Dion dan Jordi terlihat sibuk dengan kedatangan Investor penting di Perusahaannya. Mr. Tanaka ingin Ven Corporation membuka cabang di Jepang. Dan meminta Dion yang mengurusnya, hal itu membuat Dion semakin bimbang. Sangat jelas Amara akan melarangnya pergi, dan Amara pun sudah pasti tidak akan mau ikut Dion ke Jepang.
"Bagaimana jawaban anda Tuan Kaiven?" tanya Mr.Tanaka.
"Akan saya pikirkan, Mr. Tanaka."
"Saya sangat berharap jawaban anda memuaskan saya."
Dion hanya tersenyum kecil. Pikirannya tertuju pada Amara, ia melihat ponselnya sebentar. Tidak ada pesan satupun atau panggilan dari Amara.
"Dia pasti kecewa banget sama aku." Ucap Dion dalam hatinya.
***
Setelah menyelesaikan pengecekan laporan keuangan A&D Cafe. Amara langsung bergegas ke rumah sakit. Ia tiba di rumah sakit setelah jam makan siang. Jadi rumah sakit terlihat lebih ramai pada saat itu. Amara menunggu antrean sambil sesekali menscroll sosmed miliknya.
"Nyonya Amara Putri Lestari."
Nama Amara disebut oleh suster jaga poliklinik.
Amara berdiri menghampiri suster tersebut. "Saya, suster."
"Silakan masuk, Bu." Perintah Suster tersebut.
Amara masuk ke dalam ruangan periksa. Ia menegang, dan terkejut.
"Loh?! Kita ketemu lagi, pertanda takdir kita bersama." Ujar dokter tersebut yang tidak lain adalah Revan.
"Jangan bercanda dokter, saya sudah menikah." Ujar Amara sedikit ketus. "Kenapa anda bisa jadi dokter saya? Di papan nama depan dokter Suryo, kenapa bisa jadi dokter Revan? Anda bukan dokter gadungan, kan?" Lanjutnya.
"Maaf ibu, dijaga bicaranya. Dokter Revandra adalah pemilik rumah sakit ini." Bukan Revan yang bicara melainkan suster jaga yang menegur Amara.
"Maaf, sus. Saya tidak tahu."
Revan tersenyum manis. "Perkenalkan nyonya Amara, saya dokter Revandra Pratama yang sementara akan menjadi dokter anda menggantikan dokter Suryo yang saat ini sedang ada pelatihan di Singapore."
"Jadi pengobatan saya untuk sementara ini, dengan anda?"
"Betul. Bukankah sudah saya bilang jika kita bertemu kembali tandanya takdir menginginkan kita bersama." Kata Revan seakan menggoda.
Amara merasa kesal, kenapa hari ini ia merasa tertimpa sial. Pagi tadi bertengkar dengan Dion, dan sekarang ia bertemu dokter narsis seperti Revan.
"Dokter, bukankah sudah saya jelaskan kalau saya sudah menikah." Tegas Amara.
"Hahaha... Amara... Amara, yang menikah itu masih bisa bercerai."
Amara membuka lebar-lebar kedua bola matanya, saat mendengar ucapan Revan. "Anda berharap saya bercerai dengan suami saya?!"
"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang yang menikah itu masih bisa bercerai."
Amara memijat keningnya pelan. "Dokter Revan, sepertinya antrean setelah saya masih panjang. Bisakah anda segera memeriksakan kesehatan saya dibandingkan harus berkata hal lain."
Revan tersenyum lebar. Entah kenapa ia merasa tersenyum terus hari ini melihat Amara. "Baik. Nyonya Amara, silakan berbaring, saya akan memeriksa anda dengan USG."
Amara pun berbaring untuk diperiksa, dibantu oleh suster jaga. Wajah Revan sedikit menegang saat melihat layar monitor USG.
"Baik. Sudah. Silakan duduk kembali." Perintah Revan.
"Bagaimana? Apa saya bisa ikut program kehamilan?" Tanya Amara dengan sangat antusias.
"Am— maaf, nyonya Amara. Dari hasil pemeriksaan saya, anda memiliki Apendektomi. Apakah anda sering mengalami nyeri perut?"
"Ya, belakangan ini saya sering nyeri perut. Saya pikir itu karena hanya karena saya telat makan."
Revan terkejut. "Kamu sering telat makan? Suami kamu, tahu?"
Amara memejamkan matanya sejenak. "Kayaknya dokter gak punya hak deh, buat tanya tentang suami saya."
"Oh maaf-maaf. Saya cuma spontanitas kaget aja. Padahal kamu pemilik kafe, tapi kok sering telat makan." Celetuk Revan.
Amara memutar kedua bola matanya, mendengar basa-basi Revan.
"Kamu harus mendapatkan tindakan operasi pengangkatan usus buntu." Ujar Revan kembali.
"Apa itu salah satu penyebab aku lama hamil, ya?"
Lagi dan lagi Revan kembali tertawa setelah mendengar pertanyaan Amara. Membuat Amara kesal dan sedikit curiga, jika Revan mengalami gangguan kejiwaan.
"Mana ada usus buntu mempengaruhi kehamilan, Amara. Sepertinya kamu pengen banget hamil, apakah ada tuntutan dari suamimu?"
"Saya kan cuma nanya, dok. Dokter gak perlu tahu masalah saya, dokter cuma perlu tahu penyakit saya aja." sarkas Amara.
"Iya baiklah. Lalu kapan kamu siap di operasi pengangkatan usus buntunya? Ini sudah cukup membahayakan, Amara."
Amara diam, sedikit berpikir.
"Bagaimana jika minggu depan?"
Revan menggeleng. "Maaf, sepertinya terlalu lama jika menunggu minggu depan. Aku sarankan lusa, kamu sudah harus tes anastesi dan sorenya kita bisa melakukan operasi."
Amara kembali diam.
"Kenapa kamu terlihat banyak berpikir?" Tanya Revan yang merasa Amara lebih banyak diam dibandingkan berbicara.
Amara mengatur napasnya sejenak. "Baiklah. Lusa aku akan kembali ke rumah sakit."
Revan mengangguk. "Jangan lupa ajak suamimu."
Amara mengerutkan dahinya, sedikit bingung kenapa ia harus mengajak Dion.
"Haruskah? Apa operasi itu terlihat membahayakan?"
"Amara, biar bagaimanapun pihak rumah sakit harus meminta persetujuan walimu. Jika kamu sudah menikah, maka walimu adalah suami kamu."
"Suamiku sibuk. Tapi akan aku coba bicara dengannya. Terima kasih, atas pemeriksaannya dokter. Permisi." Ujar Amara sedikit tegas dan keluar meninggalkan ruangan periksa.
Revan menatap punggung Amara hingga menghilang dari balik pintu. Entah kenapa ia merasa tertarik dengan Amara. Wajah cantiknya, senyumnya, bahkan ekspresi ketus Amara, sangat terekam jelas di memori ingatan Revan.
"CK! Inget Revan, bini orang." Lirihnya.
***
Dalam perjalanan Amara berpikir, apakah ia harus bicara atau tidak pada Dion. Jika Amara bicara dan meminta Dion menemaninya saat operasi, apakah Dion bisa? Ia meminta temani periksa saja, Dion tidak bisa. Pikir Amara. Amara melihat ponselnya yang sangat sepi. Dion tidak menghubunginya sama sekali, bahkan menanyakan kabar sekalipun. Amara semakin yakin, jika Dion mengabaikannya. Amara ingin sedikit keras kepala hari ini, ia tidak akan menghubungi Dion sebelum, suami dinginnya itu menghubunginya.
Amara memutuskan kembali ke kafe, dibandingkan pulang ke apartemennya.
"Rin, bikinin aku latte ya sama waffel."
"Siap Bu. Aku anterin ke ruangan, Bu?"
Amara mengangguk. "Iya Rin. Anterin ke ruangan aku ya." Lanjutnya dengan tersenyum.
Amara duduk di sofa menyandarkan tubuhnya yang sangat terasa lelah. Nyeri perutnya kembali terasa. Amara merubah posisinya dengan tiduran di sofa. Baru ia ingin memejamkan matanya, ponselnya berdering.
Dion memanggil. Amara mengatur napasnya sejenak, kemudian menerima panggilan tersebut.
"Halo, Mar. Kamu di mana?"
"Kafe."
"Kamu udah balik dari rumah sakit?"
"Udah. Tungguin kamu nyusul kelamaan." Ucap Amara sedikit nada ketus.
Dion diam sejenak.
"Maaf, Mar. Tadi beneran penting. Aku jemput kamu ke kafe, ya."
"Gak perlu. Aku bawa mobil. Lagipula bukannya kamu lagi sibuk?"
"Mobil kamu biar dibawa sama sopir kantor. Aku udah enggak sibuk, tunggu aku di kafe."
Panggilan tertutup. Amara tidak langsung meletakkan ponselnya ke meja, ia melihat foto wallpaper ponselnya. Foto pernikahannya lima tahun lalu. Amara tersenyum miris, menatap sendu pada foto pernikahannya. Dulu dia pikir setelah menikah dengan Dion, pernikahannya akan berjalan harmonis. Menikah dan memiliki anak, tapi pada kenyataannya keinginan tidak sesuai dengan realita.
Tok...tok...tok....
"Masuk, Rin."
"Maaf bu, ini pesenannya." Ujar Rina sambil meletakan pesenan Amara di meja.
"Makasih ya, Rin."
"Sama-sama Bu, aku tinggal jaga kasir dulu ya." Amara mengangguk mendengar jawaban Rina.
Ponsel Amara kembali bergetar. Menampilkan satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
+6281288xxxxxx
Jangan telat makan, Amara. Inget lusa kamu harus operasi. Revan.
Amara mengabaikan pesan tersebut.