BAGIAN LIMA

848 Words
Bel istiraha berkumandang di SMA SARANAYA, semua murid bergegas meninggalkan kelas kecuali Naya yang memandang Devin dengan lugu. "Devin?" "Dev, dari tadi elo diam mulu. Lo nyata atau cuma imajinasi gue sih? Woy!" tegur Naya pada pemuda itu.  Devin berdecak lalu menampilkan tatapan malasnya pada Naya.  "Nah! Baru gue percaya! Lena, Sindy. Kantin yuk?" ajak Naya dengan suara TOA nya. Kini hanya tinggal Devin sendiri setelah kepergian Naya dan dua sahabatnya. Devin menggeleng pelan. "Naya... Namanya Naya..." "Woy!" "Naya!" Devin terkejut atas panggilan Anan dan tak sengaja ia menyebutkan nama Naya. "Cie mikirin Naya," goda Danis yang berada di ambang pintu. "Ck!" Devin hanya berdecak lalu pergi meninggalkan dua temannya itu menuju kantin. "Lo mikirin apa yang gue pikirin?" tanya Danis pada Anan. Anan mengangguk. "Kita sepemikiran," ucap Anan menatap Devin yang baru saja pergi. "Jadi, elo juga mikirin kecantikannya Bu Indah?" tanya Danis hingga membuat Anan kesal lalu menjitak pelan kepala temannya itu. Mereka pun bergegas menyusul Devin. Saat dikantin, Naya berdecak kesal pada dua sahabatnya yang tengah asik bermain ponsel. "Jadi Devin satu kelas sama kita?" tanya Naya memulai obrolan. "Hm..." jawab Sindy dan Lena berbarengan. "Ah, nggak asik lo pada! Gue nyari Anan aja!" Naya menyerup es jeruknya hingga tandas kemudian bangkit lalu berpaling. Byurs!!! "Gue nggak sengaja!" Naya bersiap lari dari pemuda yang wajahnya terkena semburan es jeruk darinya. "Aw! Devin, gue nggak sengaja!" berontak Naya berusaha melepaskan diri. "Tanggung jawab!" ucap Devin gusar dengan satu tangan mengusap wajah. "Gue nggak hamilin elo!" balas Naya berteriak hingga mengundang gelak tawa seisi kantin termasuk dari teman-temannya. "Bersihin muka gu--" "Aw!" Devin meringis saat Naya menggigit tangannya. "Kaburrr!" Naya berlari meninggalkan Devin dengan jurus seribu bayangannya. "DASAR ANAK TIKUS!" teriak Devin marah. Baru kali ini seantero sekolah mendengar teriakan murka dari Devin. Tanpa pikir panjang, Devin langsung pergi guna membersihkan wajah. "Devin suka sama Naya! Fiks!" Lena mengajak Sindy tos. "Bagus deh! Biar Devin berubah, nggak kaku kayak atap pos satpam!" balas Danis ikut senang. Anan tersenyum sumbang. Naya mengeluhkan keringat yang bercucuran dari pelipisnya. "Dasar aunty KW! Enggak sengaja nabrak doang gue disuruh lari!" kesal Naya melajutkan hukumannya yang diberikan oleh Lisa akibat kesalahannya sendiri. "Sumpah ya, Nan! Kembaran lo emang demen dapat hukuman apa gimana?" tunjuk Danis pada lapangan. Anan menoleh begitu pun Devin. "Dev?" panggil Anan. Sial, ia ketahuan tengah memperhatikan Naya. "Naksir lo, sama adik gue?" tanya Anan. Devin mengendikkan bahunya acuh lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Anan dan Danis. Setelah menyelesaikan hukuman, Naya gadis dengan seribu kecerobohan itu berlari menuju kelasnya dengan langkah besar. "Hallo!" sapa Naya pada seisi kelas, lagi-lagi guru sudah mengajar. "Wah! Bad girl baru SARANAYA," ucap Pak Dirham menatap penampilan Naya. "Makasih loh pak, saya tersanjung." Naya melangkah santai menuju kursinya. "Dasar!" gerutu Pak Dirham lalu melanjutkan pelajarannya, lain halnya dengan langkah Naya yang terhenti saat mendapat tatapan tajam dari Devin. "Pak... Saya pindah duduk aja ya, kedepan. Biar bapak bisa leluasa mandangin saya. Ya pak! Please..." Devin berdecak malas, sudah pasti si anak tikus itu menghindarinya. "Duduk atau kamu mau dapat hukuman lagi?" ancam Pak Dirham berhasil membuat Naya melangkah menghampiri kursinya dengan ragu. Ia bergidik melewati Devin lalu duduk setelah sedikit menjauhkan kursinya dari Devin. Setengah jam berlalu, Devin tak dapat fokus dengan pelajaran. Diliriknya gadis disampingnya yang nampaknya tertidur dengan salah satu buku miliknya sebagai penutup wajah. Tangan Devin bergerak menjauhkan buku tersebut, terlihatlah wajah polos Naya yang tengah tertidur dengan bibir merah ranum yang sedikit terbuka. Lena dan Sindy yang kebetulan melihat kejadian tersebut terkekeh pelan. "Cantik," puji Devin lalu merebahkan kepalanya menghadap Naya yang nampak nyaman dengan tidurnya. Kring!!! Bel panjang berbunyi, jam pulang sekolah telah tiba. Naya terbangun dan kaget melihat wajah Devin dalam jarak yang sangat dekat. Untung saja Pak Dirham sudah meninggalkan kelas. Naya hampir saja terjungkal, untung saja Devin menahan punggungnya hingga membuat seisi kelas bersorak menggoda. Naya mengusap bibirnya dengan telapak tangan kemudian bergegas pergi setelah memastikan barang-barangnya sudah lengkap berada di tas. "Lena, Sindy! Gue duluan!" pamit Naya lalu pergi dari kelas.  Devin berada dikelas sendirian, membiarkan semua temannya pulang. Saat sekolah sudah terlihat sepi, barulah ia keluar dari kelas. Nampak nyaman dipandang jika koridor sepi seperti sekarang. Mata Devin menyempit menatap parkiran, Anan sahabatnya tengah duduk di kap depan mobil sambil menelpon seseorang, titik fokus Devin tertuju pada seorang gadis yang berada didalam mobil.  Tak lama kemudian, Anan pun tancap gas meninggalkan sekolah bersama Naya yang kembali tertidur dimobil. Devin tersenyum singkat lalu menghampiri motornya. Pemuda itu berkendara dalam kecepatan rata-rata. Ia tida didepan sebuah gedung apartemen yang cukup mewah itu. Ya, Devin tinggal di apartemen sendirian. Itu karena ia mengalami masalah pada keluarganya. Apa-apa ia lalukan sendiri dan ia sudah terbiasa denga kesunyian. Tangannya bergerak meraih alat lukisnya yang tertata rapi di meja. Pemuda itu adalah pelukis handal dan beberapa lukisannya sudah terpajang di pameran tertentu. Oleh karena itu, Devin tak pernah merasa tidak berkecukupan untuk hidup dan bersekolah di sekolah elite SARANAYA. Jemarinya bergerak lincah menggoreskan kuas pada kanvas. Senyum manisnya tak pernah luntur dan saat lukisannya selesai. "Kenapa gue ngelukis dia sih!" Devin kembali menampilkan tatapan dinginnya lalu memutuskan untuk tidur. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD