Induk musang

1398 Words
"Assalamualaikum..." Rendi melangkah dengan gontai, menekuk wajahnya yang tampak lesu hingga masuk ke dalam kamar. Rumah tampak sepi karena kedua orang tuanya sedang berada di tempat bu Siti atau ibunya Lika yang sebentar lagi akan mengadakan pesta pernikahan untuk putra bungsu mereka, yaitu Lingga. Ada untungnya, karena dengan begitu Rendi tak perlu lagi menanggapi ocehan emak yang akan menanyakan hal yang sama seperti yang di katakan David barusan. Entahlah... Dulu Rendi memiliki cita-cita sebagai dokter spesialis hanya karena menurutnya itu keren dan sangat menguntungkan, mengingat di tempatnya untuk periksa segala penyakit pada spesialis dokter, mereka harus merogoh banyak sekali uang untuk membayarnya. Maka dengan begitu, dirinya akan cepat kaya hanya memeriksa pasien tanpa perlu mengeluarkan tenaga banyak, pikirnya. Tapi apa sekarang... Rendi tampak malas karena menurutnya itu tak adil bagi pasien yang kekurangan. Masa iya, dirinya harus membebaskan biaya hanya karena merasa tak tega dengan finansial mereka. Benar-benar bukan bakatnya sampai Rendi sepakat dengan hati nuraninya untuk mengubur kembali keinginan dirinya yang ingin menjadi seorang dokter. Lantas sekarang apa yang bisa ia lakukan? Dia bingung, sangat bingung bahkan. Hanya untuk memilih apa yang akan menjadi pilihannya nanti. "Piye toh kih..." erangnya. Rendi merebahkan tubuhnya tengkurap lantas menutup wajahnya dengan bantal. "Masa iya lulusan terbaik se-Wonogiri ujung-ujungnya hanya kerja proyek?" ejeknya sendiri remeh dengan membalikan badan menatap dinding kamar. "Tapi kalo kuliah..." Rendi diam sesaat, "pasti bapak kerepotan." pemuda itu menghela nafas panjang, ia merenung sekejap tanpa terasa terlelap begitu saja meskipun rasa pusing terus melandanya. Biarkan saja... Setidaknya otaknya istirahat sejenak, tanpa harus bergalau ria seperti sebelumnya. ***** Sangat istimewa, ia akhirnya menjadi pengangguran selama setahun di rumah. Tugasnya hanya membantu emak menumbuk sambal kacang serta mengantar jemput beliau. Mungkin kalian akan berpikir kalau keberadaan Rendi di rumah menjadi pengacara alias pengangguran banyak acara maka akan menerima banyak cacian dari para tetangga, maka kalian salah besar. Karena Rendi justru membuat warung emak terus kelarisan. Pesonanya, ketampanannya, serta sifatnya yang tak memilih-milih terhadap lawan jenis membuat semua orang kagum bahkan tak sedikit menjadikannya viral karena pemuda itu sudi membantu orangtua jualan nasi pecel tanpa rasa gengsi. "Nasi pecel tiga maakkk..." seru seseorang yang baru datang dan mengambil tempat duduk mereka. "Siap ndoro..." Rendi melempar sebungkus kerupuk rambak karena kesal meladeni ketiga sahabatnya itu. Bukan dirinya tak suka kehadiran mereka. Melainkan ia malas mendengar cuitan-cuitan tak jelas dari teman masa sekolahnya. "Mas, es teh mas!" Rendi meliriknya kesal, mengambil tiga gelas kosong sekaligus lantas menyeduh teh hangat sambil mengaduk begitu asal hingga air dalam gelas tumpah kemana-mana. "Eh... Eh... Ren, sing alon..." seru emak terkejut. "Siap mak." Rendi pun memasukan beberapa es balok kecil pada teh dalam gelas tersebut kemudian berlalu dan menghidangkan ke pelanggan yang baru saja memesannya. "Ini nasi pecelnya." ujarnya ramah. "Dan ini es tehnya..." sambungnya, Rendi menaruhnya begitu kasar hingga kembali tumpah-tumpah bahkan sedikit membasahi pakaian pelanggan tersebut namun tak membuat mereka marah. Sebaliknya. Ketiganya tergelak kencang menikmati wajah masam sang pangeran nasi pecel. "Maakk... Sepertinya emak harus ganti asisten deh." ujar Toni. "Iya mak, lihat aja nih mak baju kami basah semua." sahut Devian ikut mengadu domba. Gilang terkekeh, ia menyomot jajanan yang ada di meja. "Gilang harap, emak mengabulkan permintaan kami mak." ia ikut bersuara membuat Rendi memutar bola mata malas melihat tingkah ketiga temannya itu. "Sekolah sana, jangan bisanya nongkrong aja." ujar Rendi ketus. "Suka-suka gue donk." "Heh, Depi... Bapak mu barusan kemari, katanya kalian semalem nggak pulang lagi. Kalian itu membuatku repot saja." gerutu Rendi. Mengingat ancaman dari para orangtua teman-temannya, Rendi ingin sekali mencambak mereka. Lihat saja, mereka anak yang besar dari ibukota lantas pindah karena bisnis keluarga. Menyebabkan Rendi harus menimang ketiga pemuda itu karena memiliki nilai sekolah yang sangat buruk sehingga Rendi di beri kepercayaan untuk mengajari mereka, atau bisa di bilang les private. Namun karena Rendi tidak melanjutkan kuliah, dan tidak bekerja. Menjadikan ketiga anak itu pun mengikuti jejaknya. Sialann memang... Rendi berasa menjadi seekor induk musang. "Gue tidur di kontrakan Toni." jawab Devian malas. "Kalian jangan banyak bertingkah begini, bapak Rendi pusing jadinya." gerutu adik dari Riana yang membuat ketiganya tergelak kencang. "Salah siapa coba? Kita hanya ekor, jadi ngikut aja kemana kepala induk berada." dengan tak merasa takut, Toni begitu santai mengucapkan itu. Tuk... "Duh..." Toni ingin sekali mengumpat saat Devian memukul puncak kepalanya dengan sendok teh. "Lo...!" matanya melotot, baru sedetik dirinya akan membalas Devian, si emak sudah menjewer telinganya. "Kalian jangan ikut-ikutan seperti Rendi, kasian bapak ibu kalian di rumah." "Aduh, aduh mak..." Devian Gilang tertawa mengejek. Toni yang meringis kesakitan ingin sekali menghajar keduanya sekarang juga. Sialan memang, bisa-bisanya tertawa di atas penderitaannya. "Mak... Mak... Ampun mak..." "Huh... Ngono... Kapok pora..." Emak dengan gereget sampai mencubit pipinya, "kalo sampe bapak kalian masih kesini nyariin kalian, awas pokoknya." Rendi terkekeh geli, yang tadinya hanya Toni yang kesakitan, sekarang ketiganya meringsek ketakutan. Karena emak memang benar-benar marah sekarang. "Ampun mak..." "Iya mak, ampun..." "Toni kapok mak..." "Kapok, kapok... Kalian bertiga tu hanya kapok lombok, sekarang kapok besoknya di ulangi lagi." ujar emak sengit. "Ren..." cicit Devian. "Mak, sudahlah... Biarkan saja, lagian yang rugi juga mereka sendiri kan." Rendi meninggalkan kericuhan yang terjadi di dalam, ia terlalu malas menyaksikan drama tadi. Kalau boleh berkata jujur, sebenarnya Rendi merasa iba kepada mereka bertiga. Apalagi latar belakang keluarga pembisnis serta berada, memaksa mereka untuk mengikuti segala aturan yang kemungkinan memberatkan mereka yang pada dasarnya tidak begitu cerdas atau pandai dalam hal tersebut. Tapi sudahlah, percuma juga Rendi ikut campur mengenai keadaan mereka, karena dirinya masih menikmati masa galaunya yang hidup tanpa memikirkan pelajaran rumus etika dan lain-lainnya. "Mas Rendi mau ke pasar malam ndak nanti malam?" "Nggak Nur, soalnya nanti malam aku harus ikut temen-temen." "Kemana mas?" Rendi menaikan satu alisnya, kenapa semua orang begitu kepo dengan hidupnya itu. "Kamu sudah mandi belum Nur?" Rendi bukannya menjawab, dia malah mengatakan hal lain. Bertingkah sedikit tak nyaman dengan posisi menjepit hidungnya menggunakan dua jari seolah merasa gadis yang kebingungan itu, berfikir apa yang salah dengan dirinya. "Aku sudah mandi, kok." ujarnya lirih, Nur mengendus tubuhnya sendiri. "Bahkan masih wangi, loh mas." "Masa sih? Kok bau ya?" "Hah?!" Nur merengut sedikit kecewa, padahal sebelum mendekati Rendi dirinya menyemprotkan banyak-banyak parfum isi ulang pada sekujur tubuhnya, yang selalu di gadang-gadang karena seharga sabun mandi. "Huazdjing..." Rendi bahkan sekarang bersin-bersin dan itu membuat Nur menghela nafas panjang. "Ya sudah, Nur pulang dulu dan mandi." ujarnya lemah. Rendi berhenti dengan acara bersinnya, menatap punggung gadis kecil yang tampak semakin menjauh dengan tatapan iba di sela tawa kecilnya. "Hoalah, bocah cilik saiki ada aja tingkahnya." gumamnya sendiri sambil geleng-geleng kepala. "Ngapain, Ren." Ketiganya menyusul Rendi duduk di gazebo dekat warung. "Jadi kuliah di mana kita nantinya?" Rendi melirik sengit ke arah Devian, "apaan sih Depi." gerutunya. "Lo masa nggak mau lanjut kuliah sih bro?!" ujar Devian mengiba. "Heh, denger ya kalian bertiga. Kalian balik aja ke tempat asal kalian." "Kita sudah jadi penduduk sini, ngapain suruh kita balik?" tanya Toni tak paham. "Karena kalian bukan berasal dari sini." "Maksud lo apa sih bro, nggak ngerti deh gue?!" "Kalian nggak ngerti kah? Asal kalian itu di kolong jembatan, yang malas mikir yang bisanya makan tidur aja." jelas Rendi, namun ketiga masih meresapi ucapan pemuda satu itu. "Sialan lo." Gilang yang paham pertama mulai mengumpatinya. "Gue bukan orang semalas itu. Tapi takdir yang melahirkan gue tak se'encer otak lo." Rendi terkekeh geli, "gimana mau encer otaknya, bukannya membaca materi pelajaran malah nontoni film plus-plus setiap hari." ujar Rendi remeh. "Hey, hidup kita tu butuh amunisi." sahut Toni si otak m***m. "Amunisi mbahmu kiper, kalian masih remaja tapi sudah hilang aja akal sehatnya. Dan konsepnya nggak begitu, harusnya." Mereka terkekeh, diantara berempat yang masih virginn adalah Rendi. Pemuda itu menjunjung tinggi kehormatannya. "Lihat saja, ntar. Lo pasti akan nyesel." "Kenapa emang?" "Karena keluar masuk itu nikmatnya setengah mati bro." Gilang dan Devian ikut menggoda Rendi, menyenangkan melihat reaksi temannya itu yang seakan di telanjangi oleh mereka dengan kata-kata. "Lambemu rusak Ton..." Rendi memukuli temannya yang satu itu, kesal sekali memang kalau dirinya di jadikan bahan lelucon mengenai itu. Ia bukannya sok suci, tapi dia tidak mau kalau-kalau nantinya terdapat penyakit karena terlalu sering keluar masuk seperti yang di katakan Toni tadi. "Aku akan keluar masuk, tapi sama wanita yang melahirkan anak ku." ujarnya bersungut-sungut. Tak lupa memukul satu per satu puncak kepala mereka yang masih betah tertawa dan berlalu membantu emak menutup warungnya, karena hari mulai senja dan itu tandanya emak harus pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD