Chapt. 3

1261 Words
Waktu berganti begitu cepat. Setelah kejadian tadi siang yang menurut mereka begitu aneh. Kini mereka berempat menyibukkan diri pada tugas yang harus dikumpul esok hari. Zaina tampak bergelut dimeja belajarnya dengan laptop yang menyala. Jemarinya dengan lincah begerak menekan keyboard. Menyusun hufur demi huruf menjadi kalimat. Ada buku tebal disamping kirinya. Tugasnya sekarang adalah merangkum materi dri buku tebal itu. Tibak banyak, hanya 25 lembar saja. Dijadikan dalam powerpoint untuk ia persentasikan. Hingga tanpa ia sadari, umi tengah berdiri dibelakangnya menatap sang anak yang tengah bahkan tidak mendengar ketukan pintu. Ternyata Zaina tengah menyumpalkan Handseat dikedua telinganya. Umi menggeleng, kemudian menyenduh bahu Zaina hingga membuat nya terlonjak kaget. "Umi, kapan masuk? Ya Allah, Zaina keget mi." Umi terkekeh, "Lagian, kamu umi ketuk pintu berkali-kali gak dengar. Ternyata pakai ini."tunjuk umi pada Handseat di ditangan Zaina. "Maaf mi, Zaina lagi bikin tugas. Biar konsentrasi, Zaina pakai ini." "Ya sudah, gak apa. Tugas apa itu?" "Biasa mi, ngerangkum tugas." Umi mengangguk, "Banyak?" Zaina melirik laptop dan bukunya bergantian, "Lumayan." "Ya sudah, nanti dilanjut lagi. Makan dulu." "Ya Allah, Zaina gak inget waktu. Ayo mi, kita makan." Umi hanya terkekeh saat Zaina begitu cemas meninggalkan jam makan malam. Anak satu-satunya itu menarik tanyannya menuju ruang makan. Dimana sang abi - Mauza tengah menunggu mereka. "Tumben nak telat keluar kamar?"tanya Mauza. "Maaf bi, Zaina lupa. Tadi keasikan bikin tugas." "Ya sudah. Ayo kita makan." *** Tok tok. "Masuk." Pintu coklat itu terbuka dengan perlahan. Laki-laki paruh baya berdiri disana dengan senyum tampannya.  "Boleh ayah minta waktu mu sebentar?" "Ayah. Masuk saja." Laki-laki paruh baya itu berjalan masuk setelah menutup pintu. Duduk disamping sang anak yang berada disofa. "Ada apa yah?" "Ayah ganggu kamu?" Sang anak menggeleng, "Enggak, kenapa?." "Nak, boleh ayah tanya sesuatu?." Sang anak mengangguk, "Boleh." Laki-laki paruh baya itu, menghela nafas kasar. "Boleh ayah tahu, sampai kapan kamu akan menjai dosen disana? Ayah butuh kamu untuk meneruskan perusahaan ayah." Azzam Khalif Putra Ahmad. Seorang dosen disalah satu Universitas di Jakarta. Wajah tampannya selalu menjadi perbincangan di kampus. Cara mnegajarnya yang cool  membuat para mahasiswi terpesona dan terkagum. Perawakan tinggi, tegap dan berkarisma. Wajah lancip, hidung mancung dan alis tebal. Tak lupa juga tatapan nya yang seolah-olah dapat melelehkan siapapun yang melihatnya. Anak pertama dari Abrisam—Ayah ku dan Ghania—Ibu ku. Adik ku bernama Amara Navisha. Berumur 27 tahun.  "Aku masih belum tahu yah. Aku masih cukup sulit melepaskan jabatanku sebagai dosen." "Tapi bagaimana dengan perusahaan?Jika boleh jujur, ayah sudah tidak kuat. Ayah ingin menikmati masa tua ayah dirumah bersama Ibumu." "Tapi aku..." "Nak, jika bukan kamu. Siapa lagi yang ayah andlkan? Adik mu Amara sudah jauh dari kita."potong Abrisam. "Tapi.... Begini saja. Beri aku waktu 3 bulan. Ya, tiga bulan saja. Aku masih ingin menikmati masa-masaku sebagai dosen." "Baiklah. Hanya tiga bulan. Ingat baik-baik nak." Azzam mengangguk, "Iya yah. Tiga bulan." "Baiklah. Terimakasih waktu senggangnya. Ayah senang berbincang denganmu. Rasanya sudah lama sekali tidak seperti ini." Azzam terkekeh, "Ayah bahkan selalu berbincang saat dimeja makan." "Itu beda anakku. Ah kamu ini. Sudah, ayah istirahat dulu. Kamu juga, jangan bergadang." "Siap ayah. Selamat malam." "Malam." Senyum Azzam luntur seketika setelah pintu tertutup. Ia menghela nafas dengan kasar. Sungguh, ia masih belum rela melepas jabatannya di kampus. Rasanya, jika ia berbaur di kampus dengan mahasiswa lainnya, mengingatkan pada waktu ia berkuliah dulu. Sebentar lagi, jabatannya itu akan menghilang dalam tiga bulan. Digantikan dengan jabatan CEO di perusahaan ayahnya. Kenapa harus begini. Nantinya, akan menjadi terkekang. Selalu berada diruangan, walaupun dikampus juga akan di ruangan.  Tapi semua berbeda. Mau bagaimana lagi. Ini sudah yang ke sekian kalinya sang ayah memintanya menggantikan jabatannya. Selalu ia tolak dengan alasan yang sama. Tapi untuk kali ini saja, biarkan ia merelakan segalanya. Demi masa tua orang tuanya. Setidaknya hanya itu yang ia berikan. *** Deru nafas yang tak beraturan dengan langkah kaki yang begitu cepat. Menyusuri malam yang sunyi. Menghindari dari kejaran. Membuatnya ketakutan dengan peluh didahi. "Jangan lari kau!." Pekikan itu, mnejadi pertanda bahwa dirinya harus berlari secepat mungkin. Menghiraukan rasa lelah dan sakit dikakinya akibat berlari terlalu jauh. "AKU TELAH KATAKAN, JANGAN LARI DARIKU ZAINA!!!." "Tolong aku ya Allah."gumam Zaina. "BERHENTI!" DOR DOR. Zaina membuka matanya dengan peluh yang mengalir dari dahinya. Nafas yang tak beraturan. Melirik kesana kemari dengan cemas. "Ya Allah."gumamnya. Meraih air putih dinakas lalu meneguknya hingga tandas. Melafazkan kata Astagfirullah berkali-kali. Menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Setelah tenang, ia kembali membaringkan diri. Kenangan itu kembali lagi, membuat tidur nya tak nyenyak. Dengan segera ia beranjak untuk sholat Tahajjud. Menenangkan diri dengan mendekatkan diri pada Pencipta. Setelah selesai, ia meraih tasbih kemudian berdzikir. Salah satu cara yang dapat membuatnya tenang. Setelahnya ia kembali berbaring, tanpa dapat memejamkan mata. Kepalanya terasa sakit sekarang. Ia yakin, esok ia akan terserang demam. Seperti biasa. *** Pagi telah datang. Nazia mengetuk pintu kamar Zaina. Tapi sang pemilik tidak membukanya, kecemasan mulai menghampiri. ia membuka pintu dan mendapati sang anak tengah bergelung di selimut dengan menggigil. "Zaina?" "U-umi."ucap Zaina terbata-bata. "Ya Allah kamu demam. Abi!" pekik Nazia. Mauza yang ada di kamar, langsung berlari saat pekikan sang istri menggema. "Ada apa?" "Zaina demam." Mauza berjalan mendekat. Menempelkan tangannya didahi sang anak, "Panas. Kita bawa kerumah sakit." Nazia meraih hijab di belakang pintu kamar sang anak kemudian memasangkannya. "Ayo bi." "Zaina enggak apa-apa mi, bi" lirih Zaina. "Apa yang tidak apa-apa? Kamu sudah seperti ini pasti semalam terjadi sesuatu kan? Jadi biarkan kmai yang bertindak nak." ucap Mauza tak ingin dibantah. "Nanti umi yang telfon Arum untuk bilang kamu izin ya. Jangan pikirkan kuliahmu, kesehtan lebih penting nak." Mbil melaju meninggalkan pekarangan rumah setelah Nazia mengunci rumah. Dalam perjalanan, Zaina terus menggigil. Wajah pucatnya membuat Nazia mendekap dengan erat. "Tahan sebentar ya." Mobil sampai di rumah sakit dengan cepat. Keadaan lalu lintas yang masih sepi memudahkannya untuk segera sampai. Mauza barlari memanggil suster untuk membawa bankar. Mereka berjalan menuju UGD dan salah satu dokter perempuan yang berjaga mendekat sembari membawa Stetoskop. "Ada apa ini?" tanyanya. "Demam tinggi dok." Dokter itu mengangguk, "Kita periksa dulu ya mbak."ujar nya. Dokter itu dengan teliti memeriksa tubuh Zaina. "Sejak kapan ini terjadi?" Mauza dan Nazia saling pandang. Mereka butuh privasi untuk mengatakannya. Mereka bertiga berjalan menuju ruangan sang dokter. Setelah dokter itu mengatakan pada suster untuk memasangkan infus pada Zaina. *** "Zaina." pekik Arum dengan cemas. Zaina yang awalnya tengah makan, harus terhenti untuk mnutup telinga saat suara itu menggema diruangan nya. "Kamu kenapa bisa begini? Yaampun aku benaran cemas? Bagaimana keadaan kamu sekarang? apa yang sakit? Terus bagaimana kata dokter?" Zaina dan Umi terdiam menatap Arum dengsn sesekali mengedipkan matanya.  "Yaampun jangan bengong, Aku nunggu ini." ujar Arum tak sabaran. Zaina menghela nafas, "Aku gak apa kok." "Nih ya sayang ku, Zaina si cantik jelita. Gal ada yang namanya sakit itu gak apa-apa. Luka kecil aja pasti sakit." "Rum, ini itu sudah biasa bagi aku." "Please deh Zaina. Sudah biasa kata kamu? Yang benar aja deh. Sudah sekarang jawab pertanyaan aku." "Yang mana?" "Apa kata dokter?" "Seperti biasa."lirih Zaina dengan menunduk. "Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu harus lakuin itu Na. Masa iya kamu terus-terusan kayak gini. Aku gak tega liatnya." "Rum, kamu ngomong begitu karna kamu gak ngerasa. Kalaupun aku mau, sudah dari lama aku lakuin. Aku cuma takut aja. Aku gak bisa." "Kamu harus lawan itu Na. Kamu dulu pernah bilang kan, kalau aku takut aku harus lawan itu. Kamu yang bilang itu tapi kamu gak mau melakukannya." "Hei anak-anak. Cukup ya, jangan berdebat dirumah sakit. Gak enak didengar yang lain."ucap umi menengahi. "Tapi mi aku tuh gemes deh." "Arum, nanti saja ya. Zaina harus makan dulu."ucap umi dengan lembut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD