Chapter 10 - Pertarungan

1078 Words
He Hua bangkit dari posisi duduk berjalan mencari sumber suara pedang beradu tersebut. "He Hua kau mau kemana?" Mei Hwa berlari menyusul He Hua yang berada beberapa langkah di depannya. "Eh, tunggu aku!" ujar Asmitha Kumari berlari mengejar kedua sahabatnya itu. Mereka bertiga berjalan berdampingan di jalan setapak. Mei Hwa diapit oleh He Hua dan Asmitha Kumari. Dari ketiga gadis itu yang paling pendek adalah Mei Hwa. "Ini bukan seperti suara latihan pedang, tapi lebih terdengar pertarungan antar kelompok." Kalimat yang diucapkan He Hua memecah keheningan yang beberapa saat tercipta. "Kita harus hati-hati," sahut Mei Hwa. Dengan bantuan cahaya perak sang Dewi Bulan dan lampu senter yang berasal dari smartphone He Hua menerangi setiap langkah yang diambil mereka bertiga. Aku takut dengan keadaan gelap seperti ini, ringis He Hua dalam hati. Tapi aku penasaran sekali, siapa yang sedang bertarung itu, pikir gadis itu bimbang. "Apa sebaiknya kita pulang saja? Gelap sekali, aku takut ada hewan liar yang menyerang kita." Sekujur tubuh Asmitha Kumari merinding ketakutan. "Mana ada hewan liar, jika pun ada aku akan menjadikanmu umpan," balas Mei Hwa. "Ah, kejam sekali kamu! Aku datang jauh-jauh ke Academy Chao Xing dari kampung halamanku untuk belajar bukan menjadi mangsa hewan liar," keluh Asmitha Kumari mengetuk pelan kepala Mei Hwa. Gadis berambut ikal cokelat sepinggang itu meringis kesakitan, mengusap kepalanya pelan. Aroma anyir darah menguar di udara membuat He Hua menutup hidung. Di depan sana sekelompok orang-orang sedang bertarung, menyerang satu sama lain, saling membunuh. Pedang dan energi spiritual saling beradu. Suara pekikan kesakitan terdengar menyayat hati. Jasad-jasad jatuh bergelimpangan di atas tanah, membanjiri dan mengotori rumput-rumput hijau. Batang-batang bambu yang tidak bersalah pun ikut tersabet. He Hua menutup mulut tidak percaya dengan pemandangan yang ada. Selama ini, dia tidak pernah melihat adegan pertarungan secara langsung. Wajah orang-orang yang sedang bertarung itu tidak jelas. Wajah mereka tertutupi kerudung hitam yang menjuntai sampai ke bawah. Lawannya adalah sekelompok laki-laki yang memiliki kain putih diikat di lengan. "Kita harus cepat pergi dari sini!" seru He Hua yang dituruti dua sahabat barunya itu. Sewaktu berlari Asmitha Kumari tanpa sengaja menabrak batang bambu. Dia meringis kesakitan.Suara ringisan gadis India itu menarim perhatian pria-pria berjubah hitam. "Kejar ketiga Gadis itu!" teriak salah seorang pria berbadan besar. "Jangan ada yang berhasil lolos!" "Celaka! Celaka mereka mengejar kita!" He Hua sangat takut. "Asmitha ini semua karena kamu! Kita ketahuan!" tuding Mei Hwa kesal. "Sudah, sudah berhenti bertengkar!" He Hua mencoba menengahi. "Kita harus memikirkan bagaimana caranya agar kita lolos!'' lanjutnya. Mereka bertiga berlari secara bersamaan. He Hua berlari lebih cepat dari kedua temannya. Orang-orang berjubah hitam itu terbang dan melompat di batang-batang bambu dengan lihai. Tujuh orang pria berkerudung hitam melompat di hadapan mereka menghentikan laju lari. Mereka mengelilingi He Hua, Mei Hwa, dan Asmitha Kumari. Terjadi pertarungan secara singkat. Ketiga gadis itu berusaha menghindar. Mereka bertiga tersudut, energi spiritual yang kuat mengunci mereka bertiga di dalam gelembung transparan. Tubuh mereka bertiga bergetar hebat ketakutan. Asmitha Kumari mencoba mengarahkan telapak tangannya ke dinding gelembung di depannya. Cahaya kuning keluar menabrak dinding gelembung. Kekuatan gelembung itu lebih kuat dari energi spiritual Asmitha Kumari. Gadis yang memiliki tinggi 168 cm itu terlempar menabrak dinding gelembung bagian belakang. Penjara gelembung itu menyerang balik. Asmitha Kumari memegangi dadanya yang terasa sakit. "Asmitha kau tidak apa-apa?" tanya He Hua dan Mei Hwa bersamaan sembari membantu Asmitha Kumari berdiri. Sabetan luka di bahunya membuat He Hua meringis kesakitan. Bahunya seakan mati rasa. "Sial, pedang yang mereka gunakan beracun." Duak Tujuh orang pria itu terlempar dan jatuh ke tanah berubah menjadi abu hitam, lalu asapnya masuk botol yang ada di tangan Fu Shi. Dari arah belakang seorang pria yang memiliki tinggi 182 cm berdiri tegap. Rambut putih panjangnya berkibar tertiup angin. Cahaya bulan menerangi wajah pria itu. Sekilas dia tampak seperti seorang dewa yang turun dari langit. "Hantu gentayangan?" beo He Hua tak percaya. Fu Shi mengarahkan energi spiritual memecahkan gelembung transparan. Ketiga gadis itu menangkap suara pecahan kaca. **************************************** Fu Shi mengajak ketiga gadis itu ke gazebo terdekat. He Hua duduk di kursi semen meringis kesakitan, air matanya meleleh. Sabetan luka di bahunya mengeluarkan cairan merah mengotori hanfu putih bersih yang dipakainya. Detak jantungnya melambat. He Hua memegangi kepalanya yang berdenyut sakit dan perutnya secara bergantian. "Aduh, kepalaku sakit sekali seperti ditimpah ribuan palu." He Hua menutup matanya, perutnya melilit kesakitan. Mei Hwa tidak terluka sama sekali, hanya saja rambut ikal panjangnya berantakan, perhiasan-perhiasan yang dipakainya diambil oleh pria bertudung hitam. Hanfu kuning cerah bersulam bunga phoenix kotor terkena debu, tanah, dan percikan darah. Dada Asmitha Kumari masih terasa sakit. Keningnya memerah bekas menabrak batang bambu. Kaki bagian kanannya terluka cukup parah, darah segar merembes menetes di setiap tempat yang dilewati. Kekuatan spiritual mereka belum terlalu kuat oleh karena itulah mereka mudah dikalahkan oleh sekelompok pria berjubah hitam. He Hua hampir saja jatuh. Tubuhnya tidak bertenaga seperti jelly. Fu Shi dengan sigap menangkap gadis itu agar tidak jatuh ke tanah. "Nona? Nona !" Fu Shi menggoyangkan bahu He Hua. Pria itu menyandarkan He Hua di dinding gazebo, lalu memeriksa denyut nadi spiritualnya. "Dewa Penyelamat tolong selamatkan He Hua," pinta Mei Hwa. "Pasti aku akan menyelamatkan Nonaku." "Denyut nadi spiritualnya dalam kondisi baik, tapi kondisi tubuhnya terluka parah. Detak jantungnya melambat." Fu Shi memunculkan peralatan medis jarum-jarum akupuntur. Ada begitu banyak bentuk dan ukuran di kotak kayu segi empat itu. Tangan dan pandangan Fu Shi mencari jarum akupuntur yang tepat sebelum mengambilnya. Fu Shi menancapkan jarum akupuntur ke jari telunjuk He Hua, kemudian mengeluarkannya. Fu Shi menyelupkan benda tajam itu ke dalam mangkuk kecil berisi air. Pria itu mengambil seutas kain putih polos mengusap jarum akupuntur tersebut. Air di dalam mangkuk keramik putih itu berubah hitam. Fu Shi terkejut. "Tidak salah lagi racun yang mereka gunakan adalah racun digoxin. Gejalanya detak jantung melambat, kepala sakit, dan perut sakit." "Kalian berdua juga terluka, ayo obati luka kalian." Fu Shi menatap kedua gadis itu secara bergantian. Fu Shi mengambil mangkuk keramik mengarahkan kekuatan spiritualnya untuk membuat air. Asmitha Kumari mengambil semangkuk air yang dibuat Fu Shi. Dia membersihkan luka di kakinya, lalu membalutnya. Kekuatan spiritualku hanya tersisa dua puluh persen lagi, aku tidak mungkin memakainya. Hanya bisa memakai cara manusia fana, batin Asmitha. Mei Hwa mengarahkan energi spiritual ke tubuh He Hua membantu Fu Shi membersihkan racun digoxin yang menyebar di aliran darah gadis itu. "Racunnya terlalu kuat," ujar Mei Hwa. "Kita harus berusaha menghilangkan sebagian racunnya agar efeknya berkurang," sahut Fu Shi. ******************************************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD