Bab 6

981 Words
Musik pelan dari ruang utama restoran membuat suasana reuni terasa hangat sekaligus canggung. Amara mengikuti langkah Dion yang semakin cepat ke arah meja panjang di dekat panggung kecil. Amara sedikit kesal melihat Dion yang berjalan lebih dulu tanpa mengandengnya. Bruk… Amara tidak sengaja menabrak punggung Dion. “Aww….” Amara meringis mengusap pelan dahinya. “Jalannya gimana sih, Mar?” “Kamu yang berhenti dadakan ya, bukan aku!” sahut Amara kesal. Dion ini memang sangat tidak peka pada Amara, bukannya minta maaf malah menyalahkan cara berjalan Amara. “Amara??” Amara menoleh, Dion juga menoleh. “Dion?” sapa Revan yang cukup terkejut dengan kehadiran Amara. “Kalian…?” “Dia istri gue. Lo bisa kenal Amara dari mana?” jawab Dion kilat dengan tatapan aneh pada sahabat SMPnya ini. Revan memasang mimik wajah terkejut sambil menatap Amara yang terlihat lucu dengan wajah kagetnya. Andai tidak ada Dion, Revan ingin sekali meledeknya. “Dia pasien gue.” “Dia dokter aku.” Jawaban kompak yang keluar dari mulut Amara dan Revan. “Oohh… kebetulan. Kalo gitu lo yang nanganin Amara operasi besok?” Revan mengangguk. “Syukurlah, seenggaknya gue tenang.” Revan sedikit bingung dengan jawaban Dion. “Maksudnya?” tanya Revan “Ya, karena yang operasi istri gue sahabat gue sendiri. Apalagi yang gue denger lo dah jadi dokter hebat.” jawab Dion. “Dari mana lo tahu gue dah jadi dokter? Perasaan gue sama lo udah enggak komunikasi lama?” “Lo lupa siapa gue?!” Amara hanya diam mendengar percakapan Revan dan Dion. “Ck! Masih aja sombong.”cibir Revan. “Hahaha… Apa kabar bro? Gue kangen sama lo!” Dion tertawa, dan langsung memeluk Revan. Pelukan rindu kepada seorang sahabat. “Seperti yang lo lihat, makin sukses jadi dokter. Lo sendiri gimana? Sory, gue enggak hadir pas lo nikah sama Amara.” “Ya… begini aja. Gak apa-apa, meski gue kecewa sahabat gue datang tapi itu udah berlalu.” Ucap Dion dengan nada yang lebih rendah seakan ia merasakan sesuatu saat berkata begitu. Revan sedikit paham dengan perbedaan nada bicara Dion, tapi ia berusaha untuk tidak mempedulikannya. Amara berdiri sedikit di belakang Dion. Pandangannya bergantian antara dua pria itu. Ia tidak pernah membayangkan dunia sekecil ini. Suaminya dan dokter yang belakangan terlalu sering hadir di pikirannya ternyata berasal dari masa lalu yang sama. “Jadi… Amara istri lo?” tanya Revan lagi, kali ini matanya menatap Amara lebih lama. “Iya,” jawab Dion tegas. Tangannya refleks meraih pinggang Amara, seolah ingin menegaskan kepemilikan. Amara terkejut dengan sentuhan itu, tapi tidak menepis. Ia hanya tersenyum tipis. “Pantes,” gumam Revan pelan. “Lo beruntung, Dion.” Dion tersenyum kecil. “Gue tahu.” Nada itu terdengar bangga, tapi entah kenapa di telinga Amara terdengar kosong. Beberapa teman Dion mendekat, menyela percakapan mereka. Obrolan melebar ke cerita lama, candaan masa SMP, dan kisah-kisah yang hanya Dion dan Revan pahami. Amara duduk di samping mereka, lebih banyak diam. Sesekali Revan meliriknya. Tatapannya tidak vulgar, tapi cukup membuat Amara gelisah. Seolah ada pesan yang tidak diucapkan di sana. “Mar, kamu gak capek?” tanya Dion tiba-tiba. “Enggak,” jawab Amara cepat. “Kalau capek bilang. Kita bisa pulang lebih awal.” Revan tersenyum samar. “Baru mulai juga acaranya.” Dion menoleh. “Istri gue lagi kurang sehat.” “Oh.” Revan mengangguk. “Maaf.” Amara merasa aneh. Dion begitu mudah menyebut kondisinya di depan orang lain, tapi sering kali tidak benar-benar hadir saat ia membutuhkannya. “Aku ke toilet sebentar,” ujar Amara akhirnya. Ia berdiri tanpa menunggu jawaban, berjalan menjauh dari meja mereka. Di depan wastafel, Amara menatap bayangannya sendiri. Wajahnya tampak baik-baik saja, tapi hatinya tidak. Kenapa kehadiran Revan membuatnya merasa diperhatikan, sementara Dion yang jelas-jelas suaminya justru terasa jauh. Saat ia kembali, Dion sedang menerima telepon. Wajahnya berubah serius. “Aku angkat dulu,” kata Dion singkat, lalu menjauh beberapa langkah. Revan dan Amara kembali duduk berhadapan. “Kamu kelihatan gugup,” ucap Revan pelan. “Aku cuma capek.” “Kamu sering bilang begitu.” Amara menatapnya. “Kamu terlalu merasa mengenalku.” “Karena kamu sering sendirian,” balas Revan tenang. Kalimat itu membuat Amara terdiam. “Besok aku operasi,” ucap Amara akhirnya. Revan mengangguk. “Aku tahu.” “Dion janji mau datang.” Revan menatapnya lebih dalam. “Dan kamu percaya?” Amara menarik napas. “Aku ingin percaya.” Revan tersenyum tipis. “Aku akan ada di sana.” Amara menatapnya. “Sebagai dokter.” “Sebagai orang yang peduli,” jawab Revan jujur. Dion kembali ke meja. “Kita pulang, Mar.” “Sekarang?” “Iya. Besok kamu harus istirahat.” Amara mengangguk. Ia berpamitan singkat pada beberapa teman Dion. “Sampai besok,” ucap Revan pada Amara. “Semoga,” balas Amara pelan. Dalam perjalanan pulang, mobil terasa sunyi. Dion menyetir dengan fokus, sementara Amara menatap jalanan malam. “Kamu kelihatan nyaman ngobrol sama Revan,” kata Dion akhirnya. “Dia dokterku.” “Cuma itu?” Amara menoleh. “Maksud kamu?” “Dia terlalu dekat,” ucap Dion dingin. Amara tersenyum miris. “Lucu ya. Kamu jarang ada, tapi begitu ada orang lain yang peduli, kamu merasa terganggu.” Dion mengepalkan tangan di setir. “Aku suami kamu.” “Dan aku istrimu,” balas Amara. “Tapi sering kali aku merasa sendirian.” Mobil berhenti di lampu merah. Dion tidak langsung menjawab. “Aku bakal datang besok,” katanya akhirnya. “Aku janji.” Amara menatapnya lama. “Aku cuma mau kamu ada, Dion. Bukan janji.” Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju. Di balik kaca mobil, Amara memejamkan mata. Di kepalanya, wajah Dion dan Revan bergantian muncul. Dua pria dengan peran berbeda, tapi sama-sama mengguncang hatinya. Dan untuk pertama kalinya, Amara takut pada satu hal. Takut jika esok hari, yang benar-benar ada di sisinya bukanlah suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD