Semua melongo mendengar seruan Rendi. Biasanya pemuda itu tidak akan menanggapi perkataan ketiga temannya yang cenderung membahas hal tentang delapan belas plus, apalagi dengan perkataan vulgarr. Tapi... Yang barusan tadi apa?
Rendi bersungut-sungut seakan menegaskan apa yang selama ini di dalam hatinya.
Ketiganya saling pandang, mata mereka mengerjap sesaat.
"Jadi ke PM nggak?!" seruan Rendi membuyarkan keterkejutan mereka.
"Ayo..." Gilang yang bangkit terlebih dahulu, di susul Devian lalu Toni.
"Ren..."
"Hmmm?" Rendi mengayuh sepedanya sembari membonceng sebagian peralatan emak.
Karena wanita paruh baya itu sudah pulang terlebih dahulu bersama Devian menggunakan mobil Gilang.
"Lo tadi nyadar nggak sama ucapan lo sendiri?"
Gilang mengangguk, ia juga penasaran.
"Apanya?"
"Yang tadi."
Rendi menelengkan kepala, ia tampak berfikir sejenak namun kemudian malah mengendikan bahunya sendiri.
"Heh... Monyet..." seru Toni.
"Gue nanya serius ni..." Toni rupanya geregetan dengan sikap Rendi yang sok polos itu.
"Ren? Ati-ati sama ucapan sendiri." Gilang ikut bersuara, "lo bilang ucapan adalah doa." Toni mengangguk setuju.
"Kalian ngomong apa sih?"
Toni menepuk pundak Gilang, "gimana sih dia?" gerutunya.
"Kita itu memastikan ucapan lo yang katanya keluar masuk pada wanita yang menjadi ibu dari anakmu."
Rendi yang masih setia mengayuh sepedanya tak mempedulikan ocehan mereka. Ia kini menggumam bernyanyi untuk dirinya sendiri, sesekali berteriak menekankan setiap kata demi kata yang terdapat pada lirik lagu tersebut.
Gumaman kembali terdengar, Rendi merentangkan kedua tangannya dan berseru, "mungkin, kutemui cinta sejati, saat aku hembuskan nafas terakhir-ku, mungkin cinta sejati memang tak ada dalam cerita kehidupan ini, akulah arjuna, akulah arjuna..." Rendi akhirnya terkekeh melihat wajah-wajah menatapnya penuh permusuhan.
Sudahlah, meladeni mereka bertiga itu membuatnya gila. Maka Rendi selalu mengalihkan pembicaraan mereka dengan bersenandung ria meskipun terkadang tak jelas kemana alurnya.
"Apa liat-liat?!" ujarnya mengejek, Rendi menjulurkan lidah menggoda kedua temannya seakan dirinya birahii karena gerakannya yang sensual membuat Toni serta Gilang ingin sekali mengumpatinya.
"Sialan tu anak." gerutu Toni.
Gilang hanya tertawa terbahak-bahak, meskipun dirinya sendiri juga merasakan linu di antara kedua pahanya.
"Sepertinya Rendi sudah siap keluar masuk, Ton." ejek Gilang membalas tingkah Rendi.
"Iya tuh, gayanya kaya om-om kurang belaian."
"Biarin, emang gue pikirin." sahut Rendi ikut-ikutan menggunakan kosa kata keseharian mereka.
Ia meninggalkan Toni dan Gilang yang lagi-lagi terkejut dan melongo melihat tingkah Rendi.
"Sepertinya tu bocah semalam habis mimpi basah deh."
"Hu'um, kayak udah pro gitu." Toni membenarkan ucapan Gilang, ia bahkan menaruh rasa curiga pada Rendi yang polos pikirnya ternyata hanya berlagak polos.
"Kalian ngapain bisik-bisik?"
Devian mendekati dan berdiri menyela di antara keduanya.
"Lo mau pulang dulu atau ikut ke PM?"
"Ikut lah." sahut Devian.
"Pulang dulu aja, merepotkan kalo bokap lo nyariin lagi." ujar Gilang mengingatkan.
Devian berfikir sejenak, lantas mengangguk dan berlalu begitu saja.
Ketiga pemuda yang selalu menarik perhatian muda mudi itu berjalan beriringan memasuki area pasar malam.
Rendi sudah berpesan pada emak, kalau dirinya mungkin akan telat pulang, atau bahkan mungkin menginap di tempat salah satu triple trouble maker itu. Sebagai penjagaan karena biasanya bila main dengan mereka, maka sulit baginya untuk pulang tanpa menunggu persetujuan ketiga dari mereka.
"Kayak beginian apa serunya?"
Rendi berkali-kali menggerutu, entah kenapa dirinya paling benci nongkrong seperti sekarang.
"Hey... Kita mau nyariin cewek yang bersedia menjadi ibu buat anak lo nanti." celetuk Toni.
"Biar bisa keluar masuk." sambung Gilang, yang sudah menyeringai saja melihat Rendi melirik mereka begitu tajam.
"Otak kalian benar-benar tak jauh dari selakangaan, ya?" ujar Rendi sengit.
Mereka kembali tertawa terbahak-bahak yang lagi-lagi menarik atensi para gadis mupeng. Sebuah kebahagian bagi mereka sekarang adalah menggoda Rendi pemuda yang masih perawan ,dengan kalima serta kata-kata vulgaar mereka.
"Lagian jaman sekarang, wajah setampan ini nggak laku-laku. Kan nggak lucu gais..." goda Toni lagi.
Rendi beranjak, mendengar ocehan ocehan yang sama membuatnya muak. Untung sobat, kalau saja penjahat sudah dia sumpal mulutnya menggunakan sandal jepitnya itu.
"Kalian berdua ngajakin cari partner tapi di tempat beginian, yang ada nanti aku keluar masuknya sama balita yang di gendong emaknya." ujar Rendi malas.
"Lah, lo juga nggak suka sama tempat kita biasa nongkrong kan." sahut Toni, ia melangkah menghampiri Rendi yang bersiap menyeberang jalan.
"Karena gue sahabat yang baik hati, jadi ikut aja kemana lo mau. Daripada gue paksa, yang ada lo mecat gue dari daftar sahabat lo. Ya nggak bro?" sambungnya sambil mengendik ke arah Gilang.
"Anyway... Gimana kalo malem ni kita ke tempat biasa kita nongkrong, lo mau nggak?"
"Ngapain?"
"Nyapu ngepel di sana." jawab Toni asal.
"Hah?"
Rendi terhenyak, sempat dirinya hampir saja mempercayai ucapan Toni. Namun detik berikutnya ia mendecak kesal dengan tatapan malasnya.
"Kalo mau, ayo kesana sekarang. Devian bakal nyusulin kita katanya." lanjut Gilang berharap Rendi menjawab 'oke'.
"Gimana Ren?"
Toni pun berharap, pemuda yang berambut ikal itu menghadap Rendi menatapnya lekat-lekat dan tingkahnya itu justru membuat Rendi risih, "minggir ah." ujarnya sambil mendorong pelan dahi Toni menggunakan jari telunjuknya.
"E... Lah... Ren... Mau yaaa..." bujuknya.
"Emboh ah."
"Loh kok gitu sih, sekali-sekali kita hepi. Umur udah delapan belas masak masih mau polos terus sih."
Rendi tak menjawab, sebelum masuk ke dalam mobil Gilang ia menyempatkan diri membeli kembang gula yang berjualan di dekat mobil itu terparkir.
Bukan dirinya menyukai jajanan itu, hanya saja melihat penjualnya yang tampak begitu ringkih, bahkan mungkin usia beliau jauh lebih tua ketimbang bapak.
"Kalian mau nggak?"
"Boleh..."
Gilang yang sedari tadi hanya diam, ia masuk ke dalam mobil terlebih dahulu membiarkan mereka membeli makanan yang terasa manis bila meluber di dalam mulut itu.
Kedua anak manusia yang menjelma jadi balita itu sudah sibuk saja dengan jajanannya masing-masing. Dengan Gilang yang duduk di balik kemudi mengendarai mobil begitu mahir, melaju tanpa menanyakan kemana akhirnya arah tujuan mereka pergi.
"Di mana ni?"
Rendi tampak bingung, melihat tempat yang terdapat banyaknya pengujung muda mudi berbanding terbalik dengan suasana pasar malam tadi.
Tempat itu menyerupai cafe.
Saat mereka melangkah masuk, Rendi melihat banyak hal, ada yang sebagian duduk manis menyaksikan pertunjukan band dengan penyanyi yang cantik dan tampak, suara merdu yang mampu menghipnotis siapapun yang mendengarkan. Ada juga yang bermain skateboard yang tampaknya menyenangkan bagi mereka karena bermain sambil hihi haha tanpa merasa jera meski terjatuh terpeleset berkali-kali.
"Ayo masuk gais." Toni berseru, dirinya begitu antusias lantas merangkul lengan Rendi agar mengikuti langkahnya.
"Eh... Eh... Kemana Ton?!"
"Ayo ikut aja."
Tanpa Rendi tahu, Toni mengedipkan satu mata ke arah Gilang yang ikut menyeringai tipis lantas berlalu terlebih dahulu.
"Lo bisa duduk di sini aja." tawar Toni, melempar mencampakan semua cemilan jajanan yang baru saja ia beli dengan Rendi.
Rendi mendelik, bukan ia tidak mengetahui permainan sodok menyodok itu. Namun dia merasa asing saja karena itu bukan kebiasaan dirinya nongkrong di tempat se'estetik ini.
"Sini bro." Gilang melambai tangan padanya, ia dengan malas-malasan bangkit menghampiri mereka.
Lihat saja, Toni bukannya bermain bola yang berserakan di atas meja, padahal tangannya masih menggengam tongkat kayu penyodok miliknya, malah asik memangku gadis entah siapa bapaknya karena Toni mencumbunya begitu liar.
"Siapa dia, Lang?" tanya salah satu gadis cantik lengkap dengan pakaian kurang bahan.
"Dia..." Gilang sengaja menjeda kalimatnya, "bos gue." lanjutnya.
"Siapa namanya?"
Gilang memutar bola mata malas, "tanya sendiri, orangnya di depan lo."
Gadis cantik itu menggigit bibirnya bagian bawah begitu menggoda, ia melangkah sambil memainkan rambut panjangnya menghampiri Rendi yang masih betah dengan ekspresi wajah datarnya.
"Hai..." sapanya.
Gadis itu mengulurkan tangannya ke arah Rendi, "gue, Selly."
Wajah ramah sedikit menggoda genit itu berubah menjadi masam, karena Rendi tak menanggapinya. Pemuda itu berlalu begitu saja lantas menerima tongkat sodok yang di berikan oleh Gilang.
"Kalo lo menang, gue antar lo balik langsung."
Rendi menaikan satu alis, "cuma itu?"
"Terserah, mau lo apa. Gue bakal turuti semua permintaan lo." jawabnya remeh.
"Oke!"
Rendi memulai aksinya. Saat sodokan pertama dirinya di tertawakan semua orang yang ada di sana, karena Rendi kelewat saat hendak menyodokan tongkatnya pada bola yang terpisah satu dari kumpulan lainnya.
"Tapi kalo lo kalah, lo musti kencan sama cewek di sini."
Toni yang mendengar itu tampaknya tertarik juga dengan pertaruhan itu, "bukan hanya kencan Lang, tapi keluar masuk juga." ujarnya menyeringai.
Toni menyenggol lengan Gilang, menatap Rendi penuh remeh seperti apa yang semua orang lakukan saat menatap Rendi.
Rendi mengangguk, ia kembali memulai permainan itu.
Karena ini baru pertama kali baginya, jadi terasa begitu sulit hanya untuk memasukan satu bola berwarna biru merah serta kuning seperti pelangi di angkasa itu.
Benar-benar kawan laknaat, bisa-bisanya ia di permainkan seperti ini. Sialaan...
Rendi menggerutu sesekali mengerang kesal karena terus menerus gagal memasukan bola tersebut, apalagi melihat Gilang seakan hanya menggunakan ujung jari saja sudah tak terasa hampir menghabiskan semua bola di meja tersebut.
"Sudah lah, Lang... Biarpun dua bola itu, Rendi yang masukin. Dia tetep kalah dari lo."
Selalu begitu, Rendi mendelik kesal ke arah Toni.
Ia berjuang sampai titik darah penghabisan, hingga akhirnya dia kalah juga.
"Pilih salah satu dari mereka yang lo suka." bisik Gilang.
Rendi menghela nafas panjang, "gimana kalo aku kuliah, terus kalian aku les lagi?"
Cukup menggiurkan mendengar tawaran itu, tapi Gilang menggeleng cepat.
"Itu taruhan yang kedua, sekarang lo harus terima hadiah untuk kekalahan permainan pertama lo."
"Lang, please..."
Gilang menggelengkan kepala lagi begitu tegas, dan itu membuat Toni menyeringai.
"Jangan jadi pecundang, gais." ujarnya mengejek.
Rendi menggaruk pelipisnya yang tak gatal, dengan tak rela ia menunjuk salah satu gadis yang sudah berbaris saja di dekat Toni.
"Dia..." ujarnya.
Toni mengangguk puas, "oke Jihan, tolong lo puasin bos gue. Jangan sampai mengecewakan dia. Ngerti lo?!"
Gadis yang bernama Jihan itu pun melangkah mendekati Rendi. Dengan berani memeluk lengan Rendi lantas mengecup pipi pemuda itu.
Rendi bukannya senang, ia malah merasa risih di perlakukan seperti ini, "jangan begini." tolaknya mengurai pelukan di lengannya itu.
"Lo pasti haus." Gilang melempar botol air mineral.
Rendi kesal sangat kesal dengan Gilang, meminumnya tanpa mau menatapnya.
"Bawa dia..." perintah Gilang.
Rendi pun di giring oleh gadis tadi, di bawa keluar entah kemana.
"Gila, ide lo gila." seru Toni tak menyangka dengan gelakan tawanya.
Gilang hanya mengendikan kedua bahu, ia pun melanjutkan permainan billiards'nya yang tadi sempat tertunda.