6. Nycthophobia

2043 Words
"Dia memang bukan selingkuhan gue, Fen. Gue bukan lu ya," tandas Raka. "Terus dia siapa?" tanya Fenna. Raka mendekati Mayang, dia memeluk pinggang Mayang. E busyet.. ngapain ini om-om? Mayang melirik ke tangan Raka yang main nyelonong tanpa permisi menyentuh tubuhnya. Ini pertama kali ada cowok yang memeluknya dengan begitu mesra. "Aku lagi pendekatan sama dia. Mungkin beberapa hari lagi kita jadian," jawab Raka dengan gampangnya. Gila! Masa aku jadian sama om-om? Protes Mayang. Mayang hendak melepaskan tangan Raka, tapi Raka memelotottinya hingga akhirnya dia urungkan niatnya. "Eh, Iya mbak. Kita bentar lagi juga jadian kok. Iya kan, Sayang?" kata Mayang sambil mengelus-elus pipi Raka. Raka tersenyum, "Iya bener, Sayang. Udah gih sana pulang! Ganggu orang pdkt aja." Raka mengusir Fenna. Fenna mendengus kesal kemudian melenggang pergi meninggalkan Raka, tapi sebelumnya dia bilang sama Mayang, "Awas ya! Urusan kita belum selesai." Dia menunjuk Mayang dengan galak. Mayang memundurkan wajahnya karena jari Fenna yang nyaris mengenai matanya. Busyet.. pacar mas Raka galak bener sich? Pikir Mayang kemudian geleng-geleng kepala. Tapi lebih galak kan mommy. Lanjutnya. Raka kebangetan. Beraninya dia meluk cewek lain di depan gue. Gue aja gak pernah digituin lho. Omel Fenna dengan kesal. Mayang dan Raka melihat Fenna berlalu pergi kemudian, "Deeer .... " Wanita itu membanting pintu rumah Raka dengan sadisnya. Bahu Mayang langsung melonjak ke atas karena kaget. "Ckckck ... galak bener kaya Mommy," gumam Mayang. Tanpa sadar Raka masih membiarkan tangannya di pinggang Mayang, begitu pun Mayang yang tidak menyadarinya. Kemudian terdengar suara guntur menggelegar. Ternyata hujan belum juga enggan untuk pergi meski tadi sudah sempat untuk mampir. Dan beberapa detik kemudian listrik padam. Mayang yang phobia gelap atau nychtophobia menjadi ketakutan. Dia memeluk Raka dengan cukup erat dan membenamkan kepalanya ke d**a Raka hingga dia bisa mencium bau parfum Raka dengan sangat kuat. Sesaat jantung Mayang berdegup dengan kencang. Matanya terpejam. Raka membalas pelukan Mayang, seumur-umur dia pacaran sampai tiga kali dia tidak pernah berpelukan apalagi berciuman. Bukannya ketinggalan jaman, tapi itu memang prinsip Raka dalam menjalani hubungan. Jaga jarak sebelum menikah. Namun, entah ini sudah ke berapa kali Mayang dan dia berpelukan. Saat boncengan, saat di pos yang sempit, saat Raka memanasi Fenna dan saat sekarang ini. Ya meskipun semuanya terjadi karena keterpaksaan alias kepepet. "Mas, aku takut gelap. Biarin aku meluk kamu ya," kata Mayang yang masih menutup mata, meminta ijin. "Hmm." Hanya itu yang keluar dari mulut Raka. Sial kenapa gue deg-degan begini ya pelukan sama anak kecil? Ini pertama kalinya gue pelukan sama cewek. Kalau Bunda tahu bisa mampus gue! Gumam Raka. Dia berusaha mengontrol degup jantungnya yang bekerja tidak sesuai standar yang seharusnya. Beberapa saat berpelukkan mereka hanya diam, cuma gemuruh suara guntur dan juga hujan yang mengiringi kebungkaman mereka berdua. Nyaman banget dipeluk Mas Raka kayak gini. Aku kayak lagi dipeluk Daddy. Aku pikir cuma pelukkan Daddy yang bisa nenangin aku, tapi aku dapat ketenangan dan kehangatan dari laki-laki dewasa yang baru beberapa jam aku kenal. Pikir Mayang. "Mayang, sampai kapan kamu mau meluk aku kayak gini?" tanya Raka memecah keheningan. "Sampai lampunya nyala, Mas," jawab Mayang dengan santainya. "Aku tahu, diam-diam kamu udah mulai jatuh cinta sama aku kan? Ayoo ngaku anak kecil! Hahaha." Raka menggoda Mayang. Mayang mendongakkan wajahnya ke atas hingga wajah mereka begitu dekat sekarang. "Jangan ge-er lu, Bambang!" tegur Mayang dengan kesal. "Kalau begitu lepasin pelukannya dong, Sri!" perintah Raka dengan kesal juga. Mayang buru-buru menarik tangannya. Hingga suara guntur yang tanpa permisi kembali bernyanyi dengan sangat nyaring dan memekakkan telinga. Mayang terperanjat kaget dan kembali memeluk Raka. "Ckckck ... cinta banget ya elu sama gue?" tanya Raka. Entah kenapa, Raka menikmati momen ini. "Terpaksa gue, Bang," jawab Mayang. Raka merogoh ponsel dari dalam saku belakang celananya. Dia menyalakan lampu senter dan mengarahkannya pada wajah Mayang yang mengarah ke atas. Dia cantik banget. Ya Allah, hilang akal gue ini! Kenapa gue begitu mengagumi anak bule ini ya? Mayang menghepaskan tubuh Raka dengan kasar, "Kenapa nggak dari tadi nyalain senternya? Naah ... aku tahu. Mas sengaja kan? Ngerti aku akal bulusmu. Mas mau grepe-grepein aku kan? Wah ... Mas Raka nggak sekalem wajahnya ternyata. Ckck, Bambang ... Bambang ...." Mayang ngomel-ngomel tidak jelas. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a. Melirik ke arah Raka dengan usil. Dia juga menggeleng-gelengkan kepala seperti orang yang lagi disco di sebuah club malam. "Eh, Sri!" Raka memanggil Mayang dengan nada tinggi, "Siapa tadi yang melukkin aku duluan? Kamu kan? Kenapa jadi aku yang kamu tuduh m***m? Ngerti gue mah, mau ngerasain dipeluk cogan kaya aku kan?" Raka membalas omelan Mayang. "Apaan itu cogan?" tanya Mayang polos. "Cowok Ganteng," jawab Raka, berteriak tepat di telinga Mayang. "Aku nggak budeg, Mas." Mayang gantian berteriak di telinga Raka. "Gimana? Enak rasanya dipeluk mas Raka? Anget-anget enyoi gitu kan? Hahaha, ngerti aku mah, nggak pernah dipeluk cowok kan elu? Sri ... Sri ... aku juga belum pernah pelukan sama cewek kalii .... ckckck," ucap Raka dengan polosnya seolah menyesalkan sesuatu. "Masa? Terus Mas Raka ngapain aja selama pacaran? Jangan-jangan ciumannya via bluethoot ya? Aaa ... kalau pelukannya pakai share it, gandengannya via stiker di whats up app. Hahahaha, itu pacaran apa aplikasi handphone sich? Bambang ... Bambang ...." Mayang meledek Raka. Dia sangat senang mendapat bahan celaan untuk menghina Raka, dia sudah kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru dari ayahnya. "Kamu ngeledek ya, Sri?" tanya Raka sambil melingkis lengan kaosnya yang panjang. Kemudian dia meletakkan ponsel yang sedari tadi dia pegang di atas meja, hingga lampu senter hp itu menyorot ke arah langit-langit rumahnya. Dia berjalan pelan mendekati Mayang hingga Mayang mengambil langkah mundur. "E-e-e, mau ngapain kamu, Bambang?" Mayang balik bertanya. Dia menoleh ke belakang. Yach ... mati aku! Aku udah kepepet tembok. Pikir Mayang yang sekarang sudah tidak bisa apa-apa lagi karena tubuhnya terhimpit antara tembok dan tubuh Raka. Raka meletakkan kedua tangannya di kanan dan kiri Mayang. "Aku akan memberikan yang pertama untukmu gadis kecil," kata Raka seraya tersenyum menggoda Mayang. Tubuh Mayang berkeringat. Aku nggak mau diperkosa om-om. Tolong aku, Tuhan! Doa Mayang dalam hati. Raka sudah memajukan bibirnya. Mayang menutup mata sambil terus berdoa. Ampuni aku Tuhan! Mungkin jika Mommy tahu aku berciuman aku sudah digantungnya di pohon mangga. Mayang masih menutup matanya. Tapi dia berusaha mencegah Raka dengan meletakkan kedua telapak tangannya di d**a Bidang Raka. "Tuuk .... " Suara ujung jari Raka berbenturan dengan kening Mayang yang sudah berkerut-kerut. Mayang membuka mata, "Aoooww ... sakit ini, Mas. Katanya mau dicium kenapa malah disentil?" Mayang ngomel. Dia mengelus-elus keningnya yang terasa panas. Kenapa bilang begitu sich, Sri? Kesannya jadi ngarep banget dicium si om Bambang! Keluh Mayang saat dia menyadari kalau dia sudah salah berucap. "Anak kecil otaknya sudah m***m. Memang aku bilang kalau aku mau cium kamu? Ge-err banget," kata Raka sambil berjalan menjauhi Mayang, ada gurat kebahagiaan yang terpancar tanpa sebab yang jelas. Ada senyum tipis yang terkembang dari bibir sensualnya. Anak kecil yang menggemaskan. Pikir Raka. Dia mengambil ponsel dan meyorotkan lampunya ke arah tubuh Mayang. Mayang menjadi malu setelah itu, karena Raka memang tidak bilang kalau akan menciumnya. "Mas tadi juga nyari-nyari kesempatan ya meluk-meluk pinggang aku pas ada mantanmu kemari. Hayo? Kita satu sama ya, Bambang." Mayang berkata sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Raka. Raka membuka mulutnya hendak menggigit jari telunjuk Mayang yang sudah tidak sopan berkeliaran di depan wajahnya. Mayang langsung menarik jarinya yang jadi incaran si Raka. "Enak aja satu sama. Kamu aja belum ngasih aku imbalan karena aku udah bantu kamu melarikan diri dari pengawal Mommy-mu, udah main itung-itungan." Raka protes. "Jadi itu enggak ikhlas, Mas? Oh my ghost ... Si Bambang pamrih ternyata. Ckckckck, hilang sudah ketampananmu Mas ... Mas .... " Mayang menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nah itu. Ngaku juga akhirnya," seru Raka membuat kening Mayang berkerut-kerut. "Ngaku apaan?" tanya Mayang nyolot. "Emang gue tampan. Hahahaha," jawab Raka kemudian tertawa terbahak-bahak. "Tampan sich, tapi ... Mas bukan seleraku. Mas tua, gue mah masih imut-imut," kata Mayang dengan percaya diri. "Ye ... memang elu selera gue? Jangan kepedean ya," tukas Raka tidak kalah pedenya. Merasa ditolak mentah-mentah, Mayang merasa tidak terima, "Ow.. jadi begitu?" Mayang maju mendekati Raka. Dia menarik seluruh rambut panjangnya yang tergerai ke belakang dan memindahkannya ke depan hingga semua rambut panjang coklatnya bertengker utuh di d**a depan bagian kanan. Dia tersenyum centil ke arah Raka kemudian dia melingkarkan kedua tangannya di leher Raka. Kini gantian Raka yang dibuat berkeringat. Aje gile. Ini anak kecil kenapa genit banget? Mau copot ini jantung! Keluh Raka. "Jangan panggil aku Mayang kalau aku nggak bisa buat Mas Raka jatuh cinta sama aku! Ingat itu!" kata Mayang berbisik di telinga Raka. Dia mengibaskan rambutnya ke wajah Raka hingga laki-laki 23 tahun itu bisa mencium bau shampoo Mayang dengan sangat jelas. Lampu menyala saat itu juga. Mayang merasa malu setelah mengatakan itu pada Raka. Dia menarik tangannya dari leher Raka. Menunduk. "Mm ... apa kamu masih lapar? Hujannya juga sudah reda, aku ... aku akan membelikanmu nasi goreng," kata Raka yang terlihat menjadi canggung. "Aku sudah nggak lapar, Mas. Aku bobo dulu ya, Mas! Terimakasih sekali lagi." Mayang membungkukkan kepalanya sedikit saat berterimakasih. Dia melenggang pergi ke dalam kamar ibu Raka. Kenapa aku pakai acara kibas-kibas rambut segala sich? Genit iih.. Kesurupan apa elu Sri.. Sri? Mayang mengomeli dirinya sendiri dalam hati. "Huuft.. " Raka menghela nafas panjang sembari mengelus-elus dadanya, "Tahu diri dikit elu Bambang! Dia masih kecil. Jarak umur kalian tujuh tahun. Dia Anak orang kaya pula. Mana mau dia sama elu yang hanya remukan peyek kacang sekilo lima ribu?" Raka berkata pada dirinya sendiri. ** Esok hari. "Apa kalian belum bisa menemukan Mayang?" tanya Sandrina dengan kalap. "Belum, Nyonya! Seorang pemuda membawanya pergi!" jawab salah satu pengawal yang semalam mengejar-ngejar Mayang. Ponsel Mayang dinonaktifkan sehingga itu semakin mempersulit pencarian. Sementara Jass, dia memantau sekolah Mayang siapa tahu ada salah satu temannya yang tahu keberadaan Mayang. Jass bertanya hampir ke setiap anak yang masuk ke dalam sekolah tapi belum ada tanda-tanda bahwa nona mudanya bersama dengan salah satu penduduk di sekolah ini. Anda ke mana, Nona? Saya benar-benar mengkhawatirkan anda. Jass. Tuan Reyhan meminta beberapa detektif untuk mencari keberadaan Mayang, lusa bapak mertuanya akan kembali dari luar negeri, beliau pasti akan marah jika Mayang tidak berada di rumah. ♤•♡ Mayang terbangun karena mencium bau harum dari arah dapur. "Eh, siapa yang pagi-pagi memasak? Bikin perut aku lapar!" gumam Mayang. Dia melihat jam yang terpampang di dinding. "Sudah jam 7 rupanya! Aku mandi dulu saja lah!" Mayang masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuh polosnya dengan air dingin. Dia berganti baju mengenakan celana jeans panjang dan juga kaos oblong berwarna merah muda. Mayang tidak make up sama sekali, tapi dia sudah terlihat sangat cantik. Biasanya dia juga hanya memakai bedak saja. Darah bulenya yang kental dari oma, membuat tubuh Mayang terlihat lebih besar dari remaja seusianya. Dia juga terbilang seksi dan berisi meski dia selalu berpenampilan sederhana. Celana jeans, kaos oblong dan juga sepatu kats adalah andalannya. Mayang tidak pernah memakai rok apalagi dress. Tapi yang namanya sudah cantik dari lahir akan tetap terlihat cantik meski penampilannya biasa saja. "Mas Raka! Lagi ngapain?" tanya Mayang. Dia mendekati Raka yang sedang sibuk di dapur. "Lagi salto!" jawab Raka asal-asalan. "Idiih.. salto!" "Udah tahu lagi masak, masih juga tanya!" sungut Raka kesal, "Kamu nggak sekolah?" "Di skors, Mas!" "Memang kamu ngapain?" "Cabut!" "Ealah.. Sri.. Sri.. sekolah itu yang bener! Jadi mommy kamu marah karena itu?" Mayang hanya mengangguk. "Mas, aku bantuin sini!" Mayang menawarkan bantuan. "Memangnya bisa?" tanya Raka meremehkan. "Tinggal bolak balik tahunya doang kan? Kecil.. " jawab Mayang menggampangkan. "Ya udah ini! Aku mau lihat seberapa bisa anak orang kaya kerja!" "Kenapa mesti sewot sich mas kalau ngomong anak orang kaya?" "Sebel aja!" Mayang mulai membalik tahu yang susah coklat. Meski takut-takut karena ini pertama kalinya, tapi Mayang berhasil melakukannya. "Yess.. aku bisa kan? Week.." Mayang menjulurkan lidahnya pada Raka. "Begitu doang udah bangga!" "Ini hal yang sangat amazing menurutku! Seorang Mayang Soesetya bisa membalik tahu dari atas wajan dengan selamat. Hahaha..." ujar Mayang dengan antusias. "Dasar anak kecil!" Raka "Jangan panggil aku anak kecil, Paman!" Mayang menirukan salah satu kalimat andalan asal kartun film india. "Memangnya Shiva?" Raka. "Hahahahaha.. " Mayang. Raka sudah memasak capjay, telur balado dan juga tahu goreng. Raka anak yang mandiri dan sederhana, dia biasa melakukan semua yang biasa dilakukan oleh seorang wanita setiap harinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD