8. KEBAHAGIAAN PALSU

1644 Words
• AUTHOR POV • Tak pernah Keisha bayangkan kalau Jovan akan membawanya ke acara kantor miliknya. Untuk alasannya pun ia tak berani tanyakan pada suaminya. Ia hanya mengangguk saat Jovan memberitahunya. Sedikit rasa bahagia itu dapat Keisha rasakan. Sebelum mengurus dirinya, Keisha lebih dulu menyiapkan segala kebutuhan suaminya. Ia menyiapkan setelan tuxedo berwarna hitam yang akan di kenakan Jovan malam ini untuk acara kantornya. Keisha meraih empire dressnya berwarna merah, warna yang sangat kontras dengan kulit putih mulusnya. Empire dress juga sangat cocok untuk wanita yang memiliki lekukan tubuh yang indah dan sexy karena model dress yang memiliki potongan pinggang paling tinggi hingga mencapai bagian d**a. Dress itu tampak indah membalut tubuh Keisha, di tambah polesan make up yang lebih berani dan tegas dari biasanya. Serta semprotan parfum yang menerbarkan aroma creamy yang begitu lembut melekat pada tubuhnya. "Apa kamu masih lama?" teriak Jovan dari arah luar kamar. "Hm.. Ya. Aku sudah selesai" balas Keisha berjalan keluar. Jantung Keisha berdegub kencang di mana ini adalah pertama kalinya Jovan membawa dirinya bertemu dengan orang kantornya. Langkah kecilnya mengantar Keisha mendekat ke arah Jovan yang tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Pandangan Jovan teralihkan saat aroma vanilla serta wild berry itu menyapa indra penciumannya. Ia menatap Keisha yang tengah berdiri di hadapannya sambil menarik senyum di sudut bibirnya. Senyum yang biasa Keisha lemparkan padanya, tapi tak pernah mendapat balasan. Keisha terlihat gugup saat Jovan memandangnya lama. "Kenapa? Apa Aku terlihat berlebihan?" tanya Keisha melihat kearah dirinya sendiri. "Tidak. Ayoo.. " balas Jovan berjalan lebih dulu meninggalkannya. Keisha mengekor di belakang suaminya yang tampak gagah mengenakan tuxedo hitam dengan rambut model undercut menambah kegagahan suaminya malam ini. Jovan melajukan mobilnya menuju salah satu hotel terbaik di kotanya sambil sesekali melirik ke arah istrinya yang terlihat tenang di samping kursi pemudinya. Jantung Keisha masih berdegub hebat ia juga melakukan hal yang sama sesekali melirik Jovan yang tampak serius mengemudikan mobilnya. "Apa tak apa Aku ikut?" Keisha sejak tadi bergelut pada dirinya untuk melontarkan pertanyaan ini pada Jovan. "Hm.. Aku sudah sangat terganggu dengan omongan karyawan ku yang selalu menggosipi tentang pernikahan ku. Jadi ku pikir dengan mengajak mu, mereka akan berhenti membicarakan hal itu.." jelas Jovan. Mendengar hal itu membuat percaya diri Keisha memudar. Ajakan Jovan malam ini tak lain hanya ingin membungkam mulut para karyawab yang menganggunya. Bukan semata-mata ingin memperkenalkannya atau menyanjungnya di hadapan para karyawannya. "Kenapa? Jangan mengharapkan apapun dari ku" lanjut Jovan. Keisha memperkokoh suasana hatinya yang terasa sakit karena ucapan kasar Jovan padanya. Ia berusaha terlihat tegar di hadapan suaminya. "Ya.. Aku sudah terbiasa dengan jawaban semacam itu" balas Keisha. Ucapan Keisha membuat Jovan melirik kearahnya, mencoba mencari tau dengan melihat raut wajah istrinya apakah ucapannya sesuai dengan apa yang ia rasakan. Setelah pertanyaan itu, tak ada lagi percakapan yang terjadi sepanjang jalannya hingga Jovan berhasil menepikan mobil dan memarkirkannya di dalam basement hotel. Keisha tercekat saat pinggangnya di rangkul Jovan. Hal yang pertama kali di lakukan Jovan padanya. "Hm.. Aku sudah sangat terganggu dengan omongan karyawan ku yang selalu menggosipi tentang pernikahan ku. Jadi ku pikir dengan mengajak mu, mereka akan berhenti membicarakan hal itu.." Lalu kalimat itu kembali terbesit di kepala Keisha. "Dia hanya memanfaatkan kedatangan mu saja, Keisha. Dia benar! Jangan mengharapkan lebih!" batin Keisha. Jovan berjalan merangkul pinggang istrinya menuju lift dan menekan tombol angka sembilan yang terdapat di sana. Lantai sembilan yang akan membawa keduanya ke acara malam ini. Langkah yang sejajar membawa keduanya masuk ke dalam ballroom hotel yang tampaknya sudah di hadiri beberapa tamu. Richard yang juga sudah datang lebih dulu menyapa Jovan dan juga Keisha. Keisha memperlebar senyum menawannya saat membalas sapaan Richard. Ini adalah pertemuan pertama Richard dan Keisha. Pertemuan yang selalu Richard tunggu karena rasa penasarannya dengan istri yang tak di harapkan dari sahabat sekaligus atasannya. Richard memuja kecantikan yang di miliki Keisha serta suara yang terdengar begitu nyaman untuk di dengarkan. Jovan, Keisha dan Richard duduk di sebuah kursi yang membentuk setengah lingkaran. Waktunya tiba di mana Jovan harus memberikan penyambutan sepata kata dengan jabatannya sebagai pimpinan perusahaan. Jovan berjalan dengan gagahnya menuju podium meninggalkan Keisha dan Richard yang tengah duduk menanti penyambutannya. Keisha dan Richard menyimak kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir Jovan dengan sesekali bergurau di atas podium. Lelucon receh yang di lemparkan Jovan membuat Keisha terkekeh di saat hanya ada beberapa orang saja yang tertawa karena humor recehnya. Bahkan Richard dapat merasakan aura hangat yang di Berikan Keisha. Tatapan Keisha pada Jovan pun membuat Richard yakin kalau Jovan nanti akan menyesali perbuatannya pada istrinya. "Hm.. Maaf. Aku tidak bisa menahan tawa ku" ucap Keisha menatap Richard. "Ya. Tidak apa-apa. Oh iya, Apa Jovan juga sering membuat mu tertawa di rumah?" Pertanyaan hanya untuk memastikan sikap Jovan pada Keisha membuat tawa Keisha memudar. "Ah? Hm, ya. Tentu saja. Dia selalu membuat ku tertawa di rumah" balas Keisha lagi dan lagi berbohong. Mendengar jawaban itu membuat Richard mengangguk berusaha tersenyum. Padahal ia tau sendiri bagaimana perlakukan Jovan pada Keisha, di mana Jovan sendiri yang mengatakan semua padanya. "Benarkah? Aku pikir Jovan bukan suami yang pandai bercanda. Karena, pembawaannya yang selalu serius" jelas Richard. "Dia selalu menghibur ku dengan humor recehnya seperti tadi, kadang Aku sampai capek tertawa" balas Keisha berusaha tertawa di hadapan Richard seolah apa yang ia katakan memang adalah benar. "Sepertinya kamu sangat bahagia menikah dengan Jovan" Keisha terdiam lama membuat Richard sangat menanti jawaban yang akan terlontar dari bibirnya. Tapi, baru saja bibir itu terbuka Jovan sudah kembali dan duduk di antara keduanya. "Apa yang kalian bicarakan?" tanya Jovan penasaran. "Tidak apa. Aku hanya menanyakan pada istri mu kenapa dia bisa tertawa dengan lelucon receh seperti yang kau katakan tadi. Dan dia kata---" canda Richard. "Padahal dia jarang tertawa di rumah, rupanya kamu bisa tertawa juga?" sela Jovan menatap Keisha. Mendengar hal itu membuat Keisha sedikit malu pada Richard. Karena ucapannya yang sangat berbeda dengan Jovan. "Hm.. Aku permisi ke toilet sebentar" ucap Keisha meninggalkan Jovan dan juga Richard. • KEISHA POV • Aku berjalan menutupi wajah ku, rasanya benar-benar malu karena Richard mengetahui kalau Aku membohonginya. Aku mempercepat langkah ku menuju toilet yang sedikit lagi akan ku capai. Aku masuk ke dalam dan menormalkan kembali wajah ku yang sangat malu. Apa Aku terlihat bodoh di hadapan Richard tadi? Harusnya Aku tidak perlu berbohong dan melebih-lebihkan Jovan. "Sel, Apa tadi kamu melihat istri pak Jovan?" "Iya.. Aku melihatnya. Dia sangat cantik. Sepertinya mereka sangat cocok berdua" "Iya. Pantas saja dia tidak pernah memperlihatkannya. Karena, mungkin takut banyak yang naksir sama istri--" "Memang pantas sih. Beruntung sekali pak Jovan menikahi dia" "Mereka sama beruntungnya, Fel" "Kira-kira pak Jovan sikap pak Jovan romantis tidak yah sama istrinya? Karena yang kamu tau pak Jovan orangnya sangat serius kalau di kantor" "Aduh.. Rasanya Aku juga ingin berada di posisi istrinya. Dia pasti sangat di sayangi sama pak Jov--" Kedua karyawan wanita itu terkejut saat Keisha keluar dari balik kamar mandi dan mendengar semua percakapan yang membicarakannya dengan Jovan. "Astaga.. Maaf. Kami tidak bermaksud men--" "Iya.. Tidak apa-apa" balas Keisha ramah. "Anda memang sangat cantik.. Beruntung sekali pak Jovan memiliki, Anda" puji salah satunya. Pujian yang biasanya membuat penerima pujian tersebut merasa senang tidak di alami sama sekali oleh Keisha. Ia justru merasakan sesak pada dadanya saat semua orang yang mengira pernikahannya sebahagia apa yang terlihat dari luar. Mereka sama sekali tidak tau apa yang di rasakan Keisha karena perlakuan suaminya yang sangat di luar ekspetasi para karyawannya. "Terima kasih.. " hanya kalimat itu yang dapat terlontar dari bibir Keisha sembari tersenyum ramah. "Kami sekarang tau, kenapa pak Jovan jarang memperlihatkan Anda. Karena, dia sangat mencintai Anda dan takut kalau Anda di rebut oleh orang lain" ucap satunya lagi. Ucapan itu semakin mengiris hati Keisha. Semuanya sangat salah. Apa yang di katakan kedua karyawan itu tak pernah terjadi dalam pernikahannya. "Hm.. Aku tidak tau harus mengatakan apa selain terima kasih" balas Keisha sopan. "Kalau begitu.. Kami permisi dulu" Keisha mempersilahkan keduanya keluar sebelum tangisannya pecah. Rasa sesak itu semakin membuat ia kesulitan bernapas karena menyimpan semuanya. Ia menutup mulutnya agar suara tangisannya yang tak terdengar dari luar. Ucapan kedua karyawan itu sukses membuat perasaan Keisha semakin hancur. Keisha mengeluarkan semua tangisannya hingga deringan ponsel menyadarkannya. Ia menatap nama suaminya yang tertera pada layar ponselnya. Keisha menyeka air matanya dan berusaha menahan segukannya saat menjawab panggilan dari suaminya. "Kamu di mana? Kenapa lama sekali? Aku sudah lelah di sini. Aku ingin pulang" keluh Jovan. "Hm.. Iya. Kamu bisa ke mobil lebih dulu, Aku akan menyusul mu" balas Keisha. Ia terlalu malu keluar dengan matanya yang sembab. Apa lagi Richard yang mungkin masih bersama Jovan. Keisha membasahi wajahnya sambil menyeka air mata yang masih saja tak berhenti mengalir. Ia menutupi wajahnya dengan tas yang ia genggam menuju mobil Jovan yang berada di basement. Tampaknya Keisha lebih dulu sampai dari Jovan. Ia menatap matanya yang sembab di jendela mobil. Lalu tak lama Jovan pun datang, berjalan ke arahnya. Keisha menundukkan menyembunyikan wajahnya, ia tidak ingin Jovan melihatnya dan menyadari kalau ia baru saja menangis. Keisha masuk ke dalam mobil di susul Jovan. Keisha terus saja menyembunyikan wajahnya di balik rambutnya yang tengah terurai. Hal itu membuat Jovan terganggu karena penampakkan Keisha yang terlihat seram dengan rambut yang menutupi wajahnya. "Pinggirkan rambut mu, kamu membuat ku takut dengan rambut itu" keluh Jovan. Tak ada pergerakan dari Keisha, ia takut Jovan akan melihat wajahnya. "Keisha.. Apa kamu tidak mendengar ku?" pinta Jovan sekali lagi. Namun tetap tak ada pergerakan dari Keisha membuat Jovan kesal dan menepikan mobilnya. "Keisha! Apa kamu sengaja mengabaikan ku?!" teriak Jovan kesal "Kamu selalu saja membuat ku marah!" lanjutnya. "Apa itu menjadi kesukaan mu?!" "Maaf kan, Aku" balas Keisha yang masih menunduk. Melihat Keisha yang begitu keras kepala membuat amarah Jovan semakin meluap. Ia mencengkram pundak istrinya lalu menarik paksa wajah Keisha. "Angkat wajah mu! Sudah ku katakan dari tadi, kan? Kenapa sangat susah meng---" Jovan sangat terkejut saat dengan begitu kasar ia mengangkat dagu istrinya dan mendapati mata Keisha yang merah dengan linangan air mata yang membasahi pipi meronanya. "Kenapa kamu menangis?!" bentak Jovan lagi. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD