7. Ketika Mayang jadi Sri

2164 Words
"Mas hebat ya bisa masak juga!" puji Mayang. "Aku bisa segalanya, Sri!" sahut Raka. "Sini duduklah! Kita makan dulu!" perintah Raka sambil menarik kursi untuk Mayang dudukki. "Hanya satu yang belum mas Raka bisa,"celoteh Mayang sambil menopang dagunya dengan kedua telapak tangan. Raka yang hendak mengambil nasi langsung menoleh ke arah Mayang, "Apa?" tanyanya lalu mengurungkan niat awalnya. "Mencintaiku," jawab Mayang sambil menatap mata Raka. Gila ini bocah! "Ingat aku ya, Mayang! Aku nggak akan mungkin jatuh cinta sama kamu, kamu itu masih kecil, kamu anak orang kaya," ujar Raka dengan serius. "Selalu harta yang dijadiin bahaan celaan! Memang anak orang kaya nggak punya cinta?" "Jangan tersinggung gitu, Sri!" "Ya jelas tersinggunglah, Bambang!" "Makan dulu! Doyan tahu kan?" "Kalau ini makanan manusia normal, Mas! Aku suka makan ini juga di rumah, hehe.." Mayang makan dengan lahap karena memang dia sudah kelaparan karena semalam tidak jadi makan. "Anak orang kaya kalau makan rakus juga ya," komentar Raka. "Mas, aku punya nama ya!" tandas Mayang tidak terima. "Iya, Sri," sahut Raka sewot. "Mas, kenapa mas putus sama si mbak-mbak yang semalam?" Mayang mulai kepo. "Selingkuh." "Mas Raka selingkuh? Busyet ... banyak gaya banget sich elu Bambang??" "Bukan aku, Sri. Tapi dia yang selingku." "O .... " Mayang melanjutkan makannya lagi. "Mas!" "Hmm ...." "Pacaran itu rasanya gimana sich?" serius nanya. "Nggak gimana-gimana." "Eh iya denk. Mas kan pacarannya via aplikasi ya? Hehehe.. Lupa aku!" "Mulai ngajak perang ya elu!" Raka ngegas. "Hahaha ... Eh, Mas. Bukannya cowok itu selalu minta yang begituan ya kalau pacaran? Kata teman-teman aku sich yang pernah pacaran, tapi kok mas Raka enggak? Mas Raka masih normal kan??" "Ya normal lah! Aje gile elu, Sri!" "Iya tapi masak kissing aja nggak pernah??" "Semua orang punya prinsip masing-masing. Kalau aku memang enggak mau contact fisik yang berlebihan sebelum nikah. Itu wejangan dari bundaku." Masih ada juga cowok model kayak mas Raka di era seperti ini, salut aku. "Aku belum pernah pacaran, belum pernah jatuh cinta. Gimana mungkin aku mikirin cinta sedangkan hidupku aja cuma boleh buat belajar, belajar dan belajar. Saat nilaiku turun mommy pasti marahin aku dan mukul aku," cerita Mayang dengan wajah yang sedih. "Kamu masih kecil, May. Jangan cinta-cintaan dulu! Ada benarnya juga kata Mommy kamu, tapi ya kalau udah mukul itu udah gak bener sie." "Kalau aku udah dewasa apa ada yang mau sama aku ya, Mas?" tanya Mayang dengan polosnya. "Tentu aja, Sri. Kamu cantik, lucu, gemesin. Ya..., meskipun jengkelin juga sie," jawab Raka sesuai apa yang ada di otaknya. "Ini dua kali lho Mas Raka bilang aku cantik. Waah ... udah mulai cintrong sama aku ya .... " Mayang menggoda Raka. "Anak kecil, jangan ngomongin cinta mulu!" tegur Raka. Anggap aja ini semacam tantangan. Bakal aku bikin Mas Raka sayang dan cinta sama aku. Pikir Mayang. "Kamu nggak mau pulang? Mommy sama Daddy kamu pasti nyariin," lanjut Raka. "Mas Raka ngusir aku ya?" "Bukan gitu, Sri. Tapi mau sampai kapan kamu lari dari kenyataan?" "Kalau aku pulang pasti Mommy mukul aku lagi." "Aku antar kamu pulang. Aku yang temui orang tuamu. Kalau Mommy masih mukulin kamu, ya udah kamu ikut aku aja," ucap Raka dengan serius. Kenapa ada cowok setampan dan sebaik dia sich? Mana enggak neko-neko lagi. Ini mah manusia limited edition. Mayang. "Tapi jangan sekarang ya, Mas! Biarin aku bebas barang dua hari doang." "Ya udah terserah kamu. Habis ini aku mau ke cafe aku, kamu di rumah sendirian enggak apa-apa?" "Mas punya cafe? Wah ... hebat! Aku ikut dong." "Hanya cafe kecil-kecilan. Nggak sehebat daddy kamulah." "Mas ini ya selalu bahas harta. Oya, ngomong-ngomong ayahnya Mas Raka kemana? Kok enggak kelihatan?" "Mati!" "Mas, serius aku." "Jangan tanya soal bapak aku! Atau aku balikin kamu sekarang ke Mommy kamu!" ancam Raka. "Memangnya kenapa, Mas?" "Masih tanya lagi ini bocah!" "Iya-iya, aku diam Mas." Mayang langsung menutup mulutnya. Setelah makan, Mayang sudah bersiap untuk ikut Raka ke cafenya. Mayang menutup wajahnya dengan masker agar tidak ada yang bisa mengenali dirinya. ** Mayang membonceng Raka dengan berpegangan erat. Saat melintas di rumah Fenna yang kebetulan tidak jauh dari rumah Raka. Fenna melihat mereka begitu mesra dan membuatnya terbakar api cemburu. "Aku aja nggak pernah lho boncengan sampai nemplok kayak begitu!!" gerutu Fenna dengan kesal. Raka mengajak Mayang ke pasar terlebih dulu. "Mas, ngapain kita ke sini?" tanya Mayang kebingungan. "Mau ngemis, Sri," jawab Raka seraya mematikan mesin kendaraannya. "Seriusan, Bambang!" omel Mayang sambil memukul bahu Raka dengan kesal. "Ya mau belanjalah, Yang. Masa gitu doang nggak ngerti? Lu anak orang kaya atau anak orang antariksa sich?" oceh Raka. Mayang senyum-senyum nggak jelas. "Ngapain lu mesam-mesem?" tanya Raka keheranan. "Habisnya Mas Raka manggil aku Yang lagi sich, hehehe .... " jawab Mayang dengan polosnya. Raka mengacak pucuk rambut Mayang dengan gemas. "Khilaf gua mah. Kege-eran banget ini anak kecil. Ayo kita mau belanja di sini." Raka menggandeng tangan Mayang. Dia menuntun Mayang masuk ke dalam pasar yang keadaannya becek karena semalaman hujan deras. "Mas becek ini. Kaki aku kotor," keluh Mayang seraya menguatkan pegangannya pada Raka karena dia kesusahan berjalan akibat alas kakinya yang menempel pada tanah basah dan lengket. "Ya begini ini kalau belanja di pasar, May," sahut Raka yang berusaha membantu Mayang berjalan. Belum juga separuh perjalanan, Mayang menghentikan langkah kaki Raka, "Kenapa lagi sich, May?" tanya Raka dengan galak. "Mas, aku buka maskernya ya? Panas banget ini, Mas." Mayang meminta ijin kemudian mengeluhkan apa yang dia rasakan. "Buka tinggal buka, May. Yang nyuruh kamu pakai begituan juga siapa?" Raka ngegas. Mayang buru-buru membuka penutup wajahnya dan memasukkan benda itu ke dalam saku celananya. Semoga semuanya aman. Doa Mayang dalam hati. "Ayo, Mas! Kita jalan lagi!" ajak Mayang. Pertama-tama yang Raka tuju adalah pusat penjualan ayam, daging dan semacamnya. Karena di cafe miliknya menyediakan menu steak ayam, maka dia harus membeli daging ayam dulu ke pedagang langganannya. "Eh, Mas Raka," sapa pedagang yang berjenis kelamin laki-laki dan berumur kurang lebih lima puluh tahunan itu dengan ramah. "Hai, Pak Burhan. Apa pesanan ayam saya sudah siap semua?" tanya Raka dengan sopan. "Sudah, Mas. Nanti anak saya akan segera mengirimnya ke cafe Mas Raka," jawab Pak Burhan seraya melempar senyum ke arah Mayang. Eh si bapak. Tahu aja yang bening-bening. Pikir Raka. Mayang membalas senyuman Bapak Burhan meski dia agak sedikit bingung juga apa yang membuat Bapak Burhan melempar senyum padanya. "Terima kasih ya, Pak. Ini saya mau membayar semua tagihan saya." Raka memberikan sejumlah uang pada pedagang itu. Pak Burhan mengambil uang itu dan menghitungnya. "Pas, Mas. Terima kasih, Ya. Itu siapa? Pacarnya Mas Raka ya?" tanya Pak Burhan penasaran. Lelaki tua itu melirik ke arah Mayang. Raka ikutan melirik ke arah Mayang yang berdiri di sampingnya. "Oh.. ini? Dia Sri, Pak," jawab Raka dengan gampangnya. Busyet dah! Ganti-ganti nama orang seenak jidatnya. Omel Mayang dalam hati. Padahal dia duluan yang ganti nama Raka jadi Bambang. "Hai, Sri! Cantik-cantik namanya Sri. Beneran pacarnya Mas Raka ini?" sapa plus muji plus tanya Pak Burhan pada Mayang. Mayang cengar-cengir seraya mengelus-elus tengkuknya. "Bukan, Pak! Ini karyawan baru saya di cafe." Raka yang menjawab. Mayang menelan ludah kasar seraya membulatkan bola matanya. Sial! Setelah ganti namaku seenaknya gantian sekarang aku dibilang karyawannya. Ckckck .. kebangetan banget ini si Bambang! Protes Mayang. "Walah ... kirain." Pak Burhan seperti menyayangkan sesuatu. "Saya cabut dulu ya, Pak." Raka berpamitan. "Eh, iya Mas. Dah Sri!" Pak Burhan melambaikan tangan pada Mayang. "Iya, Pak," sahut Mayang dan melempar senyum untuk Pak Burhan. Setelah dari daging ayam, lanjut ke daging sapi. Ibu-ibu itu terlihat galak dan garang, tapi Raka berbicara dengan akrab dengan wanita tua itu. Ibu itu menjanjikan akan segera mengirim daging pesanan Raka. Daging-dagingan sudah, kini saatnya Raka berbelanja sayuran. Namun, Mayang tiba-tiba menjadi panik saat melihat dua orang assisten rumah tangganya sedang asyik berbelanja di sebuah pedagang. Mayang menarik tangan Raka, "Mas, ada asisstenku. Gimana ini, Mas?" tanya Mayang dengan panik. "Yang mana, Sri?" tanya Raka. Dia celingukkan. Mayang menyembunyikan dirinya di balik punggung Raka. Dia menunjukkan orang yang dia maksud. Sesaat kemudian, pengawal gagah datang menghampiri dua wanita paruh baya yang terlihat sedang asyik memilah-milah sayuran. "Sudah selesai berbelanjanya?" tanya pengawal itu. "Bentaran, Jang. Masih banyak ini," jawab Si Mbak Lastri tanpa menoleh ke arah Ujang. "Gimana ini, Mas?" tanya Mayang ketakutan. Jarak mereka dengan orang-orang itu hanya sepuluh meter. Raka diam mematung sambil berpikir bagaimana caranya lari tanpa menimbulkan kecurigaan yang akan memancing reaksi Ujang. Ujang berdiri di belakang Lastri sambil menyisir pandangannya. Dia melihat Raka. Mata mereka bertatapan. Ujang yang memiliki ingatan yang tajam masih mengingat jaket yang digunakan Raka dengan baik. "Dia kan yang membawa Nona Mayang pergi," gumam Ujang seraya melangkahkan kakinya mendekati Raka. "Mas dia mendekat," kata Mayang yang mengintip dari balik badan Raka. Nggak ada cara lain selain aku hadapi. Tekad Raka. "Kamu yang bawa Nona Mayang pergi kan?" tanya Ujang dengan garang. Dia mencodongkan kepalanya ke kiri dan mengintip Mayang yang bersembunyi di belakang Raka. "Nona, ayo pulang! Nyonya sudah mencari-cari anda!" perintah Ujang dengan tegas. "Mas, ayo kita pergi dari sini!" ajak Mayang. Dia menarik-narik jaket Raka. Raka mengangkat tangannya memberi isyarat agar tetap ada di sini. "Mas, dia bisa menghajarmu," kata Mayang dengan panik saat Ujang sudah mulai melingkas lengan jaket hitamnya ke atas. "Aku akan mengembalikan Mayang jika Nyonyamu mau berjanji untuk tidak menyakiti Mayang lagi!" seru Raka dengan sangat berani. Mayang terperangah menatap Raka yang dengan senang hati mau melindungi orang asing sepertinya. Sesaat yang di pikiran Mayang, Dia nggak cuma tampan, dia baik hati, dia pekerja keras, dia pandai memasak, dia..., oh Tuhan.. perasaan apa ini? Mayang tak juga mengalihkan pandanganya dari wajah Raka. "Beraninya kamu memberi syarat padaku? Hah?!" Ujang mulai naik darah. Dia mengangkat tangannya dan berusaha memberi tinjuan pada Raka, tapi Raka menepis tangan Ujang dengan sigap. Hal ini membuat orang-orang berkerumun karena pasar ini memang sangat ramai pengunjung di jam-jam seperti ini. "Apa kamu mau aku ngomong sama semua orang yang ada di sini kalau kamu itu seorang penjahat yang mau nyulik pacarku?" Raka menantang plus menakut-nakuti ujang. Pacar? Dia bilang aku pacarnya? "Aku bisa bikin orang-orang di sini ngeroyok kamu hanya dengan sekali teriakan aja!" ancam Raka lagi. Dia tidak gentar sedikit pun untuk melawan Ujang. "Kalau nggak ada Mayang, aku bisa duel sama kamu sekarang juga. Aku nggak takut. Aku seorang pelatih silat yang handal. Membuat tulang-tulangmu patah itu bukan hal yang sulit buat aku, tapi aku ngehargai pacarku sebagai seorang wanita yang nggak pantas ngelihat adegan kekerasan di depan matanya. Atau kita selesaiin masalah ini di luar aja? Kalau kamu bisa menang lawan aku, kamu boleh bawa Mayang pergi," tantang Raka. Dalam hati Raka berkata, "Pelatihan silat apaan? Memang pintar omong gua ini, haha." "Raka, siapa dia? Biar kami bantu hajar dia!" seru salah satu pedagang yang sudah siap membawa balok kayu untuk dipukulkan pada Ujang. Raka memang terkenal di pasar ini, dia pelanggan setia yang tidak pernah absen untuk berbelanja ke mari meski hanya sehari saja. "Jang, menyerah saja! Ini bukan areamu. Kita pulang saja! Aku yakin Nona Mayang akan baik-baik saja bersamanya." Lastri berusaha membuat Ujang mengurungkan niatnya untuk beradu jotos dengan Raka. "Nona, saya jamin anda pasti akan kembali ke rumah! Tunggu saja, Nona!" Ujang memberi peringatan lalu pergi meninggalkan Raka dan Mayang dengan amarah yang masih mengendap di batinnya. Orang-orang berhamburan kembali ke tempatnya masing-masing setelah keadaan menjadi kondusif. Raka masih menatap Ujang yang berjalan menjauhinya. Sedang Mayang menatap Raka dari arah samping dengan mata berkaca-pada. Raka menengok ke Mayang. Dia pun tertegun melihat wajah Mayang yang menatapnya begitu dekat. Beberapa detik mereka saling berpandangan tidak peduli lalu lalang orang memperhatikan mereka. Mayang menyentuh wajah Raka. Air matanya menetes tersapu kelopak matanya. "Kamu orang asing, tapi kamu ngelindungi aku kayak kamu nglindungi orang yang udah bertahun-tahun kamu kenal, Mas," kata Mayang yang tidak juga mau mengalihkan tatapan matanya dari Raka. Aku pun juga nggak tahu kenapa aku bisa ngelakuin ini. Raka memegang tangan Mayang yang masih bertengger manis di pipinya. "Sudahlah, Sri! Kamu udah aku anggap kayak adikku sendiri," kata Raka seraya tersenyum simpul pada Mayang. Kemudian Raka menghapus sisa air mata Mayang. Mayang menarik tangannya dan memukuli bahu Raka bertubi-tubi. "Apa Mas nggak bisa manggil aku pakai nama yang benar? Namaku Mayang, Mas! Mayang Arneshia Soesetya." Mayang menyebutkan nama lengkapnya. Raka menggenggam kedua pergelangan tangan Mayang dan menariknya mendekat ke d**a Raka. Jangan seperti ini, Mas! Jantungku berasa mau copot! "Kalau aku suka manggil kamu Sri memangnya kenapa? Hah??" tanya Raka sambil menaik-naikkan alisnya dan tersenyum usil. "Mas, lepasin aku! Katanya kamu nggak pernah pegang-pegang pacar kamu? kenapa sasma aku agresif banget? Dasar, Bambang!!" Raka langsung melepas tangan Mayang dan berdiri menjauhi gadis itu. Astagfirullah! Bisa nggak sadar kalau dilihatin banyak orang. Maafin Raka ya, Bunda. "Nggak usah kegeeran ya lu, Sri! Udah ayo aku mau beli sayuran dulu." Raka menggandeng tangan Mayang lagi. "Nah khan! Suka celamitan emang tangan lu, Bang!" seru Mayang sambil melirik tangan besar Raka yang menarik tangannya tanpa permisi. Raka melepas tangan Mayang dengan kasar. "Dasar anak kecil nggak ada akhlak!" Raka ngomel-ngomel nggak jelas, tapi Mayang justru suka melihat Raka seperti itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD