Kesalahan

1369 Words
Semua makanan yang di pesan mulai di letakan di atas meja, Irfan terkekeh geli melihat reaksi tingkah mereka, yang begitu antusias membuatnya gemas saja. "Kalian makanlah, Rendi sebentar lagi datang." ujarnya sambil geleng-geleng kepala. Toni yang mendengar itu segera menegakan punggungnya lantas tersenyum lebar sesekali mengangguk sopan. "Makasih bang, atas traktirannya. Dan makasih udah mau di repotin oleh kita-kita." seru Toni sambil cengengesan. "Oke... Oke..." Irfan menepuk bahunya, ia melambai tangan setelah berpamitan. "Waaah, mari makan gais." Tanpa menunda lagi, ketiganya makan begitu lahap. "Duduklah di situ, pesanlah makanan yang kamu suka." ujar Rendi lembut. Pemuda itu seakan tak peduli dengan keterkejutan temannya, bahkan sekarang Devian tersedak hingga merasa hidungnya panas karena rasa makanan yang pedas. "Kakak nggak papa?" ujar Nur panik sambil menepuk punggungnya, tapi tak berlangsung lama karena Rendi menarik lengannya untuk menyingkir, lantas menyodorkan minuman untuk Devian. "Minum dulu, Depi." "Uhuk-, sialan lo. Uhuk..." Devian merebut kasar botol air mineral tersebut, melirik Nur sekejap lantas kembali menatap Rendi penuh permusuhan. Bagaimana tidak, Rendi yang datang tiba-tiba lalu menyenggol lengannya yang sedang menyuapkan kuah bakso kesukaannya, membuatnya tersedak karena terkejut akan itu. "Lo mau bunuh gue?" seru Devian. Rendi menatapnya datar, berlalu begitu saja tanpa merasa bersalah. "Tu orang sinting kali ya." gerutu Devian. "K-kakak tidak papa?" Rupanya Nur masih khawatir dengan keadaannya, tentu Devian tersenyum senang setelah merasa di perhatikan oleh gadis kecil berwajah imut itu. "Ah, nggak papa... Cuma pedes aja kok cantik- makasih ya udah perhatiin kakak." ujar Devian tak lupa melayangkan kedipan nakal pada Nur. "Kelilipan Dep? Perlu gue colok dengan sambal?" ujar Rendi ketus yang sudah meraup wajah Devian. "Apaan sih." Toni dan Gilang mengulum bibirnya sendiri melihat kericuhan di depannya. "Makanlah, jangan pedulikan mereka." ujar Gilang mendekatkan mangkuk nasi soto di hadapan Nur. "Ta-tapi mereka-?" "Mereka memang seperti itu." sahut Toni santai. Nur melirik sekejap, ia menghela nafas panjang dan ikut cuek berlagak tak peduli, seperti apa yang dikatakan Toni serta Gilang. Kedua lelaki itu sudah saling tarik rambut seperti gadis saja, tanpa ada yang melerai bahkan justru mengabadikan melalui ponsel untuk men-video atau men-foto mereka. Memang Nur akui, walau masing-masing tampak kacau penampilannya, itu justru memberi kesan ganas serta maskulin pada keduanya. "Apa tidak apa-apa, kak? Sepertinya mas Rendi dia-eh." Nur terjingkat, Rendi mengambil tempat duduk di sampingnya. "Depi sialan... Sotonya jadi dingin kan." gerutunya. "Lo bisa nggak, jangan manggil gue dengan panggilan sayang lo di depan orang banyak!! Nggak asik banget lo ya..." "Kenapa emang? Suka-suka gue donk." Devian melotot, "yeee... Nyolot ni anak, di bilangin malah ngeselin." serunya. "Hey... Kamu mau pulang bareng kita berdua nggak?" ujar Gilang ramah menawarkan tumpangan untuk Nur. Tampaknya dia mulai pusing melihat tingkah Rendi dan Devian, yang hanya menarik perhatian kaum hawa saja. "Sa-saya pulang sama mas Rendi aja." cicitnya. "Mereka berdua nggak bakal kelar, mending lo pulang bareng kita." Toni berkata sambil mengendik tipis kearah pemuda yang duduk di sampingnya. "Akan seperti itu sampai besok subuh, percaya deh sama gue." lanjutnya "Oh gitu, ya..." Nur sepertinya menyerah saja, ia akhirnya mengangguk menyetujui tawaran Gilang serta Toni. "Mau kemana?!" Rendi menahan lengan Nur, karena gadis itu hendak beranjak dari duduknya. "Ma-mau pulang, mas." "Sama?" "Me-mereka." "Biar kita antar, lo makan aja dulu." sahut Toni. "Nggak usah... Dia, gue yang antar." jawab Rendi tegas. "Emang lo nggak makan?!" tanya Toni heran. Rendi sudah kembali merapikan penampilannya setelah memakai topi baseball serta jaketnya, pemuda itu bahkan belum menyuap satu sendok nasi sama sekali. "Kenyang." jawabnya. "Loh...?!" Wajah Toni tampak lucu menatap Rendi karena bingung, ia menoleh pada semangkuk soto yang belum tersentuh lantas beralih ke Rendi. "Sejak kapan lo buang-buang makanan?" "Itu sudah nggak layak di makan, anyep kaya Depi." alibinya. Rendi meraih jemari Nur, melangkah terlebih dahulu tanpa peduli semua mata menatapnya. "Dia Rendi bukan sih?" Gilang tergelak, ia menepuk bahu Toni lantas berlalu menyusul Rendi tanpa menyahut keterkejutan pemuda berambut ikal itu. "Udah, ayo balik." Devian merangkul bahunya, mereka berdua pun ikut membuntut di belakangnya. ***** "Lo hutang penjelasan sama gue..." "Cih... Apaan?" Rendi mendecih, memangnya dia ngapain sampai-sampai ketiga temannya menyeret dirinya dari lantai dua lalu mendudukannya di atas sofa, menginterogasinya seakan dia adalah seorang tersangka. "Sebenarnya siapa, lo?" "Gue Rendi." "Rendi yang kita kenal, masa iya sekaya lo?!" Rendi terkekeh mendengar sahutan polos Devian. "Iye, gue miskin, puas?!" ujarnya di sela tawanya. "Ck, bukan gitu maksudnya. Gue heran kenapa lo punya fasilitas ini, sedangkan lo hanya anak desa. Lo ternak tuyul?!" "What...?" mata Rendi berkedut mendengar ucapan tak masuk akal dari Toni. Apa tadi? Tuyul? "Lo musrik, Ton." "Abisnya, lo kaya mendadak. Bikin gue curiga." Rendi terkekeh, "gue buka les online, dari sana gue ngasilin duit. Buat apart ini-, ini pemberian dari seseorang yang sudah ngontrak otak gue dalam perusahaannya. Dan itu lumayan, karena tiap bulan gue dapat gaji setara separuh harga mobil kalian." bebernya. "Bo-nyok lo tau?" "Nggak." ujarnya, "yang penting emak sama bapak kagak hidup sulit kayak dulu, setidaknya ada gue sama mbak gue yang tidak lagi membebani mereka." "Gue kira, ini pemberian abang ipar lo." "Gue nggak bakal mau, meski mereka memaksa." Toni mengangguk setuju, "makanya, gue tadinya mikir gitu." "Tapi, liat lo yang hari-hari cuman di warung emak. Terus tiba-tiba punya tempat mewah ini, gue juga nggak memungkiri sempat memikirkan itu." "Gue pengen mandiri." "Iya, dan mandiri lo ini sangat sitimewah. Kayak mie instan." sahut Devian yang meliriknya tajam, "lo bahkan berbicara kayak kita-kita tanpa aksen medok jawa lo." "Gue dulunya juga tinggal di kota, asal kalian tau. Karena perusahaan mebel bapak bangkrut, makanya mereka memboyong kita kembali ke Wonogiri. Apalagi simbah gue waktu itu sakit-sakitan, makanya bapak memutuskan menetap di desa. Sampai simbah akhirnya meninggal saat gue usia sepuluh tahun." Rendi memberi isyarat untuk Toni, agar main game bersamanya. "Lo pindah umur berapa?" "Sembilan." "Pantesan aksen lo fasih banget, dan penampilan lo nggak kayak orang desa umumnya." gerutu Devian. "Tapi gue tetep sayang sama elo kok, Depi." "Ish, jijik gue." Devia bergidik sambil menatapnya penuh risih. "Kenapa kemarin lo tonjok gue?" Rupanya Gilang ikut menyuarakan hatinya, ia penasaran kenapa waktu itu Rendi memukulnya. "Sorry..." ujar Rendi, "tapi lo emang pantas di hajar." Gilang melotot, "maksud lo?" "Ya karena lo sumber masalah gue, akhir-akhir ini." "Masalah?" Rendi mengangguk, ia menyeruput kopi hitamnya lantas meraih stick game dan melanjutkan permainannya bersama Toni pada tv layar sangat lebar di ruangan itu. "Masalah apa sih? Apa hubungannya, sampe lo tega tonjok wajah gue?" "Gara-gara minuman yang lo kasih ke gue, gue hampir perkosa orang, bro." "Perkosa apaan, orang lo malah suruh minggat si Jihan." sahut Toni malas. Rendi meletakan dengan kasar stik game miliknya, ia menghela nafas lalu mengusap wajahnya kasar, "gadis yang selalu bersama gue, dia tetangga gue di desa. Dan dia yang hampir gue perkosa." jelasnya lesu. "Gue nggak tau kalo bakal begini jadinya." sesal Gilang. "Untung saja, jiwa gue tak sepenuhnya terpengaruh oleh minuman yang lo campur itu. Setidaknya dia masih perawan, yaaa, meskipun hampir saja ternodai." "Terus kenapa dia bisa ikut lo ke Jakarta, apa dia nggak punya keluarga?" "Ada." Rendi menjelaskan begitu detail, dari awal sampai akhir hingga semakin membuat ketiga temannya merasa bersalah. "Maka dari itu, gue harus tanggung jawab karena memang gue-lah yang menyebabkan dia di usir ibunya." "Maafin gue." sahut Toni frustasi. "Terus si-cantik, lo tinggal di rumah siapa kemarin?" sahut Devian. "Rumah temen gue." "Temen?" "Iya..." "Temen lo cewek apa cowok? Aman nggak di sana?" "Gue yakin dia aman di sana, karena rumah itu hanya di peruntukan para pekerjanya menginap di sana." Mereka mengangguk paham, "yakin aman?" "Aman, gue juga bisa mantau mereka dari sini." "Caranya?" Rendi menunjuk laptop yang terletak di atas meja. "Rumah itu penuh cctv, jadi gue bisa lihat kegiatan mereka." "Kenapa nasib tu cewek nggak sesuai wajahnya yang imut." Toni memutar bola mata mendengar helaan nafas Devian, "jangan macem-macem. Setelah kejadian ini, kita berempat harus bertanganggung jawab atas yang terjadi pada-." Toni menoleh ke Rendi, "siapa namanya?" "Nur." "Pada Nur..." lanjut Toni. Gilang rupanya masih shock, semua yang terjadi di malam itu adalah ide darinya. "Gue cabut dulu." ujarnya mendadak. "Mau kemana?" "Cari angin." Rendi menatap dingin punggung Gilang yang mulai menjauh itu, entah kenapa tanpa ada ucapan maaf keluar dari mulut pemuda itu membuat Rendi marah. "Dia pasti terkejut." Rendi menyentak kasar sentuhan tepukan yang bertanggar di bahunya, "sudahlah, gue mau tidur."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD