Salah paham

1751 Words
"Di sana ada bang Irfan, jadi pendaftaran kalian nanti dia yang urus." Rendi menjelaskan sambil menatap satu per satu ketiga anak itik itu. "Kenapa kita seperti tak memiliki orang tua." ejek Gilang pada dirinya sendiri. "Semoga abang ipar lo nggak menjadikan pekerjaan paling utama dalam hidupnya, Ren." Rendi menyuap makanan terakhir, ia menaikan satu alisnya sambil menatap Devian. "Kenapa?" "Yaaa, lo pasti ngerti kan, karena hal itu lah yang menyebabkan kita semua kurang kasih sayang. Mereka selalu membanggakan duniawi, bermodalkan uang dan berfikir bahwa anaknya akan bahagia setelah mendapat fasilitas mewah dari orang tua tanpa bekerja susah payah." Rendi terkekeh pelan sambil geleng-geleng kepala mendengar gerutuan itu. "Lo harusnya bersyukur, setidaknya lo bisa pake mobil dengan printilan yang tak penting itu, agar cewek yang lo suka, mau-mau aja saat lo deketin mereka." Rendi mengatakan itu begitu ringan, tentu membuat Devian mati kutu karena dirinya memang selalu menggadang-gadang kekayaan orang tuanya untuk menarik lawan jenis. "Lo pengen kita masuk di fakultas apa?" sela Toni. "IT." "Sesuai hobi kalian yang senang mengotak atik komputer." sambung Rendi. "Apa bisa?" Toni tidak bertanya pada Rendi, lebih tepatnya bertanya pada diri sendiri karena Gilang dan Devian meringis karena bingung hendak menjawab apa. "Ada gue, ntar kita bisa belajar bareng." Setelah mengatakan itu, Rendi membawa serta piring kosongnya ke wastafel. "Makasih bi." ujarnya tulus pada wanita paruh baya itu. "Sama-sama den Rendi." Pemuda itu mengangguk dengan senyum tipisnya. "Bi, bibi..." "Iya den?" "Bibi kenal Rendi berapa lama?" "Tiga tahun, den." Toni menelengkan kepala, "terus ini apartemen milik siapa?" "Den Rendi lah den." Toni melirik Gilang serta Devian, "saya baru tau, kalo Rendi sekaya ini, bi. Aah, lo-" "Makasih, bi." sela Devian sambil menginjak kaki Toni. "Kita pergi sekarang." ujar Rendi setelah kembali dari kamar. ***** Ke empat pemuda tampan berjalan beriringan begitu elegan dan menawan, membelah lautan manusia yang tadinya bergerombol entah untuk berbincang atau berdiskusi. Pesona mereka mengalihkan semua pandangan, membuat Devian membusungkan dadanya bangga, merasa wajah tampannya tak terkalahkan. "Kak Rendi, syukurlah akhirnya kakak datang juga." seru seorang pemuda yang sepertinya berotak jenius, lengkap penampilan culun dengan kacamata tebalnya. Rendi mengangguk tipis, namun setelah sadar semua mata terpaku padanya membuat Rendi menoleh dengan tatapan tak mengerti. "Kenapa kalian?" "Sebenarnya siapa lo?" Rendi malah terkekeh geli mendengar pertanyaan itu, "gue Rendi... Apa nasi goreng bi Janah membuat lo lupa ingatan, Ton?" "Ck... Lo sekarang nggak asik." "Iya, penuh misteri juga." sahut Devian. "Dan kaya raya." sambung Gilang. Rendi tergelak mendengar rentetan kalimat itu. "Gue tetep Rendi, sahabat kalian." "Tapi Rendi yang ini beda." "Apanya yang beda, Depi?" "Ck, sepertinya gue harus tarik kembali kata-kata gue yang terakhir." Devian berjalan lebih dulu, ia malas kalo Rendi menyebut nama itu bila di muka umum. "Ini baru Rendi." Gilang merangkulnya, ia ikut terkekeh melihat Devian yang semakin menjauh. "Kalian ikuti pemuda tadi, biarpun usia kalian lebih tua darinya. Namun posisi kalian tetap mahasiswa baru di sini." ujar Rendi tegas. "Lah, lo sendiri?' "Gue ada keperluan sedikit, after lunch gue balik ke sini lagi." Gilang dan Toni mengikuti langkah seseorang yang di maksud oleh Rendi tadi, namun sebelumnya keduanya masih terus saja menebak-nebak tentang apa yang Rendi lakukan. "Gue penasaran sama Rendi, bro." "Terus?" Toni menoleh cepat, "emang lo nggak penasaran?" "Sedikit." "Ck..." decaknya kesal. "Eh siapa namamu?" "Dino." Pemuda bertubuh lebih kecil dan pendek dari mereka, beserta kacamata tebalnya itu menjawab tanpa menoleh ke arah Toni. "Kau kenal Rendi udah lama?" "Lumayan." "Sejak?" "Lupa." Toni melangkah sedikit cepat agar mampu beriringan dengannya, "kau tau siapa Rendi di kampus ini?" "Dia mahasiswa terbaik di kampus ini." "Tunggu." Toni menahan pundaknya, "kau bilang apa tadi? Rendi mahasiswa di sini?" Dino menepis tangan Toni yang sudah mulai meremasnya kencang, "iya." jawabnya singkat. "Silakan masuk, pak Irfan sudah menunggu di dalam." "Masuklah, nanti saja menebaknya lagi." ujar Gilang yang melangkah terlebih dahulu memasuki ruangan sekretariat tanpa pikir panjang. ***** "Anda sebagai wali dari Nur Hamidah Sofiana?" "Benar." "Apa orang tua murid tidak bisa hadir?" "Mereka sedang berada di luar negeri, dan tidak memungkinkan pulang karena suatu alasan." jawab Rendi tenang. "Baiklah, lalu apa hubungan anda dengan murid?" "Saya sepupunya." Wanita bertubuh gemuk dengan hijab membalut kepalanya menatap Rendi sejenak sebelum akhirnya mengangguk lantas menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Rendi. "kalo begitu tolong tanda tangani beberapa dokumen di bawah ini." "Terima kasih, bu." Rendi menjabat tangan wanita paruh baya itu lalu menarik pelan lengan Nur setelah selesai mendaftarkan Nur di sekolah tersebut. Rupanya Nur merupakan murid berprestasi di sekolahnya yang sebelumnya. "Karena hari ini, pihak sekolah sedang ada rapat dengan para wali murid, maka kamu baru bisa masuk mulai minggu depan." "Ma-mas Rendi, kenapa harus membawa Nur sekolah di sini? Sekolah ini mewah, pasti sangat mahal." "Simpan kalimatmu itu, lebih baik kau sekolah yang rajin terus mendapat nilai tertinggi dan mendapat pekerjaan yang layak agar cepat membayar hutangmu." "Hutang?" "Ya." "Nur hutang sama siapa?" "Aku." sahutnya. "Dengar, sekolah dan tempat tinggalmu sekarang itu tak cukup uang limar ribu." "Tapi Nur masih kecil untuk bekerja, mas." jawabnya polos. "Kau bodoh atau apa? Bekerja kalo kau sudah selesai kuliah." Rendi dengan perawakan tinggi berkulit putih, alis tebal, hidung mancung serta tubuh yang sudah terbentuk beberapa otot di bagian tertentu membuat semua mata guru serta wali murid menatapnya kagum. "Jalan yang cepat, aku malas menjadi pusat perhatian." gerutu Rendi. "Itu karena mas Rendi tampan." jawab Nur tanpa sadar. Pemuda itu menoleh, ia tersenyum remeh mendengar pujian dari Nur. "Jadi karena itu yang membuatmu rela menjajakan tubuhmu, hanya karena menurutmu, aku ini tampan?!" ejek Rendi. "Maksud mas Rendi?" "Masuk." Tubuh Nur sedikit di dorong paksa agar masuk ke dalam mobil tersebut. "Aku sekarang mengerti, rupanya kau senakal itu. Makanya orangtuamu menjualmu karena kau memang semurah itu." Mobil melaju setelah Rendi mengatakan kalimat kejam itu, mulut Nur menganga tak percaya bahwa Rendi, lelaki tampan yang baik hati dan ramah bisa berbicara sekasar itu padanya. "Mas Rendi keterlaluan, kenapa mas Rendi sejahat ini pada Nur?" Gadis itu mengusap ujung matanya yang sudah basah, "Nur tidak pernah nakal." ujarnya sesenggukan. "Tidak nakal. Tapi mau saja di tiduri olehku dan sekarang minta pertanggung jawaban, apa memang semudah itu kau, Nur?!" sahut Rendi yang hampir saja membentaknya. "Si-siapa yang tidur dengan mas Rendi?" "Kau... Kau bahkan memberitahu orangtuamu kalo aku sudah menodaimu, masih mau mengelak?" Nur menggeleng, "tidak, Nur tidak pernah seperti itu." "Kau datang, dengan banyak tanda di lehermu, masih saja mau mengelak?!" cecar Rendi. Nur menggeleng, tangisnya semakin kencang karena Rendi seakan mengintimidasinya. "Nur selalu bicara jujur." Rendi geram melihat sikap sok polos itu, ia membuka dashboard mobil dan melemparkan penggosok stick pada Nur. "Lalu itu apa, hah?" "Hiks, Nur hanya mau mengembalikannya. Tapi Nur tidak bohong, kalo Nur tidak tidur dengan mas Rendi." "Nur kemarin hanya mau minta maaf karena sudah mengambil uang mas Rendi di saku celana, malam itu dompet Nur hilang di pasar malam, makanya Nur buntutin mas Rendi karena mau pinjem uang buat ongkos pulang naik angkot." Rendi mengerutkan alis, menatap mata sebam gadis itu membuatnya tak kuasa, ia lantas menghentikan mobil di tepi jalan kemudian menatap Nur penuh bingung. "Kau membuntuti ku, sampai cafe Re-Go hanya untuk itu?" "I-iya." "Lalu, kenapa ibumu membawamu datang ke rumah?" Nur menggeleng, "saya tidak tau mas, tapi yang jelas malam itu kita tidak tidur bareng. Justru mas Rendi yang tadinya cium-cium Nur, malah meminta Nur pergi karena mas bilang tidak ingin tidur dengan siapapun." Rendi terkejut, "Berarti kau masih perawan?" "Mas, apa-apaan. Nur masih kecil, kenapa mas Rendi bicara yang tak senonoh begini?" Gadis itu berseru, ia sangat kecewa dan merasa di lecehkan saat ini juga. "Bu-bukan begitu." Rendi mengacak rambutnya karena bingung sudah menyakiti perasaan gadis kecil itu. Dia bertanya karena ingin memastikan saja. Setidaknya dirinya masih suci dan belum tersentuh. Meskipun Nur sempat mengatakan bahwa dia telah lancang mencium gadis itu. "Oke, oke, aku minta maaf. Tapi bisa kau ceritakan kejadian malam itu." Nur yang masih marah menangis sesenggukan itu mengangguk. Sore itu, Nur melangkah gontai yang hendak kabur dari rumah karena ibu serta saudara tirinya terus saja menyakitinya. Dan kebetulan dia melihat Rendi keluar dari warung emak sambil berseru kalo nggak kalian habiskan, aku nggak mau ikut ke pasar malam. Nur tersenyum lebar, wah ada pasar malam... Dia sangat suka menonton pasar malam. Maka dari itu, dia bergegas menghampiri Rendi dan memastikan ucapan pemuda itu, namun rupanya Rendi seperti tak nyaman dengannya. Maka Nur memilih pergi bermain sendiri, mengingat dirinya tak punya teman. Namun na-as terjadi padanya, dompetnya hilang saat dia berdiri di antara orang dewasa demi mengantre makanan kesukaanya, yaitu popcorn. Karena sudah tak memiliki uang dan lainnya, Nur pun memutuskan untuk pulang dengan jalan kaki. Baru beberapa kilo meter ia melangkah, kaki kecilnya serasa mau patah. Nur ingin sekali menangis. Namun kesedihannya seakan berakhir, entah kebetulan atau apa matanya melihat Rendi turun dari mobil bersama ketiga temannya, Nur pun berfikir dan mencoba mengikutinya, siapa tahu Rendi sudi membantunya. Ia masuk ke cafe tersebut, tapi karena Nur masih anak kecil dan lagi demen-demennya lagu dangdut di bikin alunan gitar klasik. Nur seakan lupa dan mampir sejenak di sekumpulan muda mudi penikmat musik itu. Jenuh... Sudah satu jam Nur melupakan tujuan awalnya, ia pun beranjak dari sana dan mulai mencari Rendi. Ia mencari hingga menaiki lantai dua. Disana Nur melihat Rendi tampak risih di sentuh wanita yang terus saja mencoba memeluknya. Minggir nggak lo... Seruan Rendi membuat Nur heran, rupanya pemuda itu bisa galak juga. Nur bimbang, melihat waktu sudah hampir jam sembilan membuatnya nekat mendekati Rendi dengan entah siapa wanita itu. Mas... sapanya. Rendi terkejut, lalu merangkul bahu Nur dan mendorong kasar wanita yang menempel pemuda itu sedari tadi. Gue udah punya cewek, mending lo pergi. Setelah Rendi mengatakan itu, ia menarik Nur masuk ke dalam kamar. Rendi seperti cacing di siram garam, ia melepas semua bajunya tanpa peduli ada gadis kecil di sampingnya. M-mas Rendi, b-boleh nggak Nur pinjam uangnya. cicit gadis tersebut yang mulai ketakutan, Rendi menatapnya bak serigala. Nur menangis, Rendi menciuminya begitu rakus. Tapi itu hanya sebentar karena Rendi memerintahkan dia untuk pergi. Karena melihat Rendi menggulung tubuhnya sendiri di bawah selimut, Nur akhirnya memberanikan diri mengambil sesuatu di saku celana Rendi yang sudah tergeletak di lantai. Nur pinjem dulu mas, besok Nur kembalikan. ujarnya lalu pulang dengan segera yang malah membuat seisi rumah di keluarga Nur heboh, karena gadis itu tampak kacau di tambah bumbuhan kissmark di leher serta dadanya. "Gitu mas.." Rendi menghela nafas panjang, rupanya dirinya terlalu awal menaruh rasa kesal pada gadis kecil itu. "Maafin aku ya, Nur." ujarnya lirih. Dirinya hendak menyentuh bahu gadis itu namun urun karena merasa Rendi sudah cukup menyakitinya dua hari ini. "Maaf..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD