BAGIAN EMPAT

906 Words
"Ya ampun, Naya!" suara melengking dari Lena membuat Anan yang tengah berjalan bersama Naya menoleh. "Anan! Naya! Kalian hujan-hujanan? Emang mobil nggak ada atap hah?" tanya Sindy menghampiri si kembar. "Ibu Sindy yang terhormat, gue kedinginan, kepala gue pusing nih. Jangan ngomel," balas Naya dengan bibir bergetar. "Urus Naya," titah Anan yang mendapat anggukan dari Lena dan Sindy. Tiga gadis itu pun berjalan menaiki tangga menuju kamar Naya. Saat Naya sudah selesai membersihkan diri, gadis itu pun merebahkan tubuhnya dikasur masih dengan handuk melilit ditubuhnya. "Nay! Menurut gue nih ya, Devin itu suka sama lo!" ucap Lena duduk ditepi kasur sementara Sindy memilih fokus pada novel yang dibacanya. Tawa Naya pecah, membuat Lena dan Sindy kebingungan. "Devin, suka sama gue? Ya kali! Aneh lo!" kesal Naya pada Lena. Sindy mendekat dan tatapannya tertuju pada beberapa goresan di lengan Naya. "Nay, lo luka? Kenapa? Lena, cari kotak P3K!" titah Sindy beralih mengurus goresan di lengan Naya. "Gara-gara Devin, siapa lagi." Naya berdecak dan membiarkan Sindy mengurus lukanya. "Tapi yang dibilang Lena ada benernya juga, mungkin aja Devin suka sama lo makanya bikin lo kayak gini," ucap Sindy diangguki Lena. "Lo pada kenapa sih! Tau ah, pokoknya gue benci sama Devin!" Naya berucap kesal. "Ih Naya! Lo tau nggak, cewek yang pernah direspon sama Devin itu cuman elo! Elo Nay! Lo bikin dia kena hukuman padahal dia itu murid berprestasi," tambah Lena menjelaskan. "Bodo amat gue capek!" Naya memejamkan matanya. "Heh! Kalau mau tidur pakai baju dulu! Aneh-aneh aja lo," omel Sindy hingga Naya terkekeh malu. Hari kembali pagi, Naya mendatangi meja makan dengan wajah gusar dan kelihatan masih sangat mengantuk. "Begadang?" tanya Anan sambil mengunyah sarapannya. "Pas Lena sama Sindy pulang, gue main game sampai lupa waktu. Nggak tidur semalaman, sial gue ngantuk banget!" ucap Naya merebahkan kepalanya dimeja makan. "Naya! Kalau lo sakit gimana? Pasti mami papi nyalahin gue," omel Anan kesal. "Hoam... Tau ah!" Naya menaruh tasnya diatas meja. "Lo bawa laptop?" tanya Anan bingung. "Buat ngegame," kekeh Naya memejamkan matanya. Baru beberapa detik tiba-tiba Anan menyodorkan roti dengan selai cokelat pada mulutnya. "Anan! Ck!" Naya terpaksa melahap roti tersebut dengan kesal. Anan hanya terkekeh. Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai sendiri oleh Anan pun tancap gas menuju sekolah. Saat keduanya tiba dikantin, Naya langsung semangat mengeluarkan laptopnya. "Eh, ada tugas apa?" tanya Danis menghampiri mereka. "Buat main game, password wi-fi sekolah apaan ya?" tanya Naya pada Danis dan juga Anan. "Mana gue tau," balas Anan begitu pun Danis. Naya berdecak lalu mengeluarkan ponselnya, dengan lincah gadis itu mengetik sesuatu pada ponsel dan laptop secara bergantian. "Anjir terhubung!" Danis berucap tak percaya. "Naya dilawan," bangga Naya pada dirinya sendiri. Kring!!! "Baru juga main," gerutu Naya pada bel yang berbunyi keras. "Nan, hari ini kita guru killer nih! Buruan!"  ajak Danis pada Anan. "Iya gue lupa! Nay, kita duluan ya! Jangan bolos, bye!" sebelum pergi, Anan sempat-sempatnya mengecup pucuk kepala Naya yang sudah fokus pada game.  Kini hanya tinggal Naya sendiri, gadis itu beberapa kali mengeluarkan u*****n pada permaiannya. "Yes! I like it!" Naya girang, berhasil menang dalam pertandingan tinju melawan musuh dari luar negeri. Gadis itu menggertakkan jemarinya yang terasa begitu nyeri. Dengan langkah santai ia meninggalkan kantin menenteng laptop mahal dan membawanya kekelas. "Nah ini, untung nggak nyasar!" ucap Naya lega menatap papan nama kelas didekat pintu. "Good morning all..." Naya berteriak menyapa seisi kelas dan ternyata sudah ada guru yang mengajar. "Heh! Kamu dari mana aja?" tanya guru wanita bernama Bu Dila. "Keliling dunia," jawab Naya tanpa beban sedikit pun. "Kumpulkan PR!" pinta Bu Dila menghampiri Naya. "PR?" tanya Naya bingung. "Pekerjaan rumah! Kamu nggak ngerjain tugas yang saya kasih minggu kemarin?" tanya Bu Dila merampas laptop Naya lalu menaruhnya dimeja guru. "Bu, saya ini murid baru. Masuk juga baru kemarin, masa disuruh ngumpulin tugas dari minggu lalu. Ibu kira saya penjelajah waktu!?" tanya Naya melangkah santai melewati Bu Dila. "Alah! Alasan mulu, anak bandel emang sering ngasih alasan kayak gitu! Sini tas kamu, saya periksa!" Bu Dila menarik tas Naya secara paksa. Naya pun menolak tak terima. "Jangan! Jangan tas!" ucap gadis itu. Duel memperebutkan tas tak dapat terhindari, Bu Dila memenangkan pertarungan dan berhasil mengambil tas milik Naya. "Ringan banget! Kamu nggak bawa buku!?" tanya Bu Dila lalu membuka tas Naya. Ia mulai mengeluarkan satu-persatu barang yang ada didalam sana. "Earphone." "Powerbank." "Harddisk." "Ini apa?" tanya Bu Dila menatap benda berukuran kecil. "Earpeace," jawab Naya kemudian menarik tasnya secara paksa dan tak sengaja sebuah buku bersampul hitam terjatuh. Bu Dila memungut buku tersebut, Naya nampak panik. "Nah! Ini ada buku!" ucap Bu Dila. "Jangan!" cegah Naya saat Bu Dila hendak membukanya. Bu Dila pun membuka buku tersebut setelah Naya memperingatinya untuk yang kesekian kali. Mata wanita itu menyempit membaca kata demi kata yang tertulis dibuku. Secret agent in London City - Code hacking - Arms sales - Sale of body organs - List of enemies - Illegal drugs - Human trafficking Bu Dila membelakakkan matanya tak percaya hingga buku itu terjatuh. "Kamu..." Naya tersenyum tipis pada Bu Dila. "Saya boleh duduk?" tanya Naya berhasil membuat Bu Dila diam tak bergeming lalu menyerahkan laptop gadis itu. Naya pun tersenyum lebar mendapat persetujuan dari Bu Dila. Namun tiba-tiba matanya menyerngit menatap kursi yang ia duduki kemarin sekarang sudah duduk seorang siswa. Dengan ragu, Naya pun duduk disamping siswa itu. "Devin? Lo bukan imajinasi gue 'kan?" Devin menoleh tajam hingga membuat Naya kaget. "Kembali kepelajaran!" titah Bu Dila lalu membuka kembali buku pelajarannya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD