“Akhirnya kita bisa bertemu.” Bram menarik kursi di samping gue tanpa meminta izin. “Ada apa?” “Aku mau bicara sama kamu.” “Seribu kali kamu bicara sama aku jawabannya tetap sama. Kita hanya teman.” Bram meraih tangan gue menggenggamnya erat, tapi gue segera menepisnya. “Aku nggak bisa hidup tanpa kamu Santi.” Rayuan maut yang sudah basi itu terlontar dari bibirnya. Gue paling nggak suka dirayu. Geli. “Itu artinya lo penyakitan. Coba lo bawa ke dokter siapa tahu lo bisa hidup tanpa gue.” Santi terdiam memperhatikan kami berdua. “San, apa nggak ada kesempatan kedua buat aku? Kalau kamu mau aku berlutut aku akan melakukannya. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama wanita itu. Aku benar-benar mencintai kamu.” Santi berdiri membuat gue dan Bram menatapnya. “Lo emang cowok nggak tahu dir

