BAGIAN TIGA

891 Words
Naya dan Devin duduk berhadapan dengan kepala sekolah yaitu Lisa. Keduanya menampilkan tatapan sinis, sesekali Naya melirik Lisa. "Kalian kenalan dulu," titah Lisa dingin. Naya mengulurkan tangannya lebih dulu. "Naya," ucap Naya yang tak kunjung mendapat jawaban dari Devin. "Dev..." panggil Lisa dengan nada memelas. "Devin," ucap Devin membalas jabat tangan Naya. Beberapa detik berlalu jabat tangan keduanya terlepas. "Kenapa kalian ribut?" tanya Lisa melipat tangannya didada. "Dia nabrak, Nay terus marah-marah!" bela Naya berbangga diri. "Alasan tipis," ucap Devin menanggapi. "Eh! Yang salah itu elo! Jalan nggak liat-liat!" tunjuk Naya pada Devin. Devin menunjukkan jas seragamnya pada Lisa. "Bersihin baju gue!" ucap Devin menatap Naya tajam. "Nggak mau! Bacot banget sih! Kotor dikit doang, nyokap lo bakalan nyuciin kok!" omel Naya enggan menatap Devin. "Heh! Yang nyuruh kalian debat siapa!? Berdiri dilapangan sampai jam pelajaran berakhir!" ucap Lisa tegas. "Kok!?" Devin berucap tak terima atas ucapan Lisa. "Sekarang!" Lisa pergi dari ruangannya meninggalkan Naya dan Devin yang masih saling tatap dengan sinis. "Bersihin baju gue!" ucap Devin menghadap Naya. Naya meraih tissue yang kebetulan berada didekatnya. "Bersihin aja sendiri! Lo kira gue babu?" ucap Naya malas. Devin berdecak. "Bersihin baju gue! Ini salah lo, jalan sambil main HP! Nggak usah ngeles! Cewek nggak jelas!" Devin kembali memancing emosi Naya. Saat kepalan tangan gadis itu terangkat, matanya menatap sudut bibir Devin yang membiru, rasa iba melanda. Naya mengambil selembar tissue lalu mengusap-ngusapkannya pada noda jus di seragam Devin. "Bawel amat jadi cowok!" gerutu Naya kesal. Devin tidak menanggapinya dan memilih diam saat gadis itu membersihkan seragamnya akibat insiden di kantin beberapa menit lalu. Tatapan siswa-siswi SARANAYA tertuju ke tengah lapangan, dimana terdapat dua orang murid yang tengah berjemur padalah cuaca sedang panas-panasnya. "Eh! Devin tuh!" tunjuk Danis pada lapangan hingga membuat perhatian Anan, Sindy dan Lena tertuju pada Devin dan Naya yang tengah menjalani hukuman. "Dasar Naya." Anan terkekeh pelan. "Hebat, bisa bikin Devin dihukum. Padahal kalian tau sendiri kalau Devin murid terpintar SARANAYA," ucap Sindy. "Gue berharap, semoga aja Naya bisa runtuhin tembok es Devin! Hahaha!" tawa Lena pecah begitu pun Danis. "Yaudah, yuk lah kekelas," ajak Anan melanjutkan langkahnya. Mereka pun kembali berjalan menuju kelas masing-masing. Beralih pada lapangan, Naya melepas jasnya kemudian menjatuhkannya ketanah. "Gerah banget!" gerutu Naya mengusap pelipisnya. Ia menoleh pada Devin yang masih sigap hormat pada bendera. "Dev? Lo nggak gerah apa?" tanya Naya namun tak ada jawaban. "Ck... Ck... Muka lo emang sedingin ini? Datar aja nggak ada ekspresi," celoteh Naya menatap Devin polos. "Gue capek! Lo lanjutin hukuman, gue mau ngantin," dengan santainya, Naya memungut jas sekolah kemudian pergi, baru beberapa langkah tiba-tiba ia kembali menoleh kearah Devin. "Devin!" Naya memekik saat Devin tumbang tergeletak dilapangan. "Dev! Bangun!" "Devin! Ah masa pingsan sih!?" "Devin... Bangun woy!" "Tolong!!!" Beberapa siswa langsung membopong tubuh Devin dan membawanya ke UKS sesuai perintah Anan yang baru saja datang menghampiri. "Nan... Salah gue ya?" tanya Naya panik. "Nggak, kita susul Devin sekarang," ucap Anan dan mereka pun berjalan cepat menuju UKS. "Devin..." "Bangun dong..." Naya masih setia menemani meski jam pulang telah tiba, Anan sudah pulang begitu pun teman-temannya. "Lo pingsan atau tidur sih!?"  Naya kembali mengusapkan kain kompres pada sudut bibir Devin. Saat gadis itu tengah fokus, tiba-tiba mata Devin terbuka. "Buset dah, bibir lo sexy banget," puji Naya tak sadar akan bangunnya si pemilik bibir. "Ekhm!" Naya gelagap dan langsung menjauhkan diri dari Devin. Mata pemuda itu menatap jam dinding yang menujukkan pukul enam sore. Apa ia pingsan terlalu lama hingga membuat Naya tidak pulang. "Devin!" panggil Naya saat Devin pergi meninggalkan UKS. Ia pun menyusul dan berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Devin. "Aduh... Tungguin Nay!" Naya menggenggam lengan Devin hingga berhasil membuat pemuda itu menghentikan langkahnya. "Gue nebeng!" ucap Naya merapikan kembali tatanan rambutnya. "Nebeng?" tanya Devin bingung. "Nebeng! Numpang pulang, ya! Anan udah balik, sekolah juga udah sepi, jam segini mana ada taksi. Boleh kali," alis Naya naik turun dengan senyum lebar yang ia perlihatkan pada Devin. "Enggak." Devin melepaskan genggaman Naya secara paksa kemudian berjalan cepat menuju mototnya yang terparkir sendiri. "Devin... Nay nebeng ya! Boleh ya! Masa Devin tega liat Nay pulang sendiri, kalau ada yang nyulik Nay gimana?" Devin menarik napas panjang mendengar celotehan gadis itu. "Naik," ucap Devin dingin. "Hah? Ser---" Brem!!! "Aw!" "Devin sialan!!!" Naya berteriak mengumpat secara estetik saat Devin tancap gas hingga membuat pantatnya berciuman dengan tanah. "Jahat banget sih!" Naya bangkit sambil mengusap telapak tangannya yang terlihat tergores. "Mana udah gelap," ucap gadis itu lagi. Wajah cemberut Naya berganti menjadi senyuman lebar saat rintik-rintik hujan mulai jatuh kewajahnya. "Hujan!!!" pekik Naya kegirangan saat hujan turun dengan derasnya. Bukannya menepi, ia malah bermain bersama hujan, melompat girang dan berteriak mengeluarkan kekesalan hatinya. Naya suka hujan, sangat suka! "Nayaaa!" teriakan seorang pemuda membuat Naya menoleh. Anan berada dimobil, mimik wajahnya menandakan kepanikan. Anan pun turun dari mobil kemudian menghampiri Naya. "Nay! Jangan hujan-hujanan! Nanti---" Kalimat Anan terhenti saat Naya memeluknya begitu erat. "Ayo main hujan!" ajak Naya seperti anak kecil. Anan tersenyum lalu mencium pipi saudarinya itu berkali-kali. "Dasar!" ucap Anan membiarkan Naya hujan-hujanan. Dwarrr!!! "Anan!" Naya memekik kaget lalu memeluk Anan kembali dengan sangat erat. "Nay takut!" ucap Naya dengan napas tergesa-gesa. "Oke... Oke... Kita pulang." Anan menuntun Naya menuju mobil, saat mobil sudah pergi Devin pun keluar dari persembunyiannya. "Suka hujan tapi takut petir," ucap Devin lalu pergi menghampiri motornya yang terparkir tak jauh dari sana. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD