Bab 4

1011 Words
Dion menuju A&D kafe bersama sopir kantornya. Jarak kantor Dion ke kafe hanya sekitar 20 menit. Tiba di kafe Dion disambut sama Rina. "Sore pak Dion." "Sore. Ibu Amara di mana?" "Di ruangannya, pak." "Okay, terima kasih." Dion langsung menuju ke ruangan Amara. Ia mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan suara dari dalam. Dion pun langsung membuka pintu, terlihat Amara sedang tertidur pulas di sofa. Di meja ada waffel dan latte yang tersisa setengah juga ponsel Amara. Dion mengatur napasnya, ia merasa bersalah karena tidak memiliki waktu untuk istrinya. Dion duduk di samping Amara. Ia mengusap lembut pucuk kepala Amara, "maafin aku, ya." Lirihnya. Amara sedikit terganggu dengan usapan Dion, ia membuka matanya perlahan. Melihat ada Dion di sebelahnya, Amara mengubah posisinya. "Kamu, dah sampe." Dion mengangguk. "Iya baru aja." "Kok gak bangunin aku?" "Kamu pules banget. Aku enggak tega. Gimana hasil dari rumah sakit? Enggak kenapa-kenapa, kan?" Tanya Dion terlihat khawatir. "Lusa aku operasi." Jawab Amara santai. "Operasi?! Kamu bukannya cuma pemeriksaan fertilitas, kenapa harus operasi, Mar?" Dion terlihat panik mendengar Amara akan dioperasi. "Aku cuma operasi usus buntu, Dion. Gak usah lebay, gitu." "Kenapa gak bilang, kalau kamu ada usus buntu?! Berarti selama ini, obat yang kamu minum itu bukan vitamin tapi obat pereda nyeri perut kamu, Mar?" Amara mengangguk. "Aku juga baru tahu tadi, Dion. Aku pikir, aku cuma nyeri perut biasa aja." Dion diam sejenak, menatap Amara. Wajah istrinya terlihat sedikit pucat namun masih tetap cantik. "Apa sekarang terasa nyeri?" Amara menggeleng. "Enggak. Lagipula aku cuma kecapean, Dion." Amara pindah posisi duduk di atas pangkuan Dion dan menatap suaminya dengan lembut. "Dokter nyuruh kamu nemenin aku operasi, lusa nanti. Kira-kira kamu bisa temenin aku enggak?" Lanjut Amara. Dion tersenyum. "Aku temanin kamu." Ia lalu mengusap lembut pipi Amara. "Aku gak butuh janji, tapi bukti. Kamu udah sering ngecewain aku, Dion." Amara sedikit merajuk. "Iya, maafin aku udah ngecewain kamu terus. Aku buktiin, aku temenin kamu waktu operasi nanti." Ujar Dion lembut. "Kalau kamu gak nepatin janji kamu, aku enggak mau ngomong sama kamu lagi." "Iya Amara. Ya udah, kita pulang ya." Ajak Dion dan Amara menuruti ajakan Dion. *** Malam ini terasa lebih hangat, Dion seperti kembali pada saat-saat mereka awal menikah. Bahkan Dion memasak untuk makan malam mereka berdua. Hati Amara sedikit mencair mendapatkan perlakuan lembut dari suaminya malam ini. Dion tengah bersandar di kepala ranjang sambil mengecek pekerjaannya di iPad, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Amara muncul hanya memakai lingerie berwarna merah menyala. Layaknya w*************a ia berjalan mendekat ke arah Dion. Dion tersenyum nakal melihat kelakuan sang istri. "Kamu mau goda aku, Mar?" "Iya. Enggak ada yang salah kan godain suami sendiri." Jawab Amara centil. "Enggak, kok. Aku malah suka. Tapi perut kamu aman, emangnya?" "Aman Dion. Kan aku udah bilang, cuma usus buntu. Jangan lebay, Dion." Amara kembali menjawab dengan mengatur posisinya duduk di atas perut Dion. Dion tersenyum manis. Ia langsung mencumbu Amara tanpa aba-aba lagi. Malam ini mereka habiskan dengan bercinta, mereka sama-sama terlarut dalam sentuhan. Amara terlihat sangat aktif malam ini, membuat Dion sebagai laki-laki merasa tertantang. Gerakan demi gerakan, gaya demi gaya mereka coba malam itu, hingga menjelang subuh mereka terlelap. Amara terbangun lebih dulu seperti biasanya. Perutnya kembali nyeri, ia berpikir mungkin karena saat bercinta dengan Dion dirinya terlalu aktif. Amara pun memutuskan untuk meminum obat pereda nyeri. Melihat jam dinding sudah menunjukkan jam 07.30 Amara segera membangunkan suaminya. Ia khawatir Dion akan telat ke kantor. "Dion. Dion... Bangun. Udah siang, kamu enggak berangkat ke kantor." Kata Amara lembut. Dion menggeliat, ia masih dalam keadaan polos tanpa sehelai bahan. "Jam berapa, Mar?" "Jam 07.30, kamu mandi ya. Aku siapin sarapan." Jawab Amara. Dion mengangguk. "Oh ya Mar, aku lupa bilang sama kamu. Nanti malam kamu bisa ikut temenin aku ke acara reuni SMP?" "Jam berapa acaranya?" "Jam 08.00 sih, tapi kita jalan jam 07.00 aja ya. Hindarin macet. Jadi jam 07.00 Kamu dah siap ya, Mar." Jawab Dion. "Iya. Ya udah kamu mandi ya, baju kerjanya udah aku siapin. Aku mau bikinin kamu kopi sama avocado toast buat sarapan." Dion tersenyum. "Baik banget. Istri siapa sih nih...." "Jangan ngeledek, ya!!" Dion tertawa mendengar sindiran Amara. Ia pun menuju kamar mandi dan segera bersiap-siap untuk ke kantor. *** Setelah kepergian Dion ke kantor, penthouse mereka kembali terasa sepi bagi Amara. Di saat Amara tengah melamun membayangkan keramaian penthouse ini jika ada seorang anak kecil, tiba-tiba ponsel Amara bergetar, ada satu pesan masuk. +6281288xxxxxxx Jangan lupa sarapan, Amara. Gak boleh telat makan! —Revan. Amara menghela napasnya sejenak saat melihat isi pesan tersebut. Ada rasa aneh di hatinya, ia kesal karena Revan terlalu ikut campur urusannya, tapi di sisi lain Amara senang karena merasa diperhatikan. Dion tidak pernah, seperti Revan semenjk dua tahun belakangan ini. Dion sangat kaku dalam mengekspresikan perasaannya, jika bukan Amara yang memulai lebih dulu, mungkin Dion lupa jika dirinya memiliki seorang istri. Dulu saat awal pacaran dan awal menikah, Dion sangat romantis, perhatian berbeda 180 derajat dari Dion yang Amara kenal dulu. Amara ingin mengabaikan, namun jarinya malah bergerak membalas pesan tersebut. Amara Bawel. Kamu ini dokter bukan baby sitter Pesan yang Amara terkirim langsung bertanda centang biru. +6281288xxxxxxxx Akhirnya dibalas juga. Pasien cantikku ini sepertinya agak nakal. Jangan lupa besok jadwal operasimu jaga kesehatanmu sampai waktu operasi tiba. Amara Siap dokter. Akan aku pastikan pasienmu ini makan empat sehat lima sempurna sebanyak 3x +62181288xxxxxxx Kalau begitu, aku butuh bukti. Kirimkan foto apa saja yang kamu makan hari ini. Dan ingat jangan lupa besok, ajak suamimu, Amara. Amara CK! Sepertinya dokter modus. Mau lihat makanannya atau orang yang makannya? Untuk masalah suami saya, tenang sudah aku atasi. Dia mau temenin aku. +6281288xxxxxx Hahaha... Pasien cantikku ini sangat cerdas sekali. Baguslah jika suamimu bisa menemanimu, setidaknya aku bisa mengukur seberapa keren sainganku Amara Mulai kumat. Jawabannya lebih keren suamiku! +6281288xxxxxx (Emoticon tertawa) Amara tidak membalas pesan terakhir yang dikirim oleh Revan. Ia ikut tersenyum melihat balasan emoticon yang dikirimkan Revan. Aneh. Itu yang Amara rasakan saat ini. Seketika ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menepuk kedua pipinya perlahan. "Sadar Amara, kamu udah punya suami!" Ujarnya pada diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD