POV Mira Aku menatap Puspita yang terus melambai-lambaikan tangan ke arah mobil yang melaju pelan. Sok romantis banget. Lihat saja, Mas Rasya pasti bakal kumiliki seutuhnya. Baik cepat maupun lambat. Aku tersenyum sinis saat ia membalikkan badan lalu melangkah ke arahku dengan wajah riang. "Ayo, kutunjukin kamar Mbak Mira." Aku membuntut di belakangnya dengan d**a berdebar, sungguh ingin memaki atau menyakitinya. Karena dia, pernikahanku dan lelaki yang kucintai gagal. Sumpah ingin rasanya kusepak kakinya biar ia terjatuh lalu keguguran biar mampus. Tapi jika melakukannya, pastilah aku yang dituduh mengingat hanya ada aku dan dia di sini. Rumah begitu sepi dan tidak ada siapa-siapa. Mataku melebar saat ia mendorong pintu kamar, satu-satunya kamar di dapur selain kamar mandi. Dalamnya

