POV Mira "Aku akan masak," kataku gugup, mengalihkan pandang dari Puspita yang menatapku menyelidik lalu membalikkan badan dan melangkah menuju dapur. Di dapur, aku tak bisa tenang. Terus mondar-mandir dengan jantung berdetak sangat kencang. Napasku sedikit memburu dan keringat dingin menyerbu cepat membuat wajah, bahu, juga telapak tanganku basah. Bagaimana kalau Ibu benar-benar sadar dan menceritakan semuanya? Gawat-gawat. Bagaimana ini? Dadaku berdebar keras karena terus membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana kalau sampai Ibu menceritakan semuanya? Bisa berantakan semuanya. Bunyi derum mobil membuatku tambah was-was saja. Aku setengah berlari menuju kamar lantas menyambar HP, menghubungi Kak Satria. Tak menunggu waktu lama panggilanku diangkat. "Halo, Kak. Halo," kataku sambil

