Sudah satu jam lebih He Hua berada di dalam perpustakaan Academy Chao Xing. Lehernya juga sudah pegal membaca tiap lembar buku.
He Hua menghembuskan napas keras. "Sampai kapan aku harus di perpustakaan?" keluhnya dengan nada kesal.
"Semua buku yang aku baca tidak ada yang menyinggung tentang giok yang terbuat dari permata." He Hua menyenderkan punggungnya di kursi nyaman.
"Aku harus bagaimana, jangankan mau mencarinya, bentuknya saja tidak tahu sama sekali apa bentuknya segi tiga, segi lima, limas, kotak, atau lingkaran?"
"Ah, sudahlah aku sudah pusing mencari buku itu! Aku akan mencari buku yang menarik saja!"
Ruangan luas yang diisi buku-buku beragam jenis yang bermanfaat untuk belajar murid-murid Academy Chao Xing. Rak-rak tinggi dan besar yang bisa menampung lima ratus buku dalam satu satu rak. Perpustakaan sekolah He Hua di SMA Pinghe sampai terlempar jauh jika dibandingkan dengan perpustakaan Academy Chao Xing. He Hua mendongak ke atas atap coklat membungkus ruangan perpustakaan. Keramik tempat berpijak berwarna putih gading.
Tangan lentik gadis bermarga He membuka buku-buku yang diatur berbaris. Dia mengambil salah satu buku, membawanya ke meja untuk dibaca.
Suara buku-buku berjatuhan memecah konsentrasi He Hua yang tengah membaca buku.
"Siapa yang menjatuhkan buku-buku? Apa itu hantu?" tanya He Hua pada dirinya sendiri. Dia berjalan mendekati asal sumber suara.
Seorang laki-laki sedang memungut buku-buku yang berserakan di lantai marmer.
"Ternyata orang bukan hantu, syukurlah," ucap He Hua pelan.
He Hua membantu membereskan buku-buku yang berjatuhan meletakkan ke dalam rak buku.
"Murid He Hua!" sapa Dugu Muxue menangkupkan tangan.
"Murid Dugu Muxue!" sapa He Hua balik menangkupkan tangan.
"Terima kasih atas bantuannya, aku tadi tidak sengaja menjatuhkannya."
"Kau ingin mencari buku apa?" tanya He Hua berharap bisa membantu.
"Aku ingin mencari buku tentang mengembang biakkan tanaman bunga, tapi aku lama mencarinya belum ketemu. Jika He Hua tidak keberatan tolong bantu aku mencarinya," pinta Dugu Muxue tersenyum.
He Hua mengangguk. "Aku tadi melihat buku itu, sebentar aku akan mencarinya."
He Hua mengambil buku di rak ketiga, memberikannya kepada Dugu Muxue. "Ini bukunya."
"Terima kasih, He Hua."
"Ayo kita baca di sana saja ada meja," ajak He Hua.
Mereka duduk bersampingan membaca buku masing-masing. Beberapa saat keheningan menguasai beberapa saat di ruangan perpustakaan.
"Dugu Muxue, apa kamu pernah dengar tentang giok yang terbuat dari permata?" tanya He Hua.
Dugu Muxue mengalihkan pandangan ke gadis di sampingnya, dia mencoba mengingat-ngingat. "Tidak pernah mendengarnya."
"Oh, begitu ya?" jawab He Hua kecewa.
"Kenapa?" tanya Dugu Muxue.
He Hua menggeleng. "Tidak apa-apa, hanya asal bertanya."
"Tapi jika ingin melihat banyak jenis giok adanya di istana Kerajaan Yun Zhi, He Hua."
Mungkin saja giok permata itu ada di Kerajaan Yun Zhi, batin He Hua.
"Bisa bawa aku ke sana?" pinta He Hua.
"Sayangnya aku tidak memiliki wewenang keluar masuk Kerajaan Yun Zhi. Kerajaan Yun Zhi dijaga dengan ketat oleh prajurit, pengawal kerajaan."
"Yang memiliki akses keluar masuk keluarga kerajaan, pejabat kerajaan dan orang-orang yang berkepentingan."
Sorot mata He Hua sendu dan murung. "Baiklah, jika begitu."
******************************************
He Hua memutuskan untuk jalan-jalan di pemukiman penduduk. Dia memakai hanfu merah muda, rambut hitam panjangnya dikepang satu. Tujuan dia ingin mencari pekerjaan mendapatkan beberapa koin.
Rumah-rumah penduduk sederhana. Tidak ada suara mesin mobil dan motor serta bunyi klakson yang saling bersahut-sahutan. Udara masih bersih dan segar. Akses jalan terbuat dari tanah belum diaspal.
Ada yang sedang menyapu halaman rumah, membersihkan rumput-rumput panjang, menjaga anak dan menyiram tanaman.
"Dimana aku bisa mendapatkan pekerjaan?"
Di depan seorang dua orang laki-laki sedang membersihkan dan memberikan makan kuda di kandangnya.
"Tuan boleh aku bekerja di sini?" tanya He Hua saat di dekat seorang pria dewasa.
"Kau mau bekerja di sini apa tidak salah?" Laki-laki dewasa yang seumuran dengan ayah He Hua melihat penampilan gadis yang berdiri di hadapannya tidak percaya.
"Tampaknya Nona berasal dari salah satu keluarga bangsawan, kenapa perlu repot-repot bekerja di kandang kuda?" tanya pria itu.
Keluarga bangsawan apanya? Di dunia ini saja dia tidak siapa-siapa kecuali sahabatnya, ucap He Hua dalam hati.
"Ayolah Tuan beri aku pekerjaan, aku janji akan mengerjakannya dengan baik," mohon He Hua.
Berulang kali He Hua membujuk hingga pria pemilik kandang kuda menyerah dan menyetujuinya.
"Baiklah, karena Nona terus memaksa saya bisa apa? Nona bisa mulai bekerja mulai hari ini, Nona hanya perlu bekerja pada sore hari memandikan kuda dan memberi makan kuda."
He Hua tersenyum, dia melompat senang. "Terima kasih Tuan."
"Saya ada beberapa hal yang harus dikerjakan, Nona silakan."
He Hua mengambil rumput-rumput menyodorkannya kepada seekor kuda di kandang paling ujung.
"Halo kuda, mulai hari ini aku yang akan mengurusmu." He Hua mengusap kepala kuda yang memiliki bulu-bulu putih bersih. Dia tersenyum ramah.
"Nona, jangan dekati kuda itu!" seru seorang pria berlari tergesa-gesa menghampiri He Hua.
He Hua menoleh. "Kenapa?" tanyanya
"Kuda putih ini adalah kuda liar, dia bisa melukaimu."
He Hua malah mengusap surai rambut putih kuda itu. Hewan berkaki empat itu menikmati elusan He Hua.
"Kenapa dia tidak meringkik ganas seperti biasanya?" tanya pria itu heran.
He Hua mengangkat bahunya rendah. "Tidak tahu, mungkin aku mirip dengan induknya," ujar He Hua bercanda.
Xi tertawa pelan. "Bisa saja kau Nona."
"Nona siapa namamu?" tanya pria itu.
"Namaku He Hua."
******************************************
He Hua menghitung beberapa uang koin yang didapatkan hasil bekerja hari ini.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan."
"Lumayan delapan koin perunggu." He Hua menyimpan koin perunggu itu di dalam tas kecil bersulam bunga pemberian Mei Hwa.
"Kau darimana saja He Hua? Aku mencari di seluruh Academy, tapi tidak bertemu," ujar Asmitha.
"Aku tadi jalan-jalan," balas He Hua.
Asmitha mencium bau yang asing, dia berputar mengelilingi He Hua. "Bau rumput, bau kuda."
"Biar kutebak kau habis memotong rumput dan mencuri kuda, katakan dimana kuda yang kau ambil?" Asmitha mengintrograsi He Hua seperti seorang petugas Departemen Selatan.
"Aku memang bermain dengan rumput. Jangan sembarangan, aku tidak mencurinya!" jelas He Hua.
"Baiklah, satu jam yang lalu Li Xinyuan mencarimu," ucap Asmitha Kumari.
"Lalu dia bilang apa lagi?" tanya He Hua.
"Li Xinyuan tidak mengatakan apapun. Mungkin dia akan datang lagi."