Siang ini Amara menyibukkan dirinya di kafe. Ia turut membantu Tasya melayani pelanggan kafe. Pelanggan kafe siang itu cukup ramai, mungkin karena bertepatan jam makan siang. Amara berdiri di depan meja kasir, sambil menghitung total pesanan pelanggannya. Terlihat sibuk sampai ia tidak sadar, orang yang mengantre di depannya sudah berganti.
"Maaf, pesanannya tadi apa sa—," pertanyaannya terhenti, saat ia melihat wajah pria yang sempat membuatnya merasakan hal aneh.
"Foto makanan empat sehat lima sempurna."
Revan. Pria yang ada dihadapannya saat ini adalah Revan, dokter sekaligus pelanggan kafenya.
Amara kembali fokus.
"Aku lupa, sibuk soalnya. Kamu pesan apa aja? Cepetan di belakangmu ada yang antre." kata Amara sedikit ketus.
Revan tertawa kecil. "Hot Americano dan satu almond croisant."
Amara mengerutkan keningnya, mendengar pesanan Revan. "Ini jam makan siang, dokter. Kamu makan siang cuma dengan satu croisant aja?!"
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, Amara. Aku hanya break coffe aja, makan siangnya udah di kantin rumah sakit." Jawab Revan dengan menggoda.
"Aku gak khawatirin kamu, ya! Udah cepet bayar, totalnya jadi 82.000." Amara sedikit gelagapan mendengar jawaban Revan.
"Hahaha... Iya-iya. Kamu cantik dengan wajahmu yang merah merona seperti itu. Ini kembaliannya untuk tips." Revan tertawa melihat perubahan mimik wajah Amara.
Amara semakin malu, mendengar jawaban Revan. Perasaan di hatinya, benar-benar aneh.
"Terima kasih pak dokter, maaf antrean di belakang anda sudah menunggu."
Revan menoleh ke belakang, ada 3 orang yang sedang mengantre. Ia pun pamit pada Amara untuk kembali ke rumah sakit. Amara sempat melihat punggung Revan yang akan keluar kafe, tapi Revan berhenti memberikan sesuatu pada Tasya, ia pikir Revan memberikan tips pada Tasya.
Setelah kafe sudah tidak terlalu ramai, Amara memilih beristirahat ke ruangannya. Namun ia ditahan oleh Tasya.
“Maaf bu Amara. Ini ada titipan dari pria yang waktu itu terkena tumpahan kopi.” ucap Tasya.
Amara mengingat saat Revan keluar, ia sempat melihat Revan memberikan sesuatu pada Tasya. “Nitip apa? Bukannya dia ngasih kamu tips”
Tasya menggeleng. “Bukan bu, dia ngasih ini ke saya. Dan minta untuk kasih ke bu Amara kalo bu Amara udah gak sibuk.” lanjut Tasya sambil memberikan secarik kertas yang berisi catatan pada Amara.
Amara mengambil kertas itu dengan sedikit penasaran dan bingung. Lalu ia membaca tulisan yang ada di kertas,
Jangan lupa utang foto 4 sehat 5 sempurna, pasien cantikku. - Dokter tampan.
Amara langsung meremas kertas tersebut. Lalu ia beralih pada Tasya.
“Ya udah, makasih Sya. Kamu lanjut kerja aja, aku mau istirahat ke ruangan aku dulu.”
“Baik, bu.” ucap Tasya meninggalkan Amara.
Amara pun masuk ke ruangannya, ia melempar remasan kertas tersebut ke atas meja. Terlihat berpikir dan sedikit bimbang. Ada perasaan aneh di dalam hatinya. Ia merasa senang sekaligus merasa kesal, setelah membaca catatan dari Revan tadi.
Ponsel Amara berdering, menampilkan nama Dion. Amara langsung menerima panggilan tersebut.
“Ya, Dion.”
“Mar, jangan lupa ya nanti malam jam 07.00.”
“Iya… Kamu juga baliknya jangan telat.” pinta Amara.
“Aku balik sore, hari ini. Kamu udah makan, Mara?”
Amara terdiam. Seketika ia ingat catatan yang ditulis Revan,
“Mara?! Kok diem, kamu dah makan belum?” Suara Dion memanggil kembali.
“Hah?! O-oh udah, aku udah makan.” Amara berbohong. Dan ini adalah kebohongan Amara yang pertama.
“Ya udah. Aku tutup, ya. Jangan lama-lama di Kafenya.” Pinta Dion dan menutup panggilannya.
Amara mengatur napasnya. Ia bingung, kenapa tiba-tiba ia harus berbohong pada suaminya. Amara pun membuka aplikasi online food di ponselnya. Dan secara tidak sadar pula, ia memesan makanan satu paket, yang berisi nasi, sup, ayam goreng, buah. Ia juga meminta Rina karyawannya membawakan fresh milk.
Ketika makanan yang Amara pesan semua sudah tersedia, ia memotretnya. Lalu mengirimkan foto tersebut ke nomor ponsel Revan, dengan caption.
Amara
(Foto) Utangku udah lunas ya, pak Dokter.
Setelah memastikan pesan tersebut terkirim, Amara tersenyum sendiri. Dan mulai menyantap makanan yang sudah ia pesan tadi.
***
Di rumah sakit.
Revan baru saja selesai melakukan kunjungan pasien rawat inap, dan berjalan ke arah ruangannya. Tiba-tiba ponselnya bergetar, dan ada notifikasi pesan dari Amara. Revan tersenyum melihat pesan yang Amara kirim.
+6281288xxxxxx
Kenapa hanya makanannya yang difoto? Padahal aku berharap, ada wajah cantik pasienku di fotonya.
Hanya dalam hitungan detik, Revan mendapatkan balasan dari Amara.
Amara
Harapan anda sia-sia, dokter.
Revan tertawa terbahak-bahak hanya karena membaca sebuah balasan dari Amara. Padahal jika dilihat pesan itu hanya sebuah kata-kata yang biasa. Dengan semangat Revan membalas pesan Amara dengan emoticon tertawa, setelah menunggu beberapa menit tak mendapatkan balasan hanya centang biru saja, Revan pun memutuskan untuk memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.
“Amara Putri Lestari… sayang istri orang.” lirihnya sambil membayangkan wajah Amara.
***
Menjelang sore, Amara tiba di penthouse. Sesuai janjinya dengan Dion, ia mulai mempersiapkan diri, Amara tahu betul, suaminya itu akan menggerutu jika Amara lamban bersiap-siap.
Amara memutuskan mengenakan midi dress cantik berwarna pastel, yang membuatnya terlihat elegan. Amara memang hanya gadis panti, tapi ia sangat beruntung wajah dan bentuk tubuhnya bisa dibilang sangat terawat, dari kulit putih dan tinggi badannya yang cukup proposional.
Ceklek, pintu kamar terbuka membuat Amara yang sedang berhias refleks menoleh.
“Loh, aku pikir kamu balik jam 7?” tanya Amara karena Dion tiba lebih cepat setengah jam dari jam keberangkatan mereka.
“Aku siap-siap dari rumah aja, Mar.” Dion menatap Amara dengan terpukau. “Kamu… cantik banget, Mar.” lanjutnya.
Amara yang mendengar tersebut merona, “tumben banget muji aku.”
“Kok tumben? Emang aku jarang muji kamu?” ucap Dion dengan sedikit nada tidak suka mendengar pernyataan Amara.
Amara menelan ludahnya. “Kamu inget-inget aja sendiri. Udah sana, cepetan mandi! Udah mau jam 7, Dion.” Amara lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
Dion menurut. Ia pun memilih menuju kamar mandi dibandingkan membahas ucapan Amara.
***
Malam ini acara reuni SMP Dion terlihat cukup ramai yang datang. Berhubung SMP Dion adalah sekolah SMP dengan standar Internasional, maka acara ini digelar di sebuah aula gedung mewah dan terkesan formal.
Dion dan Amara tiba di veneu tepat waktu, banyak beberapa teman yang menyapa Dion dan Amara. Meski Amara bukan lulusan SMP ini, beberapa teman Dion mengenal Amara. Mereka pernah hadir di pernikahan DIon dan Amara lima tahun lalu, dan juga ini bukan pertama kalinya mereka datang ke acara reuni SMP Dion.
“Woow… Dion, apa kabar lo?” sapa salah satu laki-laki seumuran Dion.
Dion tersenyum ramah. “Baik, lo sendiri gimana? Bisnis aman?”
“Aman, tapi gak sehebat bisnis lo lah.”
“Merendah aja lo, Jef.” balas Dion. Amara hanya diam sambil melihat ke sekeliling yang memang sudah cukup ramai. Ia malas mendengarkan basa-basi teman Dion yang satu ini.
“Eh iya, Revan datang tuh. Dia ada di depan panggung, ngobrol sama Leo.” info Jefri, nama pria tersebut.
“What?!! Dia dah balik ke Indo? Kok gak ngabarin gue sih tuh anak, sialan!”
“Ya udah, lo samperin aja sana.”
Dion mengangguk. “Oke, gue nemuin Revan dulu ya.” pamit Dion.
Dion meraih tangan Amara dan mengajaknya berjalan ke arah depan. Membuat Amara bertanya, “kita mau kemana?”
“Temuin sahabat aku waktu SMP yang ngilang gitu aja.” jawab Dion seadanya.
“Cewek?”
Dion tiba-tiba berhenti dan menatap kesal pada Amara. “Selama kamu kenal aku, apa aku pernah punya teman cewek?!” tanya Dion tiba-tiba.
Amara menggeleng. “Tapi kan bisa aja punya sebelum kamu kenal sama aku?” Amara malah membalikkan pertanyaan Dion.
Dion mengatur napasnya. “Udah deh, gak usah dibahas!” seru Dion menahan kesal.
“Aneh.” lirih Amara dalam hatinya.