Bab 2

1314 Words
Pagi itu Amara bangun lebih pagi dari biasanya, entah kenapa belakangan ini perutnya lebih sering terasa sakit. Padahal ia rajin mengonsumsi obat yang diresepkan dokternya. Amara berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum, setelah meminum obatnya, Amara tidak sengaja melihat sup yang ia masak semalam sisa setengah. Amara menghela napasnya sejenak. "Ya Tuhan, selamatkan pernikahanku." Doanya pagi itu. Awalnya Amara ingin memasak untuk sarapan, tapi ia teringat janji Dion semalam yang akan mengantarnya ke rumah sakit hari ini. Maka dari itu Amara memutuskan, akan sarapan pagi ini di luar, lagipula mereka berdua sekarang sudah jarang makan bersama di luar rumah. Amara membuka pintu kamar, ia menatap lembut Dion yang masih tertidur pulas. Amara melirik sebentar ke arah jam dinding, waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi. "I love you, Dion." Bisiknya lembut ditelinga Dion. Hal itu membuat Dion, sedikit reflek membuka kedua matanya perlahan. Menyadari sang istri tengah berada disisinya, Dion merengkuh Amara untuk masuk ke dalam pelukannya. "I love you more, Amara." Amara tersenyum manis mendengar balasan dari Dion. "Kamu jadi kan hari ini temenin aku ke rumah sakit?" Dion mengangguk. "Jadi, kamu mandi duluan sana. Aku mau kabarin Jordi dulu," "Ngabarin apa?" "Ngabarin kalo aku datang terlambat ke kantor, karena aku mau temenin kamu ke rumah sakit." "Ooh...." "Iya, udah kamu mandi duluan sana." "Siap, Dion. Habis telpon kamu nyusul aku mandi juga, ya. Kita sarapan di luar aja, udah lama juga kan kita gak makan bareng di luar." "Iya Amara." Amara tersenyum mendengar jawaban Dion, ia merasa Tuhan mendengar doanya. Dion mendadak berubah. Ia pun menuju kamar mandi. Dion mengambil ponselnya di atas nakas, menekan kontak bernama Jordi, sekretarisnya. Tak lama panggilan pun terhubung. "Jordi, sorry. Hari ini gue datang telat, mau anter Amara dulu ke rumah sakit." "What? Dion Lo lupa, pagi ini investor dari Jepang datang?!" "s**t. Gue lupa!" "Amara kan bisa ke rumah sakit sendiri, atau Lo bisa nyuruh Amara berangkat sendiri tar Lo nyusul ke rumah sakit." Dion sedikit bingung, namun saran dari Jordi sedikit masuk akal. "Oke, gue ke kantor. Tapi Lo urus semuanya, biar cepet selesai. Karena gue harus nyusul Amara ke rumah sakit." "Siap, bos ku. Perintah dilaksanakan." Ujar Jordi semangat. Panggilan ditutup. Dion sedikit ragu, ia menatap pintu kamar mandi. Lagi-lagi ia melanggar janjinya dan mengecewakan Amara. Dion membuka pintu kamar mandi yang memang tidak dikunci oleh Amara. Melihat wajah Amara yang cerah, membuat ia mengurungkan niatnya untuk bicara. Dan pagi itu, Dion lebih memilih untuk bercinta terlebih dahulu bersama Amara. Setelah kegiatan panas mereka di kamar mandi tadi, Dion dan Amara bersiap. Tapi, Amara langsung merasa aneh, karena Dion malah memakai pakaian lengkap seperti ingin ke kantor. "Habis dari rumah sakit, kamu mau langsung ke kantor ya?" Tanya Amara yang tidak memiliki sedikit rasa curiga apapun pada Dion. Dion menegang. "Aku mau ke kantor." "Kantor?!" Amara terkejut mendengar jawaban Dion. "Bukannya kamu mau temenin aku ke rumah sakit?" Lanjutnya. "Pagi ini Investor dari Jepang datang Mar, aku nyusul ke rumah sakit setelah urusan dengan Investor itu selesai, ya." Kata Dion dengan lembut. Amara kecewa mendengar perkataan Dion. Lagi dan lagi Dion meninggalkannya, padahal ia berpikir suaminya itu sudah berubah, bahkan mereka bercinta tadi. Karena sudah 2 Minggu mereka tidak berhubungan intim layaknya suami-isteri. "Gak perlu nyusul. Kamu urus pekerjaan kamu aja, aku bisa sendiri." Ucap Amara dingin. "Kamu marah?" Amara berbalik menatap Dion tegas. "Enggak. Aku enggak marah, tapi kecewa!" "Kamu harus ngerti posisi aku, Amara. Aku CEO di perusahaan itu, enggak mungkin kan aku gak datang disaat Investor besar perusahaan datang." Jujur Amara capek. Jika harus yng diperdebatkan adalah hal yang sama, Amara sudah paham betul Dion akan lebih memilih pekerjaannya dibandingkan dirinya. "Apa selama ini aku enggak pernah ngertiin kamu? Justru sebaliknya, kamu yang gak pernah mau ngertiin aku!" Dion menarik napas panjangnya. Ia sendiri tidak ingin membuat suasana pagi ini malah jadi memanas. "Aku pergi duluan, kalau udah selesai aku langsung nyusul kamu, ya." Dion memilih mengalah, ia mengecup lembut pucuk kepala Amara. "Sorry, aku ngecewain kamu." Lanjutnya dan keluar kamar tanpa mendengarkan jawaban dari Amara. "Jangan nyusul aku!" Teriak Amara dari dalam kamar. Amara berteriak untuk menghilangkan rasa kesalnya pada Dion. Sedangkan Dion hanya memejamkan matanya sebentar saat mendengar teriakan Amara dari dalam kamar mereka. *** Sebelum ke rumah sakit, Amara memutuskan ke kafe miliknya terlebih dahulu. Untuk sarapan dan mengecek laporan keuangan mingguan. A&D Cafe adalah nama kafe yang dikelola oleh Amara 2 tahun belakangan ini. Waktu ia merengek pada Dion ingin bekerja untuk mengurangi rasa bosannya di rumah, namun Dion melarangnya. Dan Dion membuatkan kafe ini, sebagai gantinya. Dan tidak terasa selama 2 tahun ini, A&D Cafe cukup berkembang pesat. "Pagi Rin," sapa Amara pada salah satu Barista kafe tersebut. "Pagi, Bu Amara. Tumben bu, datangnya pagi." Jawab Rina. "Aku mau ke rumah sakit, tapi lupa belum ngecek laporan keuangan mingguan." "Loh sendiri ke rumah sakitnya, Bu? Enggak ditemani Pak Dion?" Tanya Rina. Amara diam sejenak. Sedikit terasa nyeri di dadanya mengingat kejadian tadi pagi. "Enggak. Dia sibuk Rin. Udah sana kamu siap-siap, keburu pelanggan pada datang. Jangan lupa bilang Tasya suruh buatin aku avocado toast sama latte." "Baik, Bu Amara." Alih-alih ke ruangannya, Amara malah memilih duduk dikursi kafe paling ujung dekat kaca. Ia membuka laptop kafe dan mulai memeriksa laporan keuangan kafe. Lima menit kemudian Tasya, salah satu waitres kafe tersebut datang membawakan sarapan untuk Amara, sesuai pesanannya avocado toast dan latte. Amara fokus mengecek angka-angka yang berada ditampilan laptop. Sampai tiba-tiba bunyi suara gelas pecah yang jatuh ke lantai mengalihkan perhatiannya. Ia menoleh ke arah tersebut, ada Tasya yang sedang meminta maaf pada seorang pria sambil memunguti pecahan gelas tersebut. Amara berjalan mendekat ke arah Tasya. "Permisi, mohon maaf. Tasya ada apa?" Tanya Amara lembut dan sopan pada karyawannya. "Maaf bu, saya gak sengaja nabrak mas ini dan kopinya kena mas ini." Amara menoleh pada pria tersebut, tersenyum ramah dan sedikit menunjukkan rasa bersalah. "Maaf mas, sebagai pemilik kafe ini saya minta maaf atas kelalain karyawan saya. Izinkan saya bertanggung jawab, untuk kami mengganti uang laundry kemeja anda." Amara tidak ingin reputasi kafenya buruk dengan kejadian ini, dari tampilan kemejanya saja Amara tahu itu merk mahal dan barang branded. Jadi Amara berpikir, pria dihadapannya bukanlah orang biasa. "Sejujurnya ini kemeja kesayangan saya, tapi melihat anda begitu cekatan dalam memberikan pelayanan dan permintaan maaf itu cukup bagi saya." Ujar pria tersebut. "Terima kasih, jika memang begitu kami akan menggratiskan pesanan anda." "Oh tidak perlu, ini kejadian yang tidak disengaja. Saya tidak ingin kafe ini kehilangan pemasukan dari salah satu pengunjungnya. Kebetulan memang saya ingin ke kasir." Setelah berkata seperti itu, pria tersebut langsung menuju ke kasir melewati Amara dan Tasya, membuat mereka saling bertatapan bingung. Karena baru kali ini ada orang yang dikasih gratis menolak dan malah mementingkan pendapatan kafenya. "Kamu beresin ini." Perintah Amara pada Tasya sambil menunjuk gelas yg pecah di lantai. "Baik, bu." Amara segera menyusul pria tersebut ke kasir, ia menahan pria tersebut sebentar kemudian mengambil kartu namanya dari tas. "Ini kartu nama saya, jika dilain hari anda berubah pikiran ingin ganti rugi atas noda di kemeja anda, bisa hubungi saya di nomor tersebut." Ujar Amara profesional. Pria tersebut tersenyum. "Amara Putri Lestari." Pria tersebut membaca nama yang ada di kartu. "Betul, itu nama saya." "Nama yang bagus. Saya Revan. Saya anggap pemberian kartu nama ini, karena kamu ingin lanjut mengenal saya lebih jauh." "Hah?! M-maaf maksudnya bagaimana?" Amara bingung dan tidak mencerna maksud dari ucapan Revan. Revan tertawa. "Kamu cantik dan manis, saya suka." "Maaf, saya sudah menikah." Sahut Amara sedikit tegas sambil menunjukkan cincin yang ada di jarinya. Revan kembali tertawa. "Hahaha... Sayang sekali sudah jadi istri orang." Revan berubah mimik berlagak sedih. "Baiklah nyonya Amara, saya simpan kartu namanya. Saya harus segera pergi, senang bisa bertemu denganmu. Jika kita bertemu kembali, aku anggap kita memiliki takdir bersama." Lanjutnya. Revan pun keluar meninggalkan kafe. Sedangkan Amara hanya bisa diam dan sedikit aneh bertemu pria yang terlalu blak-blakan menurutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD