Sikap berbeda

1356 Words
Bbrrummm... Terdengar suara knalpot racing mobil yang nyaring lantas berhenti di depan rumah setelah Rendi menelepon tadi. Dan hebatnya kedua anak manusia yang sedari tadi duduk di atas sofa, hanya diam membisu meskipun berada di ruang dan waktu yang sama, tanpa ada percakapan sama sekali selama lima belas menit berlalu. Rendi bangkit dari duduk, dapat di lihat dari dalam ruang tamu melalui jendela kaca, bahwa Gilang lah yang datang sesuai perintahnya. Gilang melangkah ringan dengan wajah sumringah mengangkat satu tangan sedikit melambai ke arah Rendi . "Bro..." sapanya. Bugh... Baru saja satu langkah ia memasuki rumah Rendi, tapi bogeman keras sudah mendarat saja di pipinya hingga tubuhnya tersungkur. "What the fuck...?!!!" pekik pemuda berkulit putih itu. "Kenapa lo pukul gue?" Gilang terkejut bukan main, ia meringis merasa ngilu saat menyentuh ujung bibirnya terdapat sedikit darah yang keluar. "Bangun..!" perintah Rendi. "Lo kenapa?" "Aku bilang bangun!" ujar Rendi dingin. Gilang mengerutkan alis karena masih bingung, di liriknya seorang gadis yang duduk di sofa paling ujung tampak ketakutan, kemungkinan karena melihat Rendi memukulnya di depan mata kepala gadis kecil itu. "Lo nakutin dia, Ren." tunjuknya. Gilang bangkit. Belum satu menit berdiri, Rendi sudah kembali memukulnya. "Brengsekk, maksud lo apa?" seru Gilang kesal. Rendi diam, nafasnya menggebu namun matanya bersibobrok dengan Gilang seakan menegaskan bahwa dirinya sedang marah. "Ren?" ujarnya lirih, sepertinya ada sesuatu yang berbeda dari Rendi. Saat Gilang bangkit sedikit susah payah, gadis yang tadi sangat ketakutan, tubuhnya meringsek ke pojokan karena Gilang mencoba meraih pegangan tepi sofa untuknya berdiri. Gilang terbatuk, ia menyandarkan diri duduk di atas sofa. Lagi-lagi hal itu semakin membuat seseorang yang sedari tadi ketakutan semakin takut dan tak nyaman. Dia bahkan sudah berdiri saja, bersembunyi di belakang tubuh tinggi Rendi. "Siapa dia?" tanya nya heran. "Gue mau kuliah, asal lo kasih rumah buat gue, secepatnya...! Kalo bisa hari ini juga." ujar Rendi dingin. Gilang mengerjapkan mata polos, ia seperti mendengar suara hantu yang menggema hingga membuatnya heran takjub dan terkejut bercampur jadi satu. "Ren... Lo barusan ngomong sama gue?" Gilang memastikan pendengarannya, ia berharap dirinya tak salah saat Rendi menggunakan bahasa keseharian metropolitan. "Gue kasih waktu lo lima menit buat mikir, kalo tidak..." Rendi melangkah menghampirinya, ia menundukan badan menatap Gilang lekat-lekat, "kalian bertiga jangan pernah mencari gue, bahkan mengenal gue lagi... Camkan itu." Gilang merinding, ia gelagapan mendengar kalimat yang baru Rendi lontarkan. Rendi tak seperti biasanya mengancam dirinya begini. Tubuhnya yang masih bergetar lantas meraih ponsel dari saku celana susah payah. "B-bro... Kita bertiga musti ngumpulin duit buat beli apart." "....." "Rendi setuju kuliah, tapi harus kasih tempat tinggal buatnya." "....." "Jakarta, sepertinya dia setuju dengan beasiswa dari akademi itu yang dia bicarakan semalem." tebaknya asal, Gilang sudah tak tahu harus beralasan apa pada mereka. "....." "Baik, lo bedua juga siap-siap. Karena Rendi minta gue untuk secepatnya." "....." "Gue di rumah Rendi." Rendi sudah masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan gadis kecil yang masih berdiri tak nyaman di ambang pintu kamar pemuda itu. Melihat suasana aneh begini, membuat Gilang penasaran. Sebenarnya siapa gadis kecil ini? Kenapa Rendi marah tak jelas, bahkan berani memukul wajah tampannya. "Hey, cantik... Duduklah, jangan berdiri di situ." panggilnya ramah sambil mengendikan dagunya. "T-te-terima kasih, saya di sini aja." sahutnya tanpa mau melihat ke arah Gilang. Rendi melempar beberapa tas besar, yang kemungkinan di dalam adalah baju serta perlengkapan miliknya. "Kita berangkat nanti malam." "Ibu kamu ada bawa sesuatu saat mengantarmu kesini?" ujarnya melirik sekilas ke arah Nur. Nur mengangguk cepat, "A-ada mas." "Bawa sini." perintahnya. Nur langsung berlari cepat keluar, membuat teman Rendi hampir saja tertawa. Tingkah anak kecil itu benar-benar lucu, pikirnya. Gilang duduk mendekati Rendi, "siapa dia?" "Bukan siapa-siapa." "Dia sepupu lo?" rupanya Gilang masih penasaran. "Antar gue ke warung sebentar, gue mau pamit sama emak." meskipun tak ada jawaban dari pertanyaannya tadi, Gilang setia membuntuti langkah Rendi, ia seperti anak itik yang hanya ikut saja tanpa bertanya lagi. "Di rumah saja, kita hanya sebentar. Dan ingat, jangan kemana-mana dan jangan berulah." pesan Rendi kepada gadis tadi. Gilang menyipitkan mata, kenapa dengan menyaksikan perbincangan mereka berdua malah membuat dirinya semakin penasaran. "Siapa dia sih bro?" gerutu Gilang yang penasaran setengah mati, sampai dirinya tak menyadari bahwa Rendi lah yang mengendari mobilnya sedangkan dia duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi. "Bukan urusan lo." jawab Rendi datar. "Yaelah, lo sensitif amat." "Tunggu di sini, nggak usah ikutan turun." Rendi lagi-lagi membuat Gilang melongo dengan sikapnya. Tegas, dingin dan sesuatu banget, hingga Gilang tak berkutik sekarang. "Kok cepet?" Sepertinya Gilang begitu menikmati acara herannya, sampai Rendi kembali lagi entah berapa lama dirinya termenung atas sikap Rendi yang berubah tiga ratus enam puluh derajat itu. "Balik lagi nih?" Gilang mencebik, lagi-lagi Rendi diam tanpa berniat menanggapi ucapannya. "Ren, Lang... Darimana kalian?" Devian dan Toni menghampiri mereka, "kenapa dia?" tanya Toni. Gilang menghela nafas panjang, ia pun berlalu begitu saja tanpa berniat menjawab pertanyaan mereka. Dirinya sendiri juga masih penasaran. "Kalian bersiaplah, kita berangkat jam lima sore." "Hah? Kemana?" "Jakarta." "Loh... Kok mendadak?" Toni terkejut, ia menatap Gilang yang hanya mengendikan bahu tanpa berniat menjawab. "Ada apa sih Ren?" "Pulanglah, gue tunggu, dan jangan telat!" Rendi mendorong mereka bertiga untuk keluar dari rumahnya lantas mengunci pintu dari dalam. Otaknya hampir saja meledak, dirinya merasa hari ini adalah hari yang sangat ingin dia lenyapkan dalam sejarah hidupnya. Matanya menangkap tas ransel berwarna pink di atas sofa, sedangkan Nur masih betah duduk dengan kepala menunduk sedari tadi. "Sudahlah, jangan bersikap seakan aku ingin menghajarmu. Kau sudah cukup membuat hidupku mendadak menjadi rumit begini." ujarnya dingin. "Mandilah, dan bersiap karena tiga jam lagi kita berangkat." Setelah mengatakan itu, Rendi menutup pintu kamarnya begitu kencang. Blam... Nur kembali menangis, dia juga tak ingin membuat Rendi seperti ini. "Hiks... M-mama..." Gadis itu mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya, ia yang masih sesenggukan membuka tas ranselnya, mengambil satu setel baju lantas masuk ke dalam kamar mandi yang tak jauh dari dapur. Tanpa gadis itu sadari, sebenarnya Rendi tak berniat menyakitinya. Kedatangan kedua manusia beda generasi itu membuatnya bingung karena tak siap setelah apa yang terjadi pagi tadi. Ia meraih sesuatu dari saku celananya, di tatapnya dengan nanar sebuah benda kecil berbentuk kubus berwarna biru itu. "Sebenarnya apa yang terjadi semalam?" gumam Rendi. "Melihat Nur memberiku ini, sudah pasti aku memang sempat bertemu dengannya di sana." Rendi meletakan benda itu di atas nakas. "Tapi kenapa harus aku yang menjadi tumbalnya, apa sebegitu frustasinya bocah itu, sampai-sampai menunjuk aku agar ibunya yang galak itu menyuruhku tanggung jawab." Kepalanya semakin pusing, "tak masalah kalo memang Nur sempat menemuiku semalam, tapi untuk menikah?" Rendi diam sejenak lantas menghela nafas panjang mengingat semua ini benar-benar rumit. Ia pun memutuskan untuk kembali menyiapkan apa saja nantinya yang akan dia bawa sebelum ketiga trouble maker itu datang. Cukup banyak barang miliknya yang menurutnya itu penting. Namun anehnya, semua yang akan di bawa olehnya hampir sembilan puluh persen adalah buku. Rendi memang seorang yang cerdas dalam segala bidang, dan hobinya yang membaca membuat seisi kamar penuh dengan buku. "Sudah siap?" "S-su-sudah." "Makan dulu." Nur menggeleng, "perjalanan lebih dari enam jam, dan aku tak akan mampir hanya untuk meladeni perutmu yang nanti kelaparan." ujar Rendi ketus. "Ta-tapi..." Nur tak berani menolak lagi, "baiklah." putusnya. Ia memulai menyuap nasi yang tadi di berikan Rendi padanya. Nasi dengan sayur asem masakan emak, yang tak terasa membuat makannya begitu lahap. Nasi satu piring penuh, dengan setoples kecil rempeyek kacang ludes di santap oleh Nur. "Tadi nggak mau, tapi habis juga." ejek Rendi. "Ma-maaf..." Nur kembali menunduk. "Ck, sudahlah... Aku bosan mendengar ocehanmu, yang hanya maaf, maaf dan maaf." gerutu Rendi. Ia menyahut piring kotor mereka berdua dan meletaknya di dalam wastafel. "Biar saya yang nyuci mas." Rendi tak peduli, ia berlalu begitu saja tanpa melarang atau mengiyakan. "Kita berangkat sekarang?" tanya Toni. Lagi-lagi Rendi diam, "lo kenapa sih, Ren?" "Sudahlah, dia lagi badmood sekarang." sahut Gilang. Mobil mereka melaju kencang membelah jalanan yang tampak mulus tak begitu banyak pengendara lainnya. Semua diam, Rendi yang duduk di balik kemudi, gadis kecil tadi duduk di sampingnya, dan ketiga pemuda yang biasanya berisik itu duduk berdempetan di kursi penumpang belakang tampak bungkam. Jangan berharap ada musik untuk mengisi kesunyian di dalam mobil itu, karena Rendi benci akan hal itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD