Tidak disangka dia begitu baik kepadaku. Padahal kami sering berdebat di kelas, rebutan buku, bertengkar di ruang makan, batin He Hua tersenyum mengingat kenangan.
He Hua mengetuk pintu kamar pertama perlahan. Diperbolehkan masuk, dia menggeser pintu ke kiri.
"Apa tujuanmu datang kemari?" tanya Li Xinyuan, dia duduk di atas ranjang posisi bersila.
"Kedatanganku ke kamar pertama menemuimu untuk berterima kasih." He Hua meletakkan seteko teh dan dua cangkir kecil berbahan keramik di atas meja.
"Baiklah, ucapan terima kasih diterima." Li Xinyuan bangkit dari posisi bersila berjalan mendekati He Hua yang berada di tengah ruangan.
"Kau tahu alasan aku menolongmu?" pancing Li Xinyuan.
Karena tidak ada jawaban dari He Hua, Li Xinyuan melanjutkan ucapannya. "Kalau kamu sakit, aku tidak memiliki teman berdebat." Seorang Li Xinyuan sulit untuk berterus terang. Egonya terlalu tinggi untuk mengatakan jika dia mengkhawatirkan keadaan si Gadis Manja, teman berdebat.
He Hua menghembuskan napas, terlihat kecewa. "Baiklah, apapun alasannya aku tetap berterima kasih."
He Hua sedikit kesal dengan jawaban Li Xinyuan. Xinyuan menahan tangan kanan He Hua saat gadis itu hendak melangkah keluar. "Kenapa lagi?" ketusnya.
"Temani aku jalan-jalan anggap saja kau membalas budi kepadaku."
"Baiklah, aku setuju." He Hua mengangguk setuju.
*****************************************
Keduanya berjalan di tengah keramaian kota menikmati pemandangan sore. Toko dan kedai dipenuhi pelanggan yang mencari barang-barang kebutuhan. Para pedagang kecil menjajakan makanan yang mereka jual di setiap orang yang lewat, jika cocok orang yang lewat akan membeli atau sebaliknya jika tidak cocok akan berlalu begitu saja.
Entah apa yang merasuki si Tukang Sambung Listrik alias Li Xinyuan sehingga dia sudi mengajakku pergi jalan-jalan? batin He Hua sampai keheranan dengan tingkah laku pria yang berjalan tenang di sampingnya itu.
Tidak jarang para gadis genit yang lewat akan menggoda Li Xinyuan mengatakan hal-hal seperti bahwa pria itu tampan, meminta agar ayahnya melamar Xinyuan dan sekedar mengusap bahu pria itu.
Uh, mereka tidak tahu saja sifat dan kelakuan pria yang dibilang tampan itu sangat menjengkelkan dan bikin urat-urat leher menegang, batin He Hua.
"Kita sebenarnya mau ke mana?" He Hua menoleh menatap Li Xinyuan yang juga menatapnya.
Xinyuan mengalihkan pandangan ke depan memperhatikan jalan dan orang-orang yang berlalu lalang. "Ke hutan belakang Academy Chao Xing," ucapnya tenang tanpa merasa bersalah membuat kaki He Hua pegal karena berkeliling.
Ingin rasanya He Hua menjitak dengan keras kepala pria yang menjengkelkan itu atau menyeburkannya ke dalam sungai. "Kenapa tidak langsung saja dan kenapa harus berkeliling kota?" sahutnya gemas.
"Oh, anggap saja olahraga ringan," ujarnya santai.
Astaga Tukang Sambung Listrik ini benar-benar keterlaluan! batin He Hua.
Jika tidak memandang kebaikanmu aku akan meninju perutmu sampai kau meminta ampun kepadaku, ucap He Hua dalam hati.
Matahari sudah menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Cahaya kuning emas bagaikan nyala api di sela-sela langit. Kawanan burung-burung melintasi langit yang berwarna kemerahan. Pemandangan alam ini merupakan suatu keindahan. Batang - batang bambu membentuk bayangan.
"He Hua kau tahu warna merah yang tercipta di langit disebabkan karena apa?" tanya Li Xinyuan sambil mendongak memandang cakrawala.
"Tidak tahu."
"Pada saat matahari terbenam dan terbit akan muncul cahaya yang khas. Itu semua disebabkan oleh kombinasi hamburan Rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer Planet Mubiao."
"Berarti jika tidak ada kombinasi hamburan Rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer Planet Mubiao, maka warna langit saat matahari tenggelam dan terbit tanpa warna?" tanya He Hua yang dijawab anggukan pelan Li Xinyuan.
He Hua ada keanehan di balik semak-semak yang tumbuh di sekitar tanaman bambu. Dia menemukan token, ukurannya kecil dan berbentuk segiempat.
"Tukang Sambung Listrik, lihat aku menemukan sesuatu!" seru He Hua mengangkat token tersebut, Li Xinyuan menghampirinya. "Coba aku lihat." Dia membolak-balik benda tersebut.
"Ini adalah token. Di mana kamu menemukannya?" Li Xinyuan menatap gadis berkepang dua di hadapannya, ekpresinya datar.
He Hua menunjuk tempat dia menemukannya. Li Xinyuan menyimpan token tersebut di pinggangnya, tangannya menggenggam tangan He Hua erat mengajaknya pulang ke asrama sebelum malam semakin larut.
******************************************
Genggaman hangat tangan Li Xinyuan masih membekas di hati He Hua. Perlakukan tiba-tiba itu membuat sesuatu hal yang asing muncul. Dia tersenyum sendiri.
Sudahlah He Hua jangan memikirkannya terus. He Hua tidak boleh, batin He Hua memukul kepalanya pelan.
"Bagaimana apa sudah berterima kasih kepadanya?" Asmitha, gadis yang suka menari itu muncul tiba-tiba di hadapan He Hua yang sedang melamun.
"Hantu! Jangan dekati aku!" jerit He Hua kaget setengah mati.
"Ini aku Asmitha Kumari, bukan hantu, He Hua." Asmitha menekan setiap kalimat yang diucapkannya.
Di India, nama yang paling belakang adalah marga atau nama keluarga seperti nama Asmitha Kumari, Asmitha namanya, dan Kumari adalah nama keluarga.
"Kelak jangan tiba-tiba muncul dan mengagetkanku," pinta He Hua.
"Iya, aku tahu." Asmitha menggoyangkan kepalanya ciri khas orang India.
"Habisnya kamu ditanya malah melamun dan tersenyum sendiri seperti orang yang tidak waras."
"Oh, aku tahu kamu dengan Li Xinyuan pasti habis kencan. Itulah sebabnya wajahmu memerah dan terlihat begitu senang."
He Hua menepuk pundak Asmitha pelan. "Jangan sembarangan! Mana ada kencan, yang ada diajaknya keliling kota Guzang. Kau tidak lihat kakiku sampai pegal."
He Hua memijit kakinya di atas ranjang bersprei hijau daun. "Oh, ya di mana Mei Hwa?" tanyanya mengalihkan topik.
"Hm, Mei Hwa gadis itu meminta izin dua hari kepada pihak Academy Chao Xing, katanya ada sedikit masalah di keluarganya, tapi jangan khawatir aku sudah meminta Mei Hwa membawa oleh-oleh atas namamu."
"Kenapa atas namaku? Kenapa tidak pakai namamu sendiri?" tanya He Hua heran.
"Kelihatannya Mei Hwa begitu peduli padamu, jadi kalau menggunakan namamu pasti dia tidak akan menolaknya," jelas Asmitha.
"Pandai sekali!"
"Lain kali jangan begitu tidak enak."
"Asmitha kapan-kapan ajak aku ke India, aku sangat penasaran bagaimana rupa India." Asmitha mengangguk pasti.
"Aku pasti akan membawamu liburan ke India jika pihak Academy memberikan libur."
"Aku akan menunggu kesempatan itu datang. Kamu berani sekali mengambil resiko untuk belajar di Academy Chao Xing."
Asmitha tersenyum. "Belajar di negeri orang lebih menyenangkan dan belajar hal-hal baru bersama orang baru."
"Dan kamu sendiri bagaimana apa keluargamu berada di wilayah Kerajaan Yun Zhi?" tanya Asmitha.
"Hm, keluargaku tidak tinggal di dekat sini, mereka ada di kota lain."
Belum saatnya kamu tahu tempat asalku yang sebenarnya, batin He Hua.