaan tersebut. Meskipun semua hal yang berhubungan dengan dia maka tetap di rahasiakan identitas aslinya, demi keselamatan Rendi karena otak yang cerdas yang ia miliki, mampu melumpuhkan bisnis lawan tanpa tanggung-tanggung. Rendi bak bayangan maut, apa yang di prediksikan olehnya tak pernah meleset. Walaupun ia hanya tampil di belakang layar, namun strategi serta ide yang muncul dari otaknya, tak pernah mengecewakan. Mungkin itu juga lah yang membuat Rendi mampu menguasai perusahaan yang dulu memanfaatkannya dan justru kini malah menjadi di bawah naungannya. "Semenjak kak Gilang menikah, jadi nggak ada yang ribut dengan ku lagi." Nur terkekeh geli mengingatnya. "Jaga jarak dengannya, jangan sampai istrinya melukaimu lagi...!" Nur tersenyum tipis dan mengangguk, "Nur paham kak." Toni mengusap puncak kepalanya, ia sangat menyayangi gadis ini layaknya adik kandungnya sesuai janjinya dulu. "Ayo turun, tapi jangan lama-lama. Karena aku ada urusan dengan Agnes." Nur tertawa lantas menyeringai, ia merangkul bahu lelaki itu dengan tatapan menggoda. "ciee... Yang sudah di terima lamarannya." Toni terkekeh, ia mencubit pipinya gemas, "itu semua berkat kamu bocah nakal. Bisa-bisanya menjebak dia mabuk seperti itu." "Lagian juga, kalian sama-sama tertarik tapi masih jaim juga." ujar Nur mencebik kesal. "Lihat aja tu kak Devian, tanpa di bantu pacarnya udah bejibun." "Itu karena kamu menolaknya." Nur menghentikan langkahnya, rasa bersalah merebak ke dalam hatinya. Ia menatap Toni dengan tatapan yang sulit di mengerti oleh lelaki itu. "Apa Nur harus menerimanya?" "Tidak juga." "Lalu kenapa kak Toni bicara begitu?!" "Hey... Aku cuma bercanda, dasar pemarah." Gadis itu memutar bola mata malas lantas kembali memilih beberapa buku yang hendak ia pelajari nantinya. "Kak Devian tampan, tapi Nur nggak suka sama dia." "Karena dia kakakmu, jadi jangan berharap lebih." sahut Toni. "kita berempat adalah kakakmu, mengerti?!" "Bisa tidak, bicara menggunakan mulut saja?" Nur merapikan rambutnya yang sedari tadi di acak-acak oleh Toni. "Kenapa, emang...?!" Nur ingin sekali meneriakinya, andai saja mereka tidak di toko buku, maka Nur sudah memukuli lelaki itu begitu puas. "Awas ya..." Nur menunjuknya bersungut-sungut akan membalasnya, nanti. ***** Plak...plak...plak.. Suara tepukan dua kulit yang menyatu seperti irama yang menghasilkan peluh biirahi karena miliknya keluar masuk di lubang yang begitu liat, hangat dan sangat basah. Hrrrmm... erangnya sambil menumbuk semakin kuat, membuat wanita yang di bawah kungkungannya hanya bisa pasrah dan mendesah. "Oh... Faster please... ah,ah,ah..." Rendi seperti di provokasi saja saat mendengar rintih dan desahan yang keluar dari bibir wanita yang di bawahnya dengan wajahnya yang memerah penuh birahii sambil menjambak rambutnya. Benar-benar menggairahkan. Matanya memandangi kedua benda kenyal yang bergerak menggoda membuat lelaki yang hampir mencapai puncaknya menggigit ujungnya gemas lantas menghentakan semakin cepat semakin dalam hingga cairan putih kental milik nya menyembur begitu deras di permukaan kulit perut yang putih nan mulus itu. Nafasnya terengah-engah dengan wajah penuh puas, "kau memang selalu menggairahkan..." ujarnya lalu ia mengguling kesamping sambil memeluk pinggang wanita tersebut. "Apa ini tidak keterlaluan...?" ujar wanita itu geram langsung menepis lengan kekar itu saat lelaki itu kembali mencumbui punggung telanjangnya dengan aksi masing-masing kedua tangannya meremas dan menggerayangi d**a yang mulai turun ke organ intimnya. "Kau menikmatinya bukan?" Mata wanita itu berkaca-kaca, mulutnya mendesah namun hatinya gelisah. "Kamu tidak mencintaiku, aku sudah memberikan ragaku untukmu. Bahkan mencium bibirku pun, kamu nggak mau." Rendi yang tadinya begitu birahii kini hilang sudah, telinganya terlalu gatal mendengar keluhan wanita yang selalu menuntut hak lebih darinya. Ia bangkit dari ranjang dengan amarah yang sudah membumbung tinggi. "Pergilah, jangan memandangiku dengan mata basahmu itu. Membuatku kesal saja." Lelaki itu masuk ke dalam kamar mandi sebelum dirinya mengatakan hal yang tak pantas lagi. "Sebenarnya siapa aku ini? Kita pacaran, tapi kamu tak pernah membawaku mengenal keluargamu." cecarnya yang sudah membuntuti Rendi dari belakang. "Pergilah Yes." desisnya. "Tidak." wanita itu kembali menggerayanginya. "Pergilah..." Bukannya menurut, wanita itu sudah duduk bertumpu di depannya, mengulum miliknya yang sudah berdiri tegap sesekali mengurut dan mengocoknya. Rendi menggeram, kenikmatan seperti ini tentu tidak akan ia lewatkan. Wajahnya mendongak dengan mulut menganga, tangannya menjambak rambut wanita itu untuk menuntun, sesekali ikut mendorong kepala Yesi agar mengulum habis miliknya. "Yaaaahhh, sepertih ituuhhh... Ohh..." desah Rendi. Rendi mendorong kuat kepala Yesi, memaksa miliknya yang kekar nan kokoh masuk ke mulut wanita itu, hingga menyebabkannya ingin sekali menangis. Sodokan kuat nan kasar menyentak masuk sampai tenggorokan dari Rendi membuatnya sulit bernafas. Itu sakit. "Telan...!" perintahnya. Terdapat beberapa cairan meluber sehingga Rendi mengusap bibir Yesi begitu sensual. "Mungil tapi ganas." Rendi mencubitnya pelan membuat sang pemilik bibir mencebik kesal. "Cium aku." tuntut wanita itu. "Sudahlah, jangan memaksaku begini." "Kamu menikmati tubuhku, menyentuh seluruh inci kulitku tapi kamu tak pernah menyentuh bibirku, Rendi." ujar Yesi. "aku seperti jalaang penghangat ranjangmu saja." "Bukankah itu yang kau mau?!" Rendi menyalakan shower, mengguyur sekujur tubuh kekarnya dengan raut wajah tampak sedikit marah, mendengar ucapan tak masuk akal itu membuatnya ingin sekali mengumpat. "Aku hanya ingin, namaku terukir di sini." tangan putih nan halus itu memeluknya dari belakang, menyentuh dadanya yang bidang sambil bergerak tak jelas mengukir di permukaan kulit Rendi yang basah itu. "Apa sesulit itu, Ren? Aku sangat menyayangimu." "Omong kosong." Yesi memeluk erat pinggang Rendi begitu posesif, hingga ia ikut basah karena guyuran air shower. "Kenapa kamu selalu dingin padaku, hiks." Rendi mencoba mengurai pelukannya, "menyingkirlah, aku tidak ada waktu meladeni ucapan tak masuk akalmu itu." Tangannya menutup keran air shower lantas melangkah tanpa peduli bahwa wanita itu sedikit tersandung-sandung kakinya karena Rendi memaksa untuk jalan keluar dari kamar mandi. "Aku nggak mau...!" "Apa mau mu?" "Aku ingin kamu, Rendi... Aku ingin kamu...!" "Sudah ku katakan ribuan kali, kita tidak akan bisa bersatu...!" Yesi mengusap ujung matanya yang basah, "semua keluargamu mengenalku dengan baik. Apa lagi?" Rendi yang hendak mengenakan kaos putih berkerah itu urun. Lelaki itu melemparnya karena kesal saat dirinya terus saja mendengar kata-kata itu lagi. Dan lagi. "Keluargaku selalu bersikap baik pada siapapun!" "Tidak...! Orang tuamu dia berbeda, aku merasa dia menyukaiku." Rendi memutar bola mata malas, "dengar!" geramnya. "jangan pernah berharap lebih dariku, sampai kapan pun aku tidak akan menerima atau membalas perasaanmu." ujarnya marah. "Tapi kenapa?" Rendi menghela nafas panjang, wanita memang mempunyai seribu kata alasan serta pertanyaan agar lelaki menuruti kehendaknya. "Kau akan mendapat yang lebih baik dariku." Rendi menyahut kembali baju yang tadi ia campakan, "keluargamu akan kecewa, bila kau memaksa untuk bersamaku. Aku tak pantas untukmu, apa kau mengerti sekarang?" Meskipun Rendi merasa tak nyaman dengan keberadaan wanita itu, bukan berarti dirinya berperilaku kejam lantas tak mempedulikannya lagi. "Segera pakai bajumu, aku antar kau pulang." Rendi menyodorkan paper bag kepada Yesi, yang seperti biasa berisi beberapa helai baju mahal sesuai selera wanita itu. "Aku tunggu di luar." Rendi melangkah menuju ke arah pintu, "bagaimana kalo aku hamil?" kaki Rendi sontak berhenti mendengar pertanyaan itu. Tubuhnya yang kekar nan tinggi itu memutar dengan tawanya yang menggema di udara, "apa kau bilang? Hamil? Yang benar saja?!" Rendi tertawa terbahak-bahak seakan kalimat yang barusan ia ucapkan adalah lelucon yang sangat amat lucu. "Jangan mimpi terlalu tinggi, Yesi...! Kalo kau terus saja membicarakan hal semakin tak masuk akal ini lagi, lebih baik jangan muncul lagi di hadapanku!" "Aku mencintaimu...!!!" seru Yesi. Rendi menyeringai, ia melangkah perlahan menghampiri Yesi sambil sedikit membungkuk karena wanita itu terduduk di tepi ranjang. "Dengar...! I don't f*****g-care everthing about you...!!!" Rendi menepuk pipinya pelan lalu kembali menegapkan punggungnya, "pakai bajumu, asistenku akan mengantarmu pulang." "Hiks-bukankah kamu yang mengantarku pulang? Kamu sudah janji, Ren." suara sengau itu tak membuat Rendi merasa iba. "Kau terlalu menuntut, mulai besok jangan muncul lagi di hadapanku!" Rendi berlalu setelah mengatakan kalimat dengan nada suaranya yang begitu dingin, ia bahkan menutup pintu begitu kencang tanpa peduli dengan raungan tangis di dalam kamar tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD