7. MEMAKAI TOPENG

1651 Words
• KEISHA POV • Aku terkulai lemah dan pasrah saat Jovan menyudahi aksinya pada ku. Memang tidak sesakit dan seperih saat pertama kali dia memaksa ku, tapi Aku tidak bisa menahan rintihan ku. Aku menatapnya yang tengah terbaring di sebelah ku sambil memejamkan matanya. Aku menarik selimut itu untuk menutupi setengah tubuh ku yang terekspos karena piyama yang berhasil ia tanggalkan tadi. Aku memunggunginya dengan membalut tubuh ku dengan selimut sambil menyeka bulir keringat pada wajah ku. "Bersihkan diri mu, bau alkohol itu masih sangat menyengat" pinta ku ragu. Tak ada jawaban darinya sebelum ia beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Aku mengambil piyama ku yang tercecer di lantai dan mengenakannya kembali. Aku menatap diri ku yang terlihat kacau di hadapan cermin, rambut ku terlihat berantakan serta tak sengaja melihat tanda merah yang melekat di leher jenjang ku. Aku teringat kembali saat Jovan memberikan tanda itu pada ku di tengah permainannya. Tak ada yang bisa ku sesali karena memang semua ini adalah hal yang sepantasnya di lakukan oleh suami istri. Aku kembali duduk di tepi ranjang menuju Jovan keluar dari kamar mandi. Aku juga ingin membersihkan diri ku dengan keringat yang melekat di tubuh ku serta area sensitif ku yang lembab. Pandangan ku teralihkan saat Jovan keluar lalu tak sengaja menatap ku yang duduk di tepi ranjang. Ia mengibaskan rambut basahnya sambil berjalan keluar dari kamar mandi. Aku menarik pandangan ku lalu masuk ke dalam kamar mandi. Aku membersihkan tubuh ku dan tanpa ku sadar air mata ku bersamaan jatuh dengan guyuran air yang membasahi tubuh lengket ku. Apa semua ini memang layak ku dapatkan? Apa dengan begini Jovan akan memandang ku sebagai istrinya? Semua pikiran itu selalu saja membebani ku. Sampai detik ini pun Jovan belum pernah memerlakukan ku selayaknya seorang istri. Ia hanya selalu memaksakan kehendaknya. Aku berusaha menahan segukan ku agar tidak terdengar olehnya. Aku kembali menatap wajah ku yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya di hadapan cermin. Aku berusaha menormalkan kembali perasaan ku menyeka air mata ku yang sejak tadi terus saja menetes. Aku menarik gagang pintu kamar mandi dan menatap Jovan yang sudah terlelap di dalam selimut. Bau alkohol yang sejak tadi memenuhi kamar kini sudah tak tercium lagi bahkan hanya aroma patchouli yang menyejukkan indra penciuman ku. Aku perlahan mendekat dan menatap wajahnya. Aku memang akui Jovan memiliki wajah yang di inginkan para wanita untuk menjadi suaminya, tapi Aku selalu menanamkan pada diri ku sendiri kalau wajah tak menjamin sikapnya akan membuat mu bahagia. Sama halnya dengan yang terjadi pada ku sekarang. • AUTHOR POV • Suara klakson mobil yang beberapa kali terdengar membuat Keisha mempercepat gerakannya. Sherly tampak sudah menunggu di depan rumahnya untuk mengajaknya ikut dalam pembukaan butiknya hari ini. Dengan begitu penuh semangat Keisha memoles wajahnya sesimple mungkin agar sahabatnya tidak menunggu dirinya terlalu lama. Berjalan dengan elegan mengenakan jumpsuit berwarna peachnya sambil melemparkan senyum manisnya pada Sherly yang berada di dalam mobil dengan kaca yang setengah turun memperlihatkan wajah bahagianya. Keisha memperlebar langkahnya hingga ia meraih gagang pintu mobil Sherly dan masuk ke dalam. Keisha dan Sherly tampak bersemangat menyambut hari ini. Hari di mana peresmian butik Sherly akan di buka. Perjalan yang cukup jauh di tempuh keduanya untuk sampai di butik Sherly. Percakapan yang di lontarkan keduanya menambah keceriaan hari ini. Bahkan antusiasnya Keisha untuk mendukung usaha yang akan di jalankan oleh sahabatnya. Sherly berhasil menepikan mobilnya di depan sebuah butik yang bangunannya cukup luas dengan beberapa model baju yang terlihat begitu menarik sepasang mata memandang. Keisha tampak puas menyisiri setiap sudut butik Sherly dan mendapati berbagai macam model baju elegan, lucu dan juga formal ala kantoran. Beberapa karyawan juga terlihat sudah siap untuk menjalankan tugasnya. Keisha menatap Sherly yang terlihat begitu bahagia sambil menggunting pita yang terurai di depan pintu masuk. Keisha berlari memeluk Sherly saat Sherly berhasil menggunting pita tersebut dan secara resmi butik milik sahabat itu telah di buka. "Congrats.. Sher!!!" teriak Keisha sambil memeluk Sherly. "Thanks, Kei. Oh my god, Aku sangat bahagia hari ini. Akhirnya, Aku berhasil mewujudkan keinginan ku untuk membuat butik ku sendiri" balas Sherly semangat. "Aku tau dari dulu sejak kamu mengatakan hal itu pada ku saat jaman sekolah kalau kamu mampu mewujudkannya. Dan sekarang lihat.. Kamu berhasil, Sher.. " ucap Keisha yang ikut merasakan kebahagiaan sahabatnya. "Aku juga ikut senang.. Kalau kamu sukses" lanjutnya. Baru saja di buka terlihat beberapa pengunjung mulai mendatangi butik Sherly. Rasa bangga sekaligus terharu jelas saja terukir di wajahnya. Senyum Sherly tak pernah luntur dari paras cantiknya, ia merasa puas dengan apa yang ia capai saat ini. Usaha yang tak pernah menkhianati hasil. "Kei.. Makan siang dulu, yuk.. " Keisha hanya mengangguk sambil tersenyum saat Sherly menarik tangannya dan masuk ke dalam mobil. Sherly membawa Keisha ke sebuah restoran yang tak jauh dari butiknya. Kesenangan keduanya terlintas jelas di wajah Keisha dan juga Sherly. *** Jovan lagi dan lagi mengamuk di dalam ruangannya sambil melempar sebuah berkas di hadapan Alfin yang memiliki jabatan sebagai manager tim promosi di perusahaannya. Produk yang akan launching bulan depan tampaknya di curi oleh salah satu kompetitornya. Bracelet moonlight yang akan masuk tahap promosi berhasil di publish lebih dulu oleh kompetitornya. Hal itu membuat Jovan murka dan menghabiskan air liurnya untuk memaki Alfin yang tidak becus mengerjakan tugasnya. "Kalau bukan Aku yang memberitahu mu, kau tidak tau kan soal gelang itu?" teriak Jovan. "Maaf kan Saya, pak" balas Alfin hanya menunduk di hadapan Jovan. "Alfin.. Kamu pikir saat ini Aku membutuhkan maaf mu?!" "Aku akan mengurus semuanya, pak" tegas Alfin. "Apa yang kau lakukan untuk situasi sekarang? Coba kau jelaskan pada ku!" "Aku akan berusaha merubah bentuk gelang itu dan---" "Kau akan merubahnya? Merubah bentuk gelang yang menjadu milik kita dari awal? Sedangkan mereka yang mencurinya?" Alfin terdiam dan tak berani menyanggah perkataan Jovan. Karena, semuanya memang adalah keteledorannya. Alfin pasrah dengan keputusan Jovan kalau ia akan kehilangan pekerjaannya hari ini. "Kau membuat ku pusing, Alfin!" keluh Jovan melonggarkan ikatan dasi yang mengikat lehernya. "Carikan itu solusi, Aku tidak mau tau! Aku menginginkan bracelet moonlight yang ku buat dari awal tidak mengalami perubahan sampai itu release! Kau paham?!" jelas Jovan. Alfin hanya bisa mengangguk dengan kepenatan kepalanya dengan permintaan Jovan yang rasanya sangat mustahil untuk ia wujudkan. "Aku akan berusaha semampu ku" balas Alfin yakin. Jovan menyuruh Alfin keluar dari ruangannya. Ia berusaha meredam amarahnya yang saat ini memuncak hingga ke otaknya. Darahnya yang mendidih membuat kepalanya terasa berat. Jovan meraih ponselnya dan mendapati sebuah pesan yang masuk di mana pesan itu tertulis nama istrinya di sana. - Keisha Brahmana - "Aku keluar sebentar dengan teman ku untuk menemaninya dalam peresmian tokonya" Jovan hanya membaca dan tak membalas pesan dari istrinya. Ia kemudian memanggil Nathan untuk masuk ke dalam ruangannya. • KEISHA POV • Aku melambaikan tangan ku saat Sherly berhasil mengantar ku kembali ke rumah. Ia sangat mengerti posisi ku sekarang ini adalah istri seseorang. Ia mengantar ku kembali sebelum matahari terbenam. Hari yang cukup melelahkan untuk ku, rasanya Aku sangat puas seharian ini bersama Sherly. Menceritakan beberapa kisah lama yang membuat kita tertawa bersama. Aku menjatuhkan tubuh lelah ku di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar dan mengulang hari ini di dalam pikiran ku. Lalu ponsel ku berdering dengan menampakkan nama Geisha adik ku pada layarnya. Senyum kembali terukir di wajah ku sambil menggeser tombol hijau pada layar ponsel ku dan menjawab panggilan video dari adik ku. Aku memperlebar senyum ku saat wajah ceria Geisha tampil pada layar ponsel ku. Ia tersenyum bahagia menatap ku sambil berteriak menyapa ku. Aku tak bisa menahan tawa ku saat sikap lucunya membuat suasana hati ku merasa lebih baik lagi. Ia juga tersenyum lebar sambil melontarkan beberapa kalimat manis yang membuat ku jijik mendengarnya. Kalimat yang mungkin jarang ia lontarkan karena dia bukan tipe adik yang manis untuk ku. Kadang ia membuat ku kesal sekaligus rindu padanya. Aku rasa mungkin itu hal yang lumrah terjadi antara kakak dan adik. Perbedaan waktu yang cukup jauh antara Indonesia dan Amerika. Geisha memperlihatkan suasana kampusnya yang membuat ku juga rindu dengan kampus ku yang juga ia tempati sekarang. Dia juga menanyakan keadaan ku sekarang, keadaan Aku menjadi seorang istri. Hal itu tentu saja membuat raut wajah ku sedikit berubah, tapi untungnya Aku bisa dapat menyesuaikannya kembali agar ia tidak curiga dan kepikiran dengan ku. Tidak ada yang dapat ku lakukan selain melontarkan kebohongan dari bibir ku. Kak Meysha pernah mengatakan pada ku, kalau urusan rumah tangga tidak perlu di ketahui oleh siapapun. Karena itu adalah aib kita bahkan kedua orang taupun tidak perlu tau. Tapi, rasanya kehidupan ku setelah menikah dengan kehidupan kak Meysha setelah menikah sangat jauh berbeda. Kak Harvey memperlakukan kak Meysha begitu lembut dan menyayanginya, berbeda dengan perlakuan suami ku sendiri. Tapi, Aku tidak bisa menyimpannya sendiri. Bahkan Aku lebih memilih mengatakannya pada Priscilla dari pada keluarga ku sendiri. Karena, Aku tidak ingin membuat mereka kepikiran apalagi mama. Kalau ia tau, Aku yakin dia akan menyesali perbuatannya pada ku. Ia berharap kebahagiaan pada putrinya tapi nyatanya sampai sekarang Aku belum merasakan kebahagiaan itu bersama Jovan suami ku. Mendengar kebohongan yang terlontar dari bibir ku membuat Geisha tersenyum lega menatap ku. Ia juga menceritakan kesehariaannya dan juga sikap teman-temannya padanya. Sepertinya, dia memiliki lingkungan teman yang baik sama seperti ku. Tapi, berbeda dengan kak Meysha yang lebih pendiam dan jarang bergaul. Geisha terus saja menceritakan kisahnya hingga suara pintu yang terbuka menyadarkan ku. Jovan? "Gei.. Sepertinya Jovan sudah pulang. Nanti telpon lagi yah.. " ucap ku sambil berjalan keluar kamar memegangi ponsel ku. "Oh iya kak.. Layani dulu suaminya" candanya yang membuat hati ku sedikit sakit. Tapi, berusaha Aku tutupi dengan senyuman di wajah ku. Geisha mengakhiri panggilannya sambil memberikan ku kiss dengan senyum manisnya yang bersamaan dengan sosok Jovan yang berada di hadapan ku. Aku menyambutnya dengan sedikit menarik senyum di sudut bibir ku. Tapi, dia mengabaikan ku dan berjalan melewati ku. "Ah.. Hari ini benar-benar memusingkan!" keluhnya. Sepertinya ia memberikan kode pada ku untuk tidak memperburuk suasana hatinya, benar-benar kisah ku sangat menyedihkan. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD