Toni mengerutkan alis dengan mata sedikit menyipit mengedarkan pandangan yang semalam tampak remang-remang, kini mulai terlihat terang sebab cahaya matahari masuk menerobos di setiap jendela kaca di ruangan itu.
Ia bangun dari tidur dan bangkit lalu melangkah penuh gontai menghampiri Gilang yang tampak bertelanjang d**a dengan kedua wanita menghimpitnya memeluk perut lelaki itu.
Ck, terkadang Toni ingin sekali meneriaki Rendi, kalau selama ini otak yang hanya selakangan itu bukan dirinya, melainkan Gilang.
"Bro..." panggilnya lirih, sambil menendang pelan kaki Gilang.
Gilang menguap, ia mengurai pelukan gadis itu tanpa peduli mengusik tidur mereka berdua.
Bangkit dan menyambar celananya yang tersampir di atas meja billiard lalu kaosnya.
"Jam berapa sekarang?"
"Jam tujuh."
"Ck..." Gilang mendecak, "masih pagi."
"Lo jangan lupa, Rendi gimana?"
Gilang tampaknya lupa bahwa dirinya tidak hanya bertiga, masih ada Rendi yang semalam ia jebak dengan pertandingan tidak adil itu.
Ia terkekeh lantas merangkul bahu Toni, "ayo ke sana sekarang."
Mereka melangkah keluar, namun tertahan karena Toni melihat siluet sosok Jihan yang tampak tidur bersama lelaki lain di kamar yang bukan di perintahkan untuknya.
"Bentar bro."
Toni membuka lebar pintu kamar tersebut, "kok Jihan di sini?" Gilang pun tampak heran.
"Bangunin aja."
"Woy, lo ngapain di sini?" Toni tampak kesal melihat wajah tak bersalah Jihan, gadis itu mengucek matanya lalu menguap. "Bos lo malah masuk bawa cewek lain?"
"Apa?" Toni sontak menoleh ke Gilang.
"Siapa Lang?"
"Entah."
"Lo kenapa nggak bilang semalem?" bentak Toni ke gadis yang usianya lebih tua darinya itu.
"Gue di usir. Nih tangan gue lecet gara-gara di dorong kasar sama bos lo itu." ujar Jihan malas, gadis itu bangkit dari ranjang meninggalkan Toni serta Gilang yang masih bingung dan bertanya-tanya.
"Wah nggak beres tu anak."
Gilang berlalu terlebih dulu, di susul Toni. Membuka kamar yang ia tunjuk untuk Rendi agar mau melakoni kegiatan keluar masuk seperti kesepakatan semalam.
Mata Gilang tampak takjub saat membuka kamar sudah di suguhi pandangan yang luar biasa.
Ruangan itu luar biasa berantakan, tak lupa baju berserakan di tambah sang lakon telah bobok cakep berbalutkan selimut tebal.
Toni terkekeh, ia duduk di tepi ranjang sambil menjinjing sedikit celana dalaam milik Rendi.
"Sepertinya ada yang unboxing, gais." batinnya.
"Hey, hey... Piye Ren rasanya?" tanyanya penasaran.
Toni begitu yakin dengan feelingnya, apalagi saat Rendi sudah duduk dengan tatapan sayunya, tampak jelas pemuda itu kelelahan setelah bermain semalaman.
Lihat saja, kantung matanya tampak gelap, mungkin Rendi baru saja tidur beberapa jam saja.
"Apanya?" tanya Rendi bingung.
"Itu loh..."
Toni sontak bangkit lalu menggerakan pinggulnya maju mundur begitu semangat, seakan terdapat wanita telanjaang sedang menungging di depannya.
Mata Rendi menyipit marah, "Ngapain kamu tuh?" ujar Rendi risih.
"Jiaah, buset nih anak. Abis belah duren, otaknya jalan-jalan." pekik Toni.
"Kalian tu, otaknya m***m mulu." sahut Rendi kesal.
"Siapa yang m***m?" tanya Gilang heran.
"Kalian lah." sahutnya.
"Kita nggak m***m!" ujar Gilang tenang. Ia menunjuk ke arah Rendi dengan senyum tipisnya, "Liat aja, lo sendiri. Siapa yang messum sekarang?!"
Kedua teman Rendi menyeringai lantas melempar bantal serta pakaian yang tadi berserakan ke arah Rendi. Gilang yang menikmati wajah kesal Rendi lantas berlalu dan menarik Toni agar mengikutinya.
"Woy, mau kemana?" seru Rendi.
"Kita bedua, balik... Lo mandi dulu, bau seks... Hahaha." sahut Toni sebelum menutup pintu kamar tersebut.
Rendi melotot.
Dia bergidik ngeri setelah kembali menatap keadaan seisi ruangan itu.
Tubuhnya masih polos, bahkan matanya menangkap celana dallam wanita yang tergeletak di bawah kursi sebelah ranjangnya.
"Tu-tunggu...!" ujarnya gagap.
"A-aku sudah tak perjaka lagi...? Aaarrggghhh..."
Rendi menjerit heboh berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut setelah menyadari bahwa dirinya sudah menyentuh wanita.
"Emaaakkk... Rendi wes ndak perjaka lagi, maaakkk...!!!"
Gilang dan Toni yang masih berdiri di balik pintu tergelak puas mendengar seruan penuh frustasi dari Rendi.
*****
"Mak..." sapanya.
Rendy tampak lesu, ia masuk ke dalam kamar tanpa mengoceh terlebih dahulu seperti biasanya.
"Wes madang opo durung, Ren?"
Rendi menyahut dari dalam kamar bahwa dirinya sudah kenyang, ia kehilangan mood di pagi ini karena melihat kekacauan pada dirinya sendiri.
Rendi kembali tertidur pulas, sekujur tubuhnya lelah. Entah lelah karena apa, yang jelas dirinya merasa baru saja melakukan olahraga extreme yang menguras seluruh tenaganya.
Ting...
Ia tahu, ponselnya berdering berkali-kali. Tapi tak ada niatan sedikit pun baginya untuk mengangkat atau mengetahui siapa saja yang hendak menghubunginya.
"Berisik banget sih..."
Rendi mengerang, ia menutup kepalanya menggunakan bantal untuk meredam suara nyaring dering ponsel miliknya.
Tok... Tok... Tok..
Sudahlah, sepertinya Rendi harus bangkit dari ranjang.
"Ada apa mak?" tanyanya setelah pintu kamar terbuka.
"Itu, ada orang nyariin kamu."
Rendi mengerutkan alis, "siapa mak, Toni?"
"Bukan cah telu iku. Yowes, mak ke warung dulu nanti sore aja kamu jemput emak."
Rendi mengangguk, ia tak merasa dirinya bakal memiliki tamu bila sang emak tak mengenalinya.
Saat Rendi melihat siapa gerangan yang bertamu menemuinya, ada rasa bingung serta tak paham. Kenapa Nur datang dengan seorang wanita paruh baya?
"Nur?"
Gadis kecil itu menunduk takut sambil memilin kedua jemarinya sendiri, sedangkan seseorang yang duduk di sampingnya telah menatapnya penuh permusuhan.
"Maaf, ada perlu apa ya?"
Tanya Rendi begitu sopan setelah berjabat tangan dengan wanita paruh baya tersebut.
"Kemana orang tua mu?" tanyanya ketus.
"Bapak di gudang, kalo emak baru aja keluar..." jelasnya, "ngomong-ngomong, ada apa ya bu?"
"Panggil aku nyonya Warda, aku ibu tiri Nur."
Rendi menaikan satu alis, ia sontak menoleh ke arah Nur.
"Saya Rendi, bu."
"Sudah tau." sahutnya lagi sangat, sangat, sangat ketus.
Rendi mendeham, sepertinya ada sesuatu hal yang tak beres. Lihatlah, gadis kecil itu bahkan tak berani menatapnya meskipun Rendi sudah cukup berbasa-basi dengan wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibu tiri Nur.
"Lalu, apa ada sesuatu hal yang ingin bu Warda sampaikan?"
"Nikahi dia...!"
Rendi langsung tersedak saat bu Warda mengatakan dua kata barusan. Perlu di ketahui, itu bukan permohonan tapi perintah.
"Ke-kenapa saya harus menikahi dia, bu?"
"Karena kamu sudah menyentuhnya." seru bu Warda.
"Lihat, apa ini...!!!"
Wanita paruh baya itu menarik kerah baju gadis kecil itu, tentu saja Rendi sontak menoleh ke arah lain. Hampir saja dirinya melihat dua benda kenyal yang belum matang itu.
"Leher dia merah semua dan kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan bejaat mu...!!!"
Rendi kembali menoleh lagi, namun dengan sedikit menyipit karena dirinya tak ingin melihat hal yang tak boleh ia lihat.
"Itu kenapa bu?"
"Kenapa?" Warda mendecak kesal, "kamu bilang kenapa?"
Warda mendorong keras tubuh gadis kecil itu, membuat Rendi terkejut karena ia tahu pasti Nur kesakitan.
Bagaimana bisa seorang ibu melukai anaknya seperti itu?
"Anda jangan kasar-kasar dengan anak kecil."
"Dia sudah bukan anak kecil lagi...!"
"Maksudnya?"
Brakk...
Warda kembali mengamuk, "apa kau bodoh? Kau menyentuhnya, tentu dia sudah tidak suci lagi. Dan itu artinya kau harus menikahinya, kalo tidak? Maka aku akan melaporkan tindakanmu ini ke pihak yang berwajib."
Rendi menelan ludah kasar, ia sebenarnya tak mengerti kenapa mendadak hidupnya serumit ini. Di tambah dirinya memang menangkap banyaknya bercak merah keunguan di leher serta-ekhem d**a sedikit ke bawah.
"Ta-tapi kenapa harus saya yang menikahi, Nur?"
"Apa kau tuli?"
Rendi menggeleng.
"Karena perbuatan bejatmu ini, keluarga kami menanggung malu. Kami sudah tak ingin menerimanya, karena kau sudah membuatnya kotor."
"Apa?!"
Rendi semakin pusing, di liriknya Nur yang masih menangis sesenggukan membuatnya iba.
"Boleh saya bicara sebentar dengan Nur, bu?"
Wanita paruh baya itu tak menjawab, dia hanya membuang muka dan itu membuat Rendi langsung menarik lengan Nur agar mengikuti dirinya masuk ke ruang tengah.
"Nur, ono opo iki?"
"Ma-mas Rendi, tolong aku mas, hiks."
"Iya, tapi siapa yang menyentuhmu?"
Nur mendongak sekejap, matanya tampak sebam namun kembali menunduk. Dapat di rasakan oleh Rendi, bahwa gadis itu sangat sedih.
"Nur?"
"Mas Rendi."
"Iya... Aku di sini Nur, jadi siapa yang bikin kamu begini? Kenapa ibu kamu malah menyuruhku menikahimu?" ujar Rendi begitu frustasi.
"Mas Rendi yang menyentuhku." ujarnya lirih.
"Apa?" seru Rendi terkejut.
Nur kembali terisak, ia melangkah sedikit mundur karena takut kalau saja Rendi mengamuk padanya. Lihatlah, tubuh gadis kecil itu gemetar.
"Hey, hey... Kamu jangan bercanda Nur, ini nggak lucu."
"Nur nggak bercanda mas. Mas Rendi yang bikin Nur begini semalam." jelasnya yakin di sela tangis.
Rendi melongo, dirinya tak bisa berkata-kata lagi. Apa sebegitu terobsesikah si gadis kecil itu padanya, sehingga membuat drama murahan begini?
"Umurmu berapa, Nur?"
"Dua belas mas."
"Kenapa kamu sudah pandai berbohong mengenai hal orang dewasa?" ujar Rendi dingin.
"Kamu tau, pernikahan bukanlah permainan. Kenapa kamu bicara omong kosong seperti ini pada keluargamu?"
"Dan yang kamu tuduh-" Rendi hampir saja berteriak, ia mengatur nafasnya berkali-kali sebelum dirinya berbicara hal yang tak pantas kepada gadis belia itu.
"Nur..."
Ucapan Rendi kembali lembut setelah mampu mengatur emosinya, "tolong bicara jujur, sebenarnya siapa yang membuatmu begini?"
"Mas Rendi."
Nur kembali menyebut namanya, dan itu membuat Rendi sangat kesal.
"Kamu tau nggak, Nur?!!!" Rendi lalu merengkuh bahunya, "aku nggak akan marah kalo kamu suka sama aku, tapi jangan begini Nur." jelasnya mengiba.
"Kamu gadis yang baik, cantik dan pintar. Jadi jangan membuat aku kecewa dengan sikapmu yang sekarang."
Nur tak menjawab, ia hanya menangis sampai bu Warda memanggil mereka.
"I-ini punya mas Rendi."
Gadis itu menyerahkan kapur biru penggosok stik billiard ke Rendi yang sempat membuat pemuda itu bingung.
"Karena kalian berdua akan menikah, maka aku biarkan Nur tinggal bersama kalian."
"Loh, bu... Mana bisa begitu?"
Rendi tentu menolak, dirinya masih keukeuh tidak pernah menyentuh gadis itu.
"Mungkin bukan saya yang membuat anak ibu begini."
Warda menatapnya garang sambil berkacak pinggang.
"Dengar...! Nur bilang, kalian pergi ke cafe Re-Go. Dia menjelaskan bahwa kau telah melakukan hal yang tak senonoh padanya. Kami sebagai orang tua sudah tidak bisa menerima lagi keberadaannya yang sangat memalukan itu. Dan kau harus tanggung jawab atas perbuatanmu." Warda bersungut-sungut mengatakannya. Itu membuat Rendi tak tahu harus berbuat apa. Wanita paruh baya itu berlalu begitu saja pergi membawa mobilnya sendiri, dan Nur dia? Gadis itu sekarang menangis sesenggukan di sampingnya.
Rendi menghela nafas panjang, ia meraih ponselnya dengan mata masih menatap ke arah Nur.
"Gilang, jemput aku. Sekarang!" ujarnya tegas.
Rendi menarik Nur agar duduk di atas sofa, tanpa berniat menenangkannya, sambil menunggu kawannya datang.