"Lo kenapa nggak bilang kalo bisa nyetir bro." ujar Devian seolah dirinya begitu antusias mengetahui fakta ini. Pemuda satu ini mencoba memecah keheningan karena merasa bosan yang hampir dua jam tak ada suara satu pun yang keluar dari mulut Toni, Gilang maupun Rendi sendiri.
"Sudah punya SIM juga. Diam-diam lo membuat kita terkejut bro."
Devian menyenggol lengan Toni dan Gilang karena ia duduk di tengah-tengah antara mereka.
"Ya nggak Ton, Lang?"
"Sudahlah, lo diem aja. Bos kita lagi nggak mood ngladenin ocehan lo." sahut Toni malas.
"Nyata bro, itu nyata... Rendi bisa nyetir, sedangkan dirumah dia lebih suka ngontel sepeda gunungnya." pekik Devian.
"Suami kak Riana orang kaya. Seorang pengusaha, bos juga. Jadi nggak heran kalo Rendi bisa nyetir." jawab Toni masih mau menanggapinya meskipun terdengar ogah-ogahan.
Sudahlah, dia merasa suasana di dalam mobil itu terasa tak asik karena manusia yang biasa membuatnya tertawa sedang berubah menjadi patung reca.
"Kalian mau makan apa?"
"Bebek goreng." sahut Devian.
"Kalian berdua makan apa? Rendi nanyain tuh." lanjutnya begitu antusias.
"Terserah." jawab Toni, lagi-lagi dengan nada malas.
"Gue juga bebek goreng."
"Yes..." pekik Devian, "gue ama Gilang sepakat bebek goreng, bro." sambungnya sambil menatap Rendi dari kaca spion depan.
Rendi mengangguk, ia menghentikan mobil dua puluh menit melaju di jalanan kemudian, setelah bertanya tadi.
"Hore...!" Devian mendorong tubuh Toni, "buruan turun."
"Iyee sabar." Toni melirik ke arah Rendi sekejap lalu membuka pintu mobil dan turun di susul kedua temannya.
Mereka mengambil tempat duduk masing-masing.
"Bebek goreng juga?" tanya Rendi pada Nur, namun gadis kecil itu menggelengkan kepala.
"Nggak usah mas, tadi udah makan dari rumah." jawabnya.
Rendi mendecak kesal, namun ia memesankan sekalian untuk Nur, menu yang sama seperti ketiga teman lainnya.
"Nama kamu siapa, cantik?" tanya Devian basa basi.
"Saya-"
"Nggak usah kepo. Makan...!!!" sela Rendi tak membiarkan Nur menjawab pertanyaan dari Devian.
"T-ta-tapi saya tidak makan, mas."
"Makan!!! Atau aku tinggal kamu di sini sendirian!!!" Nur sontak menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat suasana malam tampak sepi dan jauh dari pemukiman warga, membuatnya ngeri dan bergidik takut.
"Jangan, saya nggak mau di sini." cicit gadis kecil itu.
"Kalo gitu makan!"
Toni Devian serta Gilang melongo melihat tingkah Rendi yang terkesan menggertak namun menggemaskan. Sejak kapan Rendi bersikap peduli kepada lawan jenis begini?
"Jangan kasar-kasar sama anak kecil, bro." ujar Toni.
"Bukan urusan lo." sahut Rendi ketus.
Mereka makan begitu lahap dan cenderung diam, tak seperti biasa yang akan ada candaan bahkan sesekali menggoda Rendi.
"Kamu sepupu Rendi ya?" Rendi mendelik kesal mendengar nada genit itu, Devian tak gentar mencoba mencari perhatian Nur dan itu membuatnya jengah.
Sedari tadi mereka memuji dan sepakat kalau Nur memiliki wajah imut dan cantik yang tentu akan menjadi idaman para pria nantinya. Tapi di mata Rendi, Nur hanya anak kecil yang masih ingusan. Tak ada cantik-cantiknya.
"Sudah makannya?" Nur mengangguk tipis setelah menghabiskan satu gelas minuman jahe hangat.
"Masuk ke mobil sekarang...!"
Sepertinya Rendi tak akan membiarkan Nur berbincang dengan ketiga temannya.
"Lo kenapa?" cecar Toni.
Setelah gadis itu masuk ke dalam mobil, mereka masih berdiri di luar karena Gilang sedang menikmati puntung rokoknya.
"Nggak papa."
"Lo kira kita bayi? Siapa dia?"
"Bukan siapa-siapa."
"Ren..."
"Hmmm?"
"Jelasin, sebenarnya ada apa ini?" Toni terus mendesaknya.
"Sudah ngrokoknya? Cabut sekarang..." Rendi tetap tak mau menjawab, ia melangkah terlebih dahulu memasuki mobil milik Gilang.
"Sudahlah, biarkan saja." ujar Gilang sambil menepuk pundak Toni.
"Gue penasaran."
"Lebih baik lo diam, atau lo kena bogem kayak gue."
Gilang berlalu menyusul Rendi masuk ke dalam mobil bersama Devian.
*****
"Rumah siapa ni?"
Toni seolah mewakili pertanyaan yang ada di dalam otak mereka.
"Turunlah."
"Bukan kalian...!" sambung Rendi cepat.
Toni hendak membuka pintu mobil pun urun, "terus siapa?" tanyanya heran.
Rendi tak menjawab, ia turun dari mobil dan membantu Nur membawakan tas ranselnya.
"Nyebelin banget jadi orang." gerutu Toni kesal.
"Pindah depan, Lang."
Tanpa menunggu perintah lagi, pemuda berkulit putih pucat itu menurut dan duduk di balik kemudi.
Gilang mengerti, kenapa sekarang giliran dia yang mengemudi. Ia melaju ke arah apartemen yang nantinya akan di tempati Rendi.
"Antar gue ke sini."
Gilang mengerutkan alis, menerima secarik kertas yang tertuliskan alamat, "tempat siapa ni?"
"Diamlah, gue mau tidur."
Mereka saling lirik, melihat Rendi yang sudah terlelap membuat Devian menyenggol lengan Toni.
"Rendi seperti kesurupan hantu ancol."
"Hantunya, bukannya elo?" sahut Toni.
"Mana ada hantu setampan gue?!" jawab Devian tak terima.
"Ada lah... Liat diri lo."
"Gue kenapa?"
"Dari dekat tampan, dari jauh cantik menawan."
"Ngomong lagi gue gampar mulut lo." ujar Devian sewot.
"Bener kata Rendi, sebenernya lo cantik kalo lagi bawel begini."
"Diem nggak lo?!"
"Nggak."
"Lo...!!!"
Devian memiting leher Toni karena kesal, "huh, rasain."
"Lepasin, brengsekk..."
"Berani ngatain gue lagi, gue giles mulut lo pake kaos kaki."
Toni menggeleng, "ampun bro."
Devian melepasnya menyentaknya kasar, lantas membuang muka menatap jendela. Memang kalau bicara dengan Toni, akan sukses membuat hati saja runyam.
Mobil Gilang berhenti pada sebuah bangunan megah pencakar langit. Di lihat dari lobi serta tempat parkir mereka, sudah bisa di pastikan bahwa ini bangunan elite yang tidak sembarang orang mampu memilikinya.
Mereka mengikuti langkah Rendi, membuntut di belakang membawa serta barang-barang milik pemuda itu.
"Wuaahh..."
Menakjubkan... Tempat yang Rendi tuju adalah bangunan teratas atau bisa di sebut penthouse, di dalam ruangan itu sangat lengkap mewah serta luas sehingga mereka semua tak henti-hentinya berdecak kagum akan isi serta penataan apartemen itu.
"Kalian boleh pergi." ujar Rendi.
"Pergi? Lo ngusir kita?"
Rendi mengendikan kedua bahunya, "kalo nggak mau pergi, tidur saja di kamar tamu. Gue udah minta seseorang nyiapin kamar buat kalian."
Ketiganya saling pandang, tatapan mereka sulit di artikan. Dan kini mereka menatap punggung Rendi yang sudah menjauh menaiki anak tangga.
"Coba pukul gue." ujar Toni.
Plak...
Plak...
"Brengsek... Kenapa kalian serius mukul gue?" seru Toni tak terima.
"Katanya suruh mukul?" ejek Gilang.
"Ya tapi jangan kenceng-kenceng, sakit bego...!"
"Ck, lemah banget."
Gilang tergelak ia berlalu terlebih dahulu memasuki kamar yang tadi di tunjuk oleh Rendi.
Sangat misterius, Rendi berkali-kali menamparnya dengan sebuah kenyataan yang selama ini belum mereka ketahui.
Pemuda biasa, dari salah satu desa daerah Wonogiri. Berprestasi, serta tampan. Kini membawa serta ketiga temannya di sebuah apartemen mewah terlebih penthouse yang tentu hanya orang kaya raya yang mampu memiliki tempat itu.
Bila mengingat siapa suami dari kakak kandung Rendi, kemungkinan besar fasilitas ini berasal dari lelaki yang sangat berpengaruh di jagat raya ini. Pengusaha muda dan terkaya masuk sepuluh besar se-Asia tenggara.
Tapi.. Rendi bukanlah sosok yang suka menerima pemberian dari orang lain. Terlebih dulu waktu bersedia memberi les tambahan untuk ketiga temannya. Pemuda itu selalu menolak pembayaran atau pemberian dari orang tua mereka.
Lalu, apa mungkin Rendi juga menolak pemberian abang iparnya?
"Gue seperti tidak mengenalnya lagi."
Devian mengangguk setuju, "ini bukan Rendi si polos itu gais."
Gilang hanya menghela nafas panjang, "mungkin dia menabung dari masa kecilnya, sehingga mampu membeli apart ini."
Devian serta Toni seakan mempercayai ucapan Gilang.
"Berarti Rendi anak berbakti. Masih muda sudah bisa beli tempat semewah ini." sahut Devian.
"Iya benar."
Gilang terkekeh geli, "gue cuma nebak, masa kalian percaya gitu aja? Yang benar saja?"
"Siapa tau... Ya nggak Ton?"
"Iya Dev, gue kali ini seotak sama elo."
"Sudahlah, ayo tidur. Rendi bilang besok kita akan mendaftar di universitas dekat sini."
Devian Toni mengangguk serempak. Mereka langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang yang sangat lebar dan cukup untuk mereka bertiga tidur.
Berbeda dengan Rendi, ia yang baru saja selesai mandi membersihkan diri, kini termenung berdiri di balkon menatap malamnya kota Jakarta.
Dia masih mencoba mengingat kejadian semalam yang menjadikannya terjebak dengan masalah gadis itu.
"Nur..." gumamnya.
Rendi menghela nafas panjang.
Diamnya Rendi bukan karena sikapnya yang berubah, melainkan ia marah kepada triple trouble maker.
Karena ketiga makhluk ceroboh itu, membuat Rendi harus menanggung ini. Bertanggung jawab atas hidup Nur yang sudah di pasrahkan untuknya.
Rasanya kepala Rendi mau pecah saja.
Kalau mengingat isi pesan tertulis yang mengatas namakan ayah kandung Nur, membuat Rendi ingin sekali mengumpatinya.
Bagaimana bisa Rendi harus membayar dua milliar sebagai ganti karena sudah menyentuhnya, apa mereka pikir Nur adalah barang yang mampu di perjual-belikan? Keluarga aneh...
Rendi merogoh saku celananya, meraih kapur penggosok tadi dan di lihatnya dengan seksama.
Rendi ingat, ia sempat menandai penggosok itu dengan ujung sedotan, memberi tanda inisial R hanya mengusir rasa bosan saat Gilang tak kunjung berhenti memasukan bola-bola pelangi itu.
"Ini benar-benar milikku, tapi kalo aku meniduri dia. Harusnya Nur kesulitan berjalan, kan?" gumamnya.
"Atau Nur memang sudah tak perawan, maka dia biasa saja setelah aku menidurinya semalam?"
Rendi berkecamuk dengan pemikirannya sendiri. Malam ini sementara ia menyerah dan memutuskan untuk istirahat karena besok pagi sekali dirinya akan berangkat ke kampus bersama ketiga anak itik itu.
"Sudahlah, lebih baik aku tidur."