Hingga dinihari, aku terus memikirkan sikap Mas Rasya juga perkataan Mbak Mira sampai akhirnya jatuh tertidur. Rasanya baru saja lelap saat Mas Rasya mengguncang tubuhku perlahan. Aku membuka mata yang begitu berat karena masih sangat mengantuk. Sayup-sayup terdengar kumandang azan subuh. "Bangun. Kita salat subuh berjamaah." Mas Rasya mengulurkan tangan. Aku menggeliat pelan, menerima uluran tangannya lalu beranjak bangun dengan ogah-ogahan. "Setelah salat, buatkan aku wedang jahe. Lalu kita jalan-jalan di taman." Aku menguap sambil mengusap-usap mata. Apa aku tak salah dengar? Tak biasanya Mas Rasya mengajakku jalan-jalan pagi. "Males, Yang. Aku kan harus masak." "Ibu hamil harus rajin jalan-jalan biar lahirannya lancar. Aku juga agak stres banyak pikiran." Aku memperhatikan wajahn

