9. KESABARAN SEORANG ISTRI

1429 Words
• AUTHOR POV • Jovan sangat terkejut saat dengan begitu kasar ia mengangkat dagu istrinya dan mendapati mata Keisha yang merah dengan linangan air mata yang membasahi pipi meronanya. "Kenapa kamu menangis?!" bentak Jovan lagi. "Maaf.. Maafkan Aku" balas Keisha. "Kenapa kamu cengeng sekali? Aku hanya menyuruh mu mengangkat wajah mu saja, kamu sudah menangis" keluh Jovan. "Iya.. Maaf, Aku sedang sensitif" "Kamu selalu saja membuat ku pusing, Keisha! Hapus air mata mu!" pinta Jovan melajukan kembali mobilnya. Keisha menyeka air matanya dengan tissue. Berkali-kali ia menyekanya tapi air mata itu sangat sulit berhenti. Hatinya malam ini sangat hancur di tambah lagi dengan bentakkan dan sikap kasar Jovan tadi yang menarik paksa wajahnya. Jovan dengan perasaan kesalnya melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata hingga dengan begitu cepat keduanya berhasil sampai di rumah. Jovan membanting pintu mobilnya dan masuk lebih dulu ke dalam rumah meninggalkan Keisha yang baru saja turun dari mobil. Keisha mempercepat langkahnya menuju kamar. Lagi dan lagi suara bantingan pintu kamar mandi mengagetkannya yang baru saja mencapai gagang pintu kamarnya. Ia berusaha menahan dirinya agar tetap sabar dengan sikap dan perlakuan suaminya padanya. Keisha mengganti empire dressnya serta menghapus make up yang membalut wajahnya. Matanya semakin sembab saat menatap pantulan dirinya di hadapan cermin. Lalu pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Jovan yang menatapnya sinis. Keisha menatap punggung suaminya yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Tangisnya kembali menyelimuti dirinya, Jovan sama sekali tidak mengerti apa yang Keisha rasakan malam ini. Keisha menangis sepuasnya di dalam kamar mandi sambil menyalakan shower yang akan menenggalamkan suara tangisannya dengan guyuran air. Jovan masuk ke dalam ruangan kerjanya untuk meredam kekesalannya saat ia menatap wajah istrinya. Baginya, Keisha sangat menjengkelkan malam ini hingga ia harus pergi untuk tidak melihat wajahnya. Jovan membuka laci kerjanya dan tak sengaja mendapati kembali sebuah kotak hitam yang terselip di dalam laci miliknya. Ia membuka kotak itu dan melihat sebuah jam tangan kulit berwarna hitam yang dulu di kirimkan Al untuknya. Wanita yang ia temukan di dunia maya di mana wanita itu yang berhasil membuat Jovan jatuh cinta untuk pertama kalinya serta janji tidak akan menikah dengan wanita lain selain dirinya. Jovan menatap jam itu sambil mengulang kembali masa-masa itu di mana ia hanya berkomunikasi lewat chat hingga pertemuan pertama dan terakhir kalinya dengan Al sebelum mereka lost contact. "Dimana kamu sekarang?" Jovan kembali memeriksa email yang selalu ia kirimkan untuk Al, tetapi masih tidak ada balasan darinya. Email yang sejak beberapa tahun yang lalu selalu ia kirimkan berharap ada kesempatan untuk bertemu lagi dengannya. "Apa kita bisa bertemu lagi?" Jovan menyandarkan pundak lebarnya pada kursi kerja dengan segala pikirannya yang tertuju saat pertemuan pertama dan terakhirnya dengan Al. Gadis yang saat itu masih berusia belasan tahun yang memiliki rambut hitam legam berombak, alis berwarna cokelat, mata yang kecil, hidung tinggi serta bibir polos tanpa balutan lipstik. Semuanya masih sangat jelaa di ingatan Jovan, pertemuan yang ia lakukan di taman di samping sekolah Al. Tak banyak Jovan bicarakan pada saat itu, karena gadis yang hanya memiliki waktu singkat untuk bertemunya. Jovan hanya mengutarakan apa yang ia rasakan namun tidak mendapat jawaban hingga saat ini. Perasaan yang hanya di gantung menunggu kepastian. Tapi, semuanya itu sirna saat pesan yang selalu ia kirimkan tidak mendapat jawaban gadis yang berhasil merebut hatinya. Tanpa sadar matanya terpejam dengan semua masalah yang memenuhi isi kepalanya. Jovan tertidur di atas kursi kerjanya, sedangkan Keisha yang masih menunggu suaminya dengan mata yang terjaga. Keisha menatap jam di atas nakasnya yang menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Jovan belum juga masuk ke dalam kamar, membuatnya penasaran dan merasa bersalah karena membuat suaminya kesal. Keisha beranjak dari tempat tidur dan mencari Jovan. Keisha mencari suaminya dan tak menemukannya di ruang tengah lalu ia beralih menuju ruang kerja Jovan. Ia mengetuk pintu pelan namun tak ada jawaban dari dalam. Ia membuka pintu dengan hati-hati dan mendapati suaminya yang tengah terlelap di kursi kerjanya. Melihat hal itu, tentu saja Keisha tidak memiliki keberanian untuk membangunkan suaminya. Ia kembali ke kamar mengambil selimut lalu membawanya ke ruang kerja Jovan. Dengan penuh kehati-hatian, ia menyelimuti tubuh kekar Jovan tanpa ingin membangunkannya. Ia menatap wajah suaminya lama sebelum meninggalkannya. Keisha kembali ke kamarnya, menarik selimut dan memaksa matanya untuk terlelap. *** Teriknya matahari yang berhasil menembus jendela ruang kerjanya membuat Jovan terpaksa membuka matanya. Ia tersadar telah tertidur di dalam ruang kerjanya, ia juga heran dengan sebuah selimut yang membalut dirinya. "Apa dia?" Jovan merenggangkan ototnya sambil berjalan keluar. Pandangannya tercekat saat mendapati Keisha yang tampak sibuk membuatkannya sarapan. Sarapan yang biasanya hanya sebuah roti, hari ini tampak berbeda. Keisha menyadari suara langkah yang terserat mengalihkan pandangannya. Ia menatap Jovan yang baru saja bangun dan berjalan kearahnya lalu menarik pandangannya kembali. "Maaf.. Semalam Aku tidak membangunkan mu. Aku pikir kamu memang tidak ingin tidur di kamar karena kesal dengan ku" jelas Keisha sambil memunggungi suaminya. Mendengar hal itu d**a Jovan sedikit terasa sesak. Sikap pasrah istrinya atas perlakuannya selalu saja di terima Keisha. Membuat dirinya memang terlihat sebagai suami yang buruk. "Bukan. Aku hanya ketiduran di sana" balas Jovan melanjutkan langkahnya menuju kamar. Keisha melanjutkan kembali membuatkan sarapan untuk suaminya. Waktu yang pas saat Jovan telah selesai memakai setelan kantornya yang rapi di mana Keisha juga terlihat selesai menyajikan sarapannya pagi ini. Jovan mendudukkan dirinya di hadapan Keisha dan sesekali mencuri pandangan saat istrinya terlihat lahap mencicipi masakannya. "Mata mu masih bengkak" keluh Jovan. "Hm.. Iya. Nanti Aku akan mengompresnya dengan air dingin" balas Keisha tanpa menatap Jovan. "Baguslah.. " Tak banyak percakapan yang terjadi seperti biasanya. Bahkan pagi ini Keisha juga tampak menghindari tatapan mata dari suaminya dan Jovan menyadari hal itu. Keisha mulai menatap suaminya saat punggung itu perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. • JOVAN POV • Aku melajukan mobil ku dengan pikiran ku yang tampak gelisah melihat sikap Keisha pagi ini pada ku. Kenapa dia menghindari ku? Tapi, kenapa juga Aku harus memikirkan hal itu? Dia ingin menghindar ataupun tidak seharusnya Aku tidak perlu gelisah. Aku mempercepat laju mobil ku menuju kantor hingga Aku tidak melihat lampu lalu lintas yang berubah merah. Bruuuukkk!!! Aku menabrak mobil yang melintas dari arah lain. "s**t!" umpat ku terkejut. Hal itu membuat ku harus menepikan mobil ku dan turun untuk menyelesaikannya. Seorang wanita dengan rambut hitam legam sebahu juga turun dari mobil yang Aku tabrak. Terdengar berapa kali umpatan yang ku dengar dari mulut wanita itu. "Hm.. Sorry. Aku tidak melihat lampu merahnya" jelas ku sopan. "Sial! harusnya Anda menggunakan mata Anda dengan sebaik mungkin!" balasnya dengan nada kesal. Mendengar ucapan itu membuat ku juga ikutan kesal. Tapi, Aku sadar kalau ini adalah salah ku dan berusaha menahan amarah di depan wanita ini. "Ya. Aku minta maaf, Aku akan mengganti kerugian mu.. " ucap ku sambil menyodorkannya kartu nama milik ku. Tapi, lagi dan lagi siakpnya membuat geram dan tak tahan. Kartu nama yang ku berikan padanya dengan santainya ia robek di hadapan ku dan membuangnya dengan beberapa kalimat kekesal yang ia lontarkan kembali dari bibirnya. Hal itu tentu saja membuat ku kehilangan kontrol setelah kejadian semalam juga yang masih membekas di kepala ku. "Permisi.. Maaf kalau Aku tidak sopan mengatakan ini pada Anda. Awalnya, Aku pikir Aku akan sopan dan menghormati Anda karena kesalahan ku yang menabrak mobil mu meskipun Aku tidak sengaja. Tapi, Aku pikir Aku akan sangat menyesali sikap serta ucapan ku tadi pada Anda.  Anda sangat buruk menjadi wanita, Aku baru saja bertemu dengan wanita semacam Anda. Sangat di sayangkan jika Anda memiliki seorang kekasih atau suami. Dia benar-benar lelaki yang paling sial di dunia ini..." Ucapan ku sepertinya berhasil membuatnya semakin marah. Sangat jelas tatapan yang ia berikan pada ku begitu sinis serta mulutnya yang siap untuk memaki ku kembali. ".. dan yah, itu salah Anda karena merobek kartu nama ku. Jadi, Aku tidak akan bertanggung jawab, jika Anda ingin Aku bertanggung jawab satukan kembali kertas itu yang menuliskan nomor ponsel serta nama ku lalu Anda menghubungi ku sambil meminta maaf. Kalau tidak? Aku tidak akan mengganti semua kerugian Anda. Okay? Paham?" lanjut ku meninggalkan wanita itu yang masih menyodorkan tatapan marah kepada ku. Aku kembali melajukan mobil ku menuju kantor. Pagi yang buruk, benar-benar sial! • AUTHOR POV • Tak memungut kartu nama yang tadi ia sobek, Sherly meninggalkannya dan melajukan kembali mobilnya. "Dasar orang gila! Dia berhasil merusak pagi ku!" keluh Sherly sambil mengemudikan mobilnya. "Berani sekali dia merasa kasihan pada ku!" lanjutnya. "Sangat di sayangkan jika Anda memiliki seorang kekasih atau suami. Dia benar-benar lelaki yang paling sial di dunia ini..." Kalimat itu terus saja membuat suasana hati Sherly memanas. Sejak dirinya kecil, ia sangat membenci orang yang meremehkannya apalagi menghinanya. Dan juga hanya Keisha lah yang mampu bertahan untuk berteman dengannya. "Semoga saja Aku tidak bertemu lagi dengan pria kurang ajar itu!" jelas Sherly. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD